
Negosiasi bukan sesuatu yang terlalu rumit untukku, setidaknya sesuatu seperti gertakan dan tipuan tidak berlaku karena kekuatan deteksi emosi. Orang-orang yang menyembunyikan niat buruk, memanfaatkan, dan membuat tipu muslihat akan segera diketahui oleh sensasi di mulut.
Aku tidak begitu percaya diri dengan kemampuanku, karena pada praktiknya aku hanya melakukan dengan beberapa orang seumuran yang tentu mereka juga tidak punya banyak pengalaman dengan negosiasi. Jika aku berhadapan dengan orang dengan pengetahuan luas dan kemampuan bicara tinggi, aku tidak berpikir kekuatanku bisa menyelamatkanku sepenuhnya. Pada akhirnya, negosiasi adalah bagaimana kita bisa bicara mendapatkan hati seseorang.
Aku mungkin bisa melakukannya pada Imarine, aku juga bisa melakukannya pada Azarin. Tapi, untuk bisa melakukan aku tetap butuh informasi penting tentang lawanku itu. Imarine dan Azarin bisa kutebak pribadi lewat pertemuan, gaya bicara, dan tentu karena mereka juga punya umur yang sama. Jadi, ketika berhadapan dengan seseorang yang mungkin bisa lebih pintar, aku tidak punya kepercayaan diri kalau hasilnya akan serupa.
Huft ... hah ....
Aku bernapas keluh hanya dengan berpikir berbagai kemungkinan untuk bisa melakukan hal tersebut. Lagi-lagi tugas terberat ada padaku, di mana sebenarnya Pero dan Amalia layaknya supir penunjuk arah.
Tapi, baiklah. Aku mengeluh bukan sepenuhnya benci. Seberapa pun aku lelah ketika bekerja, ketika mereka berdua berterima kasih dengan gelombang emosi yang tulus, rasa lelah itu lama kelamaan hilang begitu saja.
Dalam arti lain, aku sadar kalau aku memang naif.
“Oke, aku bakal ikut ke sana dan coba ngomong sama animus katamu itu,” kataku mengangguk ringan setuju.
“Hmn, kamu memang tidak pernah mengecewakanku, Kaivan.”
“Tapi, syarat dariku juga, aku mau kamu ikut bicara. Barusan aku baru belajar kilat tentang animus, dan pastinya aku gak mau ambil risiko buat langsung tes.”
“Tentu saja, aku akan menemani dan membantumu di sana. Keberadaanku juga akan menguntungkan jika kamu tidak mengetahui pembicaraan sihir darinya nanti.”
“Itu yang pertama, dan sekarang yang kedua sekaligus yang terpenting.”
“Oh ... masih ada lagi? Kamu ternyata lelaki yang perhitungan, iya,” sebut Pero dengan ekspresi menyungging tipis yang serasa seperti meledek jahil padaku.
“Aku lebih suka menyebutnya sebagai orang yang teliti,” timpalku yang tidak menerima kata sifat negatif barusan. “Aku mau kamu siapin kemungkinan terburuk buat kabur nanti.”
“Kabur? Hmn ... syarat yang sepertinya sangat cocok untuk pribadimu, Kaivan.”
“Heh, aku anggap itu sebagai pujian,” jawabku dengan deham yang entah aku sedang menangkap sombong atau bukan.
Aku di sini bukan berharap untuk kalah, dan tentu juga bukan berharap untuk gagal. Tapi, di sini aku ingin tetap siaga menghadapi seluruh kemungkinan buruk.
Kemungkinan gagal dan berhasil tidak diketahui, tapi setidaknya lawanku tidak bodoh untuk melakukan sesuatu yang mencolok agar terlihat banyak orang. Jadi, untuk sementara aku menaruh keadaan superposisi di mana aku gagal dan berhasil di waktu yang sama.
Kemungkinan terbaik adalah aku bisa menjadikan animus yang sedang mengamuk dengan ritual sihir itu menjadi teman. Aku tidak tahu bagaimana cara mendapatkan hati orang itu untuk bisa membantu, lagi pula aku juga tidak membawa bekal untuk bisa dijadikan pemanis agar dia jatuh ke pihakku untuk bekerja sama. Tapi, itu opsi itu bukan mustahil terjadi.
Lalu, kemungkinan terburuknya adalah aku dihabisi rata olehnya. Mengingat kata Pero yang di mana dia percaya animus kali ini adalah yang masih murni dengan kekuatan penuhnya. Siluman gagak itu tanpa ragu bilang kalau kita bertiga tidak akan sebanding dengannya.
“Jadi, gimana? Kamu bisa?” tanyaku kembali pada Pero memastikan.
