Pencicip Emosi

Pencicip Emosi
Arc 3.5 All Round Healing : Chapter 6 - With Amalia 2


__ADS_3

“Bisa aku raba dadamu sekarang?”


“...”


“...”


Ua ....


Aku merasakan kebohongan dari dalam diriku sendiri. Perasaan yang aneh, karena aku sendiri benci kebohongan. Bukan berarti aku bisa merasakan gelombang emosiku sendiri, ini seperti ada konflik di dalam diriku.


“...”


“...”


Tentu apa yang kukatakan itu tidak benar-benar serius. Aku bukan tipe manusia yang menyerahkan akal sehatku pada nafsu wanita. Aku bukan tipe orang yang benar-benar mengincar tubuh wanita. Aku tidak benar-benar berharap bisa meraba dada Amalia sekarang.


Apa yang keluar dari mulutku itu hanya sebagai pengalih, sebuah kata-kata yang tadinya aku ingin keluarkan sebagai candaan mesum. Tapi, sepertinya aku telah melewatkan timing untuk menaruh kalimat tambahan sebagai topik canda. Diamku karena respons Amalia yang diam membuat atmosfer di sini sedikit aneh.


“...”


“...”


Beberapa detik berlalu, aku sampai bingung bagaimana perasaan Amalia tentang hal ini. Berbeda dengan respons yang kubayangkan tentang dia yang membalas jijik dan mengeluarkan gelombang emosi bermacam-macam. Sebuah kejadian yang akan memberiku celah untuk melemparkan kalimatku tadi pada candaan. Tapi, ini dia malah terus diam, diam dan dipenuhi dengan kekosongan. Gelombang emosinya saja terasa kosong tidak terasa.


Suasana akan semakin buruk jika terlalu lama. Mungkin sepertinya aku yang harus bertindak.


“Huft ... hah ...,” napasku mencoba menenangkan diri dan bersiap mengeluarkan kalimat. “Kalau kamu gak mau, gak usah maksa— Hn!?“


*Grip


Sebelum aku selesai bicara, Amalia menarikku ke salah satu sisi sekolah di belakang gedung, ditariknya diriku dari tempat asal kami berdiri dekat gerbang sekolah.


“Woi, Amalia—”


“...”


“Hmn?”


Aku sempat ingin berontak dan menarik tangan dan tubuhku melawan arus dari gaya tariknya. Tapi, gadis itu malah berhenti lebih dulu sebelum aku sempat berontak lebih jauh untuk menghentikan langkahnya.


“...”


“...”


Kami kembali terdiam, semua tindakannya membuatku semakin sulit untuk membawa hal ini pada canda. Karena ....


*Drop

__ADS_1


Amalia mulai menaruh tasnya bersender dengan tembok, dia masih tidak membiarkanku bicara di dalam keadaan ini. Geraknya penuh dengan keraguan, gelombang emosinya mulai keluar tentang sesuatu berbau rasa malu. Tapi, dia juga berani, pikirannya tetap dipenuhi oleh keyakinan.


Ketika dia menaruh tas, selanjutnya dia mulai mengambil satu benda di dalamnya. Aku tidak begitu melihat karena posisinya yang setengah berdiri membelakangiku. Tapi, begitu dia berbalik dan menghadap, aku bisa tahu apa yang dipegangnya sekarang adalah pisau sihir miliknya.


*Posh


Dengan sekejap dia mengubah penampilannya ke bentuk pakaian sihir. Cahaya yang cukup silau mengaburkan pandangan membuatku tidak melihat bagaimana detailnya berubah. Apa yang kudapat hanyalah perubahan seketika secepat mengedip dari pakaian sekolah menuju pakaian jubah sihir putih khas miliknya.


Aku masih tidak punya bayangan tentang apa maksud dia melakukan ini? Apa dia ingin menghajarku karena kalimat yang menjurus pelecehan tersebut?


Amalia mengambil catatannya, dia menulis dengan sedikit keraguan sampai akhirnya menunjukkan tulisan tersebut padaku.


