
Lima menit berlalu, dan gadis di sampingku tetap tidak mengatakan apapun untuk membuka percakapan. Memang benar kalau aku di sini atas keputusanku sendiri, tapi rasanya sedikit berat jika menanggung beban untuk terus memulai percakapan.
“...”
Yah, sebenarnya juga kurang tepat jika aku sebut membebani. Keperluan untuk mencari tahu latar belakangnya ada padaku, sampai sekarang informasi tentang sebab pem-bully-an itu masih dia rahasiakan. Oleh sebab itu, komunikasi yang lancar sangat diperlukan untuk membangun kepercayaannya.
Miaw ....
Hn?
Seekor kucing lewat di depan kami. Hewan itu berukuran sedang untuk jenisnya, mungkin umurnya ada di fase dewasa muda. Dengan kondisi bulu yang bagus untuk kucing jalanan, makhluk berkumis itu punya tiga warna corak di tubuhnya, yaitu jingga, putih, dan hitam.
Kucing tersebut berjalan mendekat, atau lebih tepatnya mendatangi Imarine di sampingku. Dia tertarik dengan menu bekal gadis tersebut yang sepertinya didominasi daging. Tentu saja dia tidak akan tertarik dengan roti tawar milikku.
Miaw ....
Kembali mengeong, kucing itu menatap dengan mata bulat untuk memelas untuk diberi makan. Aku sendiri tidak membenci tindakan hewan-hewan yang seperti itu. Jika aku punya makanan untuk dibagi, maka dengan senang hati kuberikan.
Tapi, untuk sekarang aku berharap kalau Imarine tidak mengusirnya dengan tendangan keras—
“Ck, ck, ck ....”
Decak mulut Imarine memanggil kucing itu mendekat. Sambil memegang potongan daging kecil, gadis itu menerima permintaan kucing tersebut.
“...”
Woah ....
“Ternyata, orang kayak kamu juga suka kucing,” ucapku.
“Tidak ada orang di dunia ini yang bisa membenci kucing.”
“Ahaha ... aku harap juga begitu, tapi nyatanya tidak. Banyak orang yang gak suka kucing karena alergi atau bahkan mereka yang sering ganggu orang makan.”
Kucing itu sudah tepat di kaki Imarine. Tapi, gadis itu tidak kucing melepaskan umpannya. Dia cenderung membiarkannya di tangan hingga kucing tersebut harus menjilati dan menangkapnya sendiri dari tangan Imarine.
Kucing memakan umpan itu hanya dalam hitungan detik, selanjutnya dia menengadahkan kepala ke atas untuk meminta kembali. Walaupun itu hal yang biasa terjadi, tapi sebenarnya itulah penyebab utama orang tidak memberinya makan.
Imarine tidak mengambil potongan daging yang kedua, ia malah memberikan sedikit bumbu masakan tersebut melalui sendok untuk diteteskan ke jarinya. Dengan jari tersebut, gadis itu kembali memberikan umpan pada kucing.
*Jilat, jilat.
Yah, itu yang mungkin terjadi. Kucing tersebut menjilati tangan Imarine, itu sudah niatnya dari awal. Bahkan karena jilatan kucing itu, aku bisa merasakan sedikit kebahagiaan keluar dari dalam tubuhnya.
Nada suara Imarine sedikit melembut sejak kucing itu datang. Bahkan aku di sini diperlakukan lebih buruk dari kucing tersebut.
“Aku cuman mau kasih tahu ... kucing yang di sana itu laki-laki.”
Bisa kuketahui karena kucing itu menunggingi dan memperlihatkan buah zakarnya.
“Memangnya kenapa?”
__ADS_1
“... Enggak, gak apa-apa.”
Tentu saja, dia tidak akan mengintimidasi hanya karena kucing tersebut seorang pejantan. Lagi pula, aku tidak tahu arti ucapan dia ketika dia bilang membenci laki-laki.
Jilatan kucing itu berhenti. Tidak terlalu lama karena sepertinya hewan itu melakukannya karena rasa penasaran. Namun, kucing tersebut tidak kunjung pergi. Dia lebih memilih duduk di samping kaki menemani Imarine makan.
“Kamu suka lidah kucing?” tanyaku pada Imarine.
“Tidak ada yang bisa menahan diri dari jilatan pipallae-nya kucing.”
“Oh, jadi itu nama bagian tajam di lidah kucing?”
“Yah.”
“Hmn ...,” dengungku merespons perkataannya. “Tapi asal kamu tahu, duri-duri kecil kayak sikat di kucing itu bukan cuman di lidahnya.”
“Memangnya iya? Kalau gitu ada di mana lagi?”
“Di penisnya.”
“...”
Imarine diam tidak menjawab. Ada sedikit rasa aneh di gelombang emosinya.