“Apa itu bentuk hinaan? Jawabannya sudah jelas, aku pasti bisa. Mungkin aku memang lemah, tapi kalau sihir dengan perapalan jangka panjang, aku masih ahli melakukannya.”
Ah, iya. Aku juga bisa melihatnya. Walaupun Pero bilang dirinya punya sihir lemah, di pandanganku tidak demikian. Dia adalah seorang individu yang membuat berbagai kejutan dengan sihir dengan caranya sendiri. Bukan soal kekuatan, tapi tentang ide kreatif menggunakan sihir yang tidak mengutamakan kekuatan.
“Ngomong-ngomong, sihir apa yang kamu siapin buat nanti?”
“Teleportasi, kalau aku melakukan persiapan di awal, itu bisa jadi jalan pelarian terbaik.”
“Hoo ... ternyata kamu bisa melakukan sihir seperti itu juga.”
“Iya, aku bisa, tapi, Kaivan. Jangan sampai kamu mengendurkan niatmu hanya karena aku menyiapkan hal ini. Kamu tahu, ketika dia menjadi musuh, hanya masalah waktu saja sampai dia bisa menghancurkan kita menjadi debu.”
__ADS_1
“Aku gak bodoh, kamu gak usah ungkit masalah itu terus. Setidaknya aku juga bakal coba sebisa mungkin. Jadi, sekarang cuman masalah—“
*Ceklek
“Hh!?”
Tiba-tiba, aku mendengar suara dentang yang cukup keras. Daun pintu yang digerakkan di ruang sunyi membuat efeknya begitu hebat menggelegar di seluruh sudut rumah.
“Ivan? Kamu, kamu di rumah? Kenapa lampunya masih mati?”
Suara pintu itu kemudian disusul dengan panggil dari seorang wanita. Suara dewasa yang khas dari dia melambang kedewasaan dari orang Asia pada umumnya. Dia datang bersama dengan langkah kaki dan suara ceklek saklar lampu yang dinyalakan.
Matahari kala itu sudah terbenam, aku di tengah-tengah pembicaraan dengan Pero hanya menyalakan lampu milik kamarku sendiri. Memang itu menjadi sedikit janggal, tapi aku tidak masalah dengan hal tersebut. Aku tidak lupa untuk menyalakan waktu di waktu malam, hanya saja aku tidak menyangka kalau kak Dina akan pulang secepat ini.
“Oh ... ini sedikit gawat, iya, Kaivan?”
“...!?”
Sontak saja yang terkejut di sana juga bukan diriku. Pero dengan sikap tenangnya cukup sadar dengan merendahkan nadanya kalau dia memang tertekan. Sedangkan Amalia, dia punya respons yang lebih parah dengan menggeleng-geleng kepala panik ingin kabur dari kamarku yang sempit.
Jujur saja, aku sudah hampir melupakan keberadaan gadis itu di kamarku. Ketidakmampuannya dalam bicara membuatku juga sulit berkomunikasi dengannya. Sesuatu yang membuatku sadar dia ada adalah karena gelombang emosi kuat yang biasa dia keluarkan.
*Whoush ....
Dan tepat kali ini, dia mengeluarkan sebuah adrenalin di mana dirinya dipenuhi rasa tegang dan takut atas keberadaan kakakku di sini.
Sempat aku berdiam menstabilkan diri, terutama berpikir sejenak selagi menerima lonjakan emosi dari Amalia. Sampai akhirnya aku bersikap cepat memutuskan.
Kamarku sendiri hanya terdapat satu jendela, dan itu mengarah ke sisi luar bertemu langsung sisi sempit dari balkon lantai dua ini. Kelebihannya yang bisa berganti wujud tersebut sangat diuntungkan untuk menyelinap keluar dari kamarku.
“Dan kamu, Amalia. Kamu pakai saja kekuatan sihirmu itu, bikin kamu menghilang kayak biasanya atau apa pun yang bikin kamu gak ketahuan,” lanjutku sambil mengganti arah lirik ke gadis tersebut.
“...!?”
Lalu, Amalia di sana juga merespons dengan jawaban cepat. Dia mengangguk beberapa kali ucap mengerti dan seakan tercerahkan dengan ideku tersebut. Mungkin karena sebuah sentak tiba-tiba dia sampai lupa kalau kekuatannya bisa membuat dia lolos dari masalah ini dengan mudah. Walaupun tidak kuat, dia masih punya kemampuan menyelinap yang berlaku untuk manusia normal.
Situasi ini juga sebenarnya masih di keadaan ambigu, aku masih tidak tahu kemungkinan buruk apa yang akan terjadi jika kak Dina menemukanku membawa dua perempuan ke dalam kamar. Lagi pula, ini semua terjadi karena kebetulan saja kamarku menjadi tempat tercepat untuk melakukan pertemuan. Ini semua dilakukan karena refleks, menghindari sebuah masalah di mana aku akan sulit menjelaskan situasi ini pada kak Dina jika terlihat olehnya.
