
"Hng— Ah ...."
Aku merekahkan badan, membantingkan seluruh tubuh ke kasur sebagai ekspresi kelelahan. Sekarang aku ada di kamar, merebahkan diri dengan posisi terlentang untuk meredam seluruh rasa stres.
Huft ... hah ....
Aku tidak menyangka, hanya bicara saja ternyata terasa sangat melelahkan. Sekarang aku paham, kegiatan rapat adalah hal yang menguras energi begitu banyak. Walaupun sebelumnya aku memandang siksaan kegiatan rapat berasal dari gelombang emosi negatif yang menumpuk di satu tempat. Tapi, sekarang aku mengerti kalau rapat itu sendiri memang menyebalkan.
Percakapan di ruang makan itu terus berlangsung bahkan sampai makan malam tiba. Topik tersebut tidak menemukan titik temu, tetap membingungkan sampai akhirnya beberapa orang mulai bubar meninggalkanku sendiri berpikir di ruang makan. Aku tidak menyalahkan, lagi pula keberadaan banyak orang juga tidak terlalu membantu jika mereka tidak memberikan apa pun.
Ketika waktu terus berlanjut, makan malam pun akhirnya tiba dan mau tidak mau aku pun harus mengakhiri uji kumpul bukti. Anggota lain di sana sudah mulai muak, mereka juga menuntut untuk istirahat dan menyantap makanan.
Lalu, sekarang, di kamar sendiri menatap langit-langit, lelah tubuh tapi sulit untuk bisa tidur menutup mata. Makan malam memang sudah selesai, tapi baringku tidak tenang dengan otak yang terus bekerja sambil menunggu hari esok. Sebuah kondisi, bersama kelelahan di kamar tanpa mencapai kesimpulan.
Aku mencoba bertanya pada Farrel, Amalia, Azarin, dan Imarine sebagai perbandingan. Lalu, jawabannya seperti dugaanku, mereka semua punya sudut pandang dengan ingatanku sebagai murid. Tidak ada yang berbeda, mereka dan aku cenderung diatur dan tidak keluar dari kamar di waktu malam. Kami layaknya murid biasa, selalu digiring oleh pembimbing.
Orang kedua yang menemukan mayat Verdian adalah Imarine. Dia yang berteriak histeris keras hingga melengking di telinga. Di waktu pagi, suara tersebutlah yang memancing orang lain datang satu persatu ke ruang makan. Tapi, teriakan tersebut bagian dari latar yang sudah ditetapkan, aku dan orang lain tidak mendengarnya secara langsung, hanya terukir di ingatanku seperti itu.
Intinya, murid adalah orang yang paling lambat dan terbatas gerakannya.
Melihat semua ini, sepertinya akan sulit membuktikan siapa pelakunya hanya dengan mengamati pergerakan saja. Aku butuh sebuah katalis yang lebih baik lagi.
*Knock, knock ....
Hn?
Ketuk khas kayu terdengar, tepat dari arah pintu keluar kamarku.
Aku yakin kondisi kala itu pintu kamar masih terbuka. Jadi, jawaban silakan masuk sepertinya tidak tepat untuk dilontarkan.
Posisiku sendiri tidak mendukung untuk melakukan percakapan, terlentang dan sedang kesulitan mengarah pandangan ke pintu. Oleh sebab itu, hal lanjut pertama yang aku lakukan adalah bangkit dari terlentang menjadi posisi duduk.
"Ivan ...."
Bayang manusia terbentuk panjang memasuki kamar. Pintu terbuka yang awalnya memberikan sorot sisa lampu pun tertutupi oleh orang yang berdiri di sana. Hal tersebut bisa terjadi karena kamarku gelap tidak menyalakan lampu, sedangkan ruangan di lorong terang penuh memiliki sumber cahaya.
Awalnya, aku tidak dapat melihat sosok orang yang hadir di sana. Tapi, dari bentuk tubuh, suara, dan nada bicaranya, aku dapat kenal jelas siapa yang sedang menghadap.
"Ada apa, Ima?" jawabku dengan pertanyaan tanpa melirik gadis tersebut.
__ADS_1
"Aku, aku cuman mau ngomong sebentar. Kamu gak lagi sibuk juga, 'kan?"
*Turn On
Kondisi kamarku sekarang sudah lebih terang. Sesambilnya bicara, aku juga sempat untuk menarik saklar lampu yang ada di sana. Bukan teknologi LED, cahayanya masih berwarna kuning redup jenis lampu pijar. Jika harus aku bilang, ini adalah lampu yang sama yang ditemukan Edison dahulu.
"Heh, sayangnya semua hobi yang bisa kulakukan telah musnah sekarang," kataku sedikit canda memutar kalimat.
"Hmn ... jadi kamu punya hobi, iya?"
"Tentu saja, normalnya aku mengisi waktu luang dengan membaca atau menonton acara hiburan."
"Aku gak pernah lihat kamu kayak gitu."
