Pencicip Emosi

Pencicip Emosi
Arc 4 New Stage : Chapter 24 - Dipermainkan


__ADS_3


Cahaya ruangan tersebut sedikit remang. Dengan sumber lampu minim dari laptop mejanya aku hanya bisa mendapat sedikit bayangan tentang dirinya.


Orang itu memakai jubah, detail yang cukup khas layaknya penyihir dan cendikiawan pada zaman medieval. Saat dia berdiri, aku bisa melihat tubuh besarnya, bayang yang dia ciptakan menutupi sumber cahaya minim di hadapanku dan memberikan kesan seram. Lalu ....


“Taruh, rotimu itu di atas meja itu.”


“...”


Orang tersebut bicara memberiku perintah.


Suaranya terdengar begitu keras, atau lebih tepatnya lebih ke arah kasar. Layaknya sedang memakai filter khusus, setiap kata dan gelombang suara yang dia keluarkan terdengar tidak normal. Jika digambarkan, kondisinya tenggorokannya seperti sedang tersangkut pecahan kaca.


Aku pun maju beberapa langkah, mendekati meja yang disebut dan menaruh roti yang kubawa di sana. Meja itu sendiri tidak ramai oleh barang, dengan kondisi gelap minim cahaya, aku hanya bisa melihat beberapa kertas dan alat tulis berserakan. Dari pada seorang makhluk misterius, meja ini lebih seperti meja kantor biasa.


Setelahnya, aku pun refleks menengadahkan kepala ke atas, sekitar tiga puluh derajat agar bisa melihat wajahnya. Aku bisa merasakannya, setiap gerakanku diawasi dengan tajam oleh orang di hadapanku tersebut. Jadi, melihat ke arahnya adalah bentuk pertahanan diri di mana aku juga ingin tahu perintah selanjutnya yang dia keluarkan.


Tubuhnya begitu tinggi, mungkin sekitar dua meter. Tapi, massa ototnya tidak sebesar tubuhnya, daging di tangan dan badannya sedikit hingga membuatnya terlihat jelas tergolong orang yang kurus. Sebelumnya aku tidak sadar karena pakaian berjubah dan longgar yang dia kenakan, tapi ketika lebih dekat aku bisa menelaah lebih lanjut.


Pandanganku terus naik ke atas, hingga sampai di kepalanya. Kala itu aku tidak bisa melihat wajahnya secara langsung, orang tersebut ternyata memakai semacam topeng. Desain topeng itu juga tidak terlihat jelas, dominan hitam di bagian tengah dan atas dan hanya terlihat lubang kecil di mulut untuk sirkulasi udara.


“Jadi, apa perlumu sekarang? Tidak mungkin kamu hanya datang karena kebetulan menemukan istanaku di sini. Apa permohonanmu di sini?” tanya orang tersebut yang masih dengan suara kasarnya.


Hmn ... baiklah, sekarang aku harus mulai dari mana?


Tujuan utamaku adalah bernegosiasi agar dia bisa hidup tenang tidak menimbulkan masalah di duniaku. Keberadaan sihirnya membuat Pero sendiri merasa khawatir akan kekuatannya yang besar. Siluman gagak itu tidak memberi tahu dan memang tidak tahu tentang rencana apa di balik gelombang sihir ini. Tapi, jika itu adalah hal buruk, maka dia sendiri tidak menjamin keselamatan orang-orang yang terkait.


Bernegosiasi butuh informasi, dan jika aku ingin menggali informasi, aku ingin sesuatu yang hanya bisa didapatkan di kesempatan ini. Hal yang tidak diketahui Pero, sekaligus menjadi kunci penting bagi tujuanku.


“Aku ke sini buat cari tahu. Sebelumnya kamu bilang tempat ini istanamu, ‘kan? Apa itu maksudnya dan apa tujuanmu bikin tempat kayak gini?”


Iya, setidaknya itu adalah bekal utama. Pertanyaan yang membuatku bisa berpikir negosiasi itu bisa berjalan.


“OooOoohhhH ... begitu, iya,” jawab orang tersebut dengan nada mengejek walau suaranya pecah. “Aku boleh saja memberi tahumu, tapi apa untungnya untukku? Apa kamu memberikan akan memberikan sesuatu lagi?”


“Sesuatu? Apa yang kamu mau dari orang kayak aku? Apa yang bisa kukasih gak lebih dari roti yang barusan.”


“Hanya itu? Baiklah, sepertinya hal yang sama juga tidak akan sama menyenangkannya untuk kedua kali. Mungkin kali ini aku akan meminta hal lain.”


“Kalau begitu, kenapa gak kasih tahu dulu. Soal aku punya atau enggak hal yang kamu mau, itu bisa dikasih tahu nanti.”


“Kalau begitu, lakukan push up sebanyak lima kali sekarang. Lalu, aku akan memberi tahumu.”


“...”


Hn?