“Oke, kalau gitu aku tinggal sebentar,” kataku sambil berjalan keluar kamarku. “Buat ulur waktu, pastiin kalian buat gak kelihatan.“
*Ceklek
Aku pun di sana membuka pintu kamar, berusaha keluar dan menyambut kak Dina yang baru datang. Layaknya keluarga biasa, aku masih punya sedikit adat untuk tidak mengabaikan orang yang baru pulang ke rumah begitu saja.
“Hh!?”
Namun, aku cukup kaget begitu pintu ditarik. Pasalnya, kak Dina di sana sudah ada tepat di depan pintu kamarku. Tubuhku bergidik sesaat, pertahanan diri dari tubuhku refleks memberi rasa kejut pada setiap sendi ketika sosok yang tidak diperkirakan muncul tiba-tiba.
“Ivan, ada orang di dalam kamar?”
Kak Dina langsung menanyakan sebuah pertanyaan menjurus.
“Aku pemilik kamarnya, aku ada di dalam barusan,” timpalku sedikit memutar.
__ADS_1
“Bukan kamu, maksudnya orang lain. Kamu barusan lagi ngobrol, ‘kan? Ngobrol sama siapa?”
Aku barusan sedikit hilang fokus tentang keberadaan kak Dina. Menenangkan diri dari gelombang emosi Amalia ternyata cukup membuat buyar terhadap konsentrasiku. Tapi, aku juga tidak menyangka kalau dia akan naik ke lantai dua segera sesaat setelah dia masuk ke dalam rumah.
“... Huft ... hah ... aku cuman ngobrol sendiri, ngobrol sendiri itu normal asal gak terlalu sering. Penelitian bilang kalau orang yang punya kebiasaan itu lebih bisa percaya diri—“
*Step
Di tengah pembicaraanku, kak Dina mulai memutuskan untuk mengabaikannya. Dia seperti punya insting kalau apa yang kukatakan adalah sebuah omong kosong pengalih. Jadi, di detik tengah kalimat dia melangkah mengambil sela kosong di satu sisi untuk menerobos masuk ke kamarku.
“Woi,” tukasku sambil bergerak ke samping menghalangi satu sisi lainnya, tindakan keras di mana aku menghalangi kak Dina untuk masuk. “Mau apa kakak masuk?”
“Kalau ditanya balik, memangnya kenapa kakak gak boleh masuk?” putar kak Dina membalikkan kondisi.
“Aku gak bisa masukin orang kalau aku gak tahu dia bakal ngapain,” kataku yang dengan setara mempertahankan pendapat.
Itu yang aku katakan, sebuah kalimat kuat untuk mempertahankan privasiku. Tapi, respons kak Dina kala itu ....
*Push
“...”
Dia malah mendorongku lebih keras untuk menerobos ke dalam kamarku. Tenaganya cukup besar hingga aku tidak bisa melawan—atau lebih tepatnya tidak ingin melawan. Di tingkat itu, aku akan melukainya jika melawan tenaga dorong tersebut, berubah menjadi tindakan kasar yang tidak ingin kulakukan.
“Kamu ‘kan laki-laki, gak usah rempong,” ucapnya yang sudah menerobos dua langkah ke dalam sambil melihat sekeliling.
“...”
“...”
“...”
“... Apa ini ...? Ternyata memang gak ada siapa-siapa,” kata kak Dina yang sudah melihat detail sudut kamarku yang sempit itu.
Tentu aku juga sudah tahu kondisi di kamarku kala itu. Beberapa detik barusan cukup untuk mengulur waktu. Saat itu, Pero dan Amalia sekarang sudah hilang dari jejak kamar, aku bisa merasakan dengan mulai tenangnya gelombang emosi dari gadis penyihir di belakangku. Rasa siaganya di posisi menghilang itu cukup berkesan pada kekuatanku.
“Ah, iya. Sekarang sudah lihat, ‘kan? Kalau gitu bisa keluar sekarang?”
Aku mengatakan hal tersebut, layaknya mengusir halus pada kak Dina.
“...”
Tapi, dia tidak menghubrisnya secara langsung. Responsnya begitu pasif layaknya, diam tetap fokus menatap sudut-sudut kamarku walau sebelumnya sudah keluar kesimpulan. Tapi, aku di sana mulai paham apa yang terjadi.
“Ivan, kenapa ada baju kakak di sini?” tanyanya yang berjalan dan memungut satu kemeja.
“Ah.”
Aku lupa, itu pakaian yang sebelumnya dipakai oleh Pero. Pakaian tersebut tergeletak di permukaan kasur dan terlihat begitu mencolok.
__ADS_1