
Salah satu fungsi peraturan diciptakan adalah untuk menambah efisiensi dan atau menyeimbangkan efisiensi tersebut. Perselisihan memang sering terjadi, layaknya memancing di satu kolam yang sama, itu dapat membuat iri orang yang dapat ikan lebih banyak dibanding dengan yang tidak.
“Wilayahku secara aturan animus meliputi setengah dari kota ini. Mungkin cukup luas bagimu, tapi sebenarnya itu wilayah normal. Lalu, beberapa hari aku dapat sinyal kalau animus lain masuk ke kota.”
“Sebelum lanjut, aku mau tahu gimana pandangan kalian para animus tentang wilayah? Apa masuk ke wilayah orang lain itu bentuk pelanggaran?”
“Benar, itu pelanggaran. Secara teknis tidak boleh ada dua animus di satu tempat yang sama. Ada juga kemungkinan kalau dia animus baru yang belum tahu tentang aturan. Jadi, aku bisa bilang ini juga cuman sebagai memastikan.”
“Haha, sistem pematok wilayah, iya. Kalian sekarang sangat mirip dengan hewan.”
“Hmn ... apa tidak apa-apa kamu bilang seperti itu, Kaivan,” ucap Pero sedikit sinis. “Konsep pembagian wilayah seperti ini sebenarnya juga dilakukan oleh para manusia.”
“Ah,” responsku sedikit tersentak ketika sadar akan perkataan tersebut.
Kepemilikan wilayah bisa diartikan sebagai perlindungan. Seseorang yang mengaku memimpin di satu wilayah berarti bertanggung jawab atas segala masalah yang ditanggung wilayah tersebut. Cerita umum ketika ada satu perwakilan yang mengaku petinggi datang melindungi suatu tempat ketika dilanda musibah.
Tapi, di saat yang sama kepemilikan wilayah juga bisa disebut keegoisan. Sesuatu yang paling umum adalah seperti mematok satu tempat sumber daya dan melarang orang lain datang mengambilnya, atau semisal butuh izin pada orang yang punya.
Iya, keegoisan tersebut juga dimiliki oleh manusia, atau bahkan manusia itu sendiri mungkin lebih parah. Bukan hanya membatasi wilayah sesama spesiesnya, tapi juga mempersempit banyak kebebasan dari makhluk lain.
“Oke, sekarang aku mengerti arahnya. Inti dari tugas kali ini adalah investigasi identitas penyusup di wilayahmu. Untuk jaga-jaga, Amalia sekarang perlu kekuatan tempur kalau misal ada kemungkinan buruk.”
“Iya,” jawab Pero sesambil menyunggingkan senyum kecil. “Aku senang lawan bicaraku cepat mengerti dalam berbagai hal.”
“Aku sendiri tidak masalah di sini, malah kalau kalian terkena masalah kemungkinan besar aku juga menjadi korban. Tapi,” sambil melirik ke samping aku melanjutkan bicara. “Amalia, apa kamu siap buat tugas itu?”
“...”
Walaupun aku bilang kalau dirinya siap secara kemampuan luar, tapi belum tentu mentalnya demikian. Tidak peduli seberapa besar kekuatan yang dia punya, dirinya sekarang ada di dalam tubuh seorang gadis bisu.
Aku gak apa-apa, aku mau bantu kalau aku bisa.
Tulisnya di catatan sambil memperlihatkannya padaku.
“Hmn, oke kalau gitu.”
Ada perasaan malas atau tidak ingin terlibat terlalu dalam sama halnya dengan yang dialami Amalia sekarang. Dirinya juga punya sesuatu yang menjanggal di mana tidak ingin menghadapi sebuah masalah. Tapi, ada juga perasaan lain, penasaran kuat di mana aku ingin melihat dunia sihir yang selama ini tidak pernah kulihat.
Aku ingin tahu bukan karena penasaran saja, melainkan punya tujuan lain dengan menghilangkan rasa takut dan mengetahui segala kemungkinan yang ada. Dengan hal tersebut, aku bisa punya banyak pilihan ketika ada masalah melanda.
