
Hukum dalam bermain game adalah adil. Tidak ada yang namanya kecurangan, hanya saja ada yang namanya manajemen dan efisiensi. Setiap orang hanya perlu menemukan cara mereka masing-masing agar bisa menjadi pemenang, menemukan keahliannya sendiri dan memanfaatkannya semaksimal mungkin.
Ketika kekuatan diberikan, maka harus ada bayaran yang dikeluarkan. Layaknya tukar beli, layaknya devisa negara, layaknya kesetimbangan kimia, mengikuti semua aturan di mana dunia itu stabil dan adil. Maka, Amalia pun harus seperti itu, merelakan sesuatu demi kekuatan yang dia terima.
Dari awal kekuatan penyihir adalah hal abnormal yang bisa diterima manusia. Keberadaannya yang memberi sesuatu keganjilan menjadi ciri khas kalau kekuatan itu bukan untuk manusia semata. Jadi, secara tidak langsung, manusia yang menjadi penyihir telah berhenti menjadi manusia.
Aku mendengar dari penjelasan Pero sedikit demi sedikit, sebuah faktor yang kalau dipikir secara mendalam adalah kengerian.
Dari kasus Geza, Pero menceritakan kalau mayatnya berubah menjadi debu dan menghilang berubah menjadi uap, menyatu dengan udara. Artinya, tubuh mereka bukan manusia, sudah menjadi sihir dan bukan manusia lagi, hanya seperti makhluk yang kebetulan berbentuk manusia.
Cukup aneh memang, aku yakin ingatanku tentang dia saat bertarung masih jelas. Bocah bringas penyihir lobster itu punya tubuh selayaknya manusia yang punya nadi, dia masih bisa berdarah saat terluka.
Jika memang tubuhnya murni terbuat dari sihir, bukankah lebih masuk akal kalau setiap ruas tubuh kosong layaknya cahaya. Namun, nyatanya tidak, mereka hanya terurai menjadi untaian sihir ketika benar-benar mati saja.
Lalu, jawaban yang aku dapatkan adalah hal yang serupa. Gumpalan daging, aliran darah, bentuk tulang dan bahkan seluruh sistem metabolisme manusianya ternyata hanya sebuah ilusi. Sekali penyihir menerima kekuatan sihir, maka tubuhnya tersebut juga dibentuk ulang oleh sihir dengan cara yang sama, menggantikan tubuh lamanya dan berhenti menjadi manusia.
Dunia mereka akan berubah, mereka tidak akan dikenang menjadi manusia, kematiannya hanya dianggap sebagai sesuatu yang mistis. Tubuh penyihir yang mati akan hilang, mereka tidak akan bisa diterima lagi sebagai manusia nantinya.
Sisi buruk itu seharusnya bukan efek samping yang ringan. Sisi kemanusiaan seseorang tentu akan membela kalau dirinya ingin punya kehormatan untuk diperlakukan sebagai manusia lainnya, bahkan setelah mati.
Aku bertanya kembali pada Pero, apa dia memberi tahukan hal tersebut pada Amalia sebelum melakukan kontrak.
Pero menjawabnya tanpa keraguan. Dia bicara dengan Amalia layaknya tokoh berakal. Jadi, tentu semua hal tersebut sudah jelas diberi tahu. Malah, Pero bercerita padaku detik-detik ketika melakukan kontrak, Amalia kala itu tidak ragu sedikit pun ketika mendengar kalau dirinya akan berhenti jadi manusia. Sesuatu itu tidak membuatnya gentar untuk mewujudkan keinginannya.
Pero bilang, Amalia kala itu sudah sangat putus asa. Dia mulai menyerah dengan hidupnya dan hanya membiarkan semuanya berjalan begitu saja. Kehilangan ayah dan ibu membuat dia bingung untuk siapa dirinya hidup, dan ke mana arah baginya untuk pulang sekarang.
Justru, menjadi penyihir menurut Pero memberikan satu emosi khusus di tengah kehampaannya. Tubuhnya mungkin sudah hampa berubah menjadi sihir, tapi Pero yakin meninggalkan Amalia di kekosongan hidup tanpa tujuan malah menghasilkan hal yang lebih buruk.
__ADS_1
“...”
Kira-kira begitulah inti percakapanku dengan Pero. Sambil menuruni bukit, pulang membawa batang pisang ternyata menjadi tak terasa lelahnya dengan bercerita.