"Karena memang dari awal aku gak pernah cerita caraku habisin waktu. Di sini gak ada sinyal, yang punya HP juga cuman kamu. Jadi, kamu boleh ngomong sekarang, tuan putri Imarine," kembali kataku sambil menggodanya sedikit.
"Kenapa posisiku jadi kayak yang ngemis?" tanya Imarine sambil menyipitkan matanya.
"Perasaanmu saja, perasaan memang suka menipu."
"Tch," decak lidah gadis berdada besar tersebut, dia mengeluh sesaat tapi dengan cepat melupakan kemarahannya dan masuk ke dalam kamarku.
"Kenapa? Kamu marah gara-gara harus peranin anak orang kaya yang manja? Heheh, aku masih gak bisa bayangin kamu bisa teriak histeris kayak di ingatan yang aku dapat."
"Gak usah kayak yang cemberut gitu. Sebenarnya kamu masih mungkin jadi cewek imut kalau misal sikapmu sama kayak waktu kamu bareng Azarin," jelasku memutar mata bicara tanpa memandang wajah gadis itu.
"..."
Hn?
Suasana menjadi diam, aku mendapat atmosfer canggung di mana Imarine tidak melanjutkan pembicaraannya. Lambat dia merespons disebabkan karena renungan, dia menundukkan kepala masih memikirkan masalah.
"Ivan," panggil Imarine padaku untuk kedua kali.
"Ada apa lagi?"
"Kamu ... kamu bisa selesaiin masalah ini sekarang?"
"Maksudmu tunjuk siapa pelaku pembunuhannya?" tanyaku memastikan.
__ADS_1
"Iya."
"Huft ... hah ...," hela napasku menunda sedikit kalimat. "Aku gak ada niat main-main di dunia ini kelamaan. Kalau bisa, aku juga mau selesaiin drama ini sekarang juga."
"Terus kenapa kamu gak bisa? Bukannya gampang kalau pakai kekuatanmu? Kamu bisa tahu orang lain bohong atau enggak, 'kan?"
"..."
Imarine ternyata berpikir seperti itu, kekuatanku yang tentang deteksi emosi ini dikiranya sangat berguna untuk menyelesaikan masalah.
Memang benar, aku dapat mendeteksi gelombang emosi. Ketika orang-orang berbohong, mereka akan merasakan sebuah rasa bersalah, efek balik, atau setidaknya perasaan panik kalau semisal kebohongannya terungkap. Itu sudah termasuk gejala fisik, normalnya tidak dapat disembunyikan dan sebenarnya bisa dipelajari secara keilmuan sains.
Akan tetapi, kasusku berbeda, kemampuanku berdasarkan hasil cocok mencocokkan. Mungkin aku bisa bilang hal itu benar adanya berdasarkan keterulangan hasil. Tapi, semakin hari aku mulai menemui banyak anomali, banyak keanehan hingga aku tidak dapat membaca emosi yang keluar dari orang itu secara jelas. Ditambah, dengan banyaknya kejadian, aku juga merasakan kalau kekuatanku semakin melemah.
Pero pernah bilang itu adalah hal baik. Dari awal, masalah utamaku adalah penderitaan di tengah sosial dengan kekuatan merepotkan. Tapi, di saat seperti ini aku malah merasakan kerugian karena tidak yakin dengan kekuatanku sendiri.
"Ima," panggilku dengan jeda cukup dalam. "Gimana kabar Azarin?" lalu lanjut dengan pertanyaan yang berbeda.
"Arin? Dia bukan pembunuhnya, 'kan?"
"Enggak, bukan," jawabku tegas dengan cepat. "Hmn ... setidaknya sampai saat ini."
Tapi, aku melanjutkannya dengan kalimat ambigu. Sedikit membuang muka dan merasa bersalah dengan keyakinanku sebelumnya.
"Terus, kenapa kamu tanya Arin sekarang?"
"Apa aku salah tanya sebagai teman sekolah?"
"Bukannya aku bilang buat jauhin dia sementara waktu?"
"Hn?" responsku mengerutkan alis sedikit berpikir. "Ah, iya. Aku ingat, kamu pernah bilang gitu dulu. Aku gak nyangka kamu masih pegang kata-kata itu dan masih pasang aturannya sampai sekarang."
Setelah mengakhiri kasus Imarine dan Azarin, aku dan Amalia mengisap mana mareka sebagai bentuk ritual. Mereka sudah mengetahuinya, terutama Imarine, dan setelahnya tidak ada masalah terjadi.
Tapi, di hari selanjutnya Imarine memerintahkanku untuk tidak berdekatan dengan Azarin untuk sementara waktu. Aku tidak dengar batas waktu secara jelas darinya. Dari sudut pandangku, itu tidak masalah karena dari awal aku tidak punya urusan penting untuk mendekati Azarin lagi.
Biarpun begitu ....
"Kenapa kamu suruh aku buat jauhin Azarin waktu itu? Dan ... iya, sekarang juga? Apa masalahnya sama kayak sebelumnya?" tanyaku sedikit penasaran, mencoba menggali sedikit masa lalu dan meminta penjelasan.
__ADS_1