“Semua sudah dipastikan, kalian mau membantu untuk kasus ini. Secara tidak langsung kalian menyetujui perintahku sekarang, ‘kan?” ucap Pero dengan yang sepertinya mengira telah mendapat kesepakatan.
“Itu bukan sikap seseorang yang mendapat kebaikan. Tapi, ah ... terserah, bilang saja cepat apa yang kamu mau sekarang.”
__ADS_1
“Oh, ini tidak seperti kamu yang biasanya, Kaivan. Apa sesuatu terjadi belakangan ini?”
“Stop,” jawabku sedikit sinis. “Fokus saja ke topik barusan.”
“Ah ... baiklah, aku tidak punya hal mengatur privasimu. Lagi pula, aku senang kamu mau ikut ke dalam kasus ini. Karena sebelumnya, aku berpikir kalau kamu akan bilang sesuatu seperti, ‘ini bukan urusanku’, ‘itu tidak ada hubungannya dengan mengumpulkan mana’, ‘heh, tidak ada gunanya juga aku ikut kalian’ atau sesuatu seperti ... ‘kenapa aku harus membereskan kekacauan yang bukan disebabkan olehku’.”
“...”
Pero yang punya nada bicara dingin dan tenang layaknya air mengalir mencoba mengubahnya, dia meniru cara bicaraku dengan sedikit memberatkan suara dan bicara layaknya orang malas. Itu sedikit menyebalkan karena aku bisa melihat cerminan diriku di sana. Bukan ke arah tersinggung karena dia menjelekkanku, tapi lebih ke arah kesal karena aku menghadapi kemungkinan perkataanku sendiri sekarang.
“Aku mungkin punya pikiran seperti itu. Tapi, keputusanku selama ini juga karena terpengaruh oleh kekuatanku, kekuatan yang memaksaku untuk menjadi babu semua orang. Perubahan emosi negatif ketika menolak permintaan orang lebih menyiksaku dengan arti sebenarnya.”
“Ah ... iya, iya ... kamu yang dulu lebih memilih kabur menjauhi emosi negatif, memilih tidak berurusan dibanding menyembuhkan orang itu. Iya ... aku tahu, karena aku pernah melihatnya. Benar, bukan—“
“Pero,” potongku dengan cepat dengan nada yang benar-benar sinis mencoba menghentikannya. “Satu kalimat lagi tentangku dan aku akan keluar dari rencanamu sekarang.”
“Ehehe ... baiklah, aku tidak akan bicara lagi. Lebih baik kita bicara tentang rencana.”
“...”
Aku mencoba tenang, tidak terpancing emosi lebih jauh lagi hanya karena perkataan yang sebenarnya tidak benar-benar salah.
*Poke, poke
Sentuhan kecil kurasakan, ada sesuatu yang menarik-narik di tangan mencoba mencari perhatian. Arahnya berasal dari Amalia, layaknya seorang anak-anak, dia juga mungkin ingin masuk dalam percakapan walau dalam kondisi tidak dapat bicara.
Apa kamu marah? Kenapa ...?
“...”
Tapi, sesuatu yang membuatku lebih kesal adalah hal yang berlanjut seperti ini. Sudah kubilang untuk tidak memberikan pertanyaan lebih tentangku lagi, tapi gadis ini malah dengan cepat melanggar hal tersebut.
Orang yang dalam keadaan simpang siur ketika ditanya seperti ini malah berefek negatif, dia yang sedang ingin melupakan dan membawa alir masalah malah dibuat ingat kembali. Intinya, pertanyaan seperti ini di waktu buruk akan membuat marah.
“Enggak, aku gak marah ... jadi berhenti tanya itu sekarang.”
Gelombang emosi dari Amalia sedikit mengganggu lagi, kebingungan dan rasa khawatir membuatku merasakan sirsak asam sambil menaiki atraksi wisata anting-anting. Tapi, baiklah ... kembali lagi aku berusaha mengabaikan itu.
