Pencicip Emosi

Pencicip Emosi
Arc 3 Manis Sengat Semut Asam Format : Chapter 6 - Lolos


__ADS_3

Ada beberapa kasus di mana orang mati karena kelebihan yang dimilikinya sendiri. Sesuatu kemampuan yang berlebihan sebenarnya juga tidak selalu berefek baik. Ketika orang bergelimang harta, maka akan banyak penjahat yang akan mengincar hartanya. Ketika orang punya jabatan tinggi, maka tidak akan heran jika suatu saat ada pesaing yang mengincar nyawanya.


Mati karena terlalu menguji bakatnya, seorang pelatih sirkus mati dibunuh partner hewannya. Binaragawan mati karena terlalu keras melatih ototnya. Tapi, untuk kasus yang mirip denganku adalah seorang cenayang yang mati atau bunuh diri karena stres akibat kekuatannya sendiri.


Aku tidak yakin bisa mengelompokkannya demikian, apa memang aku pantas untuk mati karena kekuatanku sendiri?


“...”


Mati karena sebuah tegangan gelombang emosi dahsyat yang membuat seluruh pikiranku menegang. Sesuatu rangsangan kuat yang ternyata terlalu berbahaya untuk aku diketahui. Layaknya efek narkoba di mana salah satunya membuat dophamine penyebab kebahagiaan banjir memenuhi otak. Sesuatu yang berlebihan dari dalam bisa jadi sangat bahaya.


“...”


Sesuatu yang ingin kucapai mungkin tidak sebanyak pemimpi lain, aku orang yang membiarkan semuanya mengalir. Semua itu terjadi karena diriku selalu disibukkan untuk menghindar dari efek balik kekuatan deteksi gelombang emosi. Tapi, sesuatu yang ingin aku cari tahu masih banyak menumpuk, seluruh misteri dan jawaban dari pertanyaan semenjak kecil tidak boleh berakhir dengan jawaban, ‘sudah dari sananya’.


*Dug, dug ....


Otakku mulai berfungsi, sedikit demi sedikit indraku mulai bekerja. Hal pertama yang dapat kurasakan adalah pendengaran, getaran suara serangga malam membuat penuh pendengaran. Posisiku masih terbaring, wajahku juga masih rapat dengan tanah. Tapi, kesadaranku sudah bisa dirasakan layaknya sedang berusaha untuk bangun.


Gerak kecil dijari, gerak kecil di kelopak mata, dan tarikan napas yang entah kenapa masih terasa berat. Semua usaha kulakukan untuk bangkit dari tidur. Apa yang kurasakan layaknya sleep paralysis, keadaan di mana tubuhku tidak mau bergerak walau sudah sadar kalau aku telah bangun.


“Ghuah!!”


Sampai pada akhirnya aku mengalami kejut di paru-paru, tarikan napas itu begitu kuat sampai membuat sedikit batuk serak. Suplai udara begitu sedikit, tubuhku memintanya begitu banyak, dan ketika organ tubuh tersebut kembali bekerja, dadaku secara otomatis menarik keras udara. Kembang kempisnya cukup cepat, bahkan dapat membuat diriku sendiri terkejut dengan refleks otot tersebut.


“Hahh ...! hah ... hah ...?”


Tubuhku mulai bangkit, dari tidur miring menuju duduk selonjor. Dengan tangan di dada mengatur napas yang tidak teratur, aku berusaha menenangkan diri. Walaupun pandangan masih kabur, tapi mataku masih jelas melihat kalau tempatku tidak jauh berganti dari tempat sebelumnya pingsan.


“Oh ... kau sudah bangun, Kaivan?”


“Hmn?”


Suara pria terdengar, tidak seperti orang yang kutemui bersama sumber cahaya penyebab shock, kali ini lebih seperti pria dengan nada unik yang khas. Itu adalah orang yang pernah kutemui, di perjalanan pulang ketika aku ada di lingkungan rumah. Seseorang yang awalnya kukira hantu, nada dingin yang sedikit formal layaknya orang sedang melakukan sajak.


“Ha-Hanz?” panggilku berusaha mencari sumber suara menggeleng-geleng ke segala arah.


“Hanz ...?” ucap ulang pria tersebut. “Oh, iya, benar. Namaku sekarang Hanz.”


“Hn?”


“Aku tepat berada di hadapanmu ... Kaivan. Kau tidak perlu melayangkan kepala ke arah lain seperti itu.”


“...”


Kepalaku kala itu masih pusing, rasanya seperti ada yang mengaduk otak di dalam. Pandangan juga masih berbayang, dengan katalis kepala goyang, aku masih tidak bisa melihat jernih. Tapi, aku yang tidak melihat Hanz juga karena kekuatannya yang bisa menghilang seperti hantu.

