
Di waktu malam, kabar dari Amalia dan Pero akhirnya datang. Mereka bilang rumah Imarine sudah ditemukan, tapi status gadis tersebut tetap tidak diketahui. Posisi rumah mereka berdua ternyata memang berdekatan, hanya berbeda tiga blok di satu deret.
Saat Amalia dan Pero datang ke rumah Amalia, tempat itu sepi tidak ada penghuninya. Setelah diadakan beberapa pencarian, ada orang yang bilang kalau rumah tersebut adalah hasil kontrak dan sudah tidak dihuni lagi oleh Imarine. Pada akhirnya investigasi mereka tentang Imarine pun gagal, tapi masih banyak waktu untuk bisa dimanfaatkan.
Mereka mulai mengganti tujuan, bisa berbelok dari rumah Imarine ke arah rumah Azarin.
Tempat itu sudah cukup ramai, tapi tidak seramai sekolah yang punya ratusan siswa. Ada garis polisi menghalangi, dan banyak masyarakat penasaran mengganggu gerak aparat. Namun, Amalia punya kekuatan untuk bisa diabaikan oleh orang lain. Dia memakainya, menerobos penjagaan, dan melakukan penyelidikannya sendiri ke dalam rumah.
Isi laporan mereka adalah seputar alasan dari bunuh diri Azarin. Dari mulai stres hingga tekanan dari lingkungan sekitar. Aku mungkin melakukan tindakan yang salah, walaupun kala itu aku bisa membuat hatinya tenang dan bahkan pada tahap bisa diisap mana-nya, pengawasan terhadapnya masih harus dilanjutkan.
Depresi, satu demi satu masalah bertumpuk tidak selesai, dan pada akhirnya satu titik dia ada di batasnya. Perasaannya bisa tenang, tapi pada akhirnya masalah yang dia hadapi tidak sepenuhnya selesai.
Aku mulai merasakan tekanan, apalagi ketika Pero mulai menjelaskan bagaimana Azarin bunuh diri menurut bukti di tempat tersebut. Jadi, semua laporan tersebut aku tahan sampai nanti, pembicaraan kami pun ditutup.
Jam malam sudah terlalu jauh. Di sana sempat kembali Pero ingin menyusul, tapi aku menolak. Keberadaan mereka tidak terlalu berguna, lebih ke arah mempersulit keadaan dan memberi harapan kosong. Melakukan perjalanan sekitar dua jam menuju rumah sakit di waktu malam hanya akan menguras tenaga dan membuat mereka tidak bisa sigap ketika sampai di sini.
*Step, step, step ....
Sekarang aku berjalan ke ruangan khusus, di ujung rumah sakit tempat di mana pasien penyakit parah diisolasi di ruangan khusus.
Ketika ruangan tersebut bernama isolasi, sebenarnya tempat tersebut tidak benar-benar diisolasi layaknya penyakit berbahaya seperti tanda biohazard. Rumah sakit di sini menangani pasien tersebut dengan memberikan kasur khusus dan tertutup. Tapi, untuk ruangan itu sendiri tidak benar-benar terkunci, mereka menggunakan pintu biasa yang bertulisan ‘dilarang masuk’. Ketika waktu malam berlangsung, tidak banyak staf berkeliaran. Jadi, aku bisa saja masuk secara diam-diam.
*Whoush ....
Gelombang emosi.
Satu per satu ... dari sisi kamar yang berbeda secara bergantian.
Aku yang berjalan di lorong merasakan berbagai jenis, dari yang baik sampai yang negatif. Kemampuanku tentang mendeteksi gelombang emosi memang tidak secara penuh menembus batas ruangan. Aku juga masih tidak mengerti kenapa mereka bisa terhalang oleh benda padat. Namun, yang pasti deteksi emosi tersebut masih bisa terasa bias walau terhalang tembok.