***
Pembicaraan kami di sana pun berlanjut ke arah yang lebih serius. Aku mendesak untuk langsung ke intinya di mana memang arahnya adalah tentang rencana inti dari tugas investigasi.
Awal dari kesulitan yang kami temui adalah penyampaian titik di mana area yang dicurigai telah kedatangan penyusup. Secara teknis, Pero bisa mengetahui di mana detailnya si penyusup itu datang. Tapi, semua itu menggunakan sihir, bukan teknologi atau sesuatu yang canggih bersifat manusiawi.
__ADS_1
Masalah yang dinyatakan adalah bagaimana dia menjelaskan tempat berbeda dengan kami para manusia. Dia tidak bisa membaca peta, dia tidak bisa melihat monitor hasil dari GPS karena pandangannya berbeda dengan manusia normal. Intinya, apa yang dia lihat berbeda denganku membuat ini semakin sulit.
Tapi, arah secara kasar dia tahu, jadi tidak ada pilihan selain membawanya bersama dalam perjalanan.
Pero sendiri bilang kalau wujud manusianya sangat terbatas, itu artinya dia tidak bisa berkeliaran dalam bentuk manusia. Tapi, menurutku itu lebih memudahkan, membawa hewan akan melewati aturan yang dibuat manusia, contoh paling umum adalah wujud gagaknya bisa membuatku lolos dari pembayaran tiket transportasi.
Investigasi dimulai dengan kepergianku membawa rantang kandang burung gagak untuk Pero yang menunjukkan arah. Dia setidaknya sangat yakin kalau penyusup tersebut datang dari arah utara kota, dan aku hanya perlu mengarah ke sana secara acak layaknya mencari harta menggunakan metal detektor.
Tapi, satu hal yang paling membuatku sedikit ragu adalah syarat yang diberikan Pero kala itu.
“Kita akan mulai hari ini, kalian pulang dulu dan siap-siap berangkat sore ini.”
“Sekarang? Kenapa? Bukannya lebih enak berangkat besok pagi dan sampai waktu siang?” tanyaku yang mempertanyakan keputusan sepihak tersebut.
“Tidak, Kaivan. Justru letak investigasi ini adalah masalah timing,” jawab Pero sedikit membantah.
“Timing? Aku gak tahu tepatnya kayak gimana, pergi malam itu lebih merepotkan.”
Waktu malam bukan hal yang tepat untuk bepergian dalam jarak setengah-setengah seperti ini. Di kotaku, cukup banyak transportasi yang meniadakan pelayanannya saat malam. Sesuatu yang tersisa lebih banyak pelayanan perjalanan antar kota. Selain lebih sulit, ada kemungkinan kami akan tersesat dan terjebak dalam kegelapan malam dan tidak dapat pulang.
“Kalau kamu bertanya tentang uang, tidak perlu khawatir. Aku yang akan membayar, semua biaya dari transportasi sampai hotel.”
“Huh?”
Rasa bingungku sekarang bertambah, dari menyinggung sisi tidak efektif menjadi ke arah tidak mengerti.
*Whoush ....
“Ghkuah!?”
Dan sepertinya Amalia di sisiku juga merasakan hal yang sama, gelombang emosinya berubah cukup kuat ketika mendengar kalimat yang diutarakan Pero barusan. Ternyata dia juga dalam posisi di mana informasi ini masih baru.
“Tenang ... aku mengerti, kalian masih di bawah usia untuk mendapatkan uang sendiri. Jadi, aku akan menahan semua ini karena peristiwa ini juga adalah permintaan pribadiku,” lanjut Pero menjelaskan.
“Hknmm! Hah ...,” responsku yang berusaha menstabilkan diri dari gelombang emosi. “Bu-bukan itu masalahnya. Hah, hah ... kenapa harus menyewa hotel?”
“Aku merasakan batas sihirku dilanggar pada saat malam hari sekitar jam dua malam. Jadi, kemungkinan besar animus yang kita hadapi ini nokturnal.”
****
__ADS_1