
*Cring, Kring, Krek, krek.
Lingkaran sihir itu melebar, berpindah ke samping mereka, lalu mengunci Imarine dan Azarin. Tidak lama kemudian, muncul serat cahaya dari lingkaran sihir tersebut. Benda itu mengalir mengikat setiap ruas tubuh sambil perlahan membuat mereka tertidur.
*Ngiiing .....
Entah dari mana asalnya, tapi area sekitarku tiba-tiba muncul cahaya indah. Layaknya efek kaleidskop, cahaya tersebut menyinari kami berempat dengan warna beragam. Merah, biru, hijau, ungu, nila, kuning, dan putih.
“...”
Tapi, Amalia mengabaikannya. Dia lebih fokus pada apa yang dilakukannya.
*Whoush, wshoush ....
Gelombang emosi mulai bermunculan, cahaya kaleidskop bergerak berhamburan. Sangat indah dengan campuran warna-warni pelangi. Lingkaran-lingkaran cahaya layaknya lampu disco menyebar ke seluruh sisi gedung. Ini adalah detik-detik mereka diambil mana-nya, walaupun aku sedikit khawatir bagaimana caranya pemandangan ini tidak dilihat oleh orang lain.
Berlangsung beberapa detik, secara perlahan muncul aliran yang bersinar keluar dari tubuh kedua gadis itu. Arah laju aliran tersebut sedikit meliuk-liuk sebelum akhirnya masuk ke dalam botol milik Amalia.
Setelah semua aliran itu habis, cahaya-cahaya kaleidskop dan lingkaran sihir pun ikut menghilang secara perlahan. Kedua gadis yang terikat oleh serat cahaya juga mendarat ke tanah dengan mulus. Untuk sementara Amalia membaringkannya bersandar dinding gedung.
“...”
Hn?
Kami sedang menunggu Imarine dan Azarin terbangun. Di saat seperti ini Amalia terus memandangi botol sihir yang dia pegang.
“Ada apa? Ada yang salah sama botolnya?”
Dari yang kulihat, botol itu mengeluarkan warna merah mudah. Cahayanya cukup terang, sama terangnya dengan cahaya kaleidskop sebelumnya yang bisa menerangi seluruh area belakang gedung ini.
“...!?”
Terkaget Amalia yang mendengar suaraku.
“...”
Eh?
Namun, tindakan selanjutnya lah yang membuatku sedikit tersinggung. Amalia memandangiku dengan wajah kesal sekaligus waspada, dia mundur satu langkah sambil menutupi dadanya dengan kedua tangan.
Apa dia masih membahas itu lagi?
“Aku ‘kan sudah minta maaf, jadi jangan takut kayak gitu.”
Sejak dipukul oleh Amalia di bawah jalan tol itu, aku sudah beberapa kali mengirim pesan permintaan maaf. Awalnya gadis itu mengabaikanku, tapi setelah beberapa penjelasan dan waktu rehat oleh hari libur, akhirnya kami mulai melupakan hal tersebut.
Maaf ... aku sedikit refleks waktu lihat cahaya di botol ini.
Tunjuk catatannya padaku.
“Memangnya ada apa dengan cahaya botol itu? Memang sih cahayanya sedikit beda kayak sebelumnya, terus itu tuh artinya apa?” Tanyaku.
Amalia menulis sesuatu di catatannya. Dia cukup fokus mendalami catatannya, tapi ....
*Srek.
Hng?
__ADS_1
Kertas catatannya disobek. Berbeda dengan tindakan dia biasanya yang hanya membuka halaman baru ketika salah menulis. Kali ini gadis itu mencabut lembar buku itu untuk menghapus jejak tulisannya.
Amalia yang sudah meremukkan kertas tadi dengan genggaman tangannya pun berlari ke tempat sampah terdekat untuk membuang kertas itu. Di sana dia juga terlihat menulis kembali catatannya, dan kembali lagi padaku untuk menunjukkannya.
Maaf, aku juga gak tahu.
“...”
Enggak, enggak. Kamu sudah jelas tahu penyebabnya.
*Whoush ....
Geh.
Gelombang emosi, rasa asam sedikit pahit.
Aku tidak perlu kekuatan ini untuk mengetahui kebohongannya. Dia yang menulis panjang di kertas tadi itu adalah bukti kalau sebenarnya Amalia tahu. Entah kenapa rasanya cukup menyebalkan dimanjakan oleh kekuatan ini. Seperti melihat guru SMA yang mendiktekan pelajaran dengan sangat pelan.
Sepuluh menit berlalu, Imarine terbangun lebih dulu dari Azarin. Aku tidak tahu alasan dia sadar lebih dulu, justru jeda waktu tersebut kupakai untuk menjelaskan sisa cerita pada Imarine. Segala hal yang belum kuberi tahu tentang pengumpulan mana padanya.
