
Aku tidak ingat terakhir kali memanggil teman-teman ke dalam rumah. Tapi, aku bisa jamin jumlah itu sangat kecil. Selain karena alasan privasi, aku juga memang tidak ingin memasukkan orang ke dalam wilayah oasis di mana aku bisa menyembuhkan diri dari lingkungan penuh gelombang emosi.
Rumah adalah tempat untuk memulihkan penatku, jumlah penghuninya yang sedikit sangat menenangkan mengingat kekuatanku yang peka terhadap keramaian. Aku tahu aku bukan orang yang tertutup, aku sendiri cukup luwes bicara hingga sempat membuat Imarine merasa jijik dengan tingkah santaiku.
Walaupun sikapku yang terbuka, tapi aku yakin kalau rasa janggal ini memang normal untuk semua orang. Karena bersikap terbuka berbeda dengan membuka seluruh privasi begitu saja. Karena ....
“Baiklah, Kaivan. Mungkin aku akan mulai saja pembicaraannya,” kata Pero yang duduk di kasur melipat kedua tangan sejajar dada.
“...”
Iya, sekarang aku, Pero, dan Amalia ada di kamar, di ruang kamarku. Di tempat di mana hanya terdapat satu kasur dan satu kursi sepaket dengan meja belajar.
Aku sekarang di sini duduk di kursi tersebut, sedangkan Pero dan Amalia duduk berdampingan di kasurku. Tidak masalah dengan Pero, dia memang tidak manusiawi untuk bisa sadar norma manusia. Tapi, sepertinya Amalia di sana merasakan kejanggalan yang sama, kegugupannya dapat dirasakan dengan gelombang emosi.
Ah ... tapi, aku mungkin juga bodoh. Lagi pula, aku, Pero, dan Amalia adalah orang yang sudah pernah tidur bersama di satu ruang hotel. Berdiam di kamar untuk tempat bicara seharusnya tidak terlalu mengejutkan lagi.
Awalnya aku sudah mempersilakan Amalia dan Pero di ruang tamu. Akan tetapi, pembicaraan sedikit bergeser ketika Pero bertanya tentang penghuni rumah.
Aku tentu menjawab dengan jujur, seseorang yang tinggal di rumahku ada dua orang tua dan satu kakak perempuan. Hanya saja, dari semua orang di sana tidak jelas kapan mereka pulang. Mendengar hal tersebut, Pero pun mulai sedikit membelokkan topik kembali.
Aku pikir wanita siluman gagak itu ingin memastikan kalau dia masuk dengan izin resmi dan ingin berpapasan dengan pemilik rumah. Tapi, itu sedikit keliru, karena pada halnya yang dipikirkan dia ada lebih depan.
Pero sedikit khawatir terhadap jenis keamanan. Keberadaannya sendiri sudah menjadi kejanggalan yang tidak boleh diketahui orang lain. Jadi, ketika aku bilang ada ketidakpastian atas kedatangan penghuni rumah, dia meminta ruang khusus tersembunyi di mana penghuni rumah lain punya kemungkinan kecil untuk datang.
Iya, itu adalah kamarku.
Letaknya ada di lantai dua, kecil kemungkinan ada yang berjalan mondar-mandir di depan kamarku. Selain itu, kamar juga tempat privasi, bahkan untuk anggota keluarga saja, mereka akan segan berkunjung ke kamar jika tidak ada tujuan.
Pada akhirnya, kamarku pun dipilih sebagai tempat rapat darurat teraman.
Di sana aku sedikit canggung, terutama ketika Amalia dengan wajah penasaran melirik-lirik sudut kamar. Aku yakin tidak ada yang buruk dari kamarku, hanya saja dilihat seperti menimbulkan pertanyaan tentang apa yang sedang dia perhatikan. Dengan gelombang emosinya yang sedikit gugup, bergetar cemas dengan rasa dingin, aku serasa diperhatikan dari sisi lain.
“Ngomong-ngomong, Kaivan. Apa dengan luka itu kamu bisa berjalan?”
“Hn?”
Pertanyaan Pero membuat lamunanku teralihkan, fokus yang barusan kuarahkan pada Amalia pun tiba-tiba berbelok.
“A-ah .. iya, aku masih bisa jalan. Luka di tangan kanan mungkin masih ada, tapi kakiku sudah sembuh total.”
“Hmn ... kalau begitu memang tidak ada masalah dari tubuhmu.”
Ha?
