
Farrel menatap tegas di hadapanku, tubuhnya yang tegap terlihat cukup menjadi ancaman dengan kapak di tangannya. Sedangkan aku, bersandar di pohon karena tangan telapak tangan kanan yang ditusuk oleh pisau.
*Drop
Keadaanku begitu terpojok, rasa sakit yang aku rasakan benar-benar menyiksa. Tentu saja, sekarang ada pisau yang menembus tanganku, belum lagi luka sayat dalam yang ada di lengan kiri. Kebocoran aliran darah ini membuatku lemas, kehilangan tenaga hingga kapak di tangan kiriku jatuh terlepas ke tanah.
Tangan kiriku mungkin masih terbebas, ada kemungkinan aku bisa mencabut pisau yang tertancap menusuk telapak tangan kananku. Tapi, jika aku lakukan, apa artinya itu? Pergerakan gegabah hanya akan menambah luka dan rasa sakit. Luka di tanganku itu parah parah, urat saraf seakan tersentuh semua memperingati otakku akan lonjakan rasa sakit ini. Daripada meloloskan diri, aku mungkin akan lebih dulu kehabisan darah ketika berusaha menarik tancap pisau di tanganku.
“Maaf, Kaivan. Kayaknya aku dapat kondisi curang di sini,” kata Farrel yang mencoba mengajakku bicara dengan nada tenang sambil berjalan santai membusur. “Orang yang aku peranin punya keahlian bela diri. Semua ingatan dia ada di kepalaku sekarang, sudah kayak aku install skill baru buat bertarung.”
“...”
Aku hanya diam, menatapnya dengan tatapan sinis dengan kepala yang mengikuti arah jalannya.
“Jangan lihat aku kayak dendam gitu, Ivan. Kita ‘kan teman sudah dari lama. Lagian, aku juga gak bakal bunuh kamu sekarang. Jadi, gak usah takut mati, aku kayak gini cuman kepaksa gara-gara kamu mulai berontak.”
Farrel menjauh sesaat, dia berjalan ke arah lubang jebakan tempatku sempat terperosok. Di sana, dengan cepat dia masuk dan kembali, mengambil bilang pedang yang sudah berwarna darah karena menyayat tanganku sebelumnya.
“Jadi, kamu pelakunya, iya, Farrel,” kataku bergumam pada lelaki itu yang semula masih berjarak cukup jauh. “Terus, apa yang rencana kamu sekarang? Apa kamu mau bunuh semua orang?”
“Jangan kayak gitu, aku bukan orang jahat sekarang. Kalau kamu punya misi, aku juga punya. Memang benar orang yang aku peranin itu penjahatnya, tapi aku di sini gak niat buat bunuh semua.”
“Heh, gak bunuh semua ...?” tanyaku dengan deham. “Jadi berapa yang kamu mau bunuh?”
“Entahlah, tergantung dari kondisi, bisa saja hanya satu atau bisa saja bertambah.”
“Apa itu? Jadi, kamu pikir kamu bisa pilih orang gitu saja buat kamu bunuh? Asal kamu, beda kayak aku, Amalia yang ada di sana itu jauh lebih kaut dariku,” kataku sedikit mengancam.
“Tentu aku tahu, Kaivan. Beberapa kali aku mendengar kalau dia bahkan bisa bunuh monster besar di tantangan pertama itu. Aku gak terlalu bodoh, setidaknya aku tahu rencanaku kalau semisal aku memang mau bunuh dia.”
“...”
Farrel kembali berjalan ke arahku. Setelah berhasil membawa bilah pedang, dia mendekat sambil mengelap noda darah di pedang tersebut untuk selanjutnya bicara denganku lagi.
“Aku mau kamu gak banyak berontak lagi, Kaivan. Sebisa mungkin aku bakal bikin akhir yang paling baik. Dari sini, aku sudah pilih siapa yang bakal mati dan gak bikin kamu sedih.”
“Akhir paling baik ...? Jadi akhir terbaik itu tetap harus ada yang mati,” ucapku masih dengan nada lemas.
“Ayolah, Kaivan. Kita dibawa ke dunia sihir gara-gara kamu. Setidaknya kamu harus berkorban karena dari awal ini memang salahmu. Lagian, sudah ada yang mati sekarang, tambah beberapa mungkin gak bakal beda jauh.”
Eh ... tunggu dulu.
Aku kembali ingat. Seharusnya Farrel di hutan ini tidak sendiri. Dari berita acara, dia pergi mencari hewan buruan. Tentu tugas tersebut akan berat jika harus dilakukan sendiri. Tapi, keberadaannya yang sendirian di sini menimbulkan pertanyaan.
“Hanz ... di mana dia?” tanyaku yang penasaran.
“Oh, koki itu,” kata Farrel yang mengarahkan mata ke kanan atas mengingat kejadian. “Dari semua anggota, orang itu yang paling bikin aku merinding. Jadi, iya ... dia aku bunuh barusan.”
“Eh?” responsku terbelalak melebarkan mata. “Kamu serius?”
“Iya, buat apa aku bohong sekarang? Aku sudah pastiin dadanya ditusuk dan tubuhnya dibuang ke tebing. Gak mungkin dia selamat.”
*Sheath ....
Farrel di sana mulai menyarungkan bilah pedang dan kapak senjatanya. Dia yang sudah siap dengan perlengkapannya pun mulai menjauh meninggalkanku dan berjalan ke arah penginapan.
“...”
Sampai detik itu aku tetap tidak melawan. Meresapi nyeri tangan yang entah kenapa mulai membesar sekarang. Mungkin beberapa detik berlalu membuat pembuluh darahku membengkak, memberi rangsangan tambahan pada luka di kedua tanganku sekarang.
Iya, memang benar. Mungkin sedikit egois untukku mengharapkan akhir bahagia sekarang. Satu orang sudah mati di luar pengawasanku, dan mungkin adalah delusi semata jika aku masih bersikeras bersikap sok bijak untuk berjalan pelan. Pada dasarnya, memang orang yang berjuang adalah orang yang akan menang.
“Satu lagi, Farrel ... sebelum kamu pergi,” ucapku memanggil Farrel yang menjauh sekali lagi.
“Ada apa?”
“Bisa kamu kasih tahu tujuanmu? Apa yang kamu kejar sekarang sampai rela bunuh orang kayak gini?”
“Kalau kamu tanya latar alasan orang yang aku peranin, alasannya karena denda. Laki-laki yang jadi guru itu sebenarnya punya skandal sama cewek sultan yang diperanin Imarine. Soal hubunganku sama cewek sultan itu. Iya ... anggap saja cowok yang aku peranin punya perasaan kuat sama dia.”
“Kalau itu aku sudah tahu, Farrel,” kataku menimpali jawabannya.
Dari awal, kasus ini adalah pembunuhan berencana. Itu sudah menjadi petunjuk besar kalau pelaku diduga kuat memiliki ikatan penting dengan korban, atau setidaknya lingkungan yang korban. Entah alasan apa itu, tapi normalnya manusia tidak akan mencari masalah dengan membuat rencana matang hanya untuk membunuh orang secara acak.
Aku secara diam-diam menanyakan beberapa informasi tentang satu orang dari sudut pandang orang yang berbeda. Lalu, didapatlah cerita seperti yang cukup unik. Sesuatu seperti guru yang mencemari anak sultan di sini.
Iya, aku tidak kaget. Dibandingkan Hanz yang berperan sebagai koki dan baru mengenal guru tersebut di penginapan ini. Lebih mencurigakan kami sebagai murid yang sudah mengenal guru tersebut sejak lama.
Tapi, itu tidak penting.
“Yang aku tanyain sekarang, hah, hh ... kamu ... bukan, tujuanmu. Tujuanmu tentang ini, apa yang kamu dapat nanti, Farrel?”
“Tujuanku, iya ...,” gumam Farrel sambil melihat langit. “Apa kamu masih gak ngerti sampai sekarang? Harusnya kamu sudah sadar, Kaivan. Tapi, sampai sekarang kamu masih panggil aku pakai nama itu.”
“Di mataku, kamu masih kamu, Farrel.”
“Iya, benar. Aku masih aku. Tapi, di luar sana masih ada Farrel yang kenal kamu, Farrel yang asli dan gak pernah kesentuh sama dunia sihir ini.”
“...”
Memang sebuah fakta yang sedikit sulit untuk diterima. Pasalnya, menunjuk Farrel sebagai pelaku dari kejahatan di dunia ini sama saja dengan menuduhnya sebagai pion, pemain palsu yang dibuat oleh Octa, bertugas menyelinap sebagai pengacau.
Bukan karena aku tidak ada bukti pendukung lainnya. Hanya saja, hatiku sendiri sedikit membantah hal ini. Karena ....
“Aku masih ingat, aku bisa berdiri di sini karena kamu selamatin aku waktu itu, Farrel. Entah kamu itu palsu atau enggak, aku masih pandang kamu sebagai manusia.”
Farrel yang menyelamatkanku dari serangan monster adalah Farrel yang sedang berdiri di depanku. Dia dengan kemanusiaannya bahkan rela mempertaruhkan nyawanya demi aku, orang yang membawanya ke dalam dunia brengsek penuh bahaya.
Cukup sulit untuk melupakan orang yang sudah menyelamatkanku berkali-kali, orang yang sudah berjuang bersama dan saling mengajari masing-masing pengetahuan cara tentang bertahan hidup, orang yang sudah menemaniku lebih lama dibanding orang lain di dunia ini.
“Kalau kamu bisa mikir kayak gitu, artinya kamu juga tahu apa yang aku mau sekarang.”
“...”
“Aku bukan manusia yang sama kayak kalian. Tapi, di kepalaku sekarang aku ini manusia, aku ingin hidup. Kalau memang ini cuman jadi salah satunya cara buat selamatin diri. Aku gak keberatan. Umurku tidak sampai satu minggu setelah diciptakan, dan aku gak mau mati gitu saja di sini.”
“Jadi, kamu mau bunuh orang lain biar kamu hidup? Kalau gitu kenapa gak bunuh aku saja?” tanyaku dengan sinis.
“Sayangnya itu bukan bagian dari rencana ... dan memang bukan sesuatu yang ditugaskan buatku. Tapi, Kaivan ... percayalah, aku serius. Aku berani buat pilih pilihan ini karena memang inilah cara mainnya. Kalau kamu gak bisa kalahin aku sekarang, sudah gak ada harapan kamu dapat akhir bahagia tanpa bantuanku.”
*Step, step, step ....
Farrel berlari kecil meninggalkanku di sana. Dia dengan keputusan dan tekad kuat sudah memutuskan jalur yang dia pilih. Tujuannya jelas, apa yang dilakukannya terencana dan berpegang teguh atas prinsip bertahan hidup. Sedangkan aku, sekarang hanya menerima nasib ditusuk memaku bersama batang pohon.
Tubuh Farrel sudah mulai tidak terlihat, suara gemerisik kaki yang menginjak dedaunan juga lenyap berganti senyap sepi dari hutan.
Menunggu, terus menunggu ....
Satu menit, dua menit, berdiri dan terasa mulai pegal di pergelangan kaki.
Dengan kepala menunduk dan tatapan sayu, aku tetap tidak melakukan apa pun. Jika aku tidak bergerak, aku mungkin akan membusuk di sana.
.
.
.
“Ah … Kaivan, apa kau sengaja menunggu? Atau diammu sekarang adalah sebuah rencana.”
Lalu, di tengah hutan tersebut muncul suara halus. Dari seorang lelaki yang memiliki tatapan sayu dan tenang, bersamaan dengan angin hutan suara tersebut menyatu karena jenis atmosfernya. Suara dari Hanz, lelaki dengan rambut keputihan dan mata biru terang tersebut dating dengan santai menghadap ke arahku yang sedang tertusuk di pohon.
Aku mengangkat kepalaku, mengarahkan pandangan pada orang yang berdiri di depan sekarang.
“Heh.”
Lalu, aku berdeham sambil menyungging senyum. Melihat keadaan tersebut bukan dengan respons terkejut karena Hanz yang masih hidup, melainkan lebih kea rah meremehkan.
“Kenapa lama banget, Hanz?” lanjutku bertanya dengan nada merendahkan.
*****************
Aku mungkin tidak menganggap kalau Hanz adalah orang yang paling kuat. Sesuai dengan dugaan dari Farrel, kemampuannya masih misterius dan memang tindakan tepat untuk melenyapkannya lebih dulu.
Tapi, Farrel sepertinya tidak mengetahui bahkan satu petunjuk pun dari Hanz. Lelaki dengan tatapan lemas yang kosong seperti ini punya kekuatan yang luar biasa hingga membuatku seram. Dia bisa membuat dirinya menghilang tidak bisa dilihat baik keberadaannya maupun perubahan lingkungan atas keberadaannya.
Mungkin Farrel merasa yakin karena dia melihat Hanz jatuh dari tebing. Entah aku tidak mengerti bagaimana caranya bisa seperti itu. Tapi, hal tersebut cukup aneh jika dipikirkan kembali. Pasalnya, Hanz juga punya kemampuan hebat lainnya, yaitu bisa berubah wujud menjadi burung hantu raksasa dan terbang tanpa getar suara.
“Aku tidak menyangka kalau kau akan terpojok secepat ini, Kaivan. Keterlambatanku sebenarnya hanya sebagian kecil dari kesalahan,” kata Hanz yang berjalan semakin mendekat.
Aku sebelumnya sudah menduga kalau Hanz tidak akan mati begitu mudah. Maksudku, dia adalah orang yang punya kemampuan untuk bisa terbang mengudara dengan wujud burung hantunya. Tentu jika dia serius, seharusnya Hanz tidak akan membiarkan dirinya tertikam atau malah jatuh ke dalam tebing.
“Maaf, sampai saat itu aku masih ragu. Memang harusnya aku lebih tegas buat ambil keputusan.”
“Lalu, apa kau yang sekarang sudah memutuskan? Aku tidak akan melepaskanmu jika kau masih tenggelam dalam perilaku naif itu,” kata Hanz yang masih memandangiku sayu tepat di hadapanku yang sedang terjepit.
“Heh, apa aku harus bilang langsung? Bukannya kamu lebih peka waktu kayak gini?” tanyaku berdeham kecil. “Iya, aku sudah gak kaget lagi. Farrel itu musuh sekarang, kalau dia datang membunuh, aku juga bakal balik bunuh,” lalu lanjutku dengan kalimat tegas penuh percaya diri.
“Bagus kalau begitu.”
*Pull
“Gkhak!?”
Hanz menarik bilah pisau yang tertancap di pohon. Dengan kasar tanpa aba-aba, lelaki itu mencabutnya dengan sekali tarikan lurus. Kekuatannya yang cukup kuat membuat pohon itu bergetar, menggugurkan beberapa daun, dan menyipratkan darahku karenanya.
Itu mungkin cara tercepat. Walaupun ada sedikit luka karena gesekan tajam yang menembus telapak tangan, kejadian yang terlalu cepat itu sesaat membuatku tidak sadar dengan rasa sakit.
“Hah, hh, hah ...,” napasku sedikit berat, gerakku sedikit kaku karena anemia pun berusaha memegang tangan kanan tersebut menyumbat pembuluh darahnya. “Ah, hah ... huft, hah ... Hanz ... hah, hh ... kamu gak bisa pelan sedikit? Tanganku yang bolong gini itu sakit parah— Hah, hh ....”
Tanganku diposisikan ke atas, pembuluh nadi di lengan aku tekan sedikit untuk merendahkan tekanan darahnya. Biarpun begitu, kedua tanganku sedang terluka. Ketika aku menggunakan kekuatan tangan kiri untuk menekan tangan kanan, maka pendarahan di tangan kiri juga tetap berlanjut. Ini sedikit rumit, tapi luka di tangan kanan lebih parah. Jadi, aku tetap memilih melanjutkan hal tersebut.
“Tidak perlu khawatir, Kaivan. Kau punya sistem regenerasi yang sangat hebat untuk kalangan manusia. Bisa dibilang, mungkin itu juga salah satu kemampuan sihirmu.”
*Drop
Hanz mencoba membela atas tindakan kasarnya barusan. Dia mengatakan hal tersebut sambil melempar jauh bilah pisau berlumur darah yang sebelumnya memakuku di pohon.
“Huh? Regenerasi cepat itu maksudnya gimana? Tanganku itu bukan ekor cecak,” kataku sedikit mengumpat.
“Kau ... terlalu berisik. Dengan banyak pergerakan tidak berguna seperti itu, kau hanya akan menambah rasa sakit,” kata Hanz yang terlihat tenang layaknya lukaku bukanlah hal besar. “Satu hal yang harus kita lakukan, pergi menyusul lelaki bernama Farrel itu sebelum dia melancarkan rencananya.”
“Rencana ... kamu tahu rencana Farrel kayak gimana, Hanz?” tanyaku sedikit penasaran.
“Kalau kau ingin tahu, kenapa kau tidak lihat saja sendiri nanti. Selama ini aku dan kau juga hanya menduga. Jadi, ambil kapakmu dan bawa Ann di pangkumu sekarang. Kita akan bergerak cepat.”
“Oke, kapak sama— Hn?”
Ann?
Aku sempat teralihkan untuk mengambil kapak yang terjatuh, mengabaikan luka dan rasa sakit di telapak tanganku yang berlubang barusan. Tapi, kembali aku diserang oleh rasa bingung.
Benar juga, seharusnya Hanz sekarang bersama dengan Ann si anak kecil.
Aku menggeleng-geleng kepala, ke berbagai arah untuk menggunakan mataku melihat lingkungan sekeliling dengan cepat. Sejak dari tadi, aku tidak menyadari keberadaannya. Jadi, sedikit kaget jika benar kalau gadis itu ada di sana.
Kanan, kiri, belakang, satu detik aku gunakan dan hasilnya nihil. Sampai akhirnya ....
“Aku ada di sini ... di bawah sini, Kaivan.”
“Eh?”
Suara tersebut arahnya menyudut ke bawah. Jadi, mendengar hal tersebut, tatapan geleng ke kanan kiri pun aku hentikan. Kini, pandanganku menurun, melihat ke arah satu sudut di bawah kiri sesuai getar suara tersebut muncul.
“Hanz akan terbang sekali lagi. Dia akan kesulitan untuk membawa dua orang sekaligus dengan cakar burung. Jadi, mohon bantuannya agar aku bisa dibawa bersamamu,” kata gadis Ann dengan lemah lembut.
Iya, tubuh Ann jauh lebih kecil. Aku ingat kala itu bagaimana ukuran tubuh Hanz dengan wujud burung hantunya. Itu sangat besar hingga bisa mengangkatku yang punya berat sekitar lima puluh kilo. Dengan cakar yang besar itu, tentu solusi tersebut akan dianggap lebih mudah.
“Oke, Ann,” anggukku mengiyakan. “Tapi, kalau bisa kamu yang pegang kuat. Tanganku sekarang gak kuat sama sekali.”
“Tidak masalah, aku bisa mengurus diriku sendiri. Pastikan saja kalau kamu tidak kelelahan mengangkat anak yang punya berat tiga puluh kilogram ini.”
Setelah mengatakan hal tersebut, Ann mulai berputar sedikit. Dia mencari celah dan sudut yang paling tepat memperhitungkan bagaimana caranya agar bisa mendapat posisi nyaman. Tubuhku sendiri mungkin cukup besar, gendong di punggung bukan pilihan buruk. Tapi, kali ini aku akan dibawa oleh Hanz dalam wujud burung hantu dengan cara ditenteng cakarnya. Jadi, punggung bukan pilihan bagus.
Ann memberiku aba-aba, dia menunjuk tangannya ke bawah seakan memintaku untuk menurunkan badan. Di sana aku bertanya sedikit memastikan, lalu Ann menjawab singkat membenarkan.
Mendengarnya, aku pun menekuk lutut menurunkan tubuh sedikit. Anak perempuan itu sepertinya sudah memutuskan, dia akan menumpang di bagian depanku layaknya gendong anak balita.
Aku di sana hanya diam, atau mungkin bergerak sedikit menggeliat akibat respons alami. Sebagian besar dari kunci dan pegangan diwakili oleh Ann, sekarang dia sudah terikat memegang pundakku layaknya gendong anak seutuhnya.
