Pencicip Emosi

Pencicip Emosi
Arc 1 Sampah Organik : Chapter 18 - Aku Amalia


__ADS_3

Kondisi hati Imarine sekarang sangat tidak stabil. itu semua akibat perubahan lingkungan yang tiba-tiba olehku dan pergerakan kejadian yang tidak diduga. Walaupun sebenarnya kejadian tersebut tidak menyelesaikan masalah atau bahkan mungkin memperparah, tapi bukan berarti apa yang kulakukan itu sia-sia.


Kerapuhan perasaannya sekarang bisa menjadi efek positif dalam sekejap. Namun, hal itu hanya bisa terjadi jika aku dapat menjauhinya dari keburukan kasus bullying-nya sekarang. Dengan kata lain, membiarkannya disiksa Azarin sekarang akan memperburuk keadaan dan bahkan bisa memperparah suasana hatinya.


Aku terus berlari, sampai di tengah lapangan upacara setelah keluar dari gedung kelas dua. Dari sini aku mengalami sedikit kebebasan karena area yang luas dengan sedikit siswa membuat lingkungan bebas gelombang emosi.


Kepalaku sedikit jernih, aku kembali melihat Handphone untuk menghubungi Amalia.


“...”


Sial, dia bisu. Tidak mungkin aku bicara dan bertanya padanya lewat panggilan telepon.


Sadar akan hal tersebut, aku tidak punya pilihan selain kembali mengirimkan pesan pada Amalia. Isinya berupa permintaan untuk memberi tahu di mana posisinya sekarang berada. Menggunakan teknologi GPS dan dibantu deteksi emosiku, mencarinya akan menjadi tugas yang mudah.


Setelah kukirim, aku kembali berlari. Jarak antara lapangan olahraga dengan gerbang utama cukup jauh. Butuh waktu sekitar lima sampai sepuluh menit untuk menempuh jarak tersebut.


Hah ... hah ....


Cukup melelahkan lari tanpa pemanasan. Tapi, aku tetap tidak boleh berhenti.


Ketika sampai di gerbang terluar sekolah, aku dibingungkan dengan jalan yang harus diambil. Berharap mendapat petunjuk, aku kembali membuka Handphone mencari pesan dari Amalia.


“...”


Tidak ada jawaban? Sial, apa dia tidak sadar kalau aku mengejarnya tanpa petunjuk.


Untuk mendapat informasi lebih lanjut, aku pun segera menelpon Amalia. Biarpun dia tidak bisa bicara, aku tetap bisa memintanya untuk menjaga komunikasi dan mengirimkan koordinat posisi lewat pesan.


Tuut ... tuut ....


Nada sambung terdengar di ujung telepon. Berbunyi sebanyak dua putaran sampai akhirnya gadis tersebut benar-benar mengangkatnya.


Grek.


Hentakan keras di awal mengganti nada khas sambung telepon. Karena si penerima tidak bisa menyambutku, suara yang kudengar sekarang hanyalah gesekan udara dan beberapa knalpot kendaraan bermotor yang lewat.


“...”


“Halo? Amalia? Kamu dengar?” kataku pada telepon. “Aku sudah keluar sekolah. Jadi, waktu aku tutup, cepat kasih tahu kamu di mana dan ke mana kira-kira Imarine pergi.”


“...”


Aku sedikit ragu ketika bicara tapi tidak ada jawaban. Tidak ada bukti jelas apa Amalia sedang mendengarkan dan mengerti apa yang kukatakan. Akan tetapi, kalau tidak ada, aku hanya perlu membuatnya ada. Sebuah trik untuk berkomunikasi dengannya.


“Amalia ... kalau kamu dengar dan ngerti apa yang aku bilang, tutup teleponnya sekarang.”


“...”


Kode itu cukup memungkinkan untuk bisa memastikan. Dengan tindakan yang diakhiri oleh Amalia, aku bisa tahu kalau dia mendengar semua perintahku atau tidak.