__ADS_1
“Bisa kamu jelasin dulu topik utamanya sebelum tutup? Rasanya menyebalkan waktu ada orang yang mewakilkan keputusanku hanya karena aku bisa melakukannya,” kembali ucapku dengan nada sinis.
Aku tidak tahu orang lain merasakan hal yang serupa, tapi aku merasakan hal yang demikian. Ini terjadi beberapa kali ketika ada seseorang yang bertanya tentang jadwalku. Kalimat awal seperti, ‘apa kamu sibuk hari ini?’ atau ‘kamu kosong gak besok?’ itu membuatku kesal.
Jadwal harianku berubah-ubah tergantung prioritas, dan aku yakin bukan hanya aku yang melakukan teknik serupa. Jika ditanya aku kosong atau tidak sibuk, jawabannya sedikit ambigu karena jadwalku bisa kuatur sedemikian rupa.
“Maaf, Kaivan. Aku hanya ingin mengetahui keadaanmu. Jika aku memberi tahu lebih dulu dan nyatanya kamu dalam keadaan buruk. Itu sama saja membuang waktu, bukan?” ucap Pero sebagai pembelaan.
Mungkin orang itu bermaksud sopan, tidak memaksakan sesuatu dan mencoba meraba orang agar tidak mengganggu kehidupan pribadinya. Tapi, aku lebih menghargai orang yang mengungkapkan tawarannya lebih dulu bersamaan dengan pertanyaannya.
Tapi ....
“Aku gak tahu orang lain, tapi setidaknya kamu harus kasih tahu apa yang kamu mau minta padaku sebelum menanyakan keadaanku. Ikut atau tidak, aku yang putuskan. Baru, sudah itu kamu jelasin detailnya,” jawabku juga yang masih memegang utuh pendapat.
Apa yang mereka inginkan lebih baik disebut di awal. Jika dia mengajakku bermain ke bioskop, maka sebutkan bioskop itu lebih awal sebelum aku menyebut waktuku kosong. Ketika aku bilang kalau jadwalku kosong dan mendapat sebuah tugas merepotkan yang notabenya tidak menguntungkan bagiku, rasanya sangat menyebalkan.
“Baiklah, Kaivan. Aku sekarang dalam posisi sedang meminta. Jadi, aku akan turuti keinginanmu,” kata Pero yang mengangguk dengan senyum tipis di wajahnya. “Aku ingin kamu kembali melakukan pencarian, kasus ini juga sedikit jauh karena kejanggalan kurasakan di tengah kota. Apa kamu bisa melakukannya untukku esok hari?”
“...”
Pero memberikan sebuah jawaban yang positif menunjukkan kalau dia mengikuti keinginanku barusan. Nadanya berubah, logatnya berubah, tinggi suaranya pun dijaga, dia benar-benar membuat kondisi kalau sekarang sedang memohon padaku.
Kesopanan yang dibuatnya terasa kental, aku bahkan termakan oleh perkataanku sendiri. Menerima permintaanku setelah mengeluh rasanya dihinakan oleh cara yang lembut. Aku merasa kalau keegoisanku sebelumnya bernilai konyol karena dikabulkan begitu mudah.
Tapi, apa pun itu, aku mulai mengalihkan lagi perasaan pribadi menuju profesionalitas. Fokusku pada perasaan barusan yang sempat menggidikkan alis mulai kusingkirkan.
“Hmn,” dengung Pero sambil tersenyum. “Aku senang mendengar jawaban itu. Tapi, aku ingin kamu menerima ini lebih dulu.”
“Hn?”
Aku merespons sedikit bingung.
Pero seharusnya tidak membawa barang apa pun. Dia datang dengan wujud burung gagak ke lantai dua, berubah menjadi bentuk manusia tanpa sehelai kain, lalu sekarang meminjam pakaian kakakku untuk menutup badannya. Jadi, seharusnya tidak ada kesempatan dia membawa barang.
*Shine
Eh? A-ah ... tentu saja.
Di kebingungan sesaat, pikiranku pun langsung tercerahkan. Pasalnya aku sedang berhadapan dengan penyihir, dan apa yang kulihat juga sesuatu yang berkaitan dengan itu.
Pero menengadahkan tangannya ke atas, dengan tinggi posisi yang masih sejajar dada. Ketika dia terdiam dengan fokus memejamkan mata, sekelibat cahaya pun mulai muncul.