Imarine sendiri kembali menerimanya tanpa curiga. Gadis itu terus mengangguk, perkataanku seakan membuatnya sadar alasanku perhatian pada masalahnya sekarang.
Tak lama setelahnya, Azarin juga mulai bangun. Dia masih menghindar dariku untuk alasan yang tidak diketahui. Tapi, satu hal yang pasti adalah dia tidak marah, stres, maupun benci padaku. Setidaknya itu sudah cukup agar dia tidak memberiku rasa sakit.
Imarine dan Azarin mulai pamit untuk pulang lebih dulu. Sebagai bentuk reuni sahabat, mereka minta untuk ditinggal berdua. Kedua gadis itu sudah berjalan jauh di depan meninggalkan kami.
“Ah,” ucap Imarine yang menghentikan langkah sambil berbalik. “Amalia ...!?” panggil Imarine dari kejauhan, “Bisa kamu ke sini sebentar?”
Amalia yang mendengarnya pun mengangguk dan berlari menghampiri mereka. Aku bisa melihat Imarine membisikkan sesuatu pada Amalia. Tentu saja jarak yang jauh tidak memungkinkanku mendengarnya.
Reaksi Amalia sedikit terbata-bata, dia membuat wajah kaget sambil menggeleng-geleng. Berbeda dengan Imarine yang terus tersenyum sambil tertawa.
Aku berjalan maju mendekati Amalia, tapi ....
*Whoush ....
Hmn?
Gelombang emosinya terasa manis dan gurih, lebih pekat daripada aroma stroberi yang biasa kurasakan padanya.
“Kamu barusan ngomongin apa—”
*Whoush ....
Hng!?
Namun, dengan cepat gelombang emosi itu berubah menjadi kemarahan.
*Fush
Amalia melakukan gerakan memukul menggunakan buku catatannya. Aku yang sadar akan hal itu pun dengan cepat melangkah mundur untuk menghindar.
*Whoush ....
Kali ini gelombang rasa malu.
Amalia membeku dengan gerakan memukulnya yang meleset. Perasaan tersebut sampai padaku sekarang. Tapi, setelah beberapa detik berlalu, dia akhirnya menarik buku itu dan mulai menulis.
__ADS_1
Kenapa kamu menghindar?
Tunjuk tulisannya dengan wajah sedikit kesal mengembungkan pipi.
“Normalnya semua orang itu menghindar kalau dipukul. Dan harusnya juga aku yang nanya di sini ... kenapa kamu mukul aku barusan? Apa ini masih soal *** dadamu waktu itu?”
*Whoush ....
“...”
Perubahan emosinya yang terus-menerus membuatku kesal.
Bugkh.
Pukul Amalia pada kepalaku menggunakan buku catatan. Berbeda dengan sebelumnya, kali ini aku tidak bergerak sama sekali dan sengaja membiarkan serangan itu menghantamku.
*Srek.
Dan akibat kekuatan pukulan tersebut, dua halaman dari catatan itu sobek hingga terlepas dari pengaitnya.
“...!?”
Amalia terkaget melihat kekacauan yang terjadi. Memang benar buku catatan tersebut tidak hancur, tapi kerusakan yang diterimanya cukup memprihatinkan.
Kenapa kamu gak menghindar?
Huh?
“Kamu mau apa? Aku menghindar atau aku diam?” tanyaku sedikit kesal pada Amalia.
Sebelumnya aku menghindar sebagai bentuk pertahanan diri. Tapi, barusan aku sengaja menerima serangannya dengan maksud meredam amarah Amalia. Membiarkan orang memukulku terkadang memang ampuh. Akan tetapi, hal tersebut tidak berlaku sekarang. Layaknya bom bunuh diri, pukulan tersebut lebih berdampak pada Amalia sendiri.
Aku maunya kamu gak bahas kejadian waktu itu lagi.
“Kejadian yang mana? Yang remas dada itu?" tanyaku dengan nada memancing.
Jangan bilang remas dada lagi.
Tulisnya dengan wajah kesal.
“Tenang ... kalau pun aku mau pegang tonjolan itu, aku lebih milih yang besar kayak punya Ima.”
*Whoush ....
Eh?
Gelombang emosinya kali ini di luar perkiraanku. Amalia tersinggung dengan kalimatku barusan. Bukan lebih ke menertawakan atau marah. Ini lebih pada kecewa, sedih, dan cemburu.
Cih, rasanya bahkan lebih tidak enak daripada kemarahan yang hanya terasa pedas. Terlebih Amalia punya sensitivitas tinggi pada kekuatanku.
“Aku cuman bercanda ... punyamu juga hebat, kok. Entah kenapa dada cewek yang kecil juga masih kerasa empuk—”
Bugkh.
Lagi-lagi pukulan telak ke arah kepala menggunakan catatan. Hal itu membuat kertas kembali berhamburan ke mana-mana. Ekspresi marah yang campur aduk dengan rasa malu terukir di wajahnya.
Tentu saja ... itu reaksi yang normal.
__ADS_1