Pencicip Emosi

Pencicip Emosi
Arc 2 Jejamuan : Chapter 9 - Cerita Fany


__ADS_3

Keesokan harinya, aku yang sudah bangun dan turun ke lantai satu melihat menu sarapan.


Hmn ... baiklah, setidaknya dia tidak terlalu jauh bergeser.


Berbeda dengan makan malam yang kudapat, pagi ini meja makan penuh dengan makanan berkualitas ... setidaknya lebih berkualitas. Walaupun bahan yang digunakan sederhana, tapi sentuhan tangan dari seorang koki handal bisa membuatnya tampak nikmat.


Kak Dina hari ini memasak dua menu sayur dan satu lauk daging ayam kaya akan bumbu, melihatnya saja membuat air liurku keluar meminta makanan. Aku tidak tahu kalau ternyata masakan kakakku telah memberi efek kecanduan.


“Ivan,” panggil kak Dina di dapur yang kemudian mengintip ke meja makan. “Makan saja dulu, nanti kakak nyusul.”


Mengikuti perintahnya, aku pun mengambil dan memakan menu yang tersedia di meja. Beberapa suapan berlalu, sampai akhirnya kak Dina datang untuk makan bersama.


Geh ....


Perasaan senangku mulai terganggu. Di tengah-tengah kenikmatan makan, kak Dina yang duduk di samping malah menaruh Handphonenya di meja makan. Sambil menyuapi makannya, gadis itu terus melakukan chatting. Ini membuat aku ditendang jauh atmosfer ini, kembali merasa kalau kak Dina membatasiku dengan dinding.


“Kak,” panggilku.


“Hng ...,” jawabnya dengung karena sedang mengunyah makanan.


“Bisa kakak jauh dari HP sebentar?”


Kak Dina tidak langsung menjawab, dia menggerakkan jarinya begitu cepat hingga menemukan checkpoint untuknya berhenti.


“Kenapa? Kamu juga gak keganggu, ‘kan?


Tidak terganggu secara langsung, tapi cukup menyebalkan ketika melihatnya.


Awalnya aku menikmati gelombang emosi kebahagiaan setiap dia asik dengan Handphonenya. Tapi, lama kelamaan perasaan sepi muncul, seperti aku ditinggal oleh kakakku yang bahagia sendirian.


“...”


Sial, apa ini efek dari terbukanya gerbang hatiku oleh Pero. Sebelumnya aku tidak pernah merasakan hal ini. Perasaan kalau aku yang tidak punya sumber kebahagiaan dan kesal karena kehilangan teman bermain.


“Aku mau ngobrol jadi susah,” jawabku pada kak Dina.


“Kalau mau ngomong, ngomong saja. Kakak bisa dua-duanya,” ucapnya dengan pandangan tetap terkunci pada layar Handphone.


Sebenarnya aku tidak suka dengan sikapnya. Tapi, jika aku mempermasalahkan hal tersebut, itu artinya aku kalah dan terbukti haus akan perhatian.


“Kalau gitu aku tanya ... apa kakak pernah nolak cowok yang nembak kakak?”


“Kenapa tiba-tiba tanya itu? Kamu mau nembak cewek?”


“Bukan aku.”


“Oh ... jadi orang lain lagi? Sekarang kamu ini jadi sering bawa masalah orang lain ke rumah, kamu sendiri kenapa belakangan ini?”


“Aku gak kenapa-napa ... aku cuman mau bantu orang yang kesusahan biar suasana di sekolah tambah bersih.”


“Kakak dipaksa jawab, tapi kamu gak jawab pertanyaan kakak. Bukannya itu gak adil?”

__ADS_1


“Aku sudah jawab, aku gak kenapa-napa. Bisa buang dulu hal itu dan kembali ke pertanyaan awal?”


“Pertanyaan yang mana? Tentang berapa ukuran BH kakak?”


“Bukan! Dan kapan juga aku pernah nanya kayak gitu!?”


“Ukurannya 32C.”


*Gbruk.


Meja makan bergetar, aku menghentakkannya karena kesal dipermainkan oleh pertanyaan konyol.


“...”


Namun, semua perasaan itu padam seketika ketika aku melihat orang di sampingku. Kak Dina tidak memberikan reaksi hebat, dia cenderung mengabaikanku di samping dan tetap fokus pada Handphonenya. Walaupun dia bisa berbicara membalas obrolan ini, tetap saja rasanya berbeda. Sesuatu yang kuharapkan barusan adalah ekspresi tawa usilnya sebagai bentuk komunikasi akhir.


Beberapa saat setelah bentakan tersebut, makanan di piringku akhirnya habis. Mengikuti ritual kebersihan, aku pun membersihkan piring dan beberapa kekacauan di dapur.


“Ivan,” panggil kakakku dari meja makan. “Sebenarnya kakak gak pernah nolak cowok. Jadi, kakak gak bisa jawab. Maaf saja, kakakmu ini gak terlalu populer.”


“...”


Jawaban dari pertanyaanku sebelumnya.


Aku mengintip kembali ke ruang makan tempat kak Dina berada. Namun, pemandangan yang kulihat ternyata masih tidak berubah, seorang gadis yang makan sambil memfokuskan matanya pada Handphone.


