
"..."
Aku tidak tahu sudah berapa lama berdiam diri dalam posisi terlentang dipeluk seorang gadis. Di detik ini, aku dapat merasakan ujung kakiku keram, mulai mati rasa karena ditindihi beban merata sekitar empat puluh kilogram. Akibatnya, aku masih tidak bisa tidur nyenyat, atau bahkan memang aku sendiri yang berpikir tidak boleh tidur di keadaan ini.
"Hh ... hufh ... hh ... hufh ...."
Napas lembut terdengar menggema ditelingaku, suaranya stabil dan halus. Bersama dengan kembang kempis perut dari tubuh yang menindihi, di sana aku bisa merasakan kalau Amalia sudah tertidur pulas.
"Amalia," coba panggilku padanya.
"Hh ... hufh ...."
Tapi, dia tidak menjawab.
Mungkin ada kemungkinan dia memang tidak ingin menjawab. Akan tetapi, aku bisa tahu kalau dirinya sekarang memang sedang tertidur. Normalnya, orang yang akan dipanggil setidaknya akan bereaksi kecil, respons yang bisa mengganggu ritme tubuhnya. Tapi, Amalia kala itu tetap abai, napasnya stabil seakan tidak ada apa pun dariku.
Oke, baiklah. Mungkin sudah saatnya aku keluar dari sini.
Dari posisi ini, mungkin akan sedikit sulit. Mau tidak mau, aku akan perlu menggerakkan tubuh Amalia agar bisa bebas dari tindih badannya.
Tangan kiriku yang dia cengkeram sebelumnya sudah melemah. Aku bisa meloloskan diri dengan mudah karena dirinya tidak menggunakan tenaganya lagi. Tangan kanan sejak awal sudah bebas, aku menggunakannya sebagai modal awal untuk mengangkat tubuh Amalia.
Perlahan, cukup hati-hati, aku mulai menggunakan tangan kananku. Dimulai dari dorongan di bahu gadis tersebut, aku mencoba membebaskan bagian atas tubuhku.
Tangan, bahu, kepala, dan sebagian tangan kiri mulai bisa aku gerakan. Badan Amalia yang terangkat sedikit dari tubuhku mulai memberikan ruang, kini aku bisa menggeser sedikit demi sedikit dan membiarkan gadis tersebut tetap tidur di kasur.
Amalia sendiri sepertinya tidur benar-benar pulas. Aku hampir tidak merasakan dirinya terganggu ketika aku menggerakkan badannya. Tapi, sebenarnya serangan yang cukup berat ketika aku berusaha lepas dari ikat kakinya. Dia yang menaruh kaki di antara selangkanganku membuat banyak daerah sensitif tersentuh. Biarpun begitu, syukur tidak ada hal yang benar-benar buruk terjadi.
Aku sekarang sudah bebas, berdiri dengan normal di samping kasur yang sekarang terdapat gadis tertidur.
"..."
Sebelum pergi meninggalkan kamar, sempat sesaat aku melihat Amalia yang tertidur pulas di kasur tersebut. Jarinya bebas, menekuk sedikit dan menutupi mulutnya, itu terlihat imut. Ujung rambut pendek yang terurai, menyapu pipi dan memperlihatkan sedikit telinganya, itu juga terlihat imut. Pakaiannya yang sedikit terangkat, terbuka menunjukkan sekitar lima senti permukaan kulitnya, terlihat imut. Kembang kempis dadanya, membuka terlentang mengarah padaku, terlihat imut.
Sampai terakhir ....
"Hh ... hufh ... hh ... hufh ...."
Suara hela napasnya yang terdengar seperti setengah bersiul, terasa begitu imut.
Dari sudut ini, aku hanya bisa melihat gadis cantik yang sedang tertidur. Walaupun sebelumnya dia melakukan hal gila, entah kenapa aku tidak mempedulikannya lagi. Mungkin inilah rasanya, rasa ketika orang tua yang melihat keimutan anak kecil tidur pulas setelah semua kenakalan yang dia lakukan.
Walaupun ada sisi berbeda di mana aku sekarang sedang berhadapan dengan gadis yang hampir saja menekan saklar berahiku.
*****
*Ceklek ....
Aku keluar dari kamar tersebut, meninggalkan Amalia di sana sendirian.
