
“Diam waktu di-bully? Bukannya itu sudah biasa. Orang waktu di-bully dan terus-terusan di-bully karena dia juga gak mau atau malah gak bisa lawan. Kalau kamu lihat dan sadar ada bullying, biasanya orang itu sudah lama mulai di-bully.”
“Bukan, maksudnya—” Sebelum aku menyelesaikan kalimat, lidahku lebih dulu terhenti karena sekelibat pikiran.
Tunggu, dari awal kasus yang menimpa Imarine sedikit tidak normal. Gadis itu bukan diam ketika di-bully, dia lebih seperti pergi untuk di-bully.
Awalnya aku mengira kalau Azarin telah memegang aib atau kelemahan Imarine sebagai ancaman untuknya menuruti perintah. Namun, hal yang berbeda telah kuketahui hari ini. Emosi Imarine sedikit berbeda, ketika dia membicarakan tentang kasus tersebut, tidak ada rasa dendam maupun kemarahan ditujukan pada Azarin. Sesuatu yang kurasakan hanyalah kesedihan, kesepian, dan hal yang berujung seperti sebuah penyesalan, maupun rasa dosa.
Tindakan dan perkataan Imarine waktu itu ... seakan memintaku untuk tidak menyelamatkannya dari jurang pem-bully-an.
Awalnya juga aku mengira karena hal ini bertujuan untuk menghindari efek balik. Ketika korban bully tertangkap basah berusaha meminta bantuan, dia akan menerima perlakuan berkali-kali lipat lebih buruk dari sebelumnya. Ini seperti menyiksa narapidana yang tertangkap berusaha kabur. Namun, hal yang dialami Imarine berbeda. Dibandingkan rasa takut, gelombang emosi dan isi perkataannya lebih mengarah ke arah khawatir.
“...”
“Maksudnya ...? Maksudnya apa, Van?”
Ah.
Aku tersadar karena suara Kak Dina yang memanggilku. Akibat lamunan itu, tanganku berhenti bekerja membersihkan piring. Aku pun segera melanjutkan tugasku, tinggal dua buah alat dapur yang tersisa dan pekerjaan ini selesai.
“Oke, Kak. Skip saja masalah kenapa orang mau nge-bully. Sekarang aku tanya gimana cara selesein masalah itu.”
“He ... kenapa kamu tiba-tiba loncat? Kayaknya kamu ngerti sesuatu, kenapa gak cerita dulu apa yang kamu pikirin barusan?”
Karena aku tahu pembicaraan sebelumnya itu tidak berguna untukku sekarang. Stamina hari ini sangat terbatas, tentu saja aku ingin menyelesaikan semua ini secepat mungkin.
“Aku bakal cerita nanti. Jadi, kasih tahu dulu, kira-kira bagaimana cara biar si pem-bully berhenti?”
“Woah, kamu mau jadi pahlawan buat korban bully? Adik kakak ternyata hebat banget.”
Itu mungkin kalimat pujian. Tapi, aku tidak merasakan emosi bahagia dari ucapan tersebut. Ini lebih seperti ucapan mengejek atau basa-basi darinya.
“Iya, mungkin kayak gitu kira-kira. Jadi, bisa kakak bantu cari caranya?”
Tapi, aku meneruskan perkataan itu. Bukan berarti kebohongan yang dia katakan terasa pahit maupun asam. Dia hanya ingin bicara padaku lebih banyak dengan sedikit bergurau.
__ADS_1
“Sayangnya kakak juga gak tahu. Kalau kakak tahu, mungkin kakak sudah jadi penasehat guru BP. Kasus bullying sendiri bagi guru itu masalah yang susah diselesaiin.”
Ah, benar juga. Kalau memang semudah itu aku bertanya cara penyelesaiannya, kasus ini dari awal akan selesai tanpa bantuanku.
“Kalau gitu, aku bakal cari sendiri,” ucapku sambil pergi karena selesai mencuci piring. “Terima kasih atas semuanya, Kak Dina.”
“Ahaha ...” tawa kakakku dengan santai. “Kenapa kamu kadang suka pakai bahasa baku gitu? Santai saja.”
Aku kadang menggunakannya pada beberapa orang sebagai bentuk jaga-jaga. Entah kenapa nada bicara dan ekspresi bisa membuat orang takut, terkejut, atau tersinggung. Dan seperti biasa, orang-orang tersebut akan mengeluarkan emosi negatif yang membuatku sakit.
Namun, pada kasus kakakku, aku melakukannya sebagai bentuk candaan. Dia tidak tersinggung dengan perkataan kasar, tapi dapat mengeluarkan emosi positif dengan bertutur kata baik.