“Ann, gimana perasaanmu?” tanyaku yang penasaran karena dirinya tidak memberi banyak komentar tentang ini.
“Pertama, tubuhmu dipenuhi bau darah. Kedua, tubuhmu juga dipenuhi bau tanah. Ketiga, aku masih baik-baik saja sampai akhirnya kamu bertanya. Perasaan yang aku rasakan sekarang cukup menjengkelkan,” jelas Ann lurus dengan nada tegas dewasanya.
“Heh, maaf, aku juga gak bakal kayak gini kalau misal bisa milih,” jawabku berkilah dengan deham ringan.
Iya, bisa dibilang keadaanku memang separah itu. Berbagai kotoran yang melekat sudah sampai di titik menjijikkan untuk didekati. Terlebih, Ann kala itu dalam kondisi bersih tanpa banyak noda. Tapi, apa boleh buat. Daripada mengeluh tentang kebersihan, aku hanya lebih berharap kalau keadaan luka bisa membaik.
*Krek, krek, krek ....
Suara rekah pohon terdengar, Hanz yang semula di depanku sekarang sudah selesai dengan transformasinya menjadi burung hantu raksasa. Ukurannya yang besar membuat beberapa pohon tumbang, keberadaannya yang begitu megah begitu mencolok dan membuat kagum aku yang sedang melihatnya.
“Wo-woah!”
*Krek, krek ....
Responsku cukup kaget, refleks menghindar dengan menundukkan kepala.
Hanz dengan wujud burung hantu raksasa itu mengibaskan sayapnya. Dia membengkokkan atau bahkan menumbangkan beberapa pohon di sekitarku. Aku awalnya sedikit takut kalau dia ingin menyerangku sebagai mangsa. Tapi, melihat wilayah terbuka yang dia bentuk, sepertinya apa yang dia lakukan sangat beralasan.
*Jump
“Gkh ....”
Satu ancang kuat, melompat dengan tenaga hebat hingga angin, debu, dan dedaunan melontar bertolak arahnya dengan Hanz. Dia dengan wujud burung hantu itu seakan membuat topan sesaat hanya dengan awalan terbang tersebut.
Getar udara mungkin hanya terjadi sesaat. Setelah dia benar-benar terbang, Hanz justru meluncur di udara tanpa suara.
Terbang tinggi, vertikal ke langit merampingkan badan masih melanjutkan lontar tubuhnya ke udara. Tapi, ketika kecepatan melambat, dia pun mulai berbelok dan terbang ke arahku untuk melakukan aksinya.
Meluncur kencang, terlihat benda besar sudah seperti pesawat raksasa tanpa suara yang ingin menubrukku.
Hn?
Tunggu, kali ini aku tidak membawa tas, dia tidak bisa mencengkeramku dengan itu. Lalu, pakaianku juga bukan jaket, tebal pakaian kaosku dirasa tidak akan bertahan jika harus menopang berat badanku. Dan terakhir, tangan ... tanganku sedang terluka. Jika memang aku akan terbang layaknya anak kucing diangkat lurus, maka tanganku akan merasakan nyeri berlebih.
Tidak ada tumpuan, lalu bagaimana Hanz bisa mengangkatku? Dengan cakar yang luar biasa besar, aku bisa saja mati karena salah posisi—
*Grap
*******
Wujud burung hantu raksasa dari Hanz melesat kencang padaku. Terasa atmosfer yang bergetar membesar setiap detiknya, hingga pada satu titik aku menutup mata karena refleks, di saat ketika cakar burung hantu itu mendekat kencang.
*Grap
Awalnya aku mengira rasa sakit menyusul ketika Hanz mengaitkan cakarnya ke tubuhku.
Hn?
Tapi, aku tidak merasakan apa pun yang menyakitkan. Bayanganku tentang Hanz yang bisa mengoyak tubuhku dengan cakarnya, atau mungkin setidaknya menarik tanganku paksa hingga mengalami pendarahan lagi, semua itu los dan hilang begitu saja.
Sekarang, aku hanya merasakan angin dingin biasa.
Mataku mulai terbuka sedikit demi sedikit, memberanikan diri untuk mengetahui apa yang terjadi. Lalu, tepat saat sadar, aku melihat kakiku melayang. Ternyata, saat itu aku memang sudah terbang di udara.
“Memalukan sekali, Kaivan. Kenapa kamu jadi penakut hanya karena dibawa terbang seperti ini?”
Di sana terdengar suara dari Ann, posisinya yang masih digendong depan layaknya balita pun bicara dekat dengan telingaku. Oleh sebab itu, kondisi gesekan udara yang besar di telinga tetap tidak menjadi penghalang suara anak kecil itu lewat ke telingaku.
Sebenarnya, kondisiku sekarang jauh lebih baik dibanding saat pertama aku pergi dengan Hanz. Pasalnya, kakiku tidak terlalu keram, gesekan udara tidak terlalu parah mengibas kulit, rambut dan gendang telingaku. Lalu, terakhir dan yang paling penting, cakar burung hantu raksasa dari Hanz yang awalnya memberi rasa ngeri dan sedikit sakit sekarang justru tidak terasa.
Aku melihat ke atas, menengok ke arah tersebut dan memastikan ke mana tubuhku berpegangan. Tapi ....
Hn? Kosong? Ha-huh ...?
Tubuhku tidak mengait pada apa pun, begitu juga cakar besar dari wujud burung hantu Hanz. Kami berdua tidak bersentuhan, tapi tetap terhubung layaknya masih dalam satu kesatuan. Entah kenapa aku bisa merasakan sebuah bentuk di mana ada alat bantu tidak terlihat mengait kokoh di tubuhku.
“Aku paham, kamu pasti bingung, ‘kan? Tidak apa-apa, jika kamu kaget, sebenarnya alasannya sangat sederhana untuk diterima olehmu sekarang.”
Ann mengajak bicara padaku sekali lagi. Sepertinya dia dapat menyimpulkan apa yang kupikirkan dengan melihat wajah bingungku melihat sekeliling.
“Aku tahu Hanz itu memang punya sesuatu yang ada hubungannya sama sihir. Tapi, aku gak tahu kalau dia bisa bikin sesuatu kayak dinding atau pegangan tembus pandang. Kalau gini, dia juga bisa nyerang pakai senjata yang ngilang—“
“Tidak, Kaivan. Kemampuan itu bukan dari Hanz. Akan tetapi, akulah yang melakukannya.”
“...”
Jujur, aku juga sebenarnya tidak terlalu terkejut dengan hal tersebut. Orang yang punya kaitan dengan sihir juga punya kemungkinan tinggi kalau orang yang dia kenal juga punya. Layaknya orang dengan hobi sama, orang-orang dengan kemampuan sihir entah kenapa seperti bisa menyadari diri mereka masing-masing dan akan berakhir di mana mereka akan berkumpul.
“Kalau gitu, kamu masuk ke penyihir atau animus—“
*Explode
DUARRHG ....!!
Jarak tempatku ketika ditikam di pohon dengan posisi penginapan tidak terlalu jauh. Wajar saja karena kami sebelumnya hanya ke hutan untuk mengambil makanan. Jadi, tidak sampai beberapa menit menggunakan transportasi udara burung hantu raksasa kami pun sampai.
“Me-meledak ...?” kataku bergumam.
Namun, kedatanganku di sana malah disambut dengan kejadian tidak menyenangkan. Pasalnya, keadaan sore matahari terbenam telah dihiasi oleh ledakan api besar yang menghancurkan setengah dari penginapan.
Ledakannya cukup parah, beberapa puing bangunan terlempar dan gumpalan asap membudak hingga berbentuk jamur hitam ke atas.
Ah ... jadi ini maksudnya rencana Farrel.
Hatiku cukup dipenuhi perasaan negatif. Sadar kalau kerusakan yang terlihat begitu besar, aku yakin penghuni di sana tidak akan lolos tanpa luka begitu saja.
Aku mengerti alasan kenapa Farrel berani mengambil tindakan. Amalia adalah orang yang setahuku tidak ingin dijadikan musuh. Kekuatannya sihirnya begitu hebat dapat memanipulasi fisiknya hingga bisa bertempur hebat. Aku sendiri yang menemaninya berlatih dan bisa melihat perkembangannya.
Jadi, tentu Farrel yang mempelajari hal itu pun memutuskan untuk tidak melawan langsung. Ledakan besar dari arah penginapan tersebut menjelaskan kalau dia menunjukkan niat besarnya untuk seisi penginapan tersebut.
Kekesalan dan kemarahan mulai muncul. Jika saja tanganku masih bisa digerakkan normal, aku pasti sudah mengepal tanganku sebagai bentuk luapan emosi.
Suhu panas mulai terasa ketika aku mendekat ke penginapan. Sepertinya perpindahan udara tersebut terus bergerak cepat ke langit hingga sampai ke tempat kami terbang.
Hanz di sana juga merasakannya, terbangnya menjadi tidak stabil karena tekanan udara panas membuat kepakkan sayapnya tidak stabil. Dia dengan wujud burung hantunya melakukan rem mendadak, terbang mengepak ke lawan arah, sambil mencoba mencari jalan memutar.
Kulitku panas, rambut-rambut halus di kulitku serasa terbakar karenanya. Bahkan, di satu titik Ann si gadis kecil juga merungut menyembunyikan wajahnya di dadaku. Walaupun kami tidak terkena asap berbentuk jamur hasil ledakan tersebut, tapi hawa panas yang dihasilkan bukan main-main.
Hanz mencoba mengubah arah, dia mencari tempat yang sedikit kosong di halaman belakang untuk mendarat. Tapi, api sudah menjalar lebih banyak dari perkiraan. Jadi, pada akhirnya dia memilih tempat yang sedikit lebih dalam ke hutan untuk keamanan.
*Land ....
Kepak sayap diperlambat dengan perlahan. Seluruh daun dan rumput terkibas menyingkir persis seperti helikopter yang ingin mendarat. Hanya saja, gerakan Hanz sebagai burung lebih berirama dibandingkan mesin.
Aku memanjangkan dan mempersiapkan posisi kaki untuk mendarat. Karena di sana aku sedang membawa Ann di dadaku, tentu aku tidak bisa mendarat terlalu tinggi.
“Huft, hah ....”
Buk.
Tapak kakiku menyentuh tanah. Sedikit kasar hingga ada efek balik membuatku menunduk, tapi tidak terlalu buruk hingga bisa merobohkan kuda-kudaku. Kami sekarang sudah sangat dekat dengan penginapan tersebut. Jadi, tindakan pertama yang aku lakukan adalah menurunkan Ann agar selanjutnya aku bisa berlari kencang menyusul anggota lain yang dijebak Farrel.
Ann di sana mengikuti gerakanku, dia menaruh kakinya juga di tanah setelah aku menunduk memberikan ruang baginya.
Perasaanku di sana terus dihantui oleh kegelisahan. Pasalnya, di jarak tempatku mendarat, ternyata suhu panas dari ledakan dan sisa terbakar api bisa kurasakan memancar keluar.
“Hh, hah, hah, hah ....”
Napasku mulai terpacu, darahku mendidih karena emosi kemarahan mulai muncul dari dalamku. Melihat dari jauh ledakan tersebut ternyata berbeda ketika kau sudah berhadapan langsung. Seluruh puing-puing bangunan yang tersebar juga membuat pemikiran buruk terus lewat.
Oke, sip.
Setelah Ann turun, dengan cepat aku melontarkan kaki berlari mengeluarkan seluruh keinginan kuat yang sudah tertahan.
“Kaivan, tunggu!” kata Ann yang sedikit terkejut melihat gerakan tiba-tibaku barusan.
“Kamu diam saja, aku duluan saja ke sana.”
Tapi, jawabku dingin menolak untuk menunggu. Di sana aku memberikan Ann pemandangan singkat di mana punggungku terlihat mengecil berlari menuju bara api.
Jaraknya tidak jauh, aku hanya melesat di antara sisa pohon-pohon dengan jarak beberapa meter. Tidak sampai satu menit, lalu sampailah aku di area pintu belakang, tempat dan ruang yang bersebelahan dengan dapur penginapan.
“...”
Eh?
*Pltak, pltak ....
Suara bunga api yang membakar kayu, meledak sedikit demi sedikit menghasilkan suara yang mirip seperti petasan.
Lariku sempat berhenti memandang sebuah kekacauan di mana dapur penginapan sudah musnah total menjadi bara api dan reruntuhan. Aku tidak yakin bagaimana cara membuat ledakan sebesar tersebut di tempat terbatas seperti ini. Tapi, kemungkinan besar hal itu berasal dari bahan bakar gas. Pasalnya, minyak dan bensin normalnya tidak akan bisa menghasilkan ledakan seperti ini.
Aku memandang dan merasakan hawa panasnya, membiarkan suhu panas tersebut menebar wajahku yang berkeringat, sampai pada akhirnya ....
Ah, benar. Yang lain ... gimana nasib mereka?
Aku mengingat tujuan penyelamatanku.
Segera aku pun berlari sedikit berputar, meninggalkan Hanz dan Ann di belakang untuk segera mencari jalan masuk di pintu utama. Dari segi kerusakannya, aku masih menduga kalau pintu depan masih punya bentuk agar bisa dimasuki.
“Hah, hh, hah, hhah ...,” napasku terengah ketika berlari, memaksakan tubuhku yang sebenarnya masih terluka pendarahan di kedua lengan.
Sempat aku berpikir kalau semua anggota di sini sudah mati, atau setidaknya mereka kabur ke hutan menyelamatkan diri dari bahaya. Melihat kekacauan ini, tentu tidak ada alasan mereka menetap di dalam penuh bahaya.
Namun ....
*Whoush ....
“Gkhg!?”
Gelombang emosi ... kemarahan.
Begitu pekat, menyebar ke seluruh atmosfer hingga rasa mata dan kulitku merasakan panas pedasnya. Suhu dari api kebakaran saja sudah cukup membuatku pengap, dan sekarang aku kembali dihadapkan oleh siksa dari gelombang emosi.
Itu yang mungkin aku pikirkan sekarang. Tapi, kali ini aku lebih bersyukur bisa merasakannya. Walaupun sakit, keberadaan gelombang emosi itu menandakan kabar baik, karena hanya satu gelombang emosi pekat kemarahan yang bisa kurasakan bisa seperti ini.
Amalia ....
Amalia masih ada di dalam. Arahnya tepat di dalam gedung penginapan. Gadis itu, gadis itu masih hidup.
“Amalia ...!”
*Crash
Bugh!
Aku mendobrak pintu utama, berteriak sambil memanggil nama gadis tersebut untuk menjemputnya.
*****
*Krak, krack ....
Suara kayu datang yang secara bergantian, rekah khas dari serpihan yang terbakar membentuk bunga api petasan. Setelah membuka dan melihat ke dalam aula penginapan, sesuatu yang aku lihat adalah ruangan penuh bara api. Aula yang seharusnya diisi kosong dan menyambung ke berbagai ruangan pun telah hilang. Karena sebagian besar bangunan telah hancur, akses jalan ke ruang makan, ke kamar lantai satu, kamar mandi, tempat belajar, dan bahkan pada tangga lantai dua ... semunya telah hancur tertutup reruntuhan kayu terbakar.
Itu keadaan pertama, asap yang mengepul dan di ruangan itu sekejap telah membuatku buta dan mengalihkan perhatian. Pasalnya, apa yang aku cari tidak langsung ditemukan. Namun ....
Stank!
Suara khas logam beradu terdengar jelas. Di tengah-tengah riuk suara rekah bara api, ternyata masih muncul juga dentuman pertarungan.
Mataku terbuka lebar karena seberkas rasa semangat di tengah asap panas. Tanda kehidupan masih terdengar walau bukan pertanda baik. Oleh sebab itu, aku pun memutuskan untuk maju lebih dalam ke bangunan terbakar tersebut.
Aku melangkah, berjalan sambil mengibaskan tangan untuk mengalihkan asap di depan wajahku. Itu mungkin tidak banyak membantu, tetapi cukup untuk membuatku bisa mencari udara yang lebih segar.
“Sepertinya kita terlambat. Kaivan sudah datang lebih dulu.”
Hn?
Aku mendengar suara, dari arah dalam penginapan yang tidak aku tahu sumbernya.
Mataku masih sedikit buyar oleh pemandangan kasar. Suhu panas, cahaya silau dan rasa perih akibat bara api membuatku memicingkan mata. Kondisi tersebut membuat jarak pandanganku berkurang drastis.
“Kalau gitu kenapa kamu gak ikut bantu? Cuman satu orang lagi, terus kita bisa selesai.”
Kembali terdengar. Tapi, berbeda dengan suara barusan, aku bisa tahu jelas kalau pemilik suara tersebut adalah lelaki. Atau ... jika aku harus bilang, itu adalah Farrel. Mengingat tidak ada jumlah laki-laki lain yang bisa mengisi, tentu aku pun bisa menebaknya.
Uhuk, uhuk ....
Batukku karena napas terganggu. Atmosfer di ruangan tersebut sudah dipenuhi oleh asap dan karbon dioksida. Mengingat pembakaran api yang sama-sama membutuhkan oksigen, tempat tersebut tentu menjadi neraka bagi manusia.
Aku berjalan lebih cepat, menjaga kaki dari berbagai reruntuhan api, sampai pada akhirnya cukup dekat dan mengibas penuh untuk melihat apa yang sedang terjadi.
*Swing ....
Kibas tanganu sekali lagi. Lalu, aku pun melihat keberadaan orang berkumpul di satu titik, mereka sedang mengacungkan senjata satu sama lain, memarkan eksistensi mereka bagai panggung pertunjukkan.
“Maaf, aku bukan tipe petarung. Jika kamu ingin bantuanku, aku hanya memberikan sedikit bantuan dengan sihir kecil.”
“Apa saja, terserah. Bantuan kecil biar aku gak susah sendiri.”
Dua orang yang sedang bicara tersebut juga tentu sudah terlihat olehku.
Aku tidak terkejut dengan keberadaan Farrel yang sedang memimpin percakapan. Tapi, aku tidak menduga kalau ternyata lawan bicaranya adalah Pero, sang siluman gagak yang biasa selalu ada di sisi Amalia membelanya. Atmosfer berbeda dirasakan darinya sekarang, wanita gagak itu berdiri di belakang Farrel berhadapan dengan Amalia yang mengacungkan senjata.
“Baiklah, aku akan membantumu bertahan dengan menggunakan sihir resistensi. Setidaknya, kamu tidak akan mati karena terjebak di dalam api. Mengenal misi awal dan kondisi sekarang, kita bisa menang kalau mereka tidak keluar dari rumah,” kata Pero yang kembali bicara dengan Farrel.
Tidak diragukan lagi, Pero memang ada di sisi Farrel yang membantunya sebagai pion di dunia ini. Jika dia masih dengan sifatnya yang dulu, tidak mungkin dirinya membiarkan Amalia di sini sendiri dengan sikap posesifnya dulu.
Aku pun di sana berlari kecil menyusul. Bukan untuk menyerang, melainkan untuk bertahan. Pasalnya, aku juga melihat orang lain yang ternyata berada di belakang Amalia. Dengan tubuh yang memunggung menyembunyikan wajahnya, aku tidak melihat rupanya bagaimana. Tapi, karena tidak ada anggota lain, tentu aku bisa cepat tanggap kalau itu adalah sisa orang yang sedang dilindungi.
“Amalia!” panggilku sedikit berteriak di tengah panas gedung yang terbakar. “Tahan sebentar, aku bakal bawa yang lain ke luar!” lalu lanjutku terus berlari ke orang yang memunggung setengah berdiri berlindung dari panas—
“Stop, Kaivan!”
“Hh!?”
Namun, di sana aku dibentak keras. Diancam oleh suara keras yang membuatku menghentikan langkah sejenak. Farrel yang di sana terlihat mengeluarkan suaranya penuh dengan emosi kemarahan, dia berteriak juga sambil mengubah arah acungan senjatanya menjadi ke arahku.
“Dengar, Kaivan. Aku sudah bilang kalau aku di sini cari akhir baik. Tapi, kalau kamu masih nekat, aku gak segan buat bunuh kamu sekarang.”