Huft ... hah ....
Gedung penginapan ini secara fisik dibangun sangat luas. Aku bisa mengerti karena memang dari awal pemiliknya adalah keluarga orang kaya. Mereka mematok tanah begitu luas, membuat aku bisa berjalan selama satu menit hanya untuk menelusuri lorong.
Kamar ruangku cukup luas, dan di sejajar lorong lantai dua pun masih terdapat beberapa kamar kosong yang tidak dipakai. Jika ditotal, masih ada lagi lorong di sisi gedung berlawanan untuk kamar perempuan yang dibatas oleh aula tengah. Jadi, jika menghitung keseluruhan luas, ada kemungkinan kalau suara gaduh barusan tidak terdengar jelas oleh penghuni penginapan lainnya.
"Kaivan ...."
__ADS_1
Aku mendapat sambutan dari gadis lain. Dia sedang berdiri bersandar tepat di sebelah tangga turun menuju aula. Gadis berdada besar yang sekarang berperan sebagai anak keluarga konglomerat.
"Ada apa, Ima?" tanyaku yang menghentikan langkah.
"Jadi, kamu sudah sampai mana? Sudah kamu apain saja dia?"
"..."
Wajahku sedikit mengerut kesal mendengar kalimat tersebut dari Imarine. Dia bertanya seakan aku adalah orang jahat dan memberlakukan kemungkinan terburuknya.
Aku memang tidak menyalahkan. Setelah kejadian luar biasa yang dia lihat barusan bersama Amalia, wajar kalau dia mempertanyakan hal ini. Tapi, aku tetap tersinggung dengan caranya, dia seakan meremehkan seluruh usahaku untuk menghindar dari kejadian yang diinginkan tersebut.
Baiklah, mungkin ini juga salah satu karma. Aku juga dulu sering membuat gadis itu kesal dengan caraku sendiri memainkan kata-kata.
Huft ... hah ....
"Aku gak ngapa-ngapain. Amalia sudah tidur, dan aku sekarang mau ngungsi ke kamar lain," kataku menjelaskan hasil akhir.
"Ke kamar Amalia?"
"Enggak," jawabku dengan tegas. "Lagian, aku juga gak bisa ke sana karena aturan, laki-laki dilarang ke area perempuan."
Aturan itu memang tidak diumumkan secara resmi saat aku datang. Hal tersebut lebih seperti menjadi sebuah aturan tidak tertulis di mana ingatanku bilang kalau tokoh-tokoh yang kami perankan pernah membahas hal itu.
"Cewek di sini gak banyak, Ivan. Semuanya kenal kamu, dan gak kayak peran di cerita yang kita mainin, cewek yang sekarang lebih terima kamu," kata Imarine meyakinkan.
Memang benar. Dari cerita yang menjadi plot utama, seharusnya para lelaki dan perempuan punya hubungan yang tidak terlalu baik. Bisa dibilang kalau perempuan cukup tertutup dan dijaga ketat oleh guru dari sentuhan para murid laki-laki.
Tapi, ketika aku dan pemain lain memainkan peran. Latar tersebut berubah menyesuaikan dengan hubungan sosial kami yang sekarang.
"Iya," jawab Imarine tanpa ragu. "Tapi, aku gak sampai mau kamu tidur di kamarku."
"Ah, iya, aku juga gak butuh bantuan kayak gitu."
Kak Dina seharusnya sebagai pengawas dan menjaga ketertiban tersebut. Tapi, sepertinya hari ini dia tidak hadir. Mungkin wanita tersebut sedang menyendiri di kamarnya untuk istirahat dari penat lingkungan kelam ini.
"Terus, sekarang kamu mau tidur di mana?" tanya Imarine yang masih penasaran.
"Paling Farrel," kataku yang menentukan solusi paling baik, lanjut berjalan yang ingin segera menyelesaikan masalah tersebut. "Makanya aku mau ke bawah buat bilang sama dia—"
*Grip
"Hn?"
Tapi, di sana Imarine memegang ujung bajuku. Tidak seperti pegangan yang lembut dengan jepit jempol, melainkan dia menggenggam kuat dengan seluruh jari tangannya.
"..."
"Kenapa lagi, Ima?" tanyaku yang terhenti langkahnya dan menengok ke belakang.