Mengubah cara bicara menjadi sopan itu butuh latihan panjang. Untuk orang dengan kekuatan sepertiku, tidak jarang nada kasar keluar karena kesal menahan emosi negatif di sekitar.
Hoam ....
Rasa kantuk membuatku menguap cukup besar. Bahkan ketika aku sudah mandi dan ada di sekolah, perasaan berat di mataku masih tertinggal.
“...”
Hari Sabtu, di mana sekolah ini hanya berjalan setengah hari. Tapi, bukan berarti setengah harinya lagi sekolah akan menjadi sepi. Akhir pekan seperti ini, ekskul aktif akan melakukan kegiatannya. Ini membuat orang-orang tersebar merata ke seluruh bagian sekolah, akibatnya tempat amanku semakin berkurang.
Hmn ....
Menurut apa yang kudapat, menghentikan bullying punya beberapa teknik. Tapi, dari semua yang kudapat itu, tidak ada yang cocok dengan kasus milik Imarine.
Semua cara di sana memiliki dasar di mana si korban ingin bebas dari bullying. Penyelamatan diri sendiri dengan mencari area aman, meminta pertolongan orang lain demi perlindungan, dan menghentikan bullying dengan menebarkan perdamaian.
Benar, hal yang paling bermasalah pada Imarine adalah, Imarine yang memintaku secara personal untuk meninggalkannya agar terus di-bully. Atau bisa kusebut, Imarine tidak berniat mencari area aman, dia menolak perlindungan dariku, dan cenderung membiarkan hal ini terus terjadi.
Apa itu? Permintaan bunuh diri? Dia tidak masuk dalam semua kategori yang kucari untuk bisa dihentikan.
Beberapa kali aku mencari dan membuka berbagai situs. Tapi, tetap hasilnya mirip dengan yang pertama. Oleh sebab itu, aku mengganti metode pencarian.
Daripada berfokus pada korban, kini aku berfokus pada pelaku. Beberapa materi aku cari tentang kenapa orang bisa melakukan kejahatan seperti bullying.
__ADS_1
Tentu saja hasilnya bermacam-macam. Aku tidak bisa menarik kesimpulan begitu saja karena pada akhirnya Azarin adalah orang yang tidak kukenal. Berbagai kemungkinan muncul, dan salah satunya sama dengan apa yang dikatakan kakakku.
Selain masalah pribadi pelaku, salah satu yang menarik perhatianku pada penyebab bullying adalah untuk mencari perhatian. Hal tersebut adalah salah satu yang punya kemungkinan bisa kuselesaikan. Berbeda dengan masalah pribadi yang mengakar kuat membekas pada hati, modus pencari perhatian hanya perlu menambalnya dengan perhatian positif.
Hah ....
Tapi, apa benar akan semudah itu?
Matahari ada di atas kepala. Normalnya bel yang berbunyi sekarang adalah tanda untuk istirahat, tapi tidak dengan hari ini yang menjadi tanda waktu pulang.
“...”
Ketika semua orang berlarian keluar, aku masih diam di kelas menempelkan setengah badanku ke meja. Pelajaran sekolah tidak bisa mengisi staminaku. Bermalas-malasan di jam belajar hanya mendapat efek seperti Handphone yang dicas sambil dipakai bermain game, atau mudahnya seperti mengalirkan air di ember bocor.
Hari ini seharunya aku mulai mengamati Azarin dan bertukar tugas dengan Amalia. Tapi, semua itu akan kulakukan setelah kondisi sekolah lebih kondusif—
Duut, duut ....
Hn?
Getar di Handphoneku membuat kondisiku terganggu. Tidak ingin mengabaikan pesan, aku pun membukanya sambil berusaha tidak menggerakkan kepala dari posisi tidur di meja.
Hmn ... Apa ini?
Kepalaku yang miring membuat kemampuan baca berkurang. Tapi, hanya beberapa saat, dengan cepat aku mulai terbiasa.
Kaivan, kamu di mana? Kayaknya Imarine pergi ke luar sekolah buat ketemu Azarin lagi. Tapi, aku gak bisa kejar dia habis pulang sekolah gara-gara batas waktunya habis. Sekarang aku gak tahu dia di mana.
Bgrukg!
Suara meja yang terbanting oleh tubuhku.
Melihat pesan itu, tubuh dan kesadaranku menemukan tenaganya. Walaupun sekolah masih sedikit ramai, aku berusaha untuk keluar menyambut panggilan Amalia, berlari menerobos lautan gelombang emosi.
Kasus ini berjalan lebih cepat dari dugaanku.
__ADS_1