“...”
Ancaman tersebut menusuk tajam ke telingaku. Dengan suara dingin dan tatapan tajam dari Farrel, aku merasakan sebuah kebencian yang mendalam.
Tapi, jika ditanya apa aku takut, tentu jawabannya sudah jelas.
“Heh, aku coba saja kalau bisa, Farrel. Dua lawan satu, dan di sini sudah ada Amalia. Kamu gak berhak buat negosiasi sekarang,” jawabku dengan deham sombong meremehkan.
Dari awal aku tidak pernah takut dengan orang karena sifatnya. Semua yang aku rasakan jelas terasa lewat gelombang emosi yang dia keluarkan. Tidak peduli seseram apa pun penampilan dan sikapnya, selama gelombang emosi yang dia keluarkan tidak membuat sakit, aku akan baik-baik saja.
*Step!
Aku pun lanjut melangkah, cukup keras hingga dentum kayu keropos di penginapan terbakar tersebut terdengar keras menandakan pergerakanku.
Posisi kami bertiga awalnya membentuk tiga sudut segitiga. Lalu, ketika aku memutuskan berlari, formasi itu mulai rusak, titik tubuhku di sana mengarah ke tempat belakang Amalia untuk menyelamatkan tawanan.
“Kaivan ...!!”
Farrel berteriak kencang, dirinya membawa kemarahan itu bersama kapak sambil berlari dan melakukan ayunan keras penuh niat membunuh.
Stank!
“Gkh!”
Tapi, di sana ada Amalia. Gadis penyihir dengan kekuatannya yang sedang aktif tentu bisa dengan cepat merespons dan melindungiku di saat-saat seperti itu. Dengan pisau khas miliknya, Amalia melakukan adu senjata dengan kapak milik Farrel. Walaupun terlihat sedikit janggal, tapi ternyata senjata pisau kecil milik Amalia persis seperti bentuknya yang dahulu melawan Geza, begitu keras dan hampir tidak bisa hancur.
“Oke, sip, Amalia,” ucapku yang terus berlari kecil meninggalkan mereka, melaju demi mengamankan orang yang tertinggal di belakang.
“Gkhth, hh, hah, hah! Woi, Kaivan!” panggil Farrel yang tengah bertarung dengan Amalia. “Apa kamu gak malu dilindungin sama cewek gini!?”
“Kalau gitu harusnya kamu ngaca, Farrel. Kamu juga orang yang bikin ledakan buat bunuh cewek-cewek di sini. Gak ada gentle-nya sama sekali,” balasku sedikit teriak.
Stank, stank, stank!
Suara adu senjata terdengar kembali, di cukup keras dan terasa cepat berpindah-pindah ke berbagai sisi. Aku sedikit terpukau karena mereka ternyata bisa bergerak bebas di tengah-tengah kekacauan panas terbakar gedung penginapan.
Lariku tidak sampai satu menit, masih di ruangan yang sama di mana akhirnya aku sampai di sudut tempat terkaparnya tubuh orang yang sedang berlindung.
“...”
Aku memandang, tapi ternyata respons dari orang di sana cukup lambat. Aku pun mencoba fokus, menajamkan penglihatan di tengah kebul asap. Lalu, akhirnya terlihat, tubuh yang menyudut di sana ternyata ada tiga, kak Dina, Imarine, dan Azarin. Dengan kondisi penginapan terbakar, mereka terkapar bertiga berlindung di balik Amalia sebagai petarung utama.
“Lu-luka? Kebakar?” gumamku sedikit keluar dari mulut.
Pemandangan yang aku lihat pertama adalah punggung yang penuh luka bakar. Menembus sebagian besar pakaian, tubuh pertama yang aku lihat hampir rusak seluruhnya.
Rasanya cukup mengerikan, terlebih ketika aku mulai melihat bias asap muncul dari permukaan lukanya. Sepertinya dia berada di titik yang terlalu dekat dengan sumber ledakan. Namun, ternyata semua itu masih belum selesai. Karena ....
“Ka-Kaivan, iya ....”
“Hh!?”
Dari tampak belakang di mana pakaian dan bahkan rambutnya rusak terbakar, aku sama sekali tidak mengenalinya. Namun, ketika gadis itu menoleh dan bicara lirih padaku, serentak identitas dirinya pun ditentukan.
“Kak Dina?”
Iya, ternyata orang yang terbakar itu adalah kak Dina. Aku baru sadar kalau ternyata pakaian yang terbakar itu bukan baju seragam. Lalu, satu-satunya orang tanpa seragam yang tersisa hanya kak Dina. Dia dengan posisi setengah berdiri sedang merangkul dua orang di dalam pelukannya.
“Eheheh, kamu datang telat banget, kakak sampai kebakar kayak gini. Ah ... kayaknya kamu harus tanggung jawab, kayaknya luka ini gak bakal hilang pakai krim pemutih—“
“Cukup, kak,” potong halus nada ucapan yang ringan untuk keadaan yang tertekan. “Kakak ... luka ... luka kakak parah. Jadi, gak usah banyak canda, kakak harus cepat-cepat diobatin.”
Sambil berkata, aku pun mencoba menggenggam tangan kak Dina. Posisinya yang masih merentangkan tangan juga sedikit membantu untuk mengambil posisi gendong. Akan tetapi ....
“Kaivan, gak usah pura-pura. Badanku sudah hancur kayak gini, gak mungkin bisa sembuh lagi—“
“Bisa, kakak bisa sembuh! Kakak cuman harus tahan sampai dunia ini selesai.”
Jawaban dari kak Dina terkesan negatif. Tubuhnya yang terbakar penuh hampir sekujur tubuhnya membuat dia menyerah. Pasalnya, aku saja bisa merasakan ngilu dari luka hanya dengan melihat. Kulitnya sudah menyala menjadi abu, tulang keputihan terlihat dari dalam luka, dan becak darah yang ikut terbakar di setiap sisi membuat banyak luka menjadi nanah menyakitkan.
“Ahaha ... enaknya mungkin memang kayak gitu. Tapi, kakak bukan kamu, Kaivan. Sayangnya kakak cuman punya badan biasa. Eheheh, iya ... jadi, ini iya rasanya mati—”
“Tunggu, Kak! Woi, stop, jangan bilang mati!”
“Maaf, Ivan. Sebenarnya aku sudah gak tahan lagi.”
“Enggak, kakak bisa!” kataku meyakinkan, walau di sana aku juga tahu begitu kritis kondisinya hingga aku saja tidak bisa menemukan tumpu yang tepat untuk memegang tubuhnya karena penuh luka.
“Kaivan, aku gak punya sihir. Kamu pikir kakak bisa hidup kayak pakai badan yang sudah kayak gini—“
“Sudah, cukup!”
Kali ini aku sedikit membentak. Dengan seluruh tekad, aku berusaha mengubah posisi kak Dina di sana. Awalnya dia memunggungiku, lalu dengan perlahan aku menarik tubuhnya agar dia menghadap padaku. Rasa ngilu akibat melihat tubuhnya pun kulawan, sebisa mungkin aku ingin menggendong kak Dina di pelukanku agar bisa menghirup udara bebas di depan.
“Oke, sip, Kak,” kataku bergumam.
Kak Dina berhasil aku pindahkan. Sekarang tubuhnya sudah ada di pelukanku, kepalanya yang bersampingan dengan kepalaku membuat jarak kamu sangat dekat. Tapi, bukan kegugupan, melainkan kembali lagi rasa ngilu. Aroma gosong dari tubuhnya keluar begitu menyakitkan setiap kali lewat di penciumanku.
“Ivan, harusnya kamu lebih pilih dua orang yang sudah pingsan di sana dari pada aku.”
Kak Dina bicara dengan lemas, dia menunjuk pada dua orang gadis yang sedang tertidur kasar di lantai. Pasalnya, mereka adalah orang yang sebelumnya dirangkul lindung kak Dina. Entah karena shock atau apa, mereka berdua terlihat tidak sadarkan diri.
“Aku juga bakal balik lagi buat mereka,” kataku berdalih melawan akal sehat dan kondisi pada fakta lapangan.
“Kamu pernah belajar dari palang merah? Harusnya kamu selamatin orang yang paling sekarat, dari pada orang mati.”
“Kakak belum mati, harusnya kakak yang paling butuh.”
“Eheheh, kakak juga maunya gitu. Tapi, kayaknya gak mungkin. Kakak sekarang gak punya harapan hidup, harusnya kakak sudah sama kayak orang mati—“
“Berhenti, oke, stop!” kembali bentakku memotong ucapan kak Dina. “Aku gak mau dengar omongan itu lagi. Harusnya kakak di sini positif, ke mana kesombongan kakak dulu yang—“
“Hh!?”
*Push
Kali ini pembicaraanku yang di potong. Dari persiapanku untuk mencoba menggendong kak Dina, tiba-tiba saja aku menerima sebuah perlakuan kasar darinya. Seketika badan dan kepalaku didorong menjauh, dengan kuat kekuatan tangan kak Dina seakan dia ingin membantingku ke lantai.
*Slash
Eh?
Namun, suara lanjutan di sana ternyata bukan bentur lantai. Namun sesuatu yang lebih menyakitkan, efek di mana aku sendiri merasakan kengerian akibat diriku sendiri pula yang pernah jadi korban.
Kepalaku di sana semula berlawanan dengan kak Dina. Jadi, aku tidak melihat apa yang wanita itu lihat. Jadi, setelah aku menoleh ke belakang, aku pun berhadapan dengan kejadian mengerikan lagi.
“Ah, meleset,” kata lelaki yang sedang membawa kapak. “Iya, wajar. Mungkin memang aslinya sosok kakak harus lindungin adiknya kayak gini.”
“...”
Di sana terlihat Farrel dengan kapaknya. Dia bicara dengan tenang selayaknya tidak berdosa. Pasalnya, percik darah sudah terlihat di pakaian dan kapaknya. Dia, dia ....
Dia telah menyerang langsung kak Dina.
Tepat di lehernya, menyayat langsung hingga menembus tulang belakang, menyemburkan darah dan membuat kak Dina benar-benar tidak bisa diselamatkan. Farrel dengan jelas memperlihatkan keganasannya dengan memperlihatkan manusia yang dia bunuh selayaknya hewan jagal.
*Dug, dug ....
“...”
Rasanya begitu sakit. Ketika kak Dina berhenti merespons dan jatuh terkapar dengan penampilan yang sangat buruk penuh darah dan wajah yang rusak, di saat itu juga Farrel telah menggores isi hatiku.
Hah, hh, hah, hah ....
Napasku di sana tidak teratur. Tersendat-sendat, patah-patah, dan terganggu akibat denyut nadi yang bercampur napas merujuk ke isak tangis.
*Glench
Namun, di saat yang sama kesedihan tersebut berubah menjadi amarah yang luar biasa. Pasalnya pembunuh dari orang tersebut masih ada di depanku tanpa rasa bersalah sama sekali. Bersama dengan kepalan tangan dan geram gigi, aku mengumpulkan seluruh emosi yang terpendam dan selama ini tidak pernah aku keluarkan.
Walaupun kak Dina hanya satu orang kecil dari dunia ini, tapi dia adalah salah satu orang yang menemaniku hidup bersama di dunia yang telah membuangku. Kematian yang tiba-tiba ... atau lebih tepatnya nyawa yang dirampas tiba-tiba ... semua itu aku limpahkan bersama dengan kemarahan brutal.
Heh, baiklah, Farrel. Jika kamu ingin pertarungan, aku akan memberikannya.
*****
Kondisi di sana ternyata memang terus memburuk setiap detiknya. Reruntuhan dari bangunan kayu terus berjatuhan, api semakin besar, dan udara semakin tipis digantikan karbon dioksida oleh nyala api.
Di sini sangat minim ventilasi. Jika aku terlalu lama di sini, seharusnya juga aku tidak akan bertahan karena mati lemas kehabisan suplai oksigen.
Aku melihat ke arah lain. Di belakang Farrel ternyata terdapat Amalia yang sedang tunduk setengah berdiri menurunkan senjatanya. Awalnya aku juga sedikit terkejut, kedatangan Farrel yang tiba-tiba menyerang kak Dina adalah arti kalau Amalia sudah lepas darinya. Sesaat aku berpikir dia dikalahkan, tapi ternyata gadis penyihir itu hanya tertahan tidak melawan.
“Ka-Kaivan ...,” ucap Amalia sedikit berat seperti sedang terjepit. “Maaf, a-aku gak bisa gerak sekarang ....”
“...”
Mendengar itu, aku pun mencoba mencari penyebabnya. Lalu, di sana aku bisa melihat Pero yang sedang merentangkan tangannya mengarah pada Amalia. Aku tidak punya bukti jelas, tapi memang sesuatu yang siluman gagak itu lakukan adalah sesuatu seperti sihir agar bisa menghambat Amalia.
Dari segi apa pun, memang kalau menghentikan Amalia sebagai petarung andalan adalah pilihan paling baik untuk mereka dan sekaligus terburuk untukku. Tapi, sepertinya pihak Farrel juga bukan berarti tidak menerima dampaknya. Jika Pero masih terus merentangkan tangannya sampai sekarang, itu artinya dia memang harus bersikap sigap atas sihir yang menahan Amalia dan tidak punya kesempatan lagi untuk membantu Farrel.
Sekarang, aku dan Farrel murni bertarung satu lawan satu. Sambil mengambil kapak dari pinggang, aku terus menatap Farrel yang berjalan saling jalan dan menaruh kuda-kuda.
“Kaivan, aku masih belum menyerah. Kita gak usah saling bunuh kalau misal kamu ikut apa kataku,” kata Farrel dengan nada bujuknya.
“Heh, dasar payah. Kamu masih ngomong hal bodoh kayak gitu waktu sudah bunuh kak Dina di depan mataku?”
“Gak ada hasil tanpa kerja keras. Kamu gak bisa berubah kalau gak pernah berkorban. Aku butuh dia mati. Asal kamu tahu, aku sudah memilihkannya untukmu kakakmu yang mati karena sepertinya kamu lebih akrab dengan Imarine,” jelas Farrel yang masih tidak merasakan dosanya.
“Jadi, kalau kak Dina mati, kamu bakal bunuh Ima?”
“Iya.”
*Dug, dug ....
******
*Dug, dug ....
Detak jantungku berdebar semakin cepat, terpacu di setiap detiknya bersama kenaikan tekanan darah. Wajahku memanas, telinga memerah, dan seluruh tubuhku dipacu keras sejalan dengan rumah yang terbakar di bara api.
Semua kemarahan ini aku utarakan dalam bentuk tatapan kebencian, mengeram dan mendecak lidah secara sinis pada Farrel di hadapanku. Dengan kondisi tubuhku yang dipacu seperti ini, aku cukup punya keyakinan untuk menyerang balik.
“HaaAaa!!”
Aku mengayunkan senjata, dari kanan atas ke kiri bawa sesuai pegangan tanganku. Gerakan tersebut begitu brutal bagiku, layaknya serangan **** hutan yang sedang mengamuk menanduk musuhnya.
“Woah!?”
Farrel menghindarinya, sedikit memiringkan tubuh menarik mundur dari serangan kapakku.
“HaAAa!!”
Aku kembali berteriak, melakukan serangan lanjutan sambil kembali maju mengejar tubuhnya yang semula telah menghindar. Dari ujung kapak barusan, aku mengayun horizontal untuk membelah perutnya.
*Dodge
Namun, kembali sekali lagi Farrel bisa menghindari. Dia dengan kecepatannya itu bisa melangkah mundur lagi walau keadaannya barusan sudah sedikit goyang tidak stabil.
Hindaran kedua tersebut membuat kesal. Karenanya aku mencoba melakukan serangan yang lebih agresif lagi di mana Farrel mungkin tidak bisa menghindarinya lagi.
Serangan kanan, kiri, atas, dan bawah, secara beruntun aku terus menyerang membabi buta. Keinginan untuk melukainya, keinginan untuk mencabik, kemarahan dengan lampias untuk mengoyak tubuhnya, hasrat di mana aku ingin melihat darah memancar dari tubuh Farrel. Semua itu lewat di kepalaku hingga melupakan akal sehat.
Ototku mengeras untuk membuat serangan, geram gigiku membuat ekspresi marah keluar begitu jelas. Bersama dengan kekacauan di sana, aku terus menyerang Farrel untuk balas atas seluruh perbuatannya.
*Dodge, dodge, dodge ....
__ADS_1
Dia terus menghindar, tapi aku tidak menyerah. Setiap dia mundur, aku kembali maju menyaingi kecepatannya dengan serangan susulan. Setiap dia lari menghindar, aku kembali menerobos layaknya barbarian. Lalu, sampai pada akhirnya ....
Stank!
Farrel mengangkat kapak yang terciprat darah miliknya, menggunakan senjata tersebut untuk bertahan dari serangan kuat vertikal yang semula tepat mengarah ke kepalanya.
“...”
“...”
Kami saling bertatapan, lewat sela-sela kapak yang sedang beradu saling bertukar emosi kebencian satu sama lain. Wajah lelaki itu terlihat sedikit kerut, staminanya mungkin sudah cukup terkuras semenjak tubuhnya dipaksa melakukan banyak pekerjaan. Keringat yang mengucur, mengalir melewati alis dan membasahi wajah penuh debunya. Dengan napas keras, dia masih berusaha menahan dorongan kapakku dengan tenaganya.
Aku memegang kapak dengan dua tangan, mencoba menyelesaikan gerakan mengandalkan seluruh semangat yang dikerahkan sekarang. Bahkan, di satu titik aku bisa merasakan darah merembes dari luka di lengan akibat gerak berlebih barusan. Akan tetapi ....
Stank!!
“Gkhah!?”
Farrel ternyata lebih kuat, dia mampu mengalahkan kekuatan dorong tersebut. Mengambil kesempatan kecil itu, lelaki tersebut menepis tubuh dan senjata kapakku mundur menjauh darinya.
Aku terpental beberapa langkah ke belakang, mengambil jarak aman dan sesaat beristirahat tidak bergerak. Kondisi tubuhku kala itu sedang kacau dan akan menghasilkan gerakan lemas jika pun aku memutuskan bergerak.
“Hah, hh, hah, hah ... hah ....”
Napasku yang cepat mengembang kempiskan dada sambil membungkuk karena kelelahan.
Farrel kala ini cukup aneh, gerakannya lebih lincah dibanding manusia pada umumnya, bahkan dalam kondisi di mana seharusnya suplai oksigen sedang menipis akibat terjebak di bara api. Itu cukup janggal, padahal aku bisa merasakan kebul asap api yang meracuni pembuluh darahku sekarang.
“Bisa kita hentikan saja ini, Kaivan? Secara teknis, kita sudah gak punya alasan lagi buat saling tempur.”
Tiba-tiba Farrel mengajakku bicara, dia dengan kapaknya membuat posisi istirahat. Dengan ujung senjata yang diturunkan, aku bisa merasakan kalau dia sedang mengajakku ke tahap gencatan senjata.
“Gak ada ...? Heh, kamu bilang itu waktu sudah bunuh kak Dina?” timpalku dengan nada sinis.
“Misiku adalah untuk membunuh setidaknya tiga orang. Setelah selesai, kita semua bisa kabur sesuai aturan yang ada.”
*Pltak, pltak ....
Bunyi dari letusan kecil dari kayu yang terbakar di rumah-rumah.
Aku melihat ke arah Amalia, dia sedang duduk emok dengan pandangan ke bawah seperti sedang keletihan. Tapi, di jarak yang sedikit jauh tersebut aku melihat Pero yang sedang merentangkan tangannya ke arah Amalia.
Cukup aneh jika Farrel bisa mengalahkannya. Jadi, ketika aku melihat kondisi tersebut, bulat keputusan kalau Pero sedang melakukan sabotase sehingga Amalia tidak dapat melawan Farrel sekarang. Sesuatu tentang sihir lagi, sesuatu yang merontokkan kekuatan penyerang utama si gadis yang sama-sama menggunakan sihir.
Dalam hati aku sedikit mengutuk gadis yang kembali tidak jatuh dalam ketidakbergunaan. Tapi, kali ini rasa dendam dan amarah jauh lebih besar meledak mengarah pada Farrel.
