Pencicip Emosi

Pencicip Emosi
Arc 4 New Stage : Chapter 32 - Keputusan Hanz


__ADS_3

Semua hanya melihat, aku hanya bisa berteriak, tidak ada yang benar-benar bisa menghentikan tindakan Hanz kala itu. Setiap orang tenggelam dengan ketakutan, bahkan banyak di antara mereka yang masih baru melihat bagaimana darah manusia keluar bercucur dari tubuh. Tidak ada yang ingin melihat, tidak ada yang ingin terlibat, semuanya hanya diam dan berharap keadaan tidak semakin buruk.


Lalu, semua itu juga tidak ada bedanya dengan diriku.


Ketika perempuan tersebut dibunuh, aku tidak mendekat sedikit pun karena takut. Rasa sakit kematian sangat mengerikan, aku tidak ingin mengalaminya dengan gelombang emosi yang dia keluarkan. Rasa takut tersebut membuatku tidak dapat mendekat, terus melihat dan tidak bergerak sedikit pun untuk mencegah Hanz mengayunkan kapaknya.


Pemandangan yang mengerikan.


Sampai saat ini sudah ada tiga mayat yang terkapar dengan darah bercucuran di lantai. Mereka semua mati dengan luka di leher yang membuat pembuluh nadi terputus seutuhnya. Sayatan dengan kapak tersebut begitu besar dan bahkan hanya menyisakan tulang belakang untuk menyatukan tengkorak dengan badan utamanya.


Lalu, dari ketiga orang tersebut, Hanz masih tidak berhenti bertindak. Masih ada satu orang perempuan lagi yang sedang melihat dan menunggu di pojokkan. Namun, berbeda dengan yang lain, kali ini perempuan tersebut memiliki tubuh kecil, bahkan bisa dibilang dia masih anak-anak.


Sama seperti tiga orang lainnya, anak perempuan tersebut sama sekali tidak kukenal wajah dan perawakannya. Dia sekarang memakai pakaian lusuh seadanya, biarpun begitu aku masih merasakan desain yang lebih maju dibanding dua orang yang memakai pakaian adat tersebut.


Anak kecil itu memandang dengan tatapan kosong, lagi-lagi muncul kejanggalan di mana dia berbeda dengan yang lain. Ketika semua orang takut dengan darah dan cenderung shock, anak kecil itu bersikap tenang dari mulai ekspresi hingga bahasa tubuhnya. Untuk sementara, aku mengira kalau anak tersebut hanya tidak mengerti bahaya apa yang dia sedang hadapi.


Hanz di sana sudah mengangkat kapaknya lagi, berdiri tepat di depan anak tersebut dan siap untuk melakukan aksi kejamnya.


"Hanz! Hanz ...!!" teriakku yang sedang memegang kepala akibat siksaan dari gelombang emosi.


Biarpun aku tahu hal tersebut tidak mengubah pendiriannya, tapi teriak pencegahan tetap refleks kulakukan. Pasalnya, hal tersebut sangat buruk mengingat Hanz bahkan berniat untuk melakukan tindak pembunuhan pada anak kecil.


Tenaga di tangan Hanz menguat, urat dan tegangannya dapat terasa walau hanya dilihat dari kejauhan.


Di sana aku refleks menutup mata dan memalingkan wajah, apa yang kulakukan adalah untuk tidak melihat kekejaman itu lebih buruk lagi. Jika kata-kataku tidak sampai ke hati Hanz, kalau begitu aku tidak perlu menyiksa diri melihat ketidakmampuanku mencegah hal tersebut lebih dalam lagi.


"..."


Tiga detik.


"..."


Lima detik.


"..."


Sepuluh detik.


"..."


Dan beberapa detik selanjutnya.


Di sana aku sedikit berpikir, kejutan di mana lonjakan emosi dan teriak pecah yang kutunggu malah tidak keluar. Detik-detik di mana Hanz melakukan serangan terakhir dan membuat anak tersebut bernasib sama dengan tiga orang barusan seharusnya tidak tertunda selama ini.


Dengan pikiran tersebut aku pun mencoba membuka mataku sedikit demi sedikit mengintip.

__ADS_1


"E-eh?"


Satu lagi kejanggalan yang kulihat.