“Kenapa? Bukannya kamu suka pipa— apa gitu yang tajam di kucing?”
“Hah ...,” napas panjang Imarine. Nada suaranya kembali kasar sama seperti sebelum kucing itu datang. “Kok ada saja orang yang ngomong santai ke cewek tentang itu.”
“Kalau gitu jangan bahas tentang itu!”
“Aku masih gak ngerti tentang itu tuh tentang apa, menurutku barusan itu pembahasan menarik.”
“...”
Imarine menatap sinis. Untuk beberapa alasan aku tidak menghiraukan tatapan itu, gelombang emosi yang dia buat sekarang tidak terlalu mengancam seperti ketika dia ingin memukul.
“Oke, kita ganti. Kamu maunya apa? Bahas ras kucing, bahas bulunya? Makanannya? Atau kamu punya kucing di rumah?”
“Terserah, apa pun selain yang barusan.”
“Ahaha ... aku gak nyangka kamu mau banget ngobrol sama aku sampai nyaranin ganti topik.”
*Grek.
Suara kursi yang tergeser keras secara mendadak. Di sana aku sedikit terkejut karena mengikuti kepanikan kucing barusan, hewan itu berlari cepat lewat di belakangku.
“Heh,” hentak napas di hidungnya untuk intimidasi. “Aku gak pernah bilang kalau aku mau ngobrol sama kamu,” lanjut ucapnya sambil pergi meninggalkanku.
“...”
Responsnya tidak imut sama sekali. Aku harap dia sedikit terbata-bata untuk menunjukkan kalau hubungan kami sudah berkembang.
__ADS_1
Hah ....
Jika seperti ini terus, mungkin depresinya akan membesar sebelum dia memberi tahu latar belakang kasus pem-bully-annya. Kira-kira apa yang salah dari perbuatanku, apa yang kulakukan sudah cukup benar untuk menghibur orang depresi?
Setelah Imarine pergi, untuk beberapa saat aku diam di tempat itu. Menghabiskan semua bekalku sambil bermanja dengan kucing jantan tiga warna barusan.
Istirahat makan siang masih bersisa setengah jam lagi, aku tidak akan bisa menikmati kesendirian jika langsung kembali ke kelas. Bangunan tak terpakai ini terletak jauh dari kelasku dibanding kamar mandi tempat biasa aku menyendiri, tapi sebagai gantinya situasi di sini sangat bersih dari gelombang emosi.
Bel pulang sekolah berbunyi, seperti biasa aku diam di ujung teras lantai dua menikmati angin dan menunggu sekolah sepi di balkon tersebut.
Farrel barusan sudah pamit duluan pulang. Terkadang dia tidak mengajakku ngobrol dan lebih memilih pergi menyimpan waktunya. Mungkin itu artinya dia juga punya kehidupannya sendiri.
“...”
Setiap pulang sekolah, aku meminta Amalia untuk mengawasi Imarine dan memastikannya pulang dengan selamat. Untuk beberapa alasan, masuk ke keramaian sewaktu pulang sekolah itu lebih berat dibandingkan ketika istirahat makan siang. Baik dari jumlah orang maupun jenis gelombang emosi mereka.
Duut, duut ....
Hn?
Amalia : Ivan, cepat, Imarine mau berangkat buat ketemu mereka. Dari arahnya mungkin dia bakal ke WC cewek kemarin.
“...”
Sudah kuduga suatu saat pasti akan seperti ini. Imarine sendiri tidak membantah atau pun mencoba berlindung dari ketiga orang itu.
Selain penyerangan waktu di toilet, aku tidak tahu apa yang mereka lakukan untuk mengintimidasi Imarine, oleh sebab itu aku terus mengawasinya selagi istirahat makan siang. Tapi, sepertinya si pem-bully ini memilih waktu pulang sekolah untuk menghindari keramaian.
Kaivan : Oke, aku ke sana.
Setelah mengirimkan pesan itu, secepat mungkin aku pergi ke toilet kantin. Kondisi di sekolah sudah cukup kondusif, jadi aku tidak terlalu menderita sekarang.
Ketika sampai, aku tidak merasakan gelombang emosi depresi milik Imarine. Tapi, entah kenapa aku merasakan gelombang yang berbeda dari dalam toilet tersebut.
Sepertinya si pelaku sudah siap, dan aku cukup waktu untuk mendahului sebelum Imarine datang.
Berdiri di pertigaan, aku bersandar di tembok menunggu kedatangan gadis depresi itu. Dan tidak sampai lima menit, gelombang emosi berbau sampah organik akhirnya bisa kurasakan.
“...”
“...”
Kami saling bertatapan, Imarine melihatku dengan bingung tercampur rasa marah.
“Kenapa kamu di sini?” Tanya Imarine.
“Maaf, harusnya aku yang bertanya ... kenapa kamu di sini, Ima?”
__ADS_1