Pencicip Emosi

Pencicip Emosi
Arc 1 Sampah Organik : Chapter 6 - Kemarahan Dan Kebencian


__ADS_3

Menstruasi, adalah salah satu siklus yang dialami setiap wanita ketika mereka tidak dibuahi. Dinding rahim berisi pembuluh darah dan lendir akan meluruh— Oke, baiklah. Semua orang juga pasti mendapatkan pengetahuan umum tentang itu. Sesuatu yang ingin kujelaskan di sini adalah gejala yang disebabkannya.


Aku menarik pertahanan tangan di kepala, menyingkirkan catatan Amalia yang sebelumnya dia pakai untuk menimpukku.


“Amalia, kamu inget apa kekuatanku?” ucapku sambil balik memberikan catatan itu padanya.


Merasakan emosi, ‘kan?


“Iya, makanya aku sekarang gak mau pergi bareng. Rasa sakit dan keram perutmu itu bisa aku rasakan,” ucapku sambil mundur tiga langkah.


Dan jika aku gambarkan seberapa besarnya, rasa sakit ini benar-benar luar biasa. Fase keram perut memang sakit, dan itu berbeda-beda tingkat pada setiap perempuan. Sesuatu yang paling parah bahkan bisa setara dengan rasa sakit ‘biji ketendang’.


Merasakan semua itu, aku sangat mengerti kenapa perempuan tidak ingin banyak bergerak. Rasa sakit akan bertambah ketika bergerak terlalu banyak, sama halnya ketika buah zakarku tertendang dan mengalami disposition hingga menambah rasa sakitnya berkali-kali lipat.


Kamu bisa rasain rasa sakit dari orang lain juga?


“Kayaknya rasa sakit juga termasuk dalam bentuk emosi menurut kekuatanku. Aku tidak mengalami keram perut, tapi rasa sakit yang kamu rasakan juga bisa kurasakan di kepala.”


Tapi, sekarang gak terlalu sakit. Aku sudah minum obat, dan biasanya paling sakit itu di hari ke-2.


“...”


Bukan itu masalahnya ... dan apa itu? Apa kau baik-baik saja memberi tahu informasi tersebut?


Bukan rasa sakit Amalia yang dijadikan standar dari efek kekuatanku kali ini. Deteksi gelombang emosi yang kualami darinya berbeda tingkat dengan yang kualami pada gadis biasa. Dari awal dia memang terasa berbeda, sensitivitas kekuatanku sangat tinggi pada gadis ini.


“Aku gak tahu kenapa kamu bisa beda, tapi yang pasti aku kesakitan di sini. Jadi, aku bisa pergi sekarang?” tanyaku sambil mundur dua langkah.


Bahkan sampai detik ini ... ketika aku bicara denganmu, rasa sakit tersebut terus bermunculan.


Amalia mengembungkan mulutnya, dia menulis catatan dengan sedikit kesal. Ekspresi wajahnya seakan berkata ‘kenapa kamu terus menjauh?’. Aku tahu tindakanku sedikit kejam, tapi kaulah yang kejam jika menyuruhku menahan semua rasa sakit ini.


Jadi, kita harus bagaimana? Kalau gak cepet-cepet disembuhin, luka hati Imarine bisa membesar.


Sebenarnya aku ingin tahu apa yang terjadi dengan pilihan buruk ‘luka hati membesar’. Tapi, aku simpan demi mempersingkat percakapan.


“Amalia ... apa kamu bisa menghilang buat lihat tiga orang kemarin?”


Aku bisa ... tapi ada batas waktunya.


“Berapa lama?”

__ADS_1


Paling lama pernah aku coba sekitar 30 menit.


Itu lebih dari cukup.


“Baiklah ... perubahan rencana. Kamu sekarang cari tiga orang kemarin dan lihat keseharian mereka. Tentang Imarine, aku yang bakal ke sana.”


Rencana awalku adalah bertemu dengan Imarine bersama Amalia untuk membujuknya dan menceritakan apa yang terjadi. Dengan kepala dingin dan berbagai sentuhan lembut, mungkin saja kami bisa membuatnya membuka mulut.


Tapi, percuma jika Amalia datang sendiri. Dia pernah memberi sikap kasar, membuat hubungannya sedikit rumit jika Amalia datang sendiri. Aku masih di pihak netral, kurasa tugas Imarine masih bisa diselesaikan sendiri olehku.


Apa gak bisa tukeran?


Tukeran?


“Buat apa? Kamu mau aku ketemu mereka bertiga?”


