
Cahaya pagi di timur, remah riuk keramaian siswa, pemandangan satu wilayah dengan berbagai anak seumuran dengan pakaian serupa berjalan bersama. Lingkungan sekolah yang lama telah kulewati entah kenapa terasas cukup asing.
Tapi, itu tidak masalah bagiku, sesuatu yang cukup mengganggu adalah pandangan tajam ketika banyak dari siswa di sekolah memandangku. Luka di tangan tentu sangat mencolok, gips dan penggantung pengaman di tangan tentu memancing banyak perhatian. Banyak di antara mereka yang tidak mengenalku secara langsung, jadi tentu penampilanku terlihat baru. Gelombang emosi mereka yang berubah-ubah di keadaan padat, itu menjadi warna dan awal kelelahan hari pertama sekolah.
Aku sekarang pergi ke kelas, lokasinya yang ada di ujung dan naik ke lantai dua kembali menjadi penghalang. Aku diharuskan melewati banyak kelas beserta siswa sebelum sampai ke kelasku sendiri, menyebabkan deteksi emosiku bekerja lagi.
Iya, ini juga ada pada kesalahanku, waktu pagi yang seharusnya jauh lebih pagi untuk menghindari keramaian tidak kulakukan. Hari ini aku berangkat di jam normal yang padat, di mana sebagian besar siswa sudah berkumpul.
“Woah ... halo~ Kaivan,” suara memanggil namaku dengan nada manja dan memelas kasih. “Sudah lama kita gak ketemu. Aku kangen sama kamu,” lalu dilanjut dengan kontak fisik akrab memeluk dan merangkul.
Aku sedikit menggerakkan arah kepala dan leher, suara tersebut berasal dari Farrel teman lamaku. Keberadaannya hampir terlupakan karena dia semakin punya peran sedikit di kehidupan belakangan ini. Apa boleh buat, dia memang tidak kenal sihir dan tidak berkaitan dengan dunia sihir Amalia.
“Ah, iya. Aku juga kangen kamu,” ucapku membalas ucapan dari lelaki tersebut. “Farrel,” lalu kembali melanjut dengan kontak fisik memegang balik tangannya yang merangkul bahuku sekarang.
“...”
“...”
Waktu berhenti sesaat, ekspresi dariku dan Farrel membeku seakan berhenti bekerja menganalisis keadaan. Suaraku memang tidak imut, tapi aku sudah berusaha mengikuti nada bicaranya yang mendayu-dayu bersama dengan bahasa tubuh memanjakan.
“...”
“...”
Jadi, seharusnya apa yang kulakukan adalah hal yang serupa dengan yang Farrel lakukan padaku. Namun, reaksi dan gelombang emosinya malah berubah menjadi negatif.
“Ivan, itu menjijikkan,” kata Farrel dengan sinis sambil menjauh, tindakan tersebut otomatis membuat rangkulan tangannya dan pegang tangan kiriku lepas.
“Apa maksudnya? Ha? Aku cuman baca situasi dan balas tindakanmu,” ucapku berdalih membela diri. Tentu saja aku tidak diam disebut menjijikkan.
“Aku peluk-peluk barusan itu buat dibilang jijik, bukan mau dipeluk balik. Itu menjijikkan, Van,” kata Farrel yang mulai berbalik ke arahku berhadapan memulai percakapan terbuka.
Kami sekarang tepat ada di kelas. Waktu sendiri masih ada beberapa menit sebelum bel berbunyi, jadi sepertinya dia membuka percakapan lebih dulu untuk tidak membiarkan aku menaruh tas di kelas.
“Aku tahu itu, Farrel.”
Waktuku bersama dia cukup lama untuk mengenal sedikit banyak arti dari tindakan konyolnya. Farrel yang barusan ingin membuatku sedikit kesal, menerima pelukan akan menjijikkan dan membuatku sedikit gaduh untuk bisa menjaga jarak dengannya. Tapi, itu memang yang diinginkannya, dia ingin aku sedikit membuang tenaga untuk berteriak dan bergerak sambil mengumpatinya.
__ADS_1
“Aku peluk balik juga bukan mau homoan. Aku peluk balik biar kamu jijik dan dengan mandiri menjauh. Jadi, gak ada tenaga terbuang,” ucapku menjelaskan.
Itu jawabanku dan terbukti benar. Aku bisa menjauhkannya dari tubuhku tanpa harus membuang banyak energi. Walaupun sedikit kurasa gelombang emosinya yang pahit karena rasa merinding menjijikkan, tapi setidaknya aku berhasil di sisi lain. Melawan tindakan jijik dengan tindakan menjijikkan lagi, mata dibalas mata.
“Haha ... aku memang gak bisa ngalahin kamu, Kaivan.”
“Tch, huft ... hah ...,” keluh napasku atas topik komunikasi tersebut.
Iya ... aku bukannya tidak mengerti. Tapi, beberapa sifat umum lelaki adalah untuk memulai pertikaian di sebuah kedamaian. Itu bukan pertikaian yang buruk, saling bentak dan pukul, saling umpat dan gertak, untuk hubungan tertentu itu adalah sebuah hubungan yang kental atas pertemanan.
“Oke, sekarang serius. Tangan kiri sama kakimu sudah sembuh total?” tanya Farrel mengganti topik ke arah yang lebih umum.
“Sembuh total kayaknya belum, tapi sembuh buat bisa dipakai lagi ... iya, aku sembuh.”