Hah ... kuharap hal ini tidak berlangsung terus menerus.


Aku kira kakakku populer, hanya saja laki-laki di lingkungannya yang mungkin tidak punya keberanian untuk terus terang. Dengan pribadi kak Dina yang seperti itu, rasanya juga seperti dia menebar tekanan pada pria lain.


*****


Aku berangkat sekolah sekitar satu jam sebelum bel masuk. Seperti biasa, aku berjalan ke kelas untuk beristirahat sebelum rombongan siswa datang menyerbu kelas. Walaupun ini terkesan mengganggu kegiatan piket pagi hari, tapi keberadaanku tidak melanggar peraturan apapun. Aku juga bisa keluar sementara jika lantai di kelas dalam kondisi basah.


“...”


Yah, benar. Hal itu terjadi hari ini.


Ketika aku sampai di kelas dan menengok ke dalam. Di sana masih ada dua orang yang tengah sibuk membersihkan lantai. Kondisi tersebut juga membuat aku tidak boleh menginjakkan kaki ke sana.


Berbalik mengurungkan niat bersantai di kursi, aku mengganti spot ke pojokkan luar kelas. Tempat di mana aku terkadang berdiam diri saat pelajaran kosong, depan kelas, lorong lantai dua, bersandar di pagar tembok yang mirip seperti balkoni mengarah ke udara luar.


Beberapa saat berlalu, aku menghabiskan waktu dengan melamun di sana. Pada saat itu mungkin kelas sudah dalam keadaan kering, tapi aku tidak ingin merusak kenyamanan yang sudah terlanjut kubuat.


“Kaivan.”


*Whoush ....


Hgkn!?


Gelombang emosi, rasa asam bercampur jejamuan. Sensasi yang sepertinya lebih besar dari kemarin membuat posisi nyamanku terganggu.

__ADS_1


Hah ... selama kekuatanku aktif, hal-hal semacam ini selalu merusak suasana hatiku.


Mengabaikan panggilan orang juga bisa membuat emosi negatif. Jadi, tidak ada pilihan selain harus menanggapinya.


“Ada apa ...,” ucapku yang mulai berhenti melamun melihat langit di balkon, berbalik ke arah pembicara untuk membalas komunikasinya. “Fany?”


Aku melihat gadis bertubuh kecil. Dia mendatangiku dengan wajah diwarnai rasa cemas dan kebingungan.


Ah ... aku mencium bau masalah.


***


Kejadian itu berlangsung kemarin sepulang sekolah ketika aku dan Amalia keluar sekolah lebih dulu ke rumah Pero. Di saat mereka lepas dari pengawasanku, Fany kembali bertemu Septian yang datang melesat untuk pulang bersamanya.


Dasar bodoh, padahal sudah kubilang untuk menahan aksi berlebihan mengejarnya.


Fany waktu itu memang terkejut melihat Septian di gerbang sekolah. Tapi, dia juga masih ingat pesanku untuk mencoba menolaknya secara terus terang. Jadi, daripada kabur, dia memilih untuk berhadapan lagi dengan laki-laki itu.


“Yo ... Fany, sekarang kamu pulang gimana?” tanya Septian dengan santainya.


“...”


Sebenarnya Fany saat itu sedang berjalan dengan dua temannya. Mereka berniat untuk pulang bersama layaknya kelompok perempuan pada umunya. Tapi ....


“Fany, kita duluan saja kalau gitu.”


Melihat keberadaan Septian yang mendatangi Fany, gadis-gadis itu membaca suasana dan mencoba memberi ruang pada mereka. Walaupun niat mereka sebenarnya mungkin hanyalah menghindari masalah.


“Umn ... Hmn ... Aa ..,” gumam Fany yang tidak kunjung bicara.


“Hmn ...?” lamun Septian yang celengak-celenguk melihat pergi kedua teman Fany dari sana.


Fany tidak cukup tegas untuk membantah situasi di sana. Gadis itu tidak sanggup menjelaskan dan menolak ajakan Septian, begitupun melakukan sebuah tindakan yang mempertahankan kedua temannya sebagai tameng.


“Kamu gak pulang bareng mereka?” lanjut tanya Septian dengan polos dan tanpa dosa. "Kalau gitu aku pulang bareng gak apa-apa, 'kan?"


“...”


Aku ingin memukulnya jika aku ada di sana. Apa dia sebodoh itu untuk tidak menyadari akibat dari tindakan tersebut. Menanyakannya kembali malah memberi kesan jengkel.


Fany terus bercerita, dia bilang kalau Septian di sana seperti mengulur waktu dan terkesan memaksakan topik pada pembicaraan. Dia bertanya-tanya seputar sekolah dan kehidupan sosial Fany, membuat gadis itu menceritakan beberapa kesannya terhadap keadaan sekolah.


Namun, di akhir percakapan akhir Septian mulai menunjukkan tujuan aslinya. Karena jarak dan waktu ada batasnya, dia dan Fany sudah ada di tempat di mana mereka harus berjalan berpisah akibat jalan rumahnya yang berlawanan.


“Fany, kalau misal aku ajak kamu main ... mau, gak?” tanyanya mulai mengalihkan pandangan tidak menatap Fany langsung.


“...”


 


 

__ADS_1


__ADS_2