“...”


Aku menunggu lebih dari lima detik, tapi suara gesekan udara di ujung telepon masih terus berlanjut. Amalia sampai sekarang masih tidak memutus panggilan tersebut.


Apa boleh buat, mungkin bicaraku sedikit terburu-buru hingga membuat getaran suara di telpon tidak jelas.


“Oke, Amalia. Aku ulang sekali lagi—”


“Itu semua gak perlu ... Kaivan.”

__ADS_1


Eh!?


Aku terkejut. Amalia seharusnya bisu, dan tentu saja dia tidak bisa bicara lewat telepon. Namun, kali ini aku mendapati suara gadis di sana. Memotong kalimatku barusan dengan nada suara yang sedikit berat.


“Siapa kamu?”


“Aku? Aku Amalia. Apa kamu sudah lupa?”


Tidak, aku yakin dia orang yang berbeda. Tidak ada karakter Amalia yang tergambarkan dari suara dalam di ujung telepon. Gadis itu tidak memiliki logat bicara seperti itu di tulisan kertas yang dia tulis.


“Amalia ... kenapa kamu pakai kekuatanmu?”


“Ah, ternyata kamu bisa sadar kalau ini bentuk kekuatannya."


"Sangat jelas," ucapku dengan tegas. "Amalia yang kukenal itu bisu."


"Aha, ahahaha ...," tawa gadis itu sambil menyeringai. "Aku sendiri gak tahu, semua terjadi begitu saja. Tapi ..., satu hal yang bisa kujelaskan.” Kata-katanya mulai menajam di ujung telepon, dapat terasa hanya dengan mendengarkannya. “Sekarang aku sangat marah, melihat Imarine diperlakukan seperti ini.”


“...”


Imarine?


“Dipukul, ditendang, dijambak, disiram, dan terus dihujat tanpa henti. Dua orang temannya kali ini tidak ada, Azarin datang sendiri memukuli Imarine. Kali ini aku yang bertindak, kamu gak perlu ke sini ..., Kaivan. Selama ini kamu gak berguna, tanpa tindakan tegas orang itu tidak akan berhenti.”


Suara Amalia terasa dingin, begitu dalam hingga terasa sinis penuh kejahatan. Dibandingkan penuh kemarahan, kepribadiannya sekarang lebih diisi oleh dendam.


“Tunggu, kamu lihat mereka!?” tanyaku dengan sedikit panik. “Di mana!? Kasih tahu aku sekarang! Di sana ada Imarine, ‘kan?”


“...”


Amalia tidak menjawab. Lagi-lagi suara telepon menjadi sepi tergantikan oleh gesekan udara.


“Woi, Amalia!?” teriakku memanggil gadis tersebut.


Namun, yang kudapat adalah suara telepon tertutup. Orang itu benar-benar memutus kerja sama dan mengusirku dalam kasus ini.


Sial, sial ... apa yang harus kulakukan sekarang? Mencarinya secara acak? Apa itu mungkin?


Sudah satu jam menit dari bel pulang berbunyi. Jika dia berjalan dengan kecepatan 0,5 Km/jam, maka radius tempat kemungkinan dia berada adalah 500 meter. Itu terlalu luas untuk mencari dengan hanya mengandalkan kekuatanku.


Tapi, aku tetap harus melakukannya.


Menyingkirkan berbagai pilihan untuk mempersempit kemungkinan. Dari petunjuk yang kutahu, Amalia ada di tempat yang cukup berangin dengan keberadaan kendaraan yang melaju kencang.


Dia bilang dia melihat Imarine dari sana. Itu berarti, tempat Amalia berdiri waktu itu tidak sama dengan Imarine. Tidak mungkin Azarin memilih tempat yang terbuka untuk melakukan kejahatannya.


“...”


Aku berlari. Dari gerbang sekolah aku mengambil arah barat yang berlawanan dengan arah rumah Pero. Walaupun hanya perkiraan kasar, kuharap tebakanku benar untuk bisa menemukannya.