Dengan wujud ini, gak akan ada yang bakal lihat. Jadi, kamu bisa lakukan itu sekarang.


“...”


“...”


Eh?


Aku sempat tidak percaya dengan apa yang aku lihat, apa yang kubaca membuatku berpikir dua kali. Baru kali ini aku melakukan sebuah tindakan yang luar biasa tanpa candaan dan atas izin gadis lawan bicaraku.


Walau mataku dipastikan tidak salah, tapi logikaku tetap meronta meminta berpikir ulang. Mencoba menenangkan diri, aku ingin membaca ulang tulisan Amalia kala itu. Tapi ....


“E-eh?” responsku keluar karena refleks.


Apa ini ... apa ini ...? Benar-benar ... ada apa dengan hari ini? Apa dia benar mempersilakanku?


Memang sebelumnya aku pernah memegang dan meremas dadanya. Tapi, suasana yang ditaruh sekarang benar-benar berbeda. Aku tahu kala itu aku sengaja, dan aku mengatasnamakan kejadian itu sebagai tindakan darurat yang tidak bisa dihindari. Jadi, ketika menghadapi Amalia yang dengan pasrahnya menyerahkan lapang dada kecil di depanku. Itu membuat sesuatu di dalam tubuhku kembali berperang. Menerima atau menolak, meraba atau berkilah. Aku merasa kalau aku berkilah sekarang maka kesempatan ini tidak akan muncul lagi, tapi di saat bersamaan aku merasa menerima juga akan melukai harga diriku.


“...”


“...”


Amalia masih diam, aku bisa merasakan getaran emosinya di setiap getar bibir dan napasnya sekarang. Ekspresinya sedikit kaku ketika waktu berjalan, kelopak matanya bergidik selayaknya menahan untuk terbuka, kegugupannya terasa hanya dengan melihat garis wajahnya.


Huft ... hah ....


Kenapa aku harus mengalami kejadian seperti ini?


*Touch


“...!?”


*****


Cukup mengerikan juga ketika melihat sesuatu yang tidak biasa di depan mataku. Ketika dunia bergerak di luar pengetahuan, rasanya aku seperti tertinggal dan jatuh dalam rasa cemas ketidakpastian.

__ADS_1


Aku tidak menyangka Amalia bisa seberani itu mengambil keputusan. Walaupun beberapa wanita tidak keberatan, tapi dia tetap gadis yang dalam masa pubertas dan seharusnya punya pertahanan diri lebih kuat. Apa yang kulakukan jelas sesuatu yang tidak diterima begitu saja, melihat dia dengan ketakutan dan kegugupannya malah membuat rasa bersalah di hati semakin besar. Aku tidak ingin memanfaatkan ketidakstabilan emosinya untuk hal bodoh seperti barusan.


Entah kenapa ... gadis yang pendiam seperti itu, gadis yang menurut pikiranku tidak memiliki ketertarikan terhadap hal semacam itu, gadis yang sama yang membusungkan dadanya memperbolehkanku untuk merabanya.


Iya ... bagaimanapun juga, tangan kananku masih terbalut gips. Aku tidak bisa merabanya dengan kedua tangan selayaknya apa yang dipikirkan para pria biasanya. Jadi, kala itu aku hanya memberi sentuhan kecil.


Menarik kembali perkataanku setelah Amalia sudah maju seperti itu berkemungkinan memberi luka di hatinya. Perasaan kalau dia adalah ditolak bisa saja lebih membekas, seperti rasa kalau nilainya sebagai gadis tidak muncul di mataku sebagai laki-laki. Tapi, meneruskan dengan meraba dadanya akan menimbulkan perasaan kalau dia dipermainkan sebagai mainan atau gadis murahan.


Jadi, aku mengambil keputusanku sendiri. Kala itu aku hanya memegang dadanya lebih ke atas dekat dengan tulang selangka. Bukan ke arah ******, melainkan ke arah atas dekat dengan leher hingga bagian empuknya sudah tidak bersisa. Secara teknis aku masih melakukan apa yang terucap, bagian yang kupegang di mana sebagian besar sensasi di tangan adalah tulang rusuk masih termasuk dada. Payudara Amalia tidak cukup besar untuk membuat bagian tersebut menjadi empuk seperti wanita lain.