“Misi ...? Misi dari mana? Aku gak pernah dapat misi kayak gitu,” tanyaku yang untuk sekarang cukup tertatih akibat sesak napas.
“Karena hanya aku sebagai pelaku yang dapat mengetahuinya. Di sini aku sebagai pelaku, dan itu adalah cara satu-satunya agar aku bisa keluar dengan selamat.”
“Heh,” dehamku sedikit mengejek. “Terus gimana? Apa kamu selesai sekarang? Mana tanda misimu selesai sekarang? Ha!?” ucapku sedikit menyolot.
“Iya, benar. Dari laporan yang aku dapat, orang yang aku bunuh ternyata belum total mati. Iya ... abaikan dulu kakakmu sekarang, mungkin si koki Hanz dan anak kecil itu masih sekarat di hutan.”
Abaikan kakakku ...?
Rasa kesal muncul ketika dia berkata demikian. Tapi, aku menuruti apa katanya untuk tidak membahas kakakku lebih dulu.
Dilihat dari perkataannya, Farrel ternyata menganggap kalau rencananya berhasil. Akal sehatnya masih menerima kalau Hanz berhasil dibunuhnya di hutan.
Aku mungkin tidak terlalu kaget ketika dia masih percaya diri, pada dasarnya memang tidak ada bukti yang menunjukkan kalau dia gagal. Tapi, di sana kembali perasaan amarah timbul, Farrel di depanku adalah orang yang ternyata bisa membunuh anak kecil tanpa berdosa sama sekali. Aku bisa tahu karena dia mengucapkan sesuatu tentang anak kecil yang bersama Hanz.
“Kamu ngerti. ‘kan? Dari pada kita berantem gak jelas, harusnya kamu bantu aku buat cari mayat mereka berdua dan—“
*Wind
*Krak, krak, krak ....
Tiba-tiba saja suara keras muncul, dari arah luar penginapan timbul suara berisik layaknya angin ribut. Begitu keras, memotong ucapan Farrel hingga dia pun teralihkan fokusnya. Api-api di sekitar bergoyang terpapar gerak udara, suara rekahan dan goyang kayu semakin keras memenuhi telinga. Hingga sampai saatnya ....
Bruhg!!
Atap dari penginapan tersebut terbang terbawa angin. Bersama beberapa reruntuhan dan bara api, kini ruangan yang tertutup rusak tanpa langit-langit. Aku dan Farrel terkejut, angin besar membawa banyak bagian dari penginapan terpisah-pisah. Kekuatannya tentu sangat hebat, sesaat orang-orang di sana perlu menunduk dan memegang sesuatu untuk mempertahankan posisi.
“Hah ...? Burung raksasa?” gumam Farrel di tengah angin ribut tersebut.
Hn?
Aku menengadahkan kepala, melihat ke atas mengikuti arahan Farrel yang teralihkan perhatiannya.
“Hanz ....”
Angin ribut itu ternyata berasal dari Hanz, dia dengan wujud burung hantu raksasa mengibaskan sayapnya begitu keras untuk menghancurkan atap penginapan yang terbakar.
Umumnya kepakan sayap burung hantu tidak menimbulkan angin atau bahkan suara. Namun, sepertinya kali ini dia mengubah hasil tersebut.
Terbukanya atap penginapan itu bukanlah hal biasa. Aku yang pengap karena kekurangan oksigen dan terjebak di lingkungan panas bara api akan mati secara perlahan. Lalu, dengan bantuan Hanz tersebut keadaan pun berubah drastis. Udara segar masuk, aku bisa bernapas lagi, dan tentu semangat bertempur melihat teman hadir juga menaikkan moralku sekarang.
“Tunggu, Hanz katamu!?” tanya Farrel sedikit berteriak akibat ribut dari angin yang kencang.
“Heh, apa harus aku bilang skakmat?” jawabku yang mencoba sinis karena kesombongan. “Sayang banget, kamu gak tahu kalau Hanz itu bukan manusia. Jadi, dia gak gampang buat dibunuh gitu saja.”
*****
Huft ... hah ....
Nikmat, udara yang penuh oksigen rasanya nikmat. Ketika tarikan napas penuh aku lakukan, bukan dada penuh yang kurasa, melainkan lebih seperti mengisi seluruh paru-paru dengan energi baru. Rasa berat di tubuh mulai hilang, aliran darahku entah kenapa menjadi ringan dan terasa membentuk ruang kosong.
Aku di sana baru menyadarinya, ketika muncul lubang di langit-langit membuka lajur udara, di lubang yang sama juga aku merasakan sebuah hawa dingin dan rasa lembab. Menengadah sedikit ke atas, dan aku melihat cuaca di sana ternyata berawan dengan gerimis kecil rintik air.
“Amalia ... kamu dengar?” kataku tanpa mengurangi waspada pada Farrel di depan. “Terus pakai kekuatan emosi kemarahan. Kamu yang gak bisa gerak tetap bisa keluarin gelombang emosi itu, ‘kan?”
“...”
*Whoush ....
Beberapa detik setelah mengatakan hal itu, lonjakan emosi pun dirasakan di kulitku. Sensasi yang biasa aku rasakan memanas secara paksa mengikuti kemarahan, sesuatu di mana tubuhku menjadi terpacu otomatis mendapat banyak peningkatan insting.
Amalia tidak bicara di sana, tapi dia melakukan apa yang aku minta. Memang dia sedang terikat oleh sesuatu hingga tidak dapat bergerak oleh Pero di sana. Jadi, sesuatu yang dia lakukan adalah tetap menggunakan sihirnya sebagai pendukungku.
“Baiklah, sekarang aku mungkin kalah, Kaivan. Eksistensi kalau koki temanmu itu makhluk jadi-jadian berupa burung raksasa sangat jauh dari bayangan,” jelas Farrel di tengah kejutnya menerima seluruh perubahan keadaan tersebut. “Ah ... sekarang aku jadi butuh dua orang lagi buat dibunuh. Amalia mungkin paling bahaya, tapi dia masih dibutuhin. Jadi, dua orang pengganti itu mungkin Imarine sama Azarin—“
“Cukup!!”
*Swing
Aku berteriak keras, mengerahkan seluruh otot di tubuhku dan melancarkan serangan terbuka dengan mengayunkan kapak pada Farrel. Kekesalanku memuncak ketika dia bicara tentang mengambil nyawa dengan mudah tanpa ada beban sama sekali. Membunuh seseorang seperti itu bukanlah sifat manusiawi, karena itu aku melampiaskannya dengan kemarahan yang setimpal.
Namun, Farrel menghindarinya dengan mudah. Dia memiringkan tubuh dengan lancar walau terlihat kalau dirinya sedang tidak sigap karena bicara.
“Woah, hampir saja—“
“Ha!!”
Tidak memberi kesempatan, aku kembali mengayunkan kapak lagi ke arahnya. Lebih ke horizontal agar kali ini dia tidak bisa menghindar menyamping.
Stank!
Lalu, adu senjata pun terjadi. Dua bilah kapak tajam menghantam kuat hingga suaranya menggelegar ke seluruh ruangan. Satu kapak bersih milikku, dan satu kapak berdarah milik Farrel. Aku bisa melihatnya dengan jelas, adu senjata saling menekankan tenaga memberiku jeda hingga aku bisa melihat darah tersebut. Kemudian, di saat itu pula aku mulai mengeram dan mengerahkan tenaga lebih karena kekesalan yang meledak.
Stank! Stank! Stank!!
Kekuatan Farrel cukup hebat, dia bisa mengimbangiku dengan yang telah terpacu adrenalinnya oleh gelombang emosi. Dengan kecepatan dan kekuatannya, dia selalu bisa menangkis serangan dan segera mengatur posisi untuk menghindar dan melakukan serangan balik.
Beberapa kali kami beradu dan beberapa kali juga Farrel menjaga jarak denganku. Dengan kebrutalan dari serangan yang aku lakukan, sepertinya lelaki tersebut juga sedikit kewalahan dan memilih untuk menjauh secara berkala.
Aku tidak kalah, kekuatanku dengan gelombang emosi tersebut telah menghilangkan rasa letih.
Maju secara barbar menyusul Farrel, ayunan menukik vertikal ingin membelah kepalanya. Lelaki itu kembali menghindar, memiringkan tubuhnya lagi dan lagi membuat seranganku mengenai udara kosong.
Aku kira Farrel sudah terpojok, dia yang menghindar terasa kalau ada sebuah kepanikan dan sedikit ketakutan keluar sebagai gelombang emosinya. Tapi ....
*Slash
“Gkhakh!!”
Ternyata semua itu hanya bayanganku saja. Di satu titik, dia mengambil kesempatan di antara seranganku untuk melakukan balasan. Ayunan kapaknya kala itu tepat dengan rapi menyayat lengan kananku, menambah luka yang lama, sekarang pendarahan di sana jadi lebih parah.
“Hah, hh, hah ...,” napasku yang letih dan mencoba mundur mengambil istirahat sambil memegang luka di tangan tersebut.
Tangan kananku sangat krusial sekarang, beberapa orang dalam perang akan menggunakan armor tambahan di tangan tersebut demi melindungi dari serangan vital. Pasalnya, tanpa tangan yang sehat, maka aku tidak bisa menyerang secara maksimal.
Luka tersebut memberi pendarahan hingga mengalir dan menetes ke sikut. Aku di sana berusaha memegangi dan menghentikan pendarahannya. Walau hasilnya sama sekali tidak terasa.
“Maaf, Kaivan. Kalau kamu pikir aku sedang bertarung sendiri, kamu bisa hilangkan itu sekarang. Dari awal sampai sekarang, aku selalu dibantu.”
“...”
Aku memandang Farrel dengan tatapan sinis. Pertama kalimat tersebut lewat di telinga, aku tidak mengerti maksudnya. Tapi ....
“Heh, begitu, iya ....”
Begitulah gumam refleks, aku langsung paham ketika pandanganku mengarah pada Pero.
Aku tidak menyangka kalau makhluk itu akan sangat merepotkan jika berpaling menjadi musuh. Pasalnya, aku merasa kalau dia lebih ke arah tidak berguna dibandingkan membantu ketika menjadi teman. Tapi, kala ini Farrel tidak begitu, gerakannya bukan hanya cepat saja, tapi juga terarah begitu cerdik membaca gerakanku.
Pero punya sesuatu yang mungkin bisa membantu Farrel dari kejauhan juga. Walaupun aku tidak tahu bentuk aslinya, tapi aku yakin kalau siluman gagak itu masih punya banyak sihir unik yang tidak diketahui olehku.
*Wind ....
*Krek, krek, krek ....
Rekahan gedung kembali terdengar, reruntuhan rumah mulai berjatuhan sedikit demi sedikit bersama bara api. Dari angin besar itu, aku tetap melihat Hanz dengan wujud burung hantu raksasa mengelilingi rumah layaknya burung bangkai yang sedang memangsa. Entah apa yang dia rencanakan, aku juga tidak tahu. Ingin sekali aku memintanya untuk turun dan membantu, tapi Hanz bukan tipe orang yang cocok untuk diteriaki seperti itu.
Aku kembali memperbaiki kuda-kuda, melupakan rembesan darah di tangan kananku dan kembali fokus untuk melakukan serangan lanjutan pada Farrel. Amarah dan kekesalanku masih belum pudar, dalam pikiranku keinginan untuk menyayat tubuhnya menggunakan kapak begitu kuat, melupakan akal sehat karena Farrel yang juga sudah kehilangan akal sehat.
“HhAAaaAAaaa ...!!”
Aku menerjang kembali Farrel dengan seluruh kekuatan. Langkah kaki kuat dengan pegangan kapak erat sampai berurat, aku melakukan serangan menggunakan kapak lagi.
Stank!!
Farrel menangkisnya, kapakku terpental beberapa senti ke belakang akibat benturan tersebut.
“HA!!”
Aku menggunakan momentum senjata tersebut untuk mundur satu langkah, menggunakannya sebagai ancang-ancang dan melakukan gerakan yang lebih kuat. Kali ini serangan horizontal, memutar searah jarum jam dan melancarkan serangan dengan kekuatan seluruh tubuh.
Tapi ....
Stank!!
Lagi-lagi Farrel dengan mudah menangkisnya. Kali ini dia melakukan gerakan kuat dari bawah ke atas. Momentum kuatnya membuat kapakku terpental ke atas lepas dari tanganku.
“Hh!?”
Napasku tersentak, lepasnya kapak dari tangan tersebut cukup mengguncang mental dan kesadaranku secara penuh. Berbeda dengan pisau yang sebelumnya aku gunakan, kapak punya medium besar hingga dia dapat ditangkis dan lepas lebih mudah.
Aku melihat ke belakang, ke arah di mana kapak tersebut terjatuh karena refleks. Mengikuti instingku yang cepat, aku juga perlu melakukan gerak cepat mundur untuk mengambil senjata tersebut sebelum Farrel menyerang kembali.
*Step, step, step ....
Langkah cepat, aku mundur dan bermanuver di penginapan terbakar mengambil senjata itu. Tanpa mengurangi kewaspadaan, aku juga tetap menaruh penglihatan pada Farrel.
Sempat berpikir dia akan menyerang untuk mencegahku mengambil kapak yang terjatuh. Namun ....
“Maaf, Kaivan. Sepertinya cuman sampai di sini.”
“Eh?”
Farrel berlari ke arah lain, dia menerobos dengan cepat hingga bahkan menyusul lariku.
Iya, dia berlari bukan untuk menyerangku, melainkan lebih untuk menggapai sesuatu yang ada di belakang.
“Hh!?”
Aku yang tersadar pun berusaha mempercepat langkah, mengambil kapak yang terjatuh dan segera berlari menyusul Farrel yang kala itu sedang menjauh dariku.
“Tunggu, Farrel!!” teriakku yang sudah mengambil kapak dan berusaha menghentikannya.
Apa yang dipikirkan Farrel sudah masuk ke dalam pikiranku, dia dengan semua ambisinya dapat terbaca dengan mudah ketika dia berlari meninggalkan medan pertarungan.
Sial, sial, sial, sial, SIAL!!
Aku menyusul, melakukan tolak keras di lantai untuk menerjang Farrel. Tapi, dia sangat cepat sampai tidak dapat aku susul. Sampai akhirnya ....
“Bertarung denganmu tidak ada hasilnya. Jadi, semua akan berakhir di sini, Kaivan.”
“Farrel, jangan—“
*Slash
Di kelengahanku, Farrel pun berhasil menggapai sandera gadis yang ada di belakang. Dia dengan kapaknya yang berdarah kembali kotor. Satu darah dari kak Dina tidak cukup, kali ini dia menindihinya dengan darah lain.
“...”
Farrel ... dia menancapkan kapaknya pada tubuh Imarine dan Azarin yang sedang pingsan di belakang.
*****
*Slash
“Hh!?”
Sekali cipratan darah terlihat menyembur di mataku. Sebuah suara eceran air terciprat keluar kental bersama warna kemerahan yang mengerikan. Apa yang kulihat kala itu sangat menyayat ke hati, goresan keras dia ukir bersama darah yang keluar hingga menempel ke pakaiannya.
Aku tidak melakukan kekerasan dengan wanita, dan di saat yang sama juga aku tidak melakukan hal semena-mena terhadap orang yang tidak berdaya. Tapi, Farrel kala itu melanggar keduanya. Gadis yang sedang pingsan di dalam bara api dia tancapkan kapak di lehernya, membunuh layaknya seorang tanpa hati nurani berhati dingin.
“FARRELL ...!!”
Aku berteriak, sangat keras dan kuat menggelegar ke setiap ruangan sampai tenggorokanku sakit. Kejar kakiku tidak dapat menandinginya, di saat kapak itu mendarat aku baru sampai tiga perempat dari jalan Farrel. Tapi, itu bukan sebuah tanda untuk berhenti, aku yang melihatnya masih meneruskan terjang tersebut untuk mengayunkan kapak pada lelaki tersebut.
“HAAAaaaAA ...!!”
*Swing
Teriakku sambil melakukan gerakan keras menyerang menggunakan kapak. Berusaha mengeluarkan semua kemarahan, teriakku kala itu dibarengi oleh geram urat di tangan penuh dendam.
Krak!
Namun, kapak tersebut masih meleset. Farrel masih dalam posisinya untuk bisa menghindari serangan tersebut hingga kapakku berbentur dengan lantai kayu.
Aku yang sadar posisi itu pun cepat menarik kapak, melakukan gerakan memutar dan segera melancarkan serangan lanjutan. Kali ini horizontal, berputar hampir tiga ratus enam puluh derajat untuk menambah tenaga ancang-ancang.
*Dodge
Farrel menarik mundur perutnya, membuat seakan kaki dan dadanya condong ke depan untuk sesaat.
Bug!
“Ghkakh!?”
Lalu, di saat yang sama sebuah tinju menghantam wajahku. Pipi bergetar penyok, sebagian besar kepala dipaksa membelok ke sisi layaknya terpelintir, aku di sana dapat menyadari kekuatan Farrel yang begitu kuat.
“Gkhth— HAaAAAaa!!”
Namun, aku tidak pasrah begitu saja. Menolak untuk ambruk karena pukulan Farrel, aku kembali mengeram keras dan melampiaskannya dengan serangan kapak vertikal ke atas ingin menyayat tangan lelaki tersebut yang sedang menjulur.
*Dodge
Dengan kecepatan yang sama, Farrel lagi-lagi menghindar. Dia menarik tangannya, mundur satu langkah, lalu berputar sambil melakukan ancang-ancang serangan.
Bug!
“Gkhakh!?”
Air liur keluar, napas tersedak, tubuhku terpental mundur beberapa senti dengan posisi perut condong ke belakang. Farrel dengan kecepatan luar biasa menendang tepat ke arah perut, gerak menghindarnya yang seakan tanpa beban membuat pertarungan tersebut terlihat berat sebelah.
Bruk ....
“Uhuk, uhuk, uhuk ....”
Aku tergeletak di lantai. Bersama dengan beberapa bara api kayu terbakar dan suhu panasnya terbatuk ingin muntah. Mataku yang mengerut keras, aku memegang perut dan menahan sakit dengan ekspresi wajah mengalir air liur.
Tenagaku tidak keluar sempurna, rasa sakit tersebut membuatku lemas dan hanya bisa menggeliat terbaring. Lalu, sampai satu saat aku membuka mata untuk melihat apa yang terjadi. Di tengah berat tekanan yang menghambat gerak mataku, kondisi di mana mata saja menjadi perih ketika kelopak dibuka. Kondisi penginapan yang parah itu menyebar panas dan debu ke sekitar hingga memaksa air mata keluar karena iritasi.
Namun, sesuatu yang membuatku mengeluarkan air mata bukan hal tersebut.
*Slash
“Hh!?”
Sakit, sakit, sakit, sakit ....
Mataku, dadaku, tubuhku, pikiranku, semua akalku, semuanya telah tergores keras terukir luka besar. Air mataku keluar, napasku terasa membeku tidak bisa ditarik, jantung juga seperti sedang ditusuk keras menembus ke dalam. Apa yang terlihat di depanku ternyata masih bisa lebih buruk lagi.
Orang ketiga, Farrel menjatuhkan kapaknya pada tubuh ketiga tepat di lehernya hingga menyipratkan darah ke tubuhnya. Untuk ke sekian kalinya kapak yang dia pegang kembali kotor, ditumpuk oleh darah berikutnya dari korban yang selanjutnya. Lalu, orang tersebut adalah ....
Imarine ....
“Farrel ...!!”
Aku memaksa tubuh yang terluka tersebut untuk kembali bergerak, melakukan tolakan keras di telapak kaki sambil mengayunkan kapak.
“Payah, Kaivan.”
Bug!
“Gkhakh!?”
Tapi, tentu saja Farrel bisa menghindarinya dengan mudah. Gerakanku kala itu sangat kacau dan tidak terarah secara mantap. Luka di tubuh memberikan rasa perih, menggeserkan dan membelokkan beberapa gerakan ke arah lain secara acak, memperlambat dan tidak mengeluarkan tenaga aslinya.