Hah ... hah ....


Tunggu aku di sana ... Amalia. Jangan lakukan hal yang gegabah.


****


Tiga ratus meter. Aku sudah berlari sejauh itu, dari kelas menuju luar sekolah. Menerobos beberapa lajur kendaraan, masuk melalui gang-gang kecil, menggunakan pola zig-zag untuk menyalip orang-orang di jalan.


Tujuanku adalah tempat di bawah jalan tol. Akses jalan di sana sangat terbatas karena dihimpit oleh dua tembok tinggi. Tembok pertama adalah pembatas yang menghalangi lajur kereta api, tembok kedua di hadapannya adalah pembatas dari gedung komersil tua. Dua sisi yang lain adalah saluran air dan pojok turunan yang membuat tempat itu sangat tertutup.

__ADS_1


Memang tidak pasti, tapi itu adalah tempat terdekat yang memungkinkan orang menghindari saksi mata.


Namun, tempat itu tidak sempurna, ada salah satu titik yang bisa membuat tempat itu terlihat terbuka. Bersudut empat puluh lima derajat, orang bisa melihat tempat itu dengan jelas dari jembatan layang yang didisain lebih tinggi lagi. Amalia mungkin berada di sana, karena keberadaannya yang di area tinggi adalah alasan paling masuk akal tentang suara angin di telepon.


“...”


Tiba-tiba aku berhenti berlari. Dihantui oleh keraguan yang datang mengganggu keputusanku.


Tapi ..., bagaimana jika itu hanyalah delusi dan pemikiran berlebihku? Bisa saja dia ada di tempat yang lebih simpel seperti pojok gang atau belakang gedung tua lainnya.


Aku berdiri di pertigaan. Jika mengambil jalan lurus, di sana ada tempat area bawah jalan tol yang kumaksud. Tapi, jika aku berbelok, di sana terdapat bekas pasar tua yang sekarang sebagian besar digunakan sebagi TPA, tempat yang memungkinkan terdapat area sempit.


Mana yang harus kupilih?


Ambil jalan lurus.


Hn?


Tiba-tiba ada suara mendengung di telingaku. Perasaan yang sama seperti ketika kekuatanku aktif.


Kamu tunggu apa lagi, cepat lari.


Muncul lagi. Suara yang sama telah muncul. Berusaha mencari sumber suara tersebut, aku pun menggelengkan kepala ke berbagai arah. Namun, tidak ada orang yang sepertinya benar-benar bicara padaku.


Klak, klak, klak.


Hn!? Who-whoah ...!?


Entah sejak kapan ada suara kepakan sayap, dan ketika aku menoleh ke atas, ternyata ada burung yang menghampiriku. Karena sedikit panik, aku melindungi kepala dengan kedua tangan hingga seluruh wajahku tertutup.


“...”


*Plok.


Hmn?


Sensasi ini ... seperti ada yang jatuh ke pundakku. Apa ini kotoran burung?


Aku mulai membuka mata, melihat ke samping untuk mencari tahu apa yang jatuh di pundakku.


“Pero?”


di sana aku menemukan seekor burung. Yah, burung gagak ... ,dan Pero adalah sosok pertama yang muncul di kepalaku. Walaupun burung gagak sendiri semua terlihat sama di mataku, tapi tentu saja kehadiran burung gagak bukanlah kebetulan belaka.


Bicaranya nanti saja, sekarang cepat susul Lia.


“Kamu tahu di mana dia?”


Lurus terus, kamu ada di jalan yang benar.


Mendengar itu, aku mengalihkan pandangan lurus ke depan. Arah itu sama dengan tujuanku, tempat di bawah jalan tol.


Dengan satu anggukan mantap, aku pun lanjut berlari, menuju tempat mereka berada. Dengan bantuan Pero, aku tidak perlu ragu lagi mengambil jalan.


 


 


****

__ADS_1


 


 


__ADS_2