Nokturnal bukan berarti jam dua malam. Dari titik matahari terbenam sampai terbit kembali, itu adalah sebagian besar waktu aktif mereka. Pero mungkin mengatakan kalau kala itu dia merasakan getaran gelombang rusaknya pembatas mana di wilayahnya pada tengah malam. Tapi, aku di waktu yang berbeda merasakan sentakan gelombang emosi sekitar jam sepuluh.
*Whoush, whoush ....
Aku akhirnya sampai di bagian bangunan tempat ruang isolasi berada. Di sana terdapat gelombang emosi yang semakin menguat, depresi dan rasa ketakutan, keputusasaan dan rasa ingin menyerah. Semua tersebut berkumpul dan layaknya membuat satu kesatuan yang kompleks. Hidungku menyegak, bukan karena rasa pedas, melainkan ke arah terlalu kaya dengan rangsangan.
Tentu keberadaanku di sini bukan untuk menyiksa diri, dari awal rumah sakit adalah tempat yang paling tidak ingin kudatangi. Tapi, penghuni kamar tersebut sedikit spesial dibanding pasien yang lain.
Kekuatanku hanya tentang gelombang emosi, tapi tentu hal tersebut bisa dikembangkan dengan berbagai cara. Warna yang kurasakan di kulit dan lidahku untuk setiap emosi berbeda-beda, ketika aku tahu setiap penyebab dari gelombang emosi tersebut, aku juga akan tahu sedikit latar belakangnya.
Faktor kesakitan, faktor kesendirian, faktor penyesalan, faktor ketakutan, faktor kesedihan, dan semua faktor depresi keinginan untuk bunuh diri. Aku bisa merasakannya, di ujung ruangan isolasi tersebut, terasa jelas latar belakang dari gelombang emosinya.
Aku mendengar itu semua dari satpam sebelumnya, ada pasien yang dia sudah ditinggalkan keluarganya, tidak ada orang yang menemaninya di rumah sakit. Rasa sakit parahnya sudah pada tahap luar biasa, AIDS yang dideritanya sudah mendatangkan TBC hingga perlu isolasi khusus di ruangan. Tidak ada teman, tidak ada kekasih, bahkan perawat pun sangat berhati-hati ketika mendekat untuk memberikan pelayanan medis. Semua karena stigma dan ketakutan oleh penyakit diderita, ketakutan untuk tertular melihat si pasien sudah dalam keadaan sekarat.
__ADS_1
Lalu, tersebarlah berita tersebut, ketika penderita itu ingin disuntik mati saja ... keinginan untuk segera mengakhiri hidup yang dia kira tidak ada gunanya lagi.
*Push
Aku mendorong pintu bertulis ‘dilarang masuk’ tersebut. Suara decitannya cukup khas memekik telinga di kondisi ruangan yang sepi, gelombang emosi yang kuat pun kurasakan hingga aku lupa bagaimana aroma obat di ruangan tersebut.
“... Permohonanmu, aku kabulkan.”
“...”
Kalimat tersebut terdengar lagi, nada suara yang sama yang pernah aku dengar sebelumnya.
Kali ini aku bukan di wilayah hutan luas gelap gulita, kali ini aku ada di kamar sempit yang terang. Sumber suara tersebut bisa terlihat dengan jelas di depan mataku. Ada dua orang di sana, satu yang terbaring lemas di kasur, satu lagi yang sedang menghadapnya dan telah mengatakan kalimat barusan.
Baju kasual dengan celana jeans, wajah mulus bersih, rambut pendek rapi tidak jauh melebihi telinga, dan mata besar segar yang sangat bertolak belakang dengan pandangan sayu. Dia punya segala ciri-ciri tubuh sehat.
“Huh?”
“...”
Aku yang sudah membuka pun menarik perhatian orang di sana, terutama si orang yang sedang menghadap orang sakit di sana. Walaupun aku bilang itu orang, lebih tepatnya dia adalah anak kecil. Dengan tinggi tidak lebih dari 150 senti, dia menatapku yang sedang berdiri tepat