__ADS_1


Berusaha fokus, setiap pantul cahaya di retina berusaha kuluruskan agar titiknya bisa terjaga. Memang sedikit sulit karena hal tersebut seharusnya terjadi otomatis, tapi mencoba menstabilkan diri untuk tenang juga ternyata bisa membantu.


Aku melihat Hanz, dia mulai terlihat ketika tangannya menyikap kupluk di kepalanya. Dengan rambut putih dan mata biru memandang kosong, ternyata dia sekarang tengah duduk di batu tepat di depanku.


“Huft ... hah ... huft ... hah ...,” napasku masih terengah-engah, tidak peduli sebesar apapun aku bernapas, keinginan untuk menghirup masih terus ada. “Hah ... hh ... Hanz, hah ... apa yang terjadi?”


“Seharusnya itu adalah pertanyaanku, Kaivan. Apa yang terjadi? Aku datang dan kau ternyata sudah terkapar di tanah.”


“Huft ... hah ... E-entahlah.” Napasku mulai tenang, sedikit demi sedikit tarikan udara di dadaku mulai melemas menyesuaikan kesadaranku yang mulai pulih seutuhnya. “Sesuatu mungkin terjadi, tapi aku belum tahu siapa dan apa yang tepatnya orang itu lakukan.”


“Hmn ... jadi kau sudah tahu kalau sesuatu yang terjadi itu disebabkan oleh seseorang, iya,” ucap Hanz layaknya seorang yang pintar bisa membaca situasi.


“Iya, aku tahu. Aku melihatnya sekilas, mendengar percakapan mereka sedikit, dan semau itu cukup terukir. Ada dua orang, yang satu bertubuh kecil dan yang satu sepertinya pria dewasa. Aku ... entahlah, aku masih gak tahu detail penyebab semua ini terjadi.”


“Hmn ....”


Sebelum aku pingsan, sesuatu yang kuingat terlalu bias untuk bisa disimpan secara detail. Aku mungkin tahu satu atau dua hal tentang kejadian tersebut. Tapi, jika diminta menggambarkan bagaimana sosok dan apa yang benar-benar terjadi, jawaban yang keluar dari mulut akan berujung dengan ‘entahlah’.


Efek yang kurasa bisa kuingat, apa yang kulihat adalah cahaya silau, getaran telinga di detik-detik setelah dentuman suara membuat wajah mengecut. Tapi, satu hal yang paling kuingat adalah satu kalimat dari si anak kecil sebelum semua siksaan itu dimulai.


Permohonanmu, aku kabulkan ....


Besar kemungkinan hal ini berkaitan dengan apa yang dikatakan Pero tentang penyusup. Itu tentu tidak asal tuduh. Sesuatu tentang permohonan, dan sesuatu yang bisa merangsang kemampuan deteksi emosi begitu kuat. Aku bisa yakin kalau sihir ada di balik semua ini.


Aku mulai berdiri, mengangkat pantat dan menopang tubuh untuk tidak manja berusaha bertindak layaknya orang sembuh.


“Kenapa kau berpikir demikian?”


“Jadi, bukan?”


“Aku tidak punya hak memutuskan. Lagi pula, seharusnya kau sudah tahu bagaimana kemampuanku bekerja. Tidak ada satu pun kata pernah kusebut tentang kekuatan penyembuhan.”


Saat pertama kali bertemu, Hanz juga menceritakan tentang dirinya. Dia bilang kalau kemampuannya itu adalah tentang menghilang, dan tentu aku tidak mengira sedikit pun kalau dirinya punya kemampuan rahasia penyembuhan.


“Oke, apapun hasilnya, aku sekarang bisa bernapas. Rasa terima kasih karena kehadiranmu saat aku terbaring masih ada ... terima kasih,” ucapku sekali lagi, dan mungkin kali ini aku terbawa oleh logatnya hingga pilihan kata yang keluar lebih memalukan.


“Jika kau bilang memukul pipi dua kali itu adalah bantuan yang menyelamatkan jiwamu, baiklah ... aku akan bilang itu ‘benar’,” balasnya yang masih tidak ingin menerima rasa terima kasih secara terbuka.


Aku dan Hanz belum lama bertemu, tapi entah kenapa rasanya tidak ada beban untuk berhubungan sosial dengan orang tersebut. Awalnya ada sedikit ketakutan karena dia tidak mengeluarkan gelombang emosi. Tapi, jika dilihat lebih teliti, itu mungkin lebih baik karena dirinya tidak akan menimbulkan rasa nyeri melukai indraku seperti kasus Amalia.


Mungkin ini juga terjadi karena lingkungan yang sedikit kejam layaknya tetesan air. Ketika aku menceritakan sesuatu, maka efeknya akan beragam dari yang sedih, marah, kesal, sinis, hingga menganggap negatif kalau aku seorang pembohong. Efek-efek buruk tersebut ternyata bisa tidak berlaku saat aku menceritakan beban pada orang yang tidak dikenal. Ketidakterlibatannya dalam kehidupanku secara menyeluruh juga berefek positif untuk tidak menaruh pengaruh besar saat aku membuat keputusan padanya.