Aku sempat memutar otak, menelaah pendapat di mana kata keluar darinya berupa sebuah permainan. Maksudku, jika aku memang melakukan hal tersebut, tidak sedikit pun terlihat gambaran kalau dia akan mendapat keuntungan darinya.


“Cuman ... push up?” tanyaku memastikan.

__ADS_1


“Tidak, tidak ... push up bagimu itu berat bukan? Sekarang kamu hanya bisa menggunakan satu tangan. Jadi, itulah sebabnya aku memintamu demikian,” jelasnya yang masih mempertahankan suara seraknya.


“...”


Iya, mungkin memang ada benarnya. Jika aku melakukan push up sekarang, maka tidak ada pilihan selain diriku harus melakukannya dengan sebelah tangan. Tapi, fakta tersebut tidak mengubah kalau tidak ada yang dia dapat dari tindakan tersebut.


Di satu titik aku pun mulai berhenti berpikir. Tidak peduli apa yang dia maksud, setidaknya aku bisa menyedot informasi dari kelalaiannya sekarang.


Aku mulai berbalik, berjalan menjauhinya dan mencari tempat untuk bisa melakukan push up.


“Oh, iya. Kamu butuh tempat untuk melakukannya, ‘kan?”


Sebelum aku sadar, ternyata orang tersebut sudah mendahului. Keberadaan sofa dan meja di ruangan tersebut membuat tidak ada tempat cukup luas untuk tubuhku bisa leluasa.


“Jangan maju dulu,” kata orang itu yang sepertinya ingin melakukan sesuatu di tempat ini.


Aku hanya menurutinya, diam tidak banyak bicara dan mencoba mengintip ke belakang tentang apa yang dia akan lakukan.


Begitu aku melihat, tidak ada tanda-tanda dia akan berpindah dari tempatnya. Namun, di sana aku melihat orang tersebut mengangkat tangan, tidak terlalu tinggi yang hanya sejajar dengan dadanya. Dia melakukan sedikit gerakan sederhana, mengepal pergelangan sambil menghadapkan punggung tangan ke arah depan. Lalu ....


Bug.


“Hh!?”


Sesaat ketika dia menghempaskan tangannya ke samping, terdengar suara yang begitu keras di depanku. Sentak keras, atau bahkan lebih seperti suara tubrukan dan hancurnya satu barang.


Aku kala itu sedang melihat ke belakang, dan dengan refleks membalikkan kembali pandangan ke depan setelah kejadian tersebut. Mengikuti rasa terkejut barusan, perasaanku kembali naik ketika melihat apa yang terjadi.


Ah ... jadi ini maksudnya kekuatan besar yang Pero bilang.


Aku tidak yakin telekinesis yang bisa memecahkan barang itu adalah kemampuan terbesarnya. Dilihat dari begitu santai gerak tubuh dan begitu sembrononya dia memakai kekuatan, kurasa ini hanya sebagian kecil.


Apa pun itu, aku mengerti Pero ingin melakukan negosiasi dibanding melawan orang seperti ini secara langsung. Jika aku ada di posisi meja dan sofa kayu tersebut, tubuhku juga sudah terpecah belah menjadi layaknya terkena ledakan mortar.


“Sekarang tempatnya sudah kosong, kamu bisa gunakan alas karpet itu buat push up.”


“...”


Setelah melakukan hal tersebut, dia masih memintaku untuk melakukan push up. Apa dia hanya ingin memamerkan kekuatannya untuk membuatku takut?


Aku di sana pun mengambil posisi, menurunkan badan dan menaruh topang sebelah tangan untuk melakukan push up. Cukup sulit menjaga keseimbangan ketika tanganku yang digantung dengan gips menyebabkan anomali tidak simetris pada berat badan. Tapi, dengan sedikit usaha dan penyesuaian pada akhirnya aku bisa melakukannya.


Aku memang bukan orang yang sangat atletis, tapi aku cukup percaya diri dengan stamina keseluruhanku. Melakukan push up sebelah tangan bukan hal yang tidak mungkin.


Setelah selesai, aku kembali berdiri dan menghadap ke arah orang tersebut untuk menagih janjinya.


“Bagus, kamu memang melakukannya. Kalau begitu sekarang giliranku,” ucap orang tersebut yang masih memelihara suara seraknya yang menggelegar ke seluruh ruangan.


“...”


Dari sejak tadi aku tidak membaca gelombang emosi darinya. Tapi, bukan berarti aku tidak merasakan apa pun. Ini seperti dia mengeluarkan sesuatu yang tidak bisa kubaca langsung. Layaknya angin polos yang tidak berwarna maupun berasa, bahkan aku sendiri tidak tahu suhunya panas atau dingin.

__ADS_1


Mungkin ini yang terjadi jika aku berhadapan dengan animus murni. Lagi pula, aku juga tahu kalau kekuatanku hanya berlaku untuk manusia. Pero yang sudah mengambil bentuk manusia bisa kurasakan sedikit gelombang emosinya, tapi orang di depanku hanya dapat kurasakan gelombang hambar.