Farrel menghindar dengan santai lalu memukulku kembali, membuat tubuhku terbanting kedua kalinya ke lantai di arah yang berbeda. Walaupun dia tidak menggunakan kapaknya untuk menyerang, tapi tinjunya cukup sakit untuk bisa menggeser posisi rahangku.
“Uhuk, uhuk, uhuk ...,” batukku yang tidak tertahankan. “Huft ... hah ... huft ... hah ....” Lalu, selanjutnya
Seberapa pun aku berusaha tetap tidak bisa mengalahkan Farrel. Tubuhku sudah terluka sejak awal, pertandingan dimulai dengan kerugian mendalam di pihakku. Sekarang juga begitu, dengan banyak luka yang aku derita, aku hanya bisa mengeram kesal di lantai kayu penginapan yang terbakar.
“Kaivan, sekarang kamu sudah gak punya alasan lagi buat bertarung.”
“...”
Itulah kata dari Farrel sambil mengangkat senjatanya menghadap ke arahku yang terbaring memalingkan wajah. Guncangan tersebut bagiku masih terlalu kuat untuk bisa diterima sekaligus. Untuk beberapa alasan, ada sebagian dari diriku yang tidak percaya kalau tiga gadis tersebut telah terbunuh.
“Kaivan, kamu cape, ‘kan? Kalau gitu kita bisa berhenti saja.”
“...”
“Huft ... hah ... huft ... hah ... asal kamu tahu, aku juga di sini sudah cape. Tapi, kayaknya semuanya sudah selesai, ya ... walaupun endingnya gak sebagus yang aku bilang sebelumnya.”
“...”
Aku masih terdiam, terbaring menghadap lantai tidak menghubris perkataan dari Farrel kala itu. Untuk sementara, aku hanya bernapas keras sendiri melamun, membiarkan perkataan lelaki tersebut lewat saja di telinga tanpa diserap.
“Dengar, aku minta maaf kalau ini agak kasar. Ini bukan akhir, kita masih bisa lanjut lagi ke tantangan selanjutnya. Semua tetap butuh pengorbanan,” kata Farrel yang masih bicara mencoba berkomunikasi denganku.
“...”
“Apa yang kamu lindungi sudah gak ada, jadi kita gak usah—“
“—Bunuh.”
“Hn?”
Gumam tersebut masih samar aku ucap, tidak terdengar karena memang aku mengutarakannya dengan sekilas. Tapi, melihat respons Farrel yang melongo sedikit bingung, aku pun menarik napas dalam-dalam untuk ancang selanjutnya.
“Bunuh!! Farrel ...!!”
*Dug, dug ....
Itu saat pertama kali aku benar-benar kehilangan akal sehatku.
Teriak itu terdengar serak, tenggorokanku juga merasa luka ketika dilakukan. Tapi, layaknya teriakan perang, aku merasakan kekuatan mengalir bersamanya.
Aku kembali berdiri melakukan tolakan kaki dengan keras untuk melancarkan serangan menggunakan kapak. Tepat ke arah kepalanya untuk memecahkan tengkorak tersebut.
Stank!
Tapi, tentu Farrel masih bisa menangkisnya. Dia dengan kekuatannya membuat arah seranganku membelok bersama dengan suara denting keras senjata terbentur.
Di titik tersebut, Farrel ingin membalasku dengan serangan balik menendang perutku layaknya apa yang dia lakukan sebelumnya.
*Dodge
Namun, kala itu aku dapat menghindar. Gaya kapak yang terpental itu aku manfaatkan untuk lebih cepat bergerak mundur searah dengan layang kapak tersebut di tanganku. Lalu, pada akhirnya aku yang sekarang terpisah beberapa langkah dengan Farrel.
“Hah, hah, hah, hh ...,” napas kerasku dengan keadaan tubuh memanas penuh adrenalin.
“Haha, Kaivan, apa-apaan teriakmu barusan. Itu bikin aku kaget—“
“Berisik!”
Aku kembali memotong kalimat Farrel, menolak untuk mendengarkan kelanjutan dia bicara.
Berpikir! Jika aku terus dalam keadaan ini tanpa ada langkah kuat untuk berubah, maka kekalahan sudah pasti ada padaku. Penyebab aku kalah dengannya adalah masalah perbedaan parameter kekuatan dari awal yang cukup berbeda. Tapi, masalahnya aku juga memang tidak pernah menang melawan orang yang lebih kuat dariku.
Amalia, Geza, monster gorila, dan sekarang Farrel. Jika aku melihat masa lalu, aku ternyata memang selalu bertugas sebagai pengulur waktu sampai tiba saatnya orang yang lebih kuat membantu atau menolong.
Biarpun begitu, ada waktunya di mana situasi tidak mengizinkanku untuk lari maupun mengulur waktu. Walaupun musuh di depan jauh lebih kuat, tidak selalu ada pilihan untuk kabur untuk melarikan diri.
Manusia tidak bodoh, otot bukan segalanya, itulah sebabnya kami bisa lolos menjadi puncak rantai makanan di bumi yang sekarang kami tinggali.
Baiklah ....
“HA!”
*Throw
Aku melemparkan kapakku lurus ke arah Farrel, meluncurkan serangan jarak jauh yang sebenarnya sangat rentan untuk meleset dan dihindari. Tapi, di sana Farrel tidak bergerak satu inci pun dari berdirinya. Dengan tatapan tegas, dirinya berdiri tegak menunggu lempar kapak itu datang. Lalu ....
Stank!
Dengan santai dirinya menangkis senjata tersebut ke sisi lain menggunakan kapaknya, menimbulkan suara dentang keras untuk ke sekian kalinya.
“HAaaAA!!”
“Hh!?”
Akan tetapi, satu hal yang berbeda adalah gerakan pada diriku. Perubahan di mana gerakan yang tiba-tiba dan berisiko besar aku pilih. Tepat di balik kapak yang terlempar barusan, aku yang sedang bersiap melayangkan tinju sudah menunggu. Memanfaatkan sedikit titik buta selama sepersekian detik, aku membuat lengah Farrel.
Tangan kanannya yang sedang di sisi akibat menangkis kapakku sebelumnya membuat lelaki itu bereaksi lambat terhadap kedatanganku.
Bug!
“Gkh!?”
Alih-alih menyerang wajahnya, aku lebih memilih memukul lengan atas Farrel. Akibat serangan tersebut, tubuh Farrel mundur satu langkah dengan tangan kanannya terdorong sedikit ke belakang.
Tentu lelaki itu tidak diam, dia menggunakan tangan kiri untuk balas memukul ketika tangan kanannya sedang tidak dipakai.
Bug!
“Gkhakh!?”
Aku tidak sempat menghindar, tepat di kepala tinju Farrel dapat aku rasakan. Menggeser rahang, membuat bunyi di tengkorak, membuat luka memar kebiruan akibat membengkak pembuluh darah. Tapi, kali ini aku tidak terpental, menahan kuat posisi kuda-kudaku agar tetap berdiri. Malah, di satu sisi aku mengeram dan mengumpulkan rasa sakit itu untuk dijadikan ukuran kekuatan di pukulan selanjutnya.
“HaAAaaAA!!”
Bug!
“Khth!?”
Memukul ke arah perut, membuat napas Farrel sedikit tersedak walau tidak sampai membuat lelaki itu terbatuk.
Farrel mulai membalas, dia mulai melayangkan kapak di tangan kanannya. Tapi, gerakan itu lebih lambat dan tidak tegas karena sebelumnya aku memberi rasa sakit di lengannya di serangan pertama—
*Slash
“Gkh!?”
Itulah yang aku rasakan, berpikir dengan itu aku bisa menghindar dari serangan tersebut, sedikit rasa percaya diri lewat ketika berusaha melangkah mundur.
Nyatanya, ayunan kapak tersebut menyayat dadaku, cukup dalam hingga menembus bajuku dan memberi luka sayatan lebar di dada. Karena aku terlalu dekat dengan Farrel, hal tersebut tidak dapat dihindari. Walaupun tidak vital, tapi darah terlihat keluar, serangan yang sebenarnya bisa kurasakan sedikit bergesek dengan tulang rusukku.
“GKh, khth, gnh— AAhAHAAaaaAAA!!
Namun, kembali lagi, aku meluapkan hal tersebut dengan kemarahan. Walaupun wajahku rusak, pembuluh darah di tangan sudah bocor, dan bahkan sekarang luka sayatan panjang di dada, aku tetap tidak berniat untuk mundur.
Sambil berteriak, aku meluapkan seluruh kekuatan untuk tetap berdiri.
*Grip
Mengait, mengunci, mengikat ... tangan kiriku dengan cepat mencari posisi yang pas di sela-sela tangan kanan Farrel yang sedang memegang kapak. Mengikat bagaikan ular, aku mengunci tangan tersebut dengan kuat agar dia tidak bisa menggunakan senjata tersebut.
Waktu berjalan begitu lambat, Farrel yang sadar tangannya ingin dikunci pun melakukan serangan berontak. Dia beberapa kali memukul wajah dan menendang tubuhku. Tapi, di sana aku tidak gentar untuk mundur, rasa sakit yang kurasakan sudah terlalu banyak untuk bisa terguncang oleh serangan sederhana seperti itu.
Memar di wajahku bertambah, rasa sakitku semakin menyebar ke seluruh tubuh, tapi aku tetap memegang kuat tangan Farrel di sana.
*Dug, dug ... dug, dug ....
Aku bisa merasakannya, adrenalin kuat dari gelombang emosi yang membuat kekuatanku terpacu. Namun, kali ini aku juga bisa merasakannya, semua tersebut bercampur dengan emosi kemarahanku di mana rasa ingin membunuh Farrel menguat.
*Glench
Farrel di sana tetap berusaha berontak, tapi tidak sedikit pun tubuhku menunjukkan akan menjauh. Melekat mengunci tangan lelaki tersebut, aku yang dipukul sudah seperti permen karet yang tidak mau lepas.
Lalu, di satu titik, aku yang mengeramkan tangan pun melancarkan serangan ke lengan kanannya.
Bug!!
“Gkh!”
Farrel tidak bisa menghindar, dia yang sudah terkunci tangannya pun hanya bisa melakukan berontak dengan balas memukul agar lukanya setara. Namun, tinjuku jauh lebih kuat, mengarah ke lengan atas di mana lukaku juga pernah terbentuk, membuat tangannya membeku tidak bisa digerakkan dengan melancarkan serangan di pembuluh darah.
Buk, buk, buk ....
Beberapa kali Farrel menggunakan tangan kiri dan kakinya untuk terus menyerang. Bukan berarti serangan tersebut tidak kuat, aku juga bisa merasakan tubuhku semakin rusak ketika menerimanya. Tapi, di titik itu aku sudah mengabaikan semuanya, membuang semua insting pertahanan untuk sekali terus menyerang.
Satu ....
Bug!
Dua ....
Bug!
Tiga!
Bug ...!!
Aku terus memberinya rasa sakit di tempat yang sama, di lengan bagian atasnya tempat pembuluh darahnya mengalir, sedikit bagian bawah dekat ketiak. Ini adalah teknik tersendiri yang sebenarnya aku pelajari secara tidak sengaja. Setelah dilakukan beberapa kali, lalu terdengar suara ....
Stank ....
Dentang logam terjatuh.
Itu adalah senjata kapak yang awalnya dipegang oleh Farrel sebelumnya. Dia yang kehilangan tenaga di tangan kanan mau tidak mau harus menerima kalau kontrolnya di tangan tersebut telah hilang, membuat dia menjatuhkan senjata karena sudah hilang cengkeraman di jarinya.
Heh.
Aku pun mendorong Farrel menjauh, melakukan gerakan cepat mengambil kapak tersebut, lalu ....
*Throw
Membuangnya ke langit-langit yang berlubang jauh agar tidak dapat dijangkau lagi.
Tujuan sebenarnya dari serangan tersebut adalah untuk Farrel lepas dari senjata mematikan tersebut. Alasan aku kalah sebelumnya adalah perbedaan efisiensi dari menggunakan kapak. Farrel entah kenapa jauh lebih terampil, jadi aku yang jujur tidak pernah menggunakan kapak secara langsung dalam hidup pun terus terpojok.
Namun, sekarang situasi berubah, aku dan Farrel ada dalam kondisi sama tanpa senjata, walaupun sebenarnya tubuhku jauh lebih terluka sekarang.
“Hah, hh, hah, hah ... jadi kamu pikir kalau kapakku dihilangkan, kamu bisa menang?” tanya Farrel yang berhenti menyerang untuk sementara waktu.
“...”
Aku berjalan sedikit mengarah ke arah kapakku yang terlempar, posisinya sendiri lebih dekat dengan tempatku berdiri sekarang. Farrel dengan tangannya yang terluka tersebut sepertinya tidak punya niat untuk berlari menggapainya demi ganti kapaknya yang kubuang.
Kapak itu aku pungut di lantai, kapak yang masih bersih dan terlihat kontras dengan tubuhku yang penuh darah.
“Jadi, sekarang kamu mau bunuh aku dengan kapak itu?”
“...”
Aku sedikit menggerakkan mata, mengalihkan pandangan dengan sinis tanpa geleng kepala. Mata kami bertemu, tapi diriku tidak menghadap penuh terhadap lelaki tersebut.
Memang benar, aku secara teori lebih unggul melawan orang tanpa senjata sekarang. Akan tetapi ....
*Throw
“E-eh?”
Aku di sana melemparkan juga kapak milikku, jauh ke arah yang sama keluar dari gedung penginapan lewat atap yang berlubang sekarang.
“Aku benci senjata tajam ... itu bisa membunuh secara cepat,” kataku dengan sinis sambil memutar tubuh mulai menghadap Farrel. “Buat orang kayak kamu, aku lebih setuju buat bunuh kamu pelan-pelan ... Farrel!!”
******
Aku tidak begitu ahli dalam pertarungan, selama hidupku tidak pernah sekali pun masuk ke dalam seni bela diri atau sesuatu seperti latihan fisik. Tapi, satu hal yang pasti adalah kemampuan sihirku bisa meningkatkan setidaknya fungsi tubuh lebih baik.
“HAaAaa!!”
Pertarungan kembali dimulai.
Setelah aku melemparkan kapakku sendiri menjauh, tubuh dan tinjuku datang menghampiri Farrel. Serangan ganas tersebut begitu liar keluar bersama teriakan keras. Farrel sekarang tidak punya kapak, seharusnya dia sekarang tidak semerikan sebelumnya dengan senjata tajam tersebut.
*Swing
Gerakan tangan, tinju melesat ke wajah Farrel. Namun, di sana dia bisa menghindar dengan melakukan gerakan mundur menarik kepala sedikit dari posisi sebelumnya. Tentu aku tidak menyerang sekali, beberapa serangan lanjutan ke arah berbeda mengikuti posisi kepala aku lakukan. Tapi, dengan gerakan lincah Farrel masih terus menghindar dengan luwesnya.
Tangan Farrel masih keram karena pembuluh darah yang tersumbat. Karena efeknya yang belum sembuh, beberapa kesempatan menyerang balik oleh Farrel selalu diabaikan. Atau lebih tepatnya dia tidak dapat melakukannya, Farrel selama itu hanya menghindar dengan satu tangan kanan yang tergantung lemas tidak dapat digerakkan.
Kanan, kiri, atas, bawah, menghindar, mengelak, menarik, terus dilakukan secara bertubi-tubi sudah seperti mesin manuver canggih.
*Whoush ....
Namun, ada satu titik di mana kestabilan mental tersebut terganggu. Tentu orang juga akan kesal ketika dirinya selalu berada di posisi tersedak.
Bersama dengan lonjakan gelombang emosi kemarahan Farrel, aku melihat tinju kirinya mulai mengarah padaku. Setelah lewat beberapa waktu dan kesempatan untuk membalas, akhirnya lelaki tersebut mengambil salah satunya untuk menyerang balik.
Heh.
Tapi, di sana aku berdeham tersenyum. Satu perbedaan yang membuat kejadian tersebut memiliki kondisi khusus adalah kondisi mental Farrel yang sempat melonjakkan emosi kemarahan. Aku dengan deteksi emosi dapat menyadarinya, membuat keputusan cepat dan akhirnya membalik kartu serangan tersebut.
Krak!
“Khtth!?”
Serangan balik tersebut aku balikkan lagi, dengan sesuatu yang mengerikan yang bahkan dapat membuat fatal patah tulang.
Tinju kiri barusan aku balas dengan sikutku. Dengan timing yang kuat didukung oleh pacu insting dari kekuatan sihirku, jari tangan Farrel yang awalnya ingin menyerang malah berbalik membelok terbentur kesakitan. Sikutku tidak terlalu kuat, tapi jelas masih jauh lebih unggul dari ujung jari tinju Farrel. Ketika beradu, aku bisa mendengar geretak jari dan keram sakit dari lelaki tersebut.
*Whoush!
“Gkahk!?”
Tapi, satu hal yang sama juga aku rasakan kala itu.
Karena kekuatan gelombang emosi, seluruh perasaan yang dirasakan Farrel juga dapat kurasakan olehku. Tepat ketika jari tangannya membentur sikut, aku juga dapat merasakan emosi negatif rasa sakit di kepalaku. Walaupun aku sudah tahu hal ini, tapi tetap aku masih terguncang karenanya.
Seperti paku menancap ke mataku, rasa sakit tersebut pekat bergerak kontras di atmosfer sana.
Tapi, tentu itu tidak akan dibiarkan begitu saja, dengan cepat aku juga berusaha memulihkan diri segera menggapai kesadaran. Melihat ke arah Farrel yang masih menggeram kesakitan melihat jarinya yang berbelok ke arah salah, aku pun segera lanjut ke gerakan berikutnya.
*Grip
Memegang seluruh kepala bagian atasnya, aku menarik kasar rambut beserta bagian tubuhnya sedikit. Dengan ancang-ancang cepat, segera juga aku mengayunkan tinju vertikal ke arah atas.
Bug!
Pukulan tepat di wajah, mengarah ke atas hingga tubuh Farrel terdorong memutar setengah salto akibat kekuatannya.
*Whoush ....
“GKh!?”
Masih di reaksi yang sama, gelombang emosi dari rasa sakit yang dialami Farrel mengalir juga ke kepalaku. Itu membuat pusing dan perih sensasi terbakar di tengah penginapan panas yang memang sedang terbakar—
“HaaAa!!”
Tubuh bagian atas Farrel terpental ke belakang, tapi bagian bawahnya sedikit bersisa menapak di tanah. Alih-alih mempertahankan posisi berdiri, Farrel di sana lebih memilih memanfaatkan momentum terjatuh untuk menyerang balik. Dia mendorong kekuatan di kakinya, mencoba menyerang tepat ke arah perutku bersama tubuh jatuhnya.
Buk.
Tendangan tersebut berhasil, tapi ....
*Grip
Aku malah balik memanfaatkannya.
Jujur, tendangan barusan adalah hal yang cukup ceroboh. Dibanding semua serangan yang dan rasa sakit dari gelombang emosi, serangan kecil di perut oleh kaki tersebut tidak begitu menyakitkan.
Kaki yang menempel di perutku di sana menjadi kesempatan besar yang terbuka hebat. Aku memegang erat hingga sempat membatalkan jatuh tubuh Farrel ke belakang. Ketika kaki sudah aku cengkeram, aku pun kembali melancarkan gerakan .....
“HHhhaAAAAaaaaAAaaaAAAaaAA ...!!”
Bersamaan dengan teriakan kuat yang menggelegar ke seluruh ruangan, aku mengerahkan tenaga seluruh tubuh untuk menarik kaki Farrel bersama dengan sisa tubuh yang menempel di sana. Dua tangan dan bahuku fokus menarik, kaki dan bagian pinggul dengan kokoh mendorong tapak alas membentuk kuda-kuda. Pada akhirnya, tubuh Farrel dapat terangkat, melayang layaknya samsak tinju dan aku bawa berputar untuk dilempar ke arah lain.
*Throw
Bukg!
“Kthgh!!”
Suara geretak keras dari kayu dan tubuh yang terbentuk bukan hanya dari reruntuhan terbakar saja. Kali ini pertempuran kami diiringi dengan banyak kegaduhan.