Intinya, aku dan Hanz mungkin tidak bertemu lama, tidak ada kepercayaan padanya layaknya aku pada orang terdekat. Tapi, itu juga berefek sama untuk tidak ada alasan menaruh kecurigaan padanya.


Dia menurutku orang misterius yang kebetulan punya kemampuan menghilang hingga menambah efek misteriusnya.

__ADS_1


Kami sekarang sudah berjalan menjauh dari area hutan ke arah jalan pemukiman yang lebih banyak cahaya. Keputusanku untuk mengarah ke tempat tersebut karena berpendapat lebih aman. Hanz sendiri masih mengikutiku layaknya orang yang secara tidak sengaja berjalan di belakang orang yang dikenal, tidak punya tujuan jelas dan mengalir menjadi pengekor seseorang.


“Kaivan ....”


“Hn?”


Namun, di satu titik lelaki itu pun memanggilku.


“Ini batasku lagi untuk mengikutimu. Aku harap kau tidak mengalami hal serupa layaknya orang sekarat di tengah hutan. Jadi, jika kau ada di pemukiman, kurasa keberadaanku tidak bisa diizinkan.”


Hanz punya kekuatan untuk menghilang, dan entah kenapa dia juga harus berada dalam zona tidak terlihat sebagai cara hidupnya. Aku tidak mempertanyakan itu lebih jauh, sama sepertiku yang punya kemampuan deteksi emosi dan terpaksa hidup menjaga jarak dari berbagai perubahan emosi orang-orang.


“Oke, kamu boleh pergi, Hanz,” ucapku menerima permintaan pamitnya. “Tapi, satu hal yang ingin kutahu. Apa kamu mau jawab?”


“Kau bebas bertanya, di mana pun, kapan pun, pada siapa pun. Masalah akan dijawab atau tidak, biarkan situasi yang menjawabnya .... Setidaknya hal tersebut berlaku untukku.”


“Ahaha, kamu membuat ini semakin berat. Sesuatu yang kutanyakan tidak terlalu penting.”


“Aku tidak merasakan kalau kau benar-benar menganggap hal tersebut tidak penting.”


Amalia lebih seperti seorang partner junior yang tidak banyak tahu tentang sihir. Pero entah kenapa tidak membuka seluruh pemikirannya padaku, terkadang aku juga merasakan kalau dia tidak lebih pintar dari Amalia. Lalu, orang-orang lain seperti Imarine hanyalah manusia biasa yang kebetulan tersangkut sihir. Tidak ada yang benar-benar setara denganku sebagai pengguna sihir di dunia sosial. Jadi, walaupun sebentar, aku merasakan sedikit benang merah dengan Hanz, lelaki pengguna sihir.


“Dengan kekuatan itu, gimana cara kamu hidup? Apa yang kamu lakukan waktu orang-orang gak ada di sekitarmu?”


Ini pertanyaan yang cukup penting. Kekuatanku memaksaku untuk menjadi penyendiri menghindari banyak keramaian selama ini. Tapi, ketika sendiri aku juga akan kehilangan semangat untuk hidup meraih mimpi.


Maksudku, normalnya mimpi adalah sesuatu yang ditempatkan bersama dengan manusia lain. Menjadi kaya mendapat banyak hal dari manusia lain, mendapat jabatan penting di atas manusia lain, mendapatkan pasangan di antara manusia yang bisa dipilih, atau menciptakan sesuatu agar dilirik oleh manusia lain. Hampir semuanya adalah kehidupan sosial, menutup diri sepenuhnya akan membuatku kehilangan mimpi secara keseluruhan. Itu sebabnya, walau tersiksa, selama aku berperan sebagai kacungnya Amalia, aku tetap melakukannya. Salah satu alasan sederhananya adalah karena aku tidak punya kegiatan lain.


“Hehe, ahahaha, ahahaha ....”


“...”


Aku terdiam melihat ekspresinya, pasalnya Hanz lebih memilih tertawa secara bertahap dibandingkan menjawab pertanyaanku dengan serius.


“Kau tidak perlu melihat orang lain, Kaivan. Lakukan saja apa yang ingin kau lakukan sekarang. Tentang bagaimana caraku hidup bukanlah contoh yang baik. Jadi, maaf saja kalau aku masukkan itu ke dalam pertanyaan yang tidak bisa dijawab.”


*Shade


Dengan kalimat tersebut, Hanz memakai ulang kupluk di kepalanya. Dia berjalan mundur sambil bertahap membuat tubuhnya menghilang. Mataku di sana layaknya mendapat ilusi optik, pantulan cahaya di badan lelaki tersebut semakin lama semakin hilang hingga transparansi menjadi lebih unggul.


 


 


****

__ADS_1


 


 


__ADS_2