Luka jahitan di tangan kiri dan bekas tikam di perut masih terasa. Terlalu banyak gerak atau mungkin tertawa terbahak-bahak akan memberikan rasa sakit. Aku tidak mengerti kenapa tulangku tumbuh lebih cepat. Tapi, bisa jadi itu karena tulangku menyembuhkan dirinya, berbeda dengan luka di kulitku yang pada ujungnya seperti kehilangan sebagian besar daging. Pihak rumah sakit bahkan memberikan beberapa cangkok daging dan kulit buatan agar bagian tubuh tersebut bisa terangsang untuk tumbuh kembali. Jadi, menambal lebih mudah daripada membuat ulang bagi tubuhku.
Aku di sana mencoba menutup pembicaraan dengan Farrel, berjalan masuk ke kelas untuk beristirahat menaruh barang-barang. Namun, ternyata keadaan tidak mengizinkan. Beberapa siswa di kelas tersebut mulai berdatangan dan menanyaiku berbagai pertanyaan penasaran.
Mulai dari penjelasan rasa sakit, penjelasan tahap penyembuhan, pengalaman di rumah sakit, pengalaman kecelakaan, dan bahkan tentang kehidupan pribadiku di kamar mandi yang jadi momok mengerikan.
Huft ... hah ....
*****
Bel istirahat berbunyi, rombongan siswa mulai keluar berlomba mendapatkan makanan lebih dulu. Aku duduk di kelas sekitar lima menit lebih lama, menunggu kerumunan tersebut mereda sebelum akhirnya meninggalkan kelas.
Ini adalah waktu emasku, kesempatan di mana aku bisa menemui Imarine atau Amalia di sekolah yang berbeda kelas. Untuk Imarine, mungkin aku akan datangi lebih dulu. Pesan-pesanku dari ponsel tidak pernah dibalas sampai sekarang. Walaupun begitu, aku tetap tahu dirinya ada di sekolah. Jadi, hari ini aku kembali memberi pesan padanya sekarang.
“...”
Ditunggu beberapa saat untuk menunggu balasan, tapi sepertinya tidak akan ada secepat waktu tunggu kala itu.
Datang ke kelas langsung bukan satu dari cara bertindakku, satu keadaan di mana orang tahu kalau aku mencari seseorang sudah menjadi sebuah ranjau. Orang akan tahu kami punya suatu hubungan, saksi mata akan menyebar gosip, dan pada akhirnya akan lebih banyak yang terlibat di masalah pribadiku.
Iya, mungkin memang tidak akan terjadi sampai separah itu. Tapi, menghindar dari awal jauh lebih mudah. Jadi, sebisa mungkin aku bertemu dengan Imarine di keadaan yang tidak diketahui oleh orang.
Aku berjalan ke daerah timur sekolah, daerah di mana area sepi karena sedikit tempat umum terbangun di sana. Arah kakiku menuju tempat yang dahulu menjadi tempat khusus, sedikit nostalgia bisa kurasakan ketika lingkungan taman-taman dan angin sepi sekolah hanyut membelai tubuh.
__ADS_1
Posisiku mulai dekat, area gedung tidak terpakai yang di mana tempat itu bisa tembus ke tempat parkir. Ada di sudut sekolah terjauh dan dengan lingkungan yang tidak tersentuh, kursi dan meja kayu sisa yang ditumpuk bahkan terlihat dari kejauhan.
Tembok terakhir di lorong mulai kulewati, dan pada akhirnya aku keluar melihat teras gedung tersebut dengan satu gadis terduduk. Dia berpakaian selayaknya siswa biasa, dengan dada besar dan rambut panjang, aku bisa merasakan kalau orang tersebut masih tidak berubah secara penampilan.
Aku mendekatinya, berjalan beberapa langkah sebelum akhirnya bicara.
“Ima,” panggilku dengan suara seadanya. “Akhirnya aku bisa lihat kamu sekarang.”
Gadis itu masih duduk, dia dengan bekal kecil imut yang dia makan mulai berhenti disendok. Perlahan lehernya menengadah ke arahku, mata dan wajahnya tidak terlihat sesenang teman sekelas yang menyambut, ekspresinya lebih ke arah datar.
*Whoush ....
Tapi, aku bisa tahu apa yang benar-benar dia rasakan sekarang dengan deteksi emosi.
“Oh, kamu masih hidup ternyata,” ucapnya dengan dingin.
“Iya, sepertinya aku cukup kuat untuk bisa selamat. Tenaga medis dan waktu yang tepat membuat aku sukses dari kemungkinan kematian luar biasa,” lalu kubalas dengan jawaban datar seakan abai dengan nada tersebut.
Aku berjalan dan masuk ke teras gedung tak terpakai tersebut, masuk ke daerah di mana Imarine duduk sekarang. Dengan mengambil kursi yang berbeda, aku sekarang bertempat di samping gadis tersebut dengan terpisah jarak sekitar dua meter.
“...”
“...”
Keadaan mulai berasa canggung. Imarine yang terhenti yang menyantap makan berakhir dengan diam melamun melihat ke bawah, tatapannya terasa sakit karena tatapan tersebut tidak diarahkan padaku.
Di sana aku juga tidak memulai pembicaraan lagi, pikiranku lebih memilih untuk melahap roti kecil makan siang. Itu adalah sesuatu yang kukira bisa mencairkan suasana.
“Ivan, maaf.”
Hn?
Tapi, tiba-tiba saja ada satu kata terucap dari Imarine.
“Buat apa?” tanyaku respons cepat.
“Entahlah ... aku gak tahu aku harus apa sekarang. Jadi, mungkin itu permintaan maaf karena aku gak bisa kasih sesuatu ke kamu di saat berat kamu sekarang.”
__ADS_1
*Whoush ....
Sekali lagi, gelombang emosi yang serupa.