Badan Farrel ... atau lebih tepatnya punggung lelaki itu membentur di tangga, menyebabkan bagian tajam siku-siku setiap anak tangga memberikan memar pada tulang punggungnya.
*Whoush ...!!
“Gkhth!?”
Lalu, untuk ke sekian kalinya aku kembali merasakan rasa sakit tersebut. Layaknya ditusuk besi panas, kepalaku terasa sakit dan berat secara bersamaan. Jika tanpa gelombang campur kemarahan adrenalin, aku seharusnya sudah tumbang.
Belum, belum selesai!!
Air mataku keluar, rasa sakit dari gelombang emosi terus membudak. Tapi, sebagai ganti aku juga melakukan perlawanan. Luka di lengan kiri aku tekan, memberikan rasa sakit tambahan untuk menghilangkan rasa sakit yang lain.
Untuk sementara itu bereaksi, otakku kehilangan rangsangan sesaat dan kebingungan untuk memberi rangsangan. Lalu, di satu titik tersebut aku segera menguatkan kaki, melangkah kuat untuk melontarkan tubuh dan menghampiri tubuh Farrel yang sedang terkapar di tangga.
“HHaaAaaAAAAAaaaaA ...!!”
*Grip
Aku menggenggam kerah baju Farrel yang terjatuh, sedikit menariknya dari permukaan, lalu ....
*Punch
Bug!
Dilanjutkan dengan memukul keras tepat di wajah. Farrel sampai menggeram berteriak lemas menerima serangan yang membuat hidungnya memar.
*Whoush ....
“Gkthgh!!”
Jarakku yang semakin dekat dengan Farrel membuat efek timbal balik gelombang emosi semakin kuat. Bersama rasa sakit, apa pun yang aku lakukan selalu berakhir menjadi pedang bermata dua.
Belum, masih belum!
Bug!
Pukulan di pipi, menggoyangkan seluruh daging di wajah hingga air liurnya keluar bersama bias darah. Memarnya sekarang menyebar, dari hidung ke arah sisi pipi dan samping bibir, luka di mana dia akan kesakitan hanya dengan mencoba bicara.
Belum!!
“HHAaaAAaaaH!!”
Bug!!
Pukulan di pelipis, menggetarkan pandangan dan pendengarannya cukup keras hingga menimbulkan rasa pusing. Alisnya yang sedikit rusak akibat pukulan tersebut membuat mata kirinya sedikit picek.
*Whoush ....
“Gkhth!?”
Untuk yang satu itu sedikit kuat. Gelombang emosi sedikit melonjak dari biasanya hingga mataku sedikit memicing, rasa sakit yang seharusnya cukup membuatku mengerut di lantai memegang kepala layaknya siput yang masuk ke cangkangnya.
Tapi, tentu semua itu aku tahan. Selama aku masih merasakan jelas gelombang emosi dari Farrel, artinya lelaki itu masih punya kesadaran. Lagi pula ....
“HA!!”
Pukulan itu tentu masih jauh dari sisa amarahku!
Aku kembali menarik lengan kanan, membentuk kepal tangan lalu dilanjut dengan mendorong tinju sekeras-kerasnya.
Krak!!
“AKGghaaa!!”
Namun, pukulan tersebut ternyata meleset. Setelah sekian lama Farrel menerima seranganku, dia akhirnya melakukan perlawanan dengan menghindari seranganku barusan. Arah pukulan yang lurus ke wajahnya membuat dia lebih mudah untuk menghindar. Lelaki tersebut menggeser kepala dan bagian atas tubuhnya ke samping hingga membuat tinjuku bertubrukan dengan tangga kayu di belakang tubuhnya.
Aku menjerit cukup keras, karena tinju tersebut lebih keras dibanding tinju lainnya di mana cukup untuk menghancurkan tangga kayu dan membentuk patahan lubang.
Responsku harus cepat, aku merasakan Farrel berontak dan ingin meloloskan diri dari cengkeramanku. Mengabaikan tinju yang berdarah lecet, aku pun menariknya dan mencoba memukul lagi.
*Block
Akan tetapi, kali ini Farrel menahannya. Tangan kirinya dia angkat menutupi wajah untuk memblokade arah tinjuku. Cukup wajar, dia sedikit menunggu waktuku lengah di mana saat tenagaku melemah karena luka di kepalan tangan barusan.
Kami sekarang sedang beradu tenaga, saling dorong antara tinjuku dan blokade Farrel.
*Grip
“Hh!?”
Biarpun begitu, sepertinya Farrel punya rencana berbeda.
Tangan kanannya sekarang sudah dapat bergerak lagi. Dia dengan berontaknya mencoba menggangguku dengan mencengkeram tangan kiriku yang sejak tadi memegang kerah Farrel.
Adu tenaga pun menjadi di dua sisi, dua tangan dengan kekuatan tangan yang saling bersilangan antara kanan dan kiri. Di sana kami sempat saling menatap tajam memberikan masing-masing sebuah ekspresi mengancam permusuhan.
*Dug, dug ....
Berlangsung selama sekitar tiga detik, arus pertarungan pun kembali berjalan.
Kekuatan di tangan kanan Farrel masih lemah, hanya berlangsung sesaat ternyata sudah cukup untuk membuat cengkeraman tersebut didorong balik olehku. Tangan kiri yang awalnya memegang kerah pun sekarang aku sentak ke arah kiri, mendorong tangan yang awalnya mencengkeram untuk dipojokkan di permukaan dan dikunci tidak bergerak.
“Kaivan!!”
*Whoush ....
Tangan kanan Farrel mungkin masih kalah, tapi di sana dia berontak dengan teriak dan amarahnya mencoba memukulku dengan tangan kanannya. Blokade yang semula dia bentuk pun dihancurkan dengan gerakan menangkis tinjuku dan lanjut melayangkan pukulan ke wajah.
Aku menghindar, tentu saja gerakan tersebut terlalu terbuka dan sangat mudah terbaca. Sedikit mundur dan memiringkan wajah sudah cukup untuk membuatnya meleset. Segala serangan yang didasari emosi kemarahan hanya akan membuat deteksi emosiku menjadi tajam—
Bug!
“Gkakhg!?”
Tidak di sangka ternyata Farrel masih melanjutkan serangannya. Hampir tidak ada jeda dengan tinju pertama, dia melakukan tendangan keras yang membuat tubuhku terpental cukup jauh, membuat kami terpisah dan dirinya terlepas dari cengkeraman kunciku.
Aku tidak ingin menyia-nyiakan posisi barusan yang sempat membuatku unggul. Dengan menahan ras sakit di perut, aku berusaha menerjangkan kembali tubuhku menyerang Farrel. Dirinya yang cepat berdiri dari posisi membuatku semakin khawatir. Sekali lagi aku ingin membuatnya terjatuh dan memukul sepuasnya.
“HaAaaA!!”
Beringas seperti **** hutan, aku kembali memukul Farrel dengan tinju kananku.
*Block
Namun, di sana dia kembali menahan, kali ini dengan tangan kanannya yang sebelumnya sempat kalah tenaga olehku—
“Hh!?”
Tinjuku di sana ditangkis ke arah kiri, posisi di mana aku secara tidak langsung menjadi berputar dan menunjukkan setengah punggung. Momentum itu tidak dapat aku kendalikan, bergerak terlalu cepat hingga tubuhku lebih cepat dari kontrol otak.
Farrel masih melanjut, dia memegang tangan dan bahuku, mengunci kaki untuk menghancurkan kuda-kuda. Lalu, dengan cepat dia dapat meraih kepalaku, menggunakan kekuatan barbariannya yang ternyata dia gunakan untuk serangan mengerikan.
__ADS_1
Brukgh!!
“Gkhakh!?”
Kepalaku dibenturkan pada pegangan tangga, mengarah ke dahi hingga sangat keras hingga pegangan kayu tersebut rusak terbelah. Gerakan cepat itu sangat mengerikan, mataku yang bergerak di luar kendali membuat sensasi seakan kesadaranku akan hilang.
Lukanya cukup parah, berdarah hingga membentuk lubang di dahiku.
Sempat Farrel menarik kepala dan ingin membenturkan kepalaku untuk yang kedua kalinya. Namun, di sana aku menahan kepalaku, dengan kuat seluruh tubuhku mencoba berontak untuk lepas darinya.
“HHaAaAaaaAA ...!!”
Keberingasan itu aku salurkan andalkan pada kekuatan. Dengan teriak layaknya tangisan tempur terakhir, aku berontak menepas seluruh pegangan tangan dan kunci yang barusan Farrel tujukan padaku.
Kembali sempat saling bertatapan, aku pun maju dan memukul ke arah wajah Farrel.
*Block
Farrel menahannya dengan membentuk blokade lagi dengan tangannya.
Heh.
Akan tetapi, aku tidak melakukan gerakan sama untuk kedua kalinya.
Dengan cepat tinju tersebut aku tarik, melakukan gerakan tinju kedua dengan pola yang berbeda. Kali ini dari bawah, memaku ke atas mengarah ke dagu Farrel.
Buk.
Berhasil, serangan tersebut sempat membuat Farrel kesakitan. Dia yang sebelumnya membuat blokade tangan sempat membuat pandangannya terhalang, oleh sebab itu serangan kedua tersebut dapat berhasil.
Sekarang Farrel secara refleks menurunkan tangannya. Dia mencoba melindungi bagian kepala bawah yang sebelumnya aku serang. Namun, respons tersebut memanglah hal yang dapat aku baca. Serangan ketiga pun aku lancarkan, kali ini tentu dari atas samping, tepat mengarah ke telinganya.
Buk.
“Kthgah—HAa!! Kaivan!!”
Dua hit, serangan tersebut sempat membuat Farrel merasa kesal. Merasa kalau bertahan tidak efektif, lelaki tersebut pun mencoba menghempaskan telapak tangannya secara acak untuk sebagai tindakan melindungi diri.
Lalu, untuk ke sekian kalinya, aku juga dapat membaca gerakan tersebut.
Posisiku yang sudah mundur menarik tubuh membuat hempas acak Farrel meleset.
Bug!!
“Ktakh!!”
Malah, karena tindakannya, dia menjadi sedikit lengah dan membuka kesempatan padaku untuk menyerang tepat di kepalanya. Serangan mengenai hidung di mana darah kembali mengalir akibat rembesan pembuluh darah di sekitar wajah tersebut.
*Whoush ....
Rasa sakit terus mengalir ke tubuhku juga. Tubuh Farrel yang sempoyongan kehilangan tenaga akibat pukulan beruntun juga tetap masih bisa kurasakan.
Kuda-kuda Farrel lengah, dia sempat sempoyongan hampir terjatuh.
“Kaivan!!”
Buk!
Namun, ternyata dia masih punya tenaga untuk memukul. Di tengah gerakan acak layaknya orang mabuk yang tidak stabil, Farrel kembali memutarkan tubuhnya dan memberiku pukulan. Serangan tersebut mengenai pipi, cukup keras untuk membuatku memar, tapi tidak cukup keras untuk membuatku terjatuh.
“HaaAAaaa!!”
Dengan tangisan pertempuran, aku yang terhempas terkena pukulan tersebut membalas ganas. Arah kepala yang awalnya ke sisi karena pukulan aku tarik lagi, tegas ke depan sambil membawa tinju.
Bug!
Kena.
Satu hit yang keras, mengenai wajah yang—
Bug!
“Gkhakh!?”
Yang ternyata dengan cepat dibalas oleh Farrel. Dia dan aku sekarang seakan dalam kondisi di mana pukulan sekeras apa pun tidak akan cukup untuk membuat tumbang. Berapa kali dipukul, jumlah itu juga yang akan kami kembalikan sebagai balas perlawanan.
Bug!
Pukulan balasan dariku, membuat kepala dan sebagian tubuh Farrel terpental mundur mengikuti arah tinjuku.
Bug!
“Gthgkh!?”
Lalu, kembali lagi balas dari Farrel, pukulan ke arah pelipisku yang cukup keras dan sama-sama membuat kepala terpental.
Entah kenapa, kami saling bertahan melakukan saling ganti pukul secara bergantian untuk beberapa saat. Karena rasa letih luar biasa dan kesadaran yang mulai lepas, dari luar kami seperti saling menerima pukulan masing-masing tanpa perlawanan dan usaha menghindar.
Sekilas seperti game, di mana kami memukul bergantian tanpa niat curang. Padahal di sudut pandang kami seluruh dunia mulai memudar, apa yang kami lihat dan dengar sudah berkurang tingkat kepekaannya. Jika ditanya kenapa masih berdiri, aku hanya bisa jawab dengan jawaban ambigu ... yaitu karena tekad.
*****
Pertempuran sudah cukup lama berlangsung. Dalam kondisi sekarang, pihak yang dirugikan atas perpanjangan waktu adalah diriku. Luka di tubuhku jauh lebih parah karena terdapat sayatan dan pembocoran pembuluh darah di tangan. Jika terus dibiarkan, aku akan tumbang dengan sendirinya karena kehilangan suplai oksigen ke otak.
Mataku berkunang-kunang, asap yang muncul di sekitar bersama api membuat pandanganku semakin buyar. Dengan napas berat dan suhu tubuh yang panas luar biasa, tekadku di sana masih kuat untuk bertarung lebih lama dengan Farrel.
Kuda-kudaku sudah berantakan, bahuku turun mengikuti dua tangan yang menggantung lemas ke bawah. Dengan tubuh yang sama-sama membungkuk, aku dan Farrel saling menatap.
“Hah, hh, hah ... kayaknya memang sudah waktunya buat bubar, Kaivan.”
“...”
Aku tidak menjawabnya. Posisi kepala yang menunduk ke bawah seakan tertarik berat gravitasi menjadi simbol keletihan, mengumpulkan konsentrasi di kondisi tersebut saja benar-benar sebuah tugas berat. Tepat seperti apa yang dikatakan lelaki itu, waktuku untuk bertarung sudah menipis. Aku memahaminya dan lebih menjawab Farrel dengan tatapan sinis.
*Drop, drop ....
Dua tangan yang menggantung ke bawahku sekarang telah meneteskan darah. Luka sayat yang sebelumnya tentu jauh dari kata sembuh, pendarahan yang sempat berhenti kembali terbuka karena gerakku yang sangat aktif. Walaupun tinjuku punya sedikit bercak darah milik Farrel, tapi rembesan darah dari luka sayat di tanganku jauh lebih banyak.
“Menyerah saja, Kaivan. Setelah ini berakhir aku gak akan ganggu kamu lagi. Apa yang aku lakukan cuman mau hidup, keluar dari sini dan hidup bebas di luar.”
“Heh, jadi kamu mau bilang kalau surat kebebasanmu itu legal buat ditulis pakai darah orang lain? Kamu masih mikir kalau aku maafin kamu gitu saja?”
“Gak ada tujuan lagi buat aku bunuh kamu sekarang. Tapi, kalau kamu terus ganggu, aku gak bisa jamin keselamatanmu lagi, Kaivan.”
“Jaminan katamu ... dari awal aku gak berharap itu darimu.”
“...”
“...”
Beberapa saat terbentuk jeda kosong, atmosfer berat di mana yang terdengar hanya percikan bara api dan angin besar dari luar.
*Pltak
“Haa!!”
Farrel berteriak, dia dengan tinjunya melaju segera menyerangku secara terbuka dari depan.
“Heh.”
Aku menghindar, menggerakkan kepala dan tubuh bagian atas beberapa kali secara cepat, menyilang ke samping beberapa kali menghindar dari jalur pukul walau tangan yang menggantung berdarah masih mengganggu.
Farrel di sana tidak berhenti di satu pukulan beberapa kali dia melanjutkannya dengan cepat dan beringas seperti tidak terlihat kalau dia sedang lelah. Karena lelaki itu melakukannya dengan emosi kemarahan, ada sedikit kekuatan yang mengalir lagi dan membuatku lebih mudah untuk memanfaatkannya sebagai energi.
“Cukup!”
Di satu titik, aku mulai kesal untuk menghindar. Oleh sebab itu ....
*Grip
Aku memegang tangan Farrel secara utuh, mengikatnya dengan kedua lenganku hingga menutup layaknya ikat menggeliat gurita, menguncinya agar tidak bergerak di antara ketiakku ketika tinjunya lewat. Namun, hal itu barulah langkah awal, di detik tersebut juga aku segera melakukan serangan, mengangkat tangan untuk menyikutnya tajam lagi.
Grek.
Suara tulang terdengar merambat dari tubuh Farrel ke tubuhku, pergeseran sendi tersebut terasa bahkan ngilu dirasakan olehku. Tidak terasa sakit yang ekstrem seperti serangan biasa, lebih dominan ke arah gelombang emosi kaget.
Pada dasarnya memang keadaan kami yang keletihan membuat respons menjadi lambat. Jadi, butuh waktu sepersekian detik sampai Farrel akhirnya menggeram kuat, kemarahan dan kekesalan mulai meluber setelah dia sadar secara penuh kalau tangannya kucoba untuk dipatahkan.
Dia mencoba menyerang, tapi jarak kami terlalu dekat untuk dia bisa mengayun tangan dan kakinya. Di posisi di mana tangannya dikunci dan dipatahkan olehku, Farrel pun meluapkannya dengan menarik kepalanya ke belakang.
Dengan penuh keberanian dan geram amarah, Farrel mulai memberikan dahinya keras untuk diadu dengan kepalaku.
Dug.
“Akhfgh!?”
Tengkorak kami saling beradu, posisi kami yang berdekatan kala itu juga tidak memberiku cukup ruang untuk menghindar. Akibatnya, suara mendenging di kepala terdengar, cairan di telingaku berputar karena benturan tersebut dan memberi rasa pusing. Terlebih, luka di dahiku karena sebelumnya pernah dibenturkan ke pegangan tangga membuat kerugian rasa sakit lebih ke pihakku.
Aku melangkah mundur, memegang kepalaku yang kembali merasakan rasa sakit dan penat bersama luka parahnya. Perasaan seperti dalam otak yang diaduk membuatku sempoyongan melangkah kanan kiri menjaga keseimbangan. Tapi, untuk beberapa alasan aku tidak sampai terjatuh, pertahanan berdiriku cukup kokoh.
*Whoush ....
Namun, belum sampai aku tenang, aku merasakan gelombang kemarahan. Farrel menerjangku dengan cepat bersama tinjunya dengan tangan satunya mengarah padaku.
Bug!
Aku bahkan tidak diberikan waktu untuk memulihkan diri dari rasa pusing. Farrel memukulku, dia terus menyerang dengan lampiasan kemarahannya. Satu di kanan, dua dari bawah, dan tiga kembali dari kanan. Walaupun memukul, tangan yang dia pakai adalah tangan yang sama-sama sudah terluka, terlalu parah rasa sakit yang diterima.
Di pukulan ketiga aku menepisnya, membuat tangan dan tubuhnya terpental ke belakang oleh perisai tanganku yang didorong.
Melihat tindakan tersebut, Farrel segera mengganti polanya. Dia menendang menggunakan kaki ke arah perut dan lutut beberapa kali, berusaha membuat diriku kehilangan keseimbangan dan jatuh seutuhnya.
Akan tetapi, jujur itu adalah pilihan salah bagi Farrel. Luka di tubuhku sendiri berpusat pada tangan dan wajah, kaki adalah salah satu yang memiliki fungsi utuh. Jadi, tendangan ke arah lutut tersebut sama sekali tidak membuatku getar apalagi terjatuh.
Aku melangkah pun di sana mencoba melangkah mundur, Farrel yang menyadari tindakan diriku di sana mencoba melihatku dengan fokus. Perubahan posisi aku ambil, aku mencoba melakukan ancang-ancang untuk serangan kuat.
Dalam hitungan detik, aku tidak mengerti kenapa Farrel tidak mencoba kabur, dia dengan pilihannya malah membuat keputusan melakukan posisi bertahan dengan tangannya. Satu hal yang bisa kulihat mungkin adalah karena dirinya juga tidak punya sisa tenaga untuk bergerak lincah.
“HAaaAAaa!!”
Aku mencoba menyerang, melangkah cepat untuk mendekat. Tapi, bukan dengan pukulan mengarah ke wajah ke tubuh, melainkan dengan usaha untuk menangkap kakinya.