Aku memang merasakan kalau hidup Amalia tidak seburuk seperti kalau dia sudah kehilangan kemanusiaannya atau memang dia menyesal melakukan kontrak dengan Pero. Apa yang dia jalani sekarang lebih memiliki tujuan jelas untuk mengumpulkan mana kebahagiaan sejati untuk permohonannya nanti.
Lalu, pertanyaan terakhir yang menggelitik hati penasaranku.
“Pero, sebenarnya permohonan apa yang jadi tujuan Amalia nanti?”
Iya, benar. Aku tidak pernah mendengar itu dari Amalia, tapi di saat bersamaan aku memang tidak punya kesempatan untuk bertanya. Sejak dulu aku selalu menghindar darinya karena efek gelombang emosi. Jadi, sebisa mungkin urusan privasi atau hal apa pun yang dapat melonjakkan emosinya aku jauhi.
“Kalau soal itu, apa kamu tidak ingin bertanya langsung pada Lia? Kebetulan dia hanya berjarak dua ratus meter di depan,” jawab Pero sedikit memutar.
“Aku sekarang sudah tahu kalau dia anak yatim. Kondisinya agak rumit kalau aku tanya dia sekarang. Tapi, kalau jawabannya memang tabu, aku gak bakal tanya lagi.”
Informasi seperti ini mungkin bisa dianggap privasi oleh Amalia sendiri. Rasa sungkan untuk bertanya menekanku dan memberikan refleks untukku mundur dalam percakapan.
“Iya, situasinya agak aneh. Mungkin dia gak niat kayak gitu. Di bawah pengaruh sihirnya, Amalia cerita langsung lewat mulut,” jawabku menjelaskan ringkas hasil.
“Sepertinya kamu sedikit salah sangka, Kaivan. Sihir Lia memang membuatnya mewakilkan sifat emosi tersebut sambil memanfaatkan kekuatan barunya. Tapi, sifat baru itu bukan berarti keluar dari diri Lia. Sesuatu yang dia gunakan adalah emosinya, dan itu masih ada di dalam dirinya.”
“Aku gak ngerti poinnya di mana, Pero.”
“Intinya, sekali Lia bercerita, entah itu dalam efek sihir atau bukan, Lia tetaplah Lia. Alam sadarnya masih sama, dari hati terdalam dia sudah mengizinkanmu mendengar cerita tersebut.”
“...”
__ADS_1
Itu mungkin bisa membuatku tenang karena Amalia tetap mempercayaiku. Kalimat dan kata-kata tersebut masih bisa dijadikan patokan karena itu tetap bagian dari dirinya. Lagi pula, aku juga seharusnya bisa tahu, dia yang menggunakan emosi kemarahan untuk bertempur saja sekarang bisa menjaga kesadaran dirinya dengan utuh.
Tapi, di saat yang sama ada sesuatu yang menyeramkan. Jika memang hal tersebut masih dalam kendali dan keinginan alam bawah sadarnya. Itu berarti tindakannya yang menyerangku di kamar bukanlah sebuah kecelakaan, melainkan memang terencana.
Baiklah, aku tidak ingin membawa perasaan aneh lagi di hubunganku dengan Amalia. Jadi ....
“Pero, kamu bisa kasih tahu apa permohonan Amalia?” tanyaku yang tetap menjaga topik.
“Tentu saja, aku rasa Lia yang sekarang juga tidak akan mengelak jika kamu bertanya padanya. Secara tidak langsung, kamu juga bisa mengetahuinya. Apa yang Lia impikan sebenarnya sangat terikat dengan kondisi dan latar belakang kematian orang tuanya.”
“Apa itu artinya permohonan yang luar biasa sampai mau hidupin balik orang tuanya yang sudah mati?”
“Tidak, sihir mungkin bisa melakukan banyak hal ajaib. Tapi, kekuatan itu tetap tidak bisa dipakai untuk menghidupkan kembali yang sudah mati. Nyawa hanya satu, kematian hanya terjadi satu kali.”
“Hoo ... jadi sihir juga ada batasnya, iya,” gumamku cukup keras menanggapi pernyataan barusan.
“Sihir digunakan untuk menciptakan keajaiban, bukan untuk memperbaiki hal tabu seperti itu,” jelas Pero yang menjawab gumamku barusan. “Tapi, sihir bisa mengabulkan permintaan tersebut dengan cara berbeda.”
“Ma-maksudnya ... hidupin orang mati pakai sihir itu masih mungkin?”
“Iya.”
“...”
Gluk.
Telan ludahku sedikit tegang dengan jawaban Pero.
__ADS_1