Aku agak takut ketemu orang kayak begitu.


“...”


Bukankah kamu sendiri punya kemampuan pertahanan diri yang luar biasa? Kata takut tidak pantas untukmu, orang yang pernah memojokkanku di aula.


Amalia mengangguk kecil menerima perkataan itu. Dia mulai menutup buku catatan dan pergi ke gedung murid kelas dua. Berlari kecil dengan buku di pelukan dadanya.


Hah ....


Penat kepalaku mulai mereda, akhirnya aku bebas dari gelombang emosi milik Amalia. Dengan begitu, aku bisa bergerak lebih bebas.


Melihat Amalia sedikit semangat. Aku pun mulai bergerak menyusul, gadis bernama Imarine itu sekarang sedang duduk di kursi panjang taman. Di sisi kursi tersebut ada tempat mading permanen, terbuat dari besi yang di las dan tertancap dalam ke dalam tanah.


Keluar dari lorong dan ada di pinggir taman. Aku dalam jarak aman untuk bersembunyi. Namun, memandanginya dari jauh tidak akan memberi apapun.


Kali ini aku sampai di hadapannya, aku tidak bersembunyi. Datang tepat di hadapannya hingga kami saling bertatapan.


“...”


Imarine dalam keadaan duduk, wajah dan ekspresinya tidak begitu senang melihatku. Semua tersebut sejalur dengan rasa emosinya, dia menaruh rasa kesal padaku. Bahkan, karena kedatanganku, dia sampai menghentikan pergerakan tangannya yang sedang makan. Menunjukkan posisi siaga dan fokus terhadapku.


Hah ... kau bahkan sama mengerikannya dengan tiga orang pem-bully itu.


Aku menarik napas ... mengeluarkan roti dari kantong plastik yang kubawa dan langsung duduk di samping Imarine.

__ADS_1


Baiklah, aku cukup percaya diri dengan kemampuan bicaraku. Sekarang kita lihat bagaimana gadis ini menghadapinya.


****


“...”


Aku merasakannya, merasakannya dengan jelas. Baik dengan kemampuanku maupun dengan intuisi normalku. Gadis di samping ini memandangiku dengan tatapan ancaman.


Walaupun ada rasa mengganggu seperti tusukan jarum di kulit, aku masih bertahan untuk tidak bicara. Entah kenapa aku merasakan begitulah pertandingan yang terjadi sekarang.


Hn?


Tatapannya mulai berakhir, rasa tusukan jarum sedikit demi sedikit mulai lenyap. Aku bisa merasakan arah pandang Imarine berubah, kepalanya menghadap ke depan kembali. Sekarang emosi ancaman sudah tidak kurasakan.


“Mau apa kamu di sini?” tanya gadis itu padaku.


“Mau apa itu ‘kan bebas. Ini kursi sekolah, aku murid di sini, tidak ada yang melarangku duduk di sini menikmati makanan,” ucapku sambil menggigit kecil rotiku.


Emosi sedikit kesal muncul dari gadis itu. Menghadapi kedatanganku yang tiba-tiba, dia malah membungkus makanannya dan berdiri dari tempat duduk ini.


“Woi, mau ke mana? Makanmu belum selesai, ‘kan?”


Bekal yang dimakannya adalah buatan rumah, perlu waktu lama untuk menghabiskan makan berat seperti itu. Aku sekilas melihatnya, dan yakin kalau kotak bekal tersebut masih bersisa banyak.


“Ke mana saja yang bisa bikin aku sendiri," katanya pada posisi berdiri tanpa melirikku. "Dan jangan coba deket-deket, aku paling benci sama cowok,” lalu dilanjut dengan sinis.


Ketika Imarine mengatakan kalimat itu, aku tidak tersinggung sama sekali. Justru itu adalah petunjuk besar bagiku.


“Kalau begitu sial sekali bagimu, Ima,” ucapku dengan nada memancing. “Kamu terlahir dengan wujud yang mudah didekati cowok.”


“...”


Pergerakan Imarine yang tadinya ingin berjalan pergi pun terhenti. Gadis itu baru mengabil satu langkah dari tempat duduk, sedangkan aku masih di belakang memandanginya di kursi tersebut.


*Whoush ....


Gelombang emosi. Aku merasakan kemarahan dan kebencian. Satu kalimat dariku itu ternyata cukup berpengaruh besar. Apa hal itu ada sangkut pautnya dengan permasalahan yang dilandanya?


 


 

__ADS_1


__ADS_2