Setelah semua yang dia lakukan begitu kejam layaknya pembunuh berdarah dingin. Sekarang Hanz malah terhenti membeku di posisi yang sama, tidak bergerak persis seperti keadaan sebelum aku menutup mata. Pria itu tetap tidak meneruskan gerakan layaknya dia sedang dihadang perasaan untuk yang menghalanginya untuk mengayunkan kapak.


"Huft ... hah ...."


Hanz menarik napas panjang, menutup mata, mengendurkan otot, dan bahkan menyarungkan lagi kapak yang awalnya sudah dia tarik untuk ancang-ancang melakukan serangan.


"Baiklah, kau boleh hidup sebentar saja."


Keputusan yang tidak terduga, Hanz benar-benar mengurungkan niatnya tersebut.


Jarak kami mungkin terbentuk cukup jauh, pasalnya diriku sedang menjaga jarak agar tetap ada di luar rentang deteksi emosiku. Tapi, kondisi sepi di ruangan yang kosong membuat rambat suara sampai ke telingaku.


"Ehehe, setelah membunuh istri dan sahabatmu, kau masih menunjukkan rasa kasihan padaku, iya," ucap anak perempuan tersebut dengan bijak tanpa getar.


"Jangan salah paham, aku masih niat membunuhmu nanti. Hanya saja, peraturan di dunia ini menuntutku mengambil satu partner," jawab Hanz yang mengelak menerima tuduh dari sela kebaikan urung niatnya barusan.


"Lalu, apa? Kau memilihku? Jika teorimu benar, seharusnya aku adalah musuhmu yang bisa membunuhmu kapan saja."


"Ah ... itu bisa terjadi," jawab Hanz dengan nada khas yang dinginnya. "Tapi, berbeda dengan yang lain, kau sama sekali tidak punya kesempatan untuk membunuhku walaupun kau menghendakinya."


"Apa itu penghinaan? Aku masih bisa menggunakan sabotase dan pembunuhan diam-diam, lho."


Percakapan mereka terdengar tidak normal, setidaknya aku yakin itu bukan hal yang bisa masuk jika lawan bicaranya adalah anak kecil. Dari awal tatapan anak tersebut sangat berbeda, dia memandang lingkungan di sekitarnya dengan kuat layaknya dia tahu sedang hidup di mana. Ketika dua orang yang aku lihat dalam keadaan terancam ingin dibunuh, anak tersebut masih tenang dan berdiri tidak menjauh maupun terlihat seperti merasakan sebuah ancaman.


Tapi, jika didengar dari pembicaraan mereka, anak perempuan itu bukan tidak tahu kalau sedang ada hal gawat terjadi. Dia menjawab percakapan dengan bijak layaknya orang dewasa. Anak perempuan itu, bukan anak biasa.


"Ehehe, aku tahu aku sangat lemah. Tidak peduli sekarang ataupun di waktu terdahulu, aku masih lemah, itulah sebabnya aku mati," ucap anak kecil tersebut dengan nada merendah.


"Bukan, kau salah. Penyebab kau mati adalah bukan karena kau lemah, melainkan karena diriku. Tapi ...."


Hanz menjulurkan tangannya ke anak tersebut, memberikan sebelah telapak tangan terbuka layaknya dia ingin memberikan pegangan tangan padanya.


"Kali ini aku tidak selemah diriku yang dulu."


"Ehehe, apa gunanya kalau di akhir kau akan tetap membunuhku."


Anak perempuan tersebut menjawab dingin. Tapi, di saat yang sama dia menerima tawaran tangan tersebut. Ketika tangan sudah saling terikat, Hanz pun dengan cepat menarik tubuh anak perempuan tersebut, dia mengangkat dan menaruh seluruh bagian tubuh untuk digendong di pundaknya. Sekarang, mereka berdua terikat layaknya seorang anak dan ayah.


"Jadi, namamu sekarang itu Hanz, iya?" tanya anak perempuan setelah dia ada digendong di pundak pria tersebut.


"Aku tidak peduli dengan nama."

__ADS_1


"Setidaknya akan membingungkan jika kau punya banyak nama di waktu yang sama. Jadi, aku akan memanggilmu demikian sekarang."