“Pertama, pertanyaan tentang istana. Aku sebenarnya hanya bisa menjawab kalau istana itu adalah rumahku. Akan tetapi, tentu kamu tidak mengharapkan jawaban tersebut. Kamu ingin tahu penjelasan apa yang aku sebut rumah. Benar, bukan?”


“...”


Aku tidak menjawab, suaranya terasa mengancam untuk bisa aku menjawab dengan santai. Oleh sebab itu, aku hanya meresponsnya dengan sebuah pandangan kalau aku sedang mendengar dan tidak membantah.


“Rumahku layaknya rumah kalian, terbuat dari barang-barang yang sama seperti yang ada di rumah kalian. Hanya saja, aku melindungi rumahku sedikit berbeda. Pagar tinggi itu hanyalah pembatas, sesuatu yang kupasang setelahnya adalah pelindung. Kamu sudah masuk ke dalamnya, dan itu adalah dunia animus yang aku ciptakan sendiri di mana hanya aku yang bisa membuka dan menutup portalnya.”


“...”


Detak jantungku mulai mengencang, keringat dingin mulai keluar.


Mendengar itu aku sama sekali tidak mendapat keuntungan. Jika apa yang dikatakannya memang benar, itu artinya aku sudah masuk dalam satu kerugian di mana Amalia dan Pero ada di dalam sanderanya. Satu faktor itu saja sudah cukup untuk membuat kesempatan melakukan negosiasi menjadi menipis.


“Lalu, kamu bertanya tujuanku melakukan ini. Lagi-lagi, aku tidak punya tujuan yang luar biasa selain untuk mencari tempat tinggal. Jadi, kali ini aku juga akan menambah jawaban yang sepertinya kamu cari.”


“Aku cari?” ucapku yang menanyakan maksud perkataannya.


“Tentu saja, memang aku tidak tahu kedatanganmu hari ini karena apa? Tentu saja itu karena ledakan sihir yang terjadi tadi sore, ‘kan? Apa kamu pikir itu kecelakaan, apa kamu pikir aku melakukannya tanpa sengaja, apa kamu pikir aku tidak tahu dengan fakta tersebut?”


“...”


Aku kembali merespons diam. Mendapat pertanyaan beruntun seperti itu membuatku merasa terus dipojokkan.


“Iya, jawabannya sudah jelas. Aku pasti tahu, atau lebih tepatnya memang aku sengaja melakukan hal tersebut. Aku tahu kalau kalian makhluk sihir akan tertarik dengan keberadaan sihir yang kuciptakan. Pada akhirnya memang akulah yang memanggil kalian, memastikan siapa orang yang memiliki sihir di wilayah ini. OooohHh ... ohohoho ....”


“...”


Tawa di akhirnya terdengar menjijikkan, dia dengan suara pecah serak di mikrofon rusak membuatku ingin mengumpatinya.


Tapi, kesampingkan tentang hal tersebut. Apa yang dia ucapkan ada benarnya. Jika dipikirkan secara terbalik, seharusnya aku tahu kalau ini memang akan terjadi.


Dia yang mengatakan hal tersebut menjelaskan secara langsung kalau dirinya memang sudah ada di sini dalam kurun waktu yang lebih lama. Dia yang memberi tahu akan perputaran ini menjelaskan kalau kedatanganku adalah sebuah rencana baginya. Di titik ini, aku bahkan tidak tahu harus bagaimana merespons dan melakukan pembicaraan untuk melakukan negosiasi. Sesuatu yang kupikirkan malah lebih ke arah bagaimana dia bisa mengizinkan aku, Amalia, dan Pero keluar dari tempat ini.


“Baiklah kamu mungkin bertanya, aku ini orang baik atau orang jahat. Apa aku ini merugikan atau menguntungkan bagimu. Pertanyaan tersebut akan mempengaruhi apa yang akan kamu lakukan selanjutnya.”


“Entahlah, waktu aku sudah dengar penjelasan barusan, aku gak punya pikiran kalau aku bisa memilih sekarang.”


“Tidak, tidak, pilihlah ... kamu punya pilihan sekarang, aku tidak akan memaksamu dalam satu kehendak.”


“Hoo ... kalau gitu coba bilang, memangnya apa yang bisa kulakukan sekarang?” tanyaku dengan nada menantang.


“Itu bukan kalimat yang bisa kau utarakan dengan nada sombong,” ucap orang tersebut yang sepertinya sedikit menimpalku.


“Maaf, aku gak ahli dalam mengendalikan ekspresi,” ucapku yang sebenarnya dalam keadaan sama terdengar lebih seperti mengejek.


“Baiklah, aku abaikan hal tersebut. Norma dan aturan lain hanya berlaku bagimu,” balas orang tinggi besar itu yang menyerah membahas lebih jauh. “Kita langsung saja ke intinya. Tujuanku di sini adalah ingin menawarimu sebuah game, bagaimana menurutmu?”


“...”

__ADS_1


Huh? Game?


__ADS_2