Aku tidak terkejut, aku sudah biasa melihat kejadian sihir yang tidak masuk akal dari mereka. Malah, aku sedikit kecewa kalau sebelumnya aku sempat berpikir menggunakan logika padanya.
__ADS_1
Cahaya tersebut tidak terlalu pekat, hanya menyinari sejenak layaknya flash dari kamera. Tidak membuatku silau, tapi cukup untuk memicingkan mata sejenak. Lalu, di sana aku mulai memperhatikan, di balik cahaya itu muncul satu benda yang melayang sejenak. Mengambang di atas tengadah tangan Pero beberapa senti.
“Pisau,” ucapku refleks ketika melihat benda tersebut.
“Ah, iya. Ini pisau yang sebelumnya aku berikan padamu,” jawab Pero yang mulai merentangkan tangan memberikan pisau tersebut. “Sebelumnya kamu meninggalkan ini. Hmn ... atau lebih tepatnya kamu pingsan setelah melawan Geza hingga tidak bisa membawa pisau ini.”
“...”
Pisau itu aku ambil, sensasi yang aku masih ingat ketika mulai memegangnya.
Pisau tersebut punya corak khusus yang indah, corak dengan tema meliuk melambangkan api atau sesuatu seperti gelombang tajam, aku tidak tahu bagaimana menggambarkan jelasnya. Tapi, aku yakin dengan motif seperti ini, pisau tersebut layak untuk dijadikan pajangan.
Gagangnya begitu ringan, dan beratnya sangat simetris di kedua sisi. Aku sangat mudah untuk menggunakannya mengayun, tidak berat ke gagang pisau maupun pada mata pisaunya. Pisau yang memiliki warna dominan hitam dan perak silver itu benar-benar kembali padaku.
“Kenapa kamu kasih lagi pisau ini, Pero?” tanyaku setelah memegang, meraba, dan menelaah setiap sudut pisau itu. “Aku memang bilang kalau aku sembuh, tapi bukan berarti aku bisa tarung lagi sekarang.”
“Bukan,” jawab Pero sambil menggeleng pelan menutup mata sesaat. “Bukan begitu, bukan maksudku seperti itu memberikan pisau itu lagi.”
“Terus? Buat apa?”
“Itu untuk melindungi diri.”
“Heh, kedengeran sama saja di telingaku.”
Melindungi diri atau bertarung, pada akhirnya aku akan mengayunkan pisau tersebut pada lawanku. Tidak ada bedanya, yang berbeda hanya tujuan di baliknya. Tapi, itu tetap tidak mengubah fakta kalau aku mengarahkan mata pisaunya pada orang lain.
“Kamu boleh berkata seperti itu, tapi tolong terima pisau itu dan simpan dengan baik. Tidak peduli akan kamu pakai atau tidak, pisau itu sudah milikmu sekarang.”
Milikku?
“Woi, jangan bilang kalau pisau ini sudah dilapisi kutukan atau kontrak sihir aneh?” tanyaku menaikkan sedikit alis menaruh curiga.
“Aku sudah bilang kalau aku tidak menggunakan hal semacam itu padamu, Kaivan,” kilah Pero menaikkan alis dengan nada meninggi layaknya menghindar dari tuduhan. “Aku, hmn .... aku hanya ingin kamu menyimpannya sebagai tanda pertemanan, tidak ada niat sedikit pun untuk aku menyimpan benda yang sudah kuberikan. Tapi, hmn ... tentu jika kamu tidak ingin menggunakannya, itu tidak menjadi masalah bagiku.”
“...”
Ini sebenarnya menjadi sebuah ketegangan ketika aku menerima barang misterius dari orang lain. Pasalnya, Pero itu masuk dalam makhluk mistis. Di cerita fiksi, sudah satu pancingan keburukan ketika salah satu tokoh membawa barang dari penyihir untuknya sendiri.
Tapi, untuk sementara aku mempercayai mereka. Sudah terlambat jika aku ingin bersih dari dunia sihir sekarang.
Dengan tekad tersebut, aku pun meletakkan pisau pemberian Pero di meja belajarku. Posisiku yang sedang duduk di kursi putar hanya perlu satu gerakan kecil berbalik agar bisa menaruh benda tersebut di sana.
“Baiklah,” ucapku sambil kembali memutar badan memulai pembicaraan lagi. “Topiknya agak jauh. Tapi, aku masih belum dengar penjelasan kalian. Sekarang apa yang terjadi dan apa yang kalian mau dariku?”
__ADS_1