*Grip
Lelaki itu sedikit tertutup pandangan oleh perisai tangannya sendiri, itu menyebabkan dirinya teralihkan ketika aku bergerak dan tidak tahu pasti seranganku datang. Jadi, ketika menerima cengkeraman di kaki, Farrel bereaksi kaget.
Melanjutkan langkah cepat, aku mengerahkan kekuatan untuk mendorong Farrel jatuh. Layaknya seorang banteng yang menanduk, aku mengangkat sebelah kaki lelaki tersebut ke atas sekuat tenaga hingga keseimbangannya benar-benar hilang.
Bruk.
Farrel terjatuh, aku menimpanya dan mengunci tubuhnya berhimpit terbaring dengan lantai. Bisa dibilang itu adalah posisi menyakitkan. Lantai di sekeliling tubuh lelaki itu ada yang terbakar, letaknya sekarang berdekatan dengan bara api yang membuat panas bagian kepalanya.
“Ha!!”
Buk!
Namun, aku tidak peduli, satu hal yang masih aku fokuskan adalah menyerang dengan tinju keras ke arah wajahnya lagi. Belum puas untuk merusak wajah, aku masih ingin memukul kepala Farrel di sana.
Buk!
Tinju kanan, tinju kiri, aku melancarkannya dengan kedua tangan dengan mengabaikan aliran darah yang terus mengucur memberikan rasa sakit. Dengan serangan bertubi-tubi, tentu kepala Farrel akan hancur secara perlahan. Aku bisa melihat dan merasakannya, tinjuku mulai dikotori dengan darah lebih banyak, dan respons dari Farrel terus melemah.
*Whoush, whoush, whoush ....
Terus memukul, tidak berhenti walau sudah menyentuh jumlah dua digit angka. Tinju yang dikerahkan bersama kekuatan gelombang emosi terus menghantam wajah Farrel, menggetarkan pipi, merusak gigi, mematahkan hidung, meretakkan tulang pelipis. Rasa sakit dari Farrel terus aku abaikan, gelombang emosi dari rasa sakit setiap memukulnya aku telan mentah-mentah dan dikeluarkan lagi sebagai kemarahan.
“HAaAAaaAAa!!”
BUG!!
Pukulan terakhir sebelum aku istirahat. Farrel yang menerimanya pun mulai kehilangan respons di tangannya dan berakhir dengan terkapar lemas tanpa perlawanan. Aku di sana juga mulai kehilangan tenaga, bernapas keras mengembang kempis dada untuk beristirahat, diam sesaat untuk melihat apa yang terjadi selanjutnya.
“Ke-kenapa ...? Kenapa kamu ... berhenti, Kaivan? Aku masih belum mati.”
Hn?
Suara serak dan bercampur lemas keluar. Setelah sekian banyak pertukaran rasa sakit antara pertarungan, baru kali ini dia bicara merendah seakan mengakui kekalahan. Isi kalimatnya tentang sesuatu seperti menantang yang berkebalikan dengan kondisi tertatihnya membuat perasaan tercampur. Rasa kesal untuk memberi pukulan dan rasa iba karena kondisinya bertubrukan.
“Arti hidupku di sini cuman misi membunuh. Selama aku belum mati, aku gak dizinin hidup di luar. Aku gak bisa tarik apa yang aku sudah bunuh. Lagian, aku juga gak niat menyesal, kalau memang itu caraku buat hidup, aku juga gak keberatan bunuh yang lain.”
“HAaAaa!!”
Bug!
Aku yang kesal karena kalimat lanjutannya pun kembali memukul keras di wajahnya. Keadaan kepala yang begitu rusak penuh luka tersebut juga sudah tidak memungkinkan untuk Farrel menghindar, dia hanya pasrah menerima tinjuku di sana.
“Haha, iya ... memang benar, gak ada jalan lain selain mati buatku. Aku gak bisa tarik apa yang terjadi, bunuh kakak sama teman sekolah di depan matamu. Hal yang kayaknya masih kerasa kayak mimpi buruk buat kamu.”
”HaaAAAA ...!!”
Bug!
Belum redup emosiku, Farrel malah membuatku ingat kembali dengan berita buruk tersebut.
Iya, sangat benar. Kematian kak Dina dan Imarine di sana sangat menyayat hati. Untuk sementara aku masih berpikir kalau mereka hanya terluka dan masih punya harapan hidup. Tapi, melihat kenyataan, tentu hal yang tidak mungkin mereka yang terbelah lehernya untuk bisa hidup seperti semula.
Bukan untuk mewakili setiap kematian mereka. Aku hanya marah karena apa yang dia lakukan layaknya hal ringan untuk bisa diulang lewat mulutnya.
“HaaAAAaa!!”
Berteriak seakan ingin merobek tenggorokanku.
Bug!
*Whoush ....
Tch.
Mengabaikan gelombang rasa sakit yang terus datang dari Farrel karena pukulanku.
Bug!
Membuang setiap sisi belas kasih, membuat buta mataku akan semua hal yang disebut dengan kata ampun.
Bug!
Aku terus memukul, mengabaikan keringat bercampur darah yang mengalir melewati berkas mata, mengabaikan perasaan tangan yang memberat karena kehilangan darah terlalu banyak.
Bug!
Setiap detiknya pandanganku berubah menjadi gelap, isi kepalaku hanya dipenuhi oleh rasa ingin membunuh dan melampiaskan kemarahan pada gumpalan daging samsak tinjuku.
“HHAaAaaAaaA—“
*Grip
“Hh!?”
Tiba-tiba saja aku dihentikan. Dengan cengkeraman kuat di tangan kanan dan teriakan tersebut, tinjuku yang masih diancang di udara pun terhenti.
A-Amalia ...?
******
Aku kala itu hampir kehilangan kesadaran, tubuhku layaknya bergerak sendiri meninggalkan perintah keji tanpa kendali normalnya. Layaknya mesin hang, aku tanpa sadar melanjutkan pukul pada Farrel berkali-kali walau lelaki tersebut sudah terkapar tidak melawan.
Seluruh kepalaku dipenuhi penat, pandanganku layaknya menggelap seperti sedang tertutup kelopaknya. Keadaan abnormal, setengah sadar di mana yang tersisa hanyalah perasaan untuk terus memukul.
Namun ....
“Kaivan, sudah, cukup!”
*Grip
Kalimat dan cengkeraman dari Amalia seakan menerangi penat gelap di dalam kepalaku. Pandangan yang semula dipenuhi kabut pun mulai hilang, keadaan di mana kepalaku hanya diisi untuk melakukan tinju keras, keadaan di mana aku digerakkan oleh sesuatu yang mengerikan.
Amalia memegang tanganku yang diayun ingin melakukan pukulan, dia menahannya sebelum tinju tersebut kembali diarahkan pada Farrel.
“Berhenti, Kaivan. Berhenti, jangan pergi terlalu jauh.”
“...”
Aku melihat sedikit ke arah belakang, mendatangi suara Amalia yang tepat ada di sampingku. Gadis tersebut melekatkan hampir setengah tubuhnya bersama cengkeraman tersebut.
*Whoush ....
Aku bisa merasakannya, dingin dari rasa ketakutan. Tubuhku yang seharusnya dikepung oleh bara api penginapan masih berasakan hawa es dari dalam, Amalia kala itu benar-benar takut dengan apa yang ditunjukkan padanya.
Tenaganya yang tidak terlalu kuat sebenarnya bisa aku lawan paksa. Tapi, sesuatu yang lain lebih kuat menekan emosiku di dalam hingga padam. Aku tidak dapat menjelaskannya, bersama kontak tubuh Amalia, aku bisa merasakan kalau emosinya juga menular padaku sedikit demi sedikit secara langsung.
Napasku sedikit meringan, otakku mulai kembali bekerja untuk bisa berpikir lebih jernih dan diajak berkomunikasi.
Memang benar, Farrel yang sudah ketahuan menjadi penjahat sebenarnya menjadi game over. Setelah dia tidak punya kemampuan untuk melawan seperti ini, aku sudah tidak punya tujuan lagi untuk melakukan hal yang lebih jauh lagi. Tugasku dari awal hanya untuk memutuskan siapa pelaku dari drama pembunuhan di awal cerita.
Tapi ....
“...”
Mataku melirik, kembali melihat wajah Farrel yang aku pukul sampai hancur pipi dan pelipisnya.
“Tapi, aku masih gak sudi kalau harus berakhir sampai setengah,” ucapku dengan lirih dengan nada kesedihan. “Kak Dina, Ima, sama Azarin ....”
Aku bukannya tidak tahu, dari awal kesadaranku memang sudah mengerti kalau tindakan menyiksa Farrel bukanlah solusi dari semua ini. Apa yang sudah terjadi tidak dapat diputar balik, darah yang sudah menetes tidak dapat kembali ke tubuhnya lagi, orang yang sudah mati tidak akan hidup lagi hanya dengan membunuh lelaki itu sekarang.
“...”
Diamku mengumpulkan emosi, memejamkan mata sekejap untuk meredamkan amarah.
*Dug, dug ....
Tch.
Namun, ternyata efek yang terjadi itu berkebalikan. Memejamkan mata tidak membantuku melupakan apa yang sudah aku lihat sebelumnya, justru itu hanya memberikan gambaran rekap ulang tentang kekejaman yang dilakukan Farrel.
Aku mengepalkan kembali tangan, berusaha mengumpulkan kekuatan untuk membuat tinju lagi. Bersama dengan hal itu, aku masih merasakan tekanan cengkeraman dari Amalia, dia masih mencoba untuk menghentikanku dari upaya menyelesaikan tugas akhir untuk membunuh Farrel.
Adu kekuatan kecil terjadi antara menggeram otot lenganku dengan pegangan dari Amalia. Tidak terlalu kuat untuk bisa disebut sebagai panco, tapi tekanan batin yang mengalir benar-benar kuraskan luar biasa oleh gadis tersebut.
Amarah ... ditekan oleh bujukan melas untuk ketenangan. Dendam ... ditekan oleh bujukan pikir ulang akal sehat. Tangan dan tubuh kecil Amalia terasa sangat berat di menarikku, sebuah tekanan batin di mana aku tidak ingin menepis dia sangatlah besar. Tapi, di sisi lain, aku terus diingatkan oleh kekejian dari pembunuhan yang membuat tinjuku terus dikepal.
Bugkh!!
“...”
Keras, berbunyi hingga menjalar ke seluruh tubuhku. Aku bisa merasakannya, rambat getar suaranya mengalir sampai ke gendang telingaku. Entah kenapa rangsangan tersebut membuat mataku terbuka lebar karena kaget luar biasa.
“...”
Pasalnya ... suara dan efek benturan itu bukan dari tinjuku.
Aku tidak tahu kapan itu terjadi, tiba-tiba saja posisi kepalaku sudah miring ke arah lain. Begitu cepat, hingga rasa sakitnya datang terlambat dibanding efek awalnya. Mataku sekarang terbuka lebar, layaknya melotot dengan mulut terbuka melongo, kaget seakan oleh sentakan luar biasa di mana suara keras dan pelintir kepala yang tiba-tiba di tengkorakku.
Dengan perlahan aku membalikkan kepala, melihat ke arah balik untuk tahu dari mana datangnya serangan tersebut. Lalu ....
“Pero ....”
Begitulah gumamku setelah berpaling perlahan. Siluman gagak tersebut berdiri dengan salah satu kaki melayang dekat dengan kepalaku. Dari posisi tersebut, aku bisa tahu kalau apa yang dia lakukan barusan adalah menendang.
“Cukup, Kaivan. Apa kamu tidak lihat ada gadis yang menangis dan memelukmu sekarang?”
“...”
Mentalku kembali didobrak, lonjakan emosi yang kualami barusan kembali diredam oleh sesuatu yang lain. Kali ini, tendangan dari Pero yang menghantam kuat pipiku membuat otakku kembali direset untuk bisa berpikir lebih jernih.
Tenaga di tanganku mulai meringan, melupakan niat untuk memukul dan mencoba melihat sedikit ke arah Amalia. Benar saja, gadis tersebut seperti anak kecil yang sedang mencoba memelas berbekal air mata dan isak tangis. Kilauan cahaya dari air mata dari gadis tersebut sangat cantik untuk dilihat.
“Pertandingan sudah berakhir, tidak ada alasan kamu melanjutkan. Aku juga sekarang sudah menyerah, kalian semua bisa pergi menyelesaikan misi dengan tenang dan keluar dari dunia ini.”
“...”
Aku tidak merespons langsung, lebih ke arah kembali melirik balik arah Pero mengalihkan kepala.
Siluman gagak itu terlihat seperti tidak punya dosa, bicara dengan nada polos dan mendekatiku seakan melupakan kondisi di mana beberapa menit yang lalu dia telah membantu Farrel. Rasanya menyebalkan, melihat orang yang terikat kuat dengan orang bersalah dengan berjalan-jalan dan bicara denganku tanpa ada tekanan apa pun. Memang ini salah satu sifat Pero, tapi tetap saja itu bukan menjadi alasan.
“Heh, bisa-bisanya kamu ngomong kayak gitu, Pero. Asal kamu tahu, kamu juga masuk ke orang yang aku benci sekarang,” kataku dengan sinis menajamkan aura.
“Aku tidak bilang kalau aku bersalah. Kalau kamu mau bunuh aku, sebenarnya aku tidak keberatan sama sekali. Mau bagaimana pun, aku dan Farrel sekarang sudah tidak punya masa depan. Kalau pun aku bersikeras melawanmu sekarang, aku juga tidak punya kesempatan menang. Hanya saja ....”
“Hn?”
“Hanya saja, aku tidak mau kamu melakukan ini di depan Amalia.”
“...”
Pero menunjukkan sikap tenang di mana dirinya sedang memproklamasikan kekalahannya. Aku sekarang tidak melihat api semangat dan kemarahan dari siluman tersebut. Jadi, keinginan untuk memukul atau membalas kemarahan pada Pero sama sekali tidak ada. Jujur saja, aku tidak punya hobi untuk menyiksa orang yang dari awal sudah menyerah atau setidaknya mengakui kesalahannya. Lagi pula, Pero tidak secara langsung berniat untuk membunuh kak Dina dan yang lainnya barusan.
Permintaan dari Pero masih sangat jelas terlihat. Walaupun dia sudah dipastikan adalah pion yang diciptakan sebagai pengalih dan merupakan individu palsu karena sudah membantu Farrel, tapi aku masih melihat kepribadian asli dari siluman gagak tersebut.
Apa pun yang dia lakukan, semuanya demi Amalia. Sebuah pemikiran yang sangat sederhana di mana bahkan boneka tiruan dari Pero saja tetap melakukan hal tersebut.
“Amalia, oke, kamu bisa lepasin aku sekarang,” kataku dengan lembut dan mencoba mengendalikan emosi lagi dan lagi.
Gadis di belakangku mulai melonggarkan cengkeramannya. Dia melihat dan menoleh mengangkat kepala yang semula memeluk rapat lenganku menjauh. Walaupun begitu, aku masih merasakan kalau Amalia tidak benar-benar melepaskanku, sedikit pegang kecil di ujung lengan baju masih menempel seakan memang tidak ada niat untuk menjauh dariku.
Posisiku di sana masih setengah berdiri, duduk dan dalam keadaan di mana mengunci badan Farrel dengan menindihi tubuhnya. Jadi, aku mencoba untuk berdiri, menaruh kekuatan di kaki dan tanganku mendorong ke atas.
“Ah?”
*Fall
Namun, ternyata tubuhku secara alami menolak gerakan tersebut. Entah kenapa kekuatanku lenyap begitu saja dari tubuh dan membuat badanku terjatuh mengikuti gravitasi. Bersama lengkungan sudut, arah jatuhku kala itu lebih mengarah ke belakang.
*Catch
“Hn?”
Sempat berpikir kalau aku akan jatuh membenturkan kepala ke belakang. Akan tetapi, sepertinya Amalia lebih sigap untuk menangkap tubuhku. Dia dengan tangan dan tubuhnya menghalangi arah jatuhku tersebut.
“Kaivan! Kamu gak apa-apa!?” tanya Amalia sedikit khawatir.
“Ah ... iya, mungkin ini efek sampingnya. Untuk sementara aku gak bisa gerak, tangan sama kakiku mati rasa.”
“Kalau gitu kamu gak usah maksain.”
Amalia mencoba membantuku berdiri. Dengan mengangkat area di sekitar dada masuk ke ketiak, gadis tersebut tanpa kesulitan bisa menarikku ke posisi berdiri tanpa rasa sakit.
Pikiranku di sana cukup campur aduk, banyak yang melintas di kepalaku tapi secara bersamaan aku juga ingin melupakan banyak hal hari ini. Stres terkumpul hingga membuatku ingin melarikan diri dan berharap kalau ini mimpi.
*Pltak, pltak ....
Bunyi dari bara api di penginapan terbakar.
Ketika aku dibantu berdiri, ternyata api di bangunan tersebut sudah merobohkan banyak sudut. Enam puluh persen sudah dilahap api, sisanya hanya karena keberuntungan saja aku bisa tidak ikut hangus di dalam. Akan tetapi, karena atap yang terbuka dan memasukkan air hujan, api di penginapan tersebut merambat dengan lambat karena kelembapannya.
“Lia, tolong urus Kaivan. Dia tidak boleh mati di sini,” kata Pero sebagai ucap perpisahan sebelum aku dibantu berjalan Amalia gendong sebelah tangan untuk keluar.
“Un,” jawab Amalia mengangguk.
“Jalan keluar sangat mudah, kalian hanya perlu masuk ke mobil. Selanjutnya aturan game akan menuntun kalian. Setelah kalian tahu kalau Farrel pelakunya, itu sudah cukup untuk membawa kalian pergi.”
“Aku ngerti,” kembali ucap Amalia mewakiliku.
“Baiklah kalau begitu, pergilah. Aku di sini akan melakukan apa yang aku bisa sampai akhir hayat.”
“Hn? Kamu gak ikut?”
“Ahaha ... aku senang mendengar itu darimu, Lia. Tapi, aku ini adalah yang palsu. Masih ada diriku yang lain di luar dunia ini, kamu tidak perlu mengkhawatirkanku. Lagi pula, berbeda dengan lelaki bernama Farrel itu, aku dari awal tidak keberatan mati untuk menjamin keselamatan kalian. Dari awal aku masih makhluk jadi-jadian yang meminjam bentuk manusia.”
Amalia dan Pero bicara memimpin. Untuk seseorang yang barusan sempat terbawa perasaan, gadis itu cukup tangguh sekarang. Mungkin, karena aku menunjukkan sedikit kelemahan, Amalia menjadi lebih menunjukkan sisi kepemimpinannya.
“...”
Sedangkan aku, di sana hanya diam sambil melihat sinis Pero. Dengan tatapan sayu dan lemas kehilangan tenaga, aku masih menaruh sedikit kemarahan pada siluman gagak tersebut.
“Sakit ... rasa sakit ini masih gak berhenti.”
Sambil berjalan menjauh, aku sempat bergumam sedikit sambil mengepalkan tangan dan menarik baju di sekitar dada.
Padahal tidak ada satu pun gelombang emosi di sekitarku. Tapi, rasa sakit itu jelas tidak beralasan secara fisik, itu benar-benar murni dari diriku di mana luka dalam secara mental berubah menjadi fisik. Dadaku sesak dan rasa sakit ditusuk itu jelas, seakan ada tenaga mistis yang menusuk tepat di jantungku.
Aku tidak tahu harus ke manakan perasaan tersebut. Kondisi berubah hingga aku tidak bisa puas hanya dengan memukul Farrel, tapi di saat yang sama Pero juga bukan jawaban dari kesakitan tersebut. Semua yang tersisa hanyalah kekesalan tidak tanpa arah.
“Maaf.”
“Hn?”
Aku mendengar kata tersebut dari Amalia. Suaranya yang sedikit tersamar karena gaduh dari kondisi penginapan yang terbakar memang membuat ragu. Tapi, aku yakin kalau yang keluar adalah permintaan maaf.
“Soal apa?”
“Soal semuanya. Dari awal kita ketemu sampai sekarang.”