Di sana Hanz pun mulai berjalan menjauh, dia meninggalkan seluruh orang dan membuatnya seperti orang yang bekerja sendiri.


"Tunggu, Hanz—"


"Cukup, Kaivan," potong Hanz sebelum aku berhasil mengejarnya. "Kau tidak perlu mengkhawatirkanku. Aku punya jalan dan keputusanku sendiri. Jika kau masih ingin terlibat denganku, seharusnya kau juga sadar kalau posisimu sekarang sedang tidak baik."


"Ah."


Aku mendengar kalimat tersebut dan mulai sadar. Dengan perlahan kepalaku juga mengalihkan pandangan ke belakang untuk memastikan situasi.


*Stare~


Dan iya, banyak orang melihatku dengan pandangan yang dingin. Bukan karena aku melakukan hal yang salah, tapi karena aku punya kenalan orang yang melakukan pembunuhan. Tentu, insting manusia akan menganggap kalau diriku juga adalah bagian dari ancaman bagi mereka. Bahkan, Amalia dan Pero di sana juga memandangku dengan pandangan serupa. Fakta kalau aku punya hubungan dengan Hanz sampai sekarang tidak diketahui oleh siapa pun.


"Aku akan kembali lagi jika dibutuhkan," kata Hanz yang mencoba mengambil kapak-kapak milik tiga orang yang dia bunuh. "Untuk sekarang, aku tidak akan membunuh siapa pun. Dari awal, aku membunuh karena mereka semua adalah orang yang kukenal. Kau dan temanmu, di kondisi ini seharusnya kalian tidak punya alasan untuk menghentikanku, bukan? Jadi, sebaiknya kau urus sendiri tugasmu. Pastikan kalau kau tidak salah memilih siapa yang benar-benar palsu di antara kalian."


"..."


*Shade


Hanz yang berjalan menjauh pun mulai menggunakan kekuatannya. Dia menghilang berubah menjadi bayang transparan secara bertahap hingga lenyap seutuhnya. Arah perginya dia adalah satu tempat yang ada di sisi gedung. Tidak diketahui pasti karena tubuhnya menghilang, yang pasti itu berlawanan dengan arah kami datang sebelumnya.


"Kaivan, kamu baik-baik saja ...?" tanya Pero yang berjalan mendekat.


"Aku gak apa-apa, cuman sedikit pusing karena gelombang emosi kalian."


Walaupun sudah mereda, tapi tetap saja keberadaan dan atmosfer setelah kejadian ini terjadi sangatlah hebat. Ketegangan yang bersisa dari kecelakaan yang menimbulkan korban jiwa tentu tidak akan hilang begitu saja. Saat ini, aku dan orang-orang sekitar masih bisa melihat tiga mayat terkapar dengan darah segar di salah satu sisi ruangan.


"Tapi, Kaivan. Apa kamu mengenal pria yang membunuh tiga orang barusan?" lanjut tanya Pero padaku.


"Iya, Ivan, kamu benaran kenal orang barusan?" dan serobot Farrel yang memotong ikut memojokkan.


"..."


Aku di sana tidak menjawab dengan mulut, mencoba menghentikan pertanyaan lebih jauh dengan gesture tangan berbentuk 'stop' sesaat.


"Huft ... hah ...," hela napasku berusaha menenangkan diri. "Iya, memang benar orang yang kupanggil Hanz itu, aku mengenalnya. Tapi ...."


Aku sedikit memberi jeda pada kalimat, melihat ke arah kanan dan menunjuk pada tiga mayat yang terkapar. Beberapa orang di saja mengikuti arah pandangku, mereka mulai mengerti apa yang aku maksud dari tindakan tersebut.


"Iya, aku bakal jelasin lagi nanti. Setidaknya kita harus pindah tempat dulu," ucapku sambil membentuk gesture mengajak semua orang.


Tentu tidak enak jika harus bicara satu ruangan dengan tiga mayat begitu saja. Apalagi, mayat tersebut cenderung masih baru dan sangat mencolok untuk bisa diabaikan begitu saja. Satu atau dua hal mungkin masih menjadi kewajiban bagi kami dalam hukum moral untuk mengurus mayat tersebut.

__ADS_1


 


 


__ADS_2