“...”


Iya, walaupun sebenarnya rentang tangan kiriku cukup besar untuk bisa merasakan satu atau dua sensasi dari payudaranya.


Kala itu dia tetap terkejut. Bukan karena aku melakukan sentuhan, tapi karena aku menghentikan jauh lebih cepat dengan pikiran terburuknya. Dia juga bingung, gelombang emosinya terdapat rasa khawatir karena aku menahan diri. Ketika aku menarik tangan dan melangkah menjauh, pergi dan berkata kalau aku mengakhiri tindakan dan mengajaknya segera ke tempat Pero, di sanalah muncul perasaan tersebut.


Amalia tidak bisa berkata untuk memanggil balik dan bertanya. Jadi, dia melakukan protesnya dengan menulis catatan sambil berlari kecil sampai menyalip dan menghalangi jalanku. Perkataannya diwakilkan dengan gerakan, catatan yang dia tulis dia tunjukan di depan menghalangi jalanku.


Tunggu, Kaivan? Kenapa kamu berhenti?


Tulisnya yang ketika aku baca sendiri malah membuat banyak pemikiran aneh.


“Aku bilang kayak gitu bukan buat beneran mau raba. Tapi, aku cuman mau lihat reaksi kamu, yang barusan itu sudah luar biasa,” ucapku yang mulai kembali berjalan melangkah ke samping untuk melewati tubuh Amalia.


*Step, step, step ....


“Hn?”


Tapi, Amalia kembali berjalan mengejarku. Gadis itu juga melangkah ke samping dan menyusul untuk menghalangiku kembali sambil menunjukkan catatan lain.


Tapi, gimana tentang topik barusan? Kamu beneran gak bohong, ‘kan? Aku gak apa-apa, kok.


Tulisnya yang ketika aku baca lagi juga kembali membuat pikiran aneh.


Sampai saat ini dia seperti mengerti dan tidak mengerti, apa yang aku ucap itu seharusnya menjadi sebuah candaan di mana dia normalnya memukulku seperti biasa. Menerima candaanku secara serius ternyata membuatku repot sendiri, sekarang aku tahu perasaan perempuan yang dikejar lelaki karena dia tidak sengaja membuat lelaki itu salah paham kalau dirinya disukai.


Aku pikir dengan memberikan sebuah permintaan seperti ini, dia akan memustahilkan permintaanku dan melupakan sesuatu ganjalan perasaan tentang balas budinya. Tapi, sekarang dia yang terlihat seperti ingin diraba olehku.


“Aku gak bohong, buat sekarang aku gak mau ambil apapun dari kamu. Sentuhan di tulang rusuk sudah cukup, gelombang emosimu sudah bisa kuterima sekarang,” jawabku yang untuk kedua kalinya melangkah ke samping untuk melewati tubuh Amalia.


Situasi yang aneh. Sungguh, kenapa aku ada di posisi di mana aku ditanya kenapa aku tidak memegang dada seorang gadis yang di mana gadis itu sendiri menagihnya langsung.


“...”


Kali ini Amalia tidak langsung mengejarku, dia terdiam ketika aku melewati tubuhnya dan berdiri kosong tidak mengikuti dari belakang. Jarak kami terpisah sekitar lima langkah, dan aku punya firasat kalau dia tidak akan mengikutiku jika didiamkan. Itu masalah, karena sebenarnya tujuanku sekarang adalah menemui Pero bersama dengan dia.


“Amalia,” panggilku yang juga menghentikan langkah untuk bicara. “Aku mungkin kayak gini. Tapi, ini juga permintaan dariku. Jadi, aku minta buat kamu jaga dirimu lebih baik. Kalau bukan aku barusan, mungkin hasil yang kamu terima bakal jauh lebih buruk.”

__ADS_1


“...”


__ADS_2