“Aku gak tahu maksud kamu, tapi aku gak pernah minta permintaan maaf dari kamu.”
Kalau memang kata maaf bisa menyelesaikan semua masalah, maka dunia ini akan lebih damai dari sebelumnya. Aku tidak meminta, aku juga tidak berharap secara diam-diam. Jika memang Amalia punya kesalahan yang patut untuk dia memohon maaf, aku lebih dulu membuang perasaan untuk menagih kata maaf tersebut.
Setelah gadis itu meminta maaf, tidak ada apa pun yang didapat. Aku tetap masih pada kondisi semula, mentalku tidak berkembang, dan sebaliknya malah terjadi atmosfer di mana pekerjaan menjadi terhambat akibat canggung. Aku tidak menyukainya, jadi aku tidak pernah menganggap permintaan maaf seperti itu.
“Aku tahu, dari dulu juga kamu selalu jawab kayak gitu. Tapi, apa yang kamu kasih ke aku itu sudah banyak. Harusnya semua ini aku yang urus sendiri, tapi sayangnya aku gak sekuat kamu.”
“Heh, apanya yang gak kuat? Sampai sekarang kamu masih lebih kuat.”
“Dari luar, mungkin iya. Tapi, dari dalam, kamu yang paling kuat,” kata Amalia dengan nada damai sambil terus menuntunku berjalan. “Kekuatan penyihir dari awal cuman pinjaman, bekal utama kalau semisal ada kejadian kayak gini. Tapi, di waktu kayak gini aku malah minta bantuan kamu.”
“Itu cuman kondisinya yang jelek. Karena semua orang tahu kamu kuat, jadi orang itu lebih dahuluin kamu buat dilumpuhin.”
“Kalau gitu berarti kamu memang hebat, Kaivan. Aku sudah gak tahu kalimat kayak apa buat balas jasa kamu. Padahal, kamu gak dikasih kekuatan penyihir. Tapi, kamu terus berjuang di depan.”
“...”
Kalimat itu tidak aku jawab, lebih membiarkannya mengalir karena letih dan sedikit rasa canggung. Hampir tidak pernah aku mendengar Amalia bicara dengan akal sehatnya. Lalu, kalimat yang diutarakannya kali ini juga penuh dengan rasa kekaguman, kalimat yang membuat hatiku sedikit tergelitik dan bingung untuk membalas bagaimana.
Satu menit berlalu, Amalia pun akhirnya berhasil membawaku keluar. Sebelum penginapan tersebut benar-benar roboh dan menenggelamkan seluruh isi di dalamnya, aku dan gadis penyihir ini berhasil tepat waktu.
Selanjutnya, di luar kami disambut oleh Ann si gadis kecil partner dari Hanz. Aku tidak tahu kalau dia sudah hadir di sana, tapi dari waktunya mungkin dia sudah menunggu lebih lama.
Kesadaranku di sana simpang siur antara naik dan turun, pandanganku juga untuk beberapa alasan letih mulai buyar hampir pingsan. Tapi, beberapa tekad aku kumpulkan karena aku tidak ingin istirahat sampai kasus tersebut selesai.
Amalia menjelaskan tata cara keluar yang dikatakan oleh Pero barusan. Didengar oleh Ann, dia sepertinya tidak punya kecurigaan sama sekali.
Beberapa saat setelah pertemuan itu, muncul Hanz yang mendarat dan berubah dari wujud burung raksasa ke manusia.
Pria gagah dengan tatapan kosong berwarna biru itu mendekat dan segera mengganti comando pimpinan. Sambil membantuku berjalan bersama Amalia, kami berempat menuju mobil yang disebutkan.
*****
Kami sudah masuk, berdiam diri layaknya sedang menunggu sesuatu keluar dari dalam. Dengan keadaan tertutup seperti ini, suara kekacauan dari kebakaran penginapan pun terasa diperdam.
“Hanya berdua?”
“...”
Hanz bertanya, dia yang sudah duduk di bagian depan mobil bersama Ann mungkin sedikit aneh ketika aku dan Amalia tidak bergerak lagi setelah masuk. Seakan mengakhiri dan tidak punya tujuan untuk membawa orang lain, tentu itu membuat Hanz bertanya tentang kabar orang selain kami.
“Mati ... semuanya sudah mati,” jawabku dengan sinis mengalihkan pandangan ke arah jendela menolak untuk bertatapan.
“Ah ... jadi begitu, iya.”
“...”
Hanz tidak dapat dirasakan gelombang emosinya. Oleh sebab itu, aku tidak dapat mengira bagaimana maksud dia mengatakan hal tersebut, dengan hati seperti apa kalimat tersebut keluar. Tapi, karena hatiku sedang kacau dengan luka sakit hati yang tidak kunjung berhenti, tidak sengaja otakku menafsirkannya sebagai kalimat ejek.
“Kenapa kamu gak datang, Hanz? Kenapa kamu cuman terbang di atas pakai wujud burung atau apalah itu? Kalau saja kamu turun dan bantu aku buat kalahin Farrel, setidaknya kita bisa selamatin dua orang lain.”
“Apa perkataan itu bermaksud untuk menuduh diriku punya niat membiarkan orang-orang mati di sana, Kaivan?”
“Aku cuman bilang, kalau kamu datang bareng masuk ke penginapan, bisa saja korban jiwa dihilangkan sekarang.”
Aku yakin kala itu Farrel tidak punya kekuatan luar biasa untuk bisa mencegah dua orang sekaligus walau tanpa kekuatan sihir. Dengan kekuatan unik dari Hanz, Farrel menurutku akan sangat mudah ditaklukkan. Namun, sayangnya Hanz tidak datang segera ketika aku berlari masuk ke penginapan. Dia butuh waktu cukup lama sampai akhirnya menampakkan diri dengan memberi angin besar dan air gerimis hujan sebagai bantuan lingkungan.
Walaupun memang apa yang dia lakukan membantuku sedikit. Tapi, aku masih berpikir kalau Hanz yang turun langsung dan membantuku menghajar Farrel jauh lebih efisien. Melakukan hal berbelit dengan menarik hancur atap agar penginapan tidak mudah roboh ke bawah itu aneh.
“Memang benar, di mata kau mungkin aku terlihat abai dengan kondisi,” kata Hanz dengan nada khasnya yang lembut, menatap kosong ke depan yang membuat percakapan kami sama-sama menghindari tatap mata.
“Jadi, kamu mau bilang jawabannya beda di matamu?”
“Tentu saja. Di mataku, kau yang bergerak terlalu gegabah dengan berlari menuju penginapan sendiri tanpa menunggu aba-abaku.”
“Memangnya apa yang kamu tunggu? Sudahnya kamu cuman harus susul aku, ‘kan?”
Percakapan kamu mungkin terlihat sedikit serius dan menggambarkan orang bertengkar. Tapi, nyatanya apa yang dilakukan kami tidak begitu. Hanz masih memelihara cara bicaranya yang penuh sayut lembut, sedangkan aku juga tidak menaruh urat keras untuk memojokkan lelaki dengan tatapan kosong itu. Dari pada pertengkaran, ini mungkin lebih terdengar seperti keluh lemas bersama keletihanku sebelum pingsan bersama anemia.
“Normalnya aku ingin membawa kau bersama kekuatanku untuk masuk ke penginapan secara diam-diam. Namun, ketika kau masuk ke dalam sendiri, situasi pun berubah,” kata Hanz menjelaskan.
“Jadi, kamu punya alasan?”
“Penghalang, Kaivan.”
“Penghalang ...?”
“Iya,” jawab Hanz sambil mengangguk halus. “Ayau, mungkin lebih mudah disebut dinding pelindung. Ada seseorang yang menciptakan dinding khusus tepat setelah kau masuk. Itulah yang membuatku dan Ann tidak dapat masuk.”
Hmn ....
Aku tidak melihat Farrel membicarakan sesuatu seperti itu. Dia juga sebenarnya bukan tipe orang yang punya rencana sangat matang mengatasi banyak kemungkinan a, b, c, d ketika rencana utamanya gagal. Jika memang ada orang yang bisa melakukannya ....
“Heh, Pero, iya ....”
“Pero ... wanita yang berperan sebagai pemilik penginapan?”
“Iya, dia itu animus dan ada di pihak penjahat sekarang. Dari awal sampai akhir, aku masih gak tahu sihir apa saja yang dia lakukan waktu itu.”
Dari segel melumpuhkan Amalia, support Farrel dalam bertarung, dan sekarang aku mengetahui kalau dirinya juga melakukan tindak pencegahan yang tepat untuk mencegah bala bantuan. Bahkan, sampai akhir kesimpulan, aku tidak menyangka kalau nilai Pero ketika menjadi musuh terus meninggi.
“Ah ... sihir animus,” gumam Hanz kembali dengan nada khasnya.
“Harusnya Farrel masih ngira kalau kalian dalam keadaan mati terbunuh waktu itu. Jadi, sedikit aneh kalau misal Pero bikin dinding penghalang sebagai inisiatif.”
“Dinding itu termasuk penghalang dua arah. Aku tidak dapat masuk, dan kau juga tidak dapat keluar. Kalau niat awalnya untuk mencegahmu kabur, mak kondisi aku yang tidak dapat masuk adalah sebuah kebetulan.”
“...”
Melalui percakapan dan penjelasan itu tidak membuatku lebih baik maupun lebih buruk. Kondisiku yang hampir pingsan karena kekurangan darah ini membuat segala kondisi menjadi terdengar tidak penting. Lagi pula, jika dipikir kembali apa yang terjadi melalui penjelasan tersebut, maka jawaban yang keluar adalah ....
Heh, lagi-lagi semua ini salahku.
Kekuranganku dalam kemampuan menyelesaikan masalah dan memilih pilihan di saat genting ternyata masih perlu dilatih. Aku mungkin terlalu percaya diri dengan kemampuan deteksi emosi yang secara tidak langsung dapat memberikan kekuatan sejalan dengan emosi kemarahan lawanku. Namun, jika dilihat dengan baik, bergantung pada satu hal sangatlah ceroboh. Jika satu hal tersebut dihilangkan, maka aku akan menjadi tidak berdaya.
*Whoush ....
Sinyal aliran ingatan dari alur game mulai datang menyalur ke kepalaku. Dalam keadaan lemas, aku masih bisa merasakannya dengan jelas. Sebuah pertanyaan, di mana aku diminta untuk menunjuk siapa pelakunya.
Tentu saja, orang tersebut sudah jelas, tidak perlu untuk berpikir karena memang dari perilaku dan kalimatnya sudah jelas pelaku mengaku di depanku. Jadi, bersama dengan ingatan yang datang, aku secara perlahan menjawab dalam hati untuk menyelesaikan tantangan di dunia ini.
Bersama lamunan, aku sedikit bertanya urusan yang mungkin sedikit berkelainan dengan urusan utama.
“Sebenarnya cerita macam apa yang dijadiin latar belakang tantangan ini ...?”
“Soal itu, aku tahu, Kaivan.”
“Hn?”
Gumam tersebut dibalas oleh Amalia, jaraknya yang cukup dekat duduk di samping ternyata membuat dia cukup mendengar suara kecil tersebut.
“Aku dapat sedikit ingatan dari Pero. Cerita di latar ini sebenarnya tentang balas dendam dari murid yang diperanin Farrel. Kasusnya, peran Farrel itu ternyata sepupu jauh dari peran anak orang kaya dari Imarine. Soal pembunuhannya, guru yang dibunuh itu sebenarnya punya riwayat skandal sama murid peran Imarine.”
“Hmn ... cerita balas dendam, iya. Heh, tapi akhirnya Farrel yang sekarang malah bunuh Ima sama yang lainnya. Perlakuan bela ini malah jadi kacau.”
“Sebenarnya, ending dari cerita itu sama waktu cuman empat orang yang selamat. Murid yang diperanin Imarine memang bakal mati, dia tahu siapa pembunuhnya dan mau coba balas dendam. Tapi, efeknya malah terbalik.”
“Oh ... aku bisa lihat cerita itu di mana ada perempuan buta yang masih menilai laki-laki bejat untuk dijadikan kekasihnya.”
Sedikit informasi dari kalimat tersebut mungkin akan menimbulkan sedikit kesalahan. Namun, aku bisa melihat cerita dan karakter di mana anak orang kaya yang diperankan oleh Imarine adalah gadis buta yang tetap membela guru laki-laki pasangan skandalnya. Farrel yang membalas dengan membunuh tentu akan dianggap sebagai orang jahat olehnya.
“Kalau gitu, murid-murid lain sama guru korban bersih yang harusnya gak terlibat.”
“Itu juga sebenarnya sedikit salah, sih. Murid yang diperanin Farrel di cerita dari awal sudah niat membunuh semua orang kalau diperlukan.”
“Huh?”
“Iya, soalnya ... kasus skandal itu ternyata sudah terkenal dan malah dibiarin sama semua orang. Dari murid sampai guru, gak ada yang mandang kasus skandal itu sebagai kejahatan. Waktu sepupu pelaku pembunuh itu lihat kalau si anak kaya sebenarnya dimanfaatkan dan ditipu, orang lain di sekolah cuman lihat itu kayak hubungan janggal saja.”
“...”
Cerita dari Amalia pun berakhir, aku yang sudah menjawab pelakunya adalah Farrel ternyata tidak sekejap langsung diteleportasi menuju tempat baru. Tubuhku yang bersinar secara bertahap menunjukkan kalau kali ini tantangan penyelesaian akhir dipindahkan secara perlahan.
Sinar di depanku sudah memekat dan lenyap di satu titik. Sepertinya Hanz dan Ann lebih dulu dipindahkan dari pada aku dan Amalia. Ruangan mobil sempit ini meninggalkan suasana aku dan gadis tersebut kesempatan lagi untuk berduaan.
“Oh, iya, Amalia—“
“Lia.”
“Hn?”
Detik-detik sebelum aku meninggal dunia itu, aku ingin sedikit bicara lebih lama. Akan tetapi, Amalia dengan cepat memotong.
“Kalau kamu panggil aku Amalia terus, kayaknya susah juga, ‘kan? Panggil saja aku Lia kayak yang lain.”
“Hmn ...?” responsku sedikit mengerutkan alis dan menoleh ke arah samping.
Sebenarnya aku tidak peduli dengan nama panggilan. Lia lebih pendek disebut di lidah, selama orang yang dipanggil tidak keberatan, aku juga tidak keberatan.
“Kalau gitu, Lia.”
“U-un ... ada apa?”
“...”
Untuk sesaat aku merasakan getaran baru hanya dengan memanggil namanya. Entah kenapa ada rasa gelitik yang tidak pernah aku rasakan darinya. Responsku sedikit bergetar, dan diikuti dengan reaksi yang lebih lembut dari Amalia. Padahal, aku hanya sedikit memanggil namanya.
Huft ... hah ....
Tapi, baiklah ... aku kembali ke urusanku.
“Aku gak tahu kenapa kamu bisa ngomong sekarang. Tapi, satu hal yang aku mau tanya dan mau aku dengar dari mulut kamu langsung.”
“Hmn?”
“Kita sudah sampai sejauh ini, dan aku masih gak lihat kamu ngeluh. Jadi, sebenarnya ... apa permohonan kamu sampai mau jadi penyihir?”
“Permohonan ... -ku?”
“Iya, permohonan yang sampai bikin kamu rela ikutin tugas berat kayak gini.”
“...”
“...”
Sesaat kami diam membiarkan atmosfer menjadi berat, di tengah-tengah tubuh bercahaya untuk diteleportasi, aku masih menunggu jawaban tersebut.
“Sebenarnya, permohonanku gak terlalu berarti sekarang. Alasanku buat terusin penyihir ini bukan tentang permohonan itu lagi. Tapi, kalau kamu mau tahu, sebelumnya permohonanku mungkin terlihat bodoh.”
“Bodoh ...? Maksudnya permohonan itu terlalu kecil yang sebenarnya masih bisa kamu usahain tanpa jadi penyihir?”
“Enggak, kayaknya itu gak mungkin bisa terkabul tanpa sihir.”
“...”
“...”
“Jadi ... sebenarnya ... permohonanku itu tentang perasaan. Aku masih ingat kalimat yang aku kasih ke Pero waktu kontrak.”
“...”
Tanganku mulai lenyap dan tidak dapat dilihat, aku mulai sadar kalau tubuhku lenyap secara bertahap. Di sana sempat hilang beberapa fungsi dari indraku. Suara dari luar mulai mengecil, mulutku tidak bereaksi ketika ingin bicara, dan mataku mulai memudar. Namun, kalimat dari Amalia sangat jelas terdengar mengalir ke hatiku.
Aku ingin rasa sakit dari kebohongan itu tidak ada. Aku ingin bisa hidup di mana kebohongan baik yang menyakitkan dapat hilang.
*Fush
Lalu lenyaplah tubuhku bersama dengan tubuh Amalia menjadi cahaya.
.
.
.
.
.
Itu mungkin terlihat konyol untuk sebuah permintaan. Pasalnya, hal tersebut sama sekali tidak menyelesaikan masalah yang lampau. Aku tidak tahu apakah Amalia dewasa atau tidak dalam meilih permintaannya. Dia tahu kalau menghidupkan lagi orang tua tidak akan menjadi solusi. Tapi, itu bukan berarti menghapus rasa sakit dari ingatan tersebut akan menjadi jawabannya. Lagi pula, permintaan tersebut cukup berbahaya, hilangnya rasa sakit dari perasaan akan menimbulkan sedikit ketidakseimbangan dalam hidup.
Walaupun begitu, aku sedikit mengerti bagaimana rasa sakit yang diderita Amalia. Dia yang diberikan harapan palsu oleh orang tuanya punya dendam untuk yang mungkin hanya bisa dijelaskan oleh dirinya sendiri. Akhir buruk sudah di depan mata, dan dia hanya diberikan tugas tidak berpengaruh yang dikiranya bisa memulihkan orang tua tersebut.
Tapi, biarpun begitu ... aku sama sekali tidak memandangnya sebagai permohonan yang bodoh.
.
.
.
Aku mengira kalau teleportasiku cukup lambat. Entahlah, tidak seperti sebelumnya di mana hal tersebut terjadi sekejap layaknya mengedip mata. Tapi, inilah yang terjadi, tubuhku hanya dapat melihat secara perlahan ruangan tempat kami berasal. Semua yang aku rasakan untuk kembali ke tempat itu dirasakan bertahap.
Ruang yang remang seperti bioskop dinding karpet beserta cahaya redupnya, bentuk segi enam delapan di ruang yang khas, dan sensasi hangat basah dari tanganku—
“Hn? Tunggu dulu? Hangat.”
Kesadaranku kala itu belum pulih seutuhnya. Berusaha menganalisis apa yang terjadi, aku pun menilai tentang apa yang sedang aku rasakan di tanganku. Lalu ....
*Whoush ...!
*Dug, dug!
“Hh!?”
Aku dengan cepat tersentak kuat bersama kesadaran tersebut. Gelombang emosi yang lewat menjadi ciri khas di mana situasi mulai berubah.
“Uhuk, uhuk ....”
“Eh ...?”
Aku melihat ke arah bawah, tepat di mana aku merasakan sensasi hangat di tanganku.
Posisi di sana sedikit gelap, aku sendiri tidak begitu tanggap dengan apa yang ternyata ada di depan.
“I-Ivan ... aku takut.”
“...”
Ternyata suara tersebut berasal dari Amalia. Situasi di sana begitu keras berubah, rasa sakit dari gelombang emosi dapat kurasakan. Lalu ....
Darah ...?
Aliran darah yang menapak di tanganku sangat menakutkan. Padahal, aku yakin tangan dan tubuhku sekarang sedang di posisi memeluk Amalia.
Dengan cepat aku melihat ke sekitar. Lalu, dengan cepat pula aku menemukan pelakunya.
“Maaf, Kaivan ... sepertinya pertemanan kita akan berakhir.”
“Hh!?”
Hanz dengan bentuk manusianya memegang sebilah pedang pendek sekitar tiga perempat tangannya. Mata birunya yang melihatku dengan tatapan kosong terasa menakutkan, karena ... pedang tersebut secara bersamaan dialiri darah segar.
“Ha-Hanz ...?”
END ...?
__ADS_1