Jujur saja aku sudah lelah dengan semua ini. Lagi-lagi banyak hal yang terjadi di waktu singkat satu hari. Ini membuat otakku juga penat dan ingin segera istirahat. Tapi, selalu saja ada yang mencegahku demikian.
"Jangan, Kaivan," kata Imarine sedikit pelan menyembunyikan wajahnya.
"Apanya yang jangan?" tanyaku yang meminta kejelasan.
"Kamu, gak boleh tidur sama siapa-siapa di sekarang."
__ADS_1
Imarine mengatakannya lagi dengan nada lirih. Dia masih menyembunyikan wajahnya dan menghindari tatapan ketika kalimat tersebut dia katakan.
"..."
Di sana tentu aku sedikit penasaran. Sebagai jawaban, aku berbalik badan secara penuh menghadap Imarine, melepaskan lembut pegangan tangan yang dia cengkeram di lenganku, lalu kembali bicara sekali lagi.
"Heh, kenapa? Kamu mau aku tidur di lorong sendiri maksudnya?" tanyaku sedikit bercanda.
"Un, un ...."
Sendu Imarine sambil menggeleng.
"Maaf saja, tapi aku masih gak percaya siapa pun di sini kecuali kamu, Kaivan," ucap lanjut Imarine yang masih mengecilkan suara menjadi bisik. "Jadi, aku gak mau kamu bareng sama orang lain. Aku takut kamu jadi sasaran empuk pembunuh di sini. Kalau kamu mati, aku gak bisa lihat lagi masa di depan di dunia buatan ini."
"..."
"..."
Iya, bisa dibilang kekhawatiran itu masuk di akal.
Octa membuat dunia ini karena aku menarik perhatiannya. Dia membuat semua aturan aneh dan menciptakan tontonan di mana aku adalah salah satu orang utama yang menyelesaikannya. Dari sudut pandangku, akan wajar kalau orang pasti menganggap aku adalah orang yang terjamin menjadi manusia asli. Karena situasi di sini sudah menjadi informasi umum, aku telah melibatkan orang-orang ke dalam dunia yang menjebakku ke dalamnya untuk ikut terjebak.
Imarine menganggapku sebagai pemain utama. Dia ingin aku jauh dari bahaya walaupun harus mencurigai orang lain di sini.
"Huft ... hah ...," hela napasku kembali mengeluh. "Oke, aku bakal ambil kamar yang kosong. Harusnya kamar itu masih kotor banyak debu karena belum dibersihin sama Pero. Tapi, tepuk dikit juga kayaknya gak apa-apa."
Itulah keputusanku, berjalan ke arah sebaliknya dari tangga menurun aula untuk menghampiri kamar kosong di lorong khusus laki-laki.
*Grip
Tapi, untuk kedua kalinya Imarine menghentikanku. Dia mencengkeram lenganku dan melarang tubuhku untuk jalan menjauh meninggalkannya.
Ini mungkin masih alasan yang sama. Dia tetap tidak setuju dengan keputusanku kala itu.
Huft ... hah ....
"Oke, Ima. Aku sudah cape. Jadi, sebutin saja sekarang apa maumu?" kataku yang sudah lemas mengeluh.
"Kamu, bisa tidur di kamarku saja. Aku bakal tidur sama Amalia di sana."
"Ha?" responsku sedikit bingung. "Bukannya aku bilang kalau aku dilarang buat—"
"Kamarku ada di ujung belok ke kanan. Kamu tidur di sana, jadi kamu gak usah bersihin kamar baru dan bisa cepat-cepat tidur. Pokoknya, kamu tidur saja sekarang, titik."
Imarine pun melangkah cepat menyusuri lorong ke daerah lelaki. Dia tanpa ragu bergerak dan masuk ke dalam kamarku yang sebelumnya memang sudah ditinggali Amalia di sana.
"..."
Kata-kata Imarine terkesan memaksa, dia masih menggunakan nada sedikit tinggi yang berkesan memerintah dibandingkan memohon. Tapi, aku tidak terlalu mempedulikannya, dari penjelasan sebelumnya apa yang dia jelaskan cukup masuk akal.
Hanya saja ....
Entah kenapa, aku rasa hanya diriku yang mengalami rintangan berat di saat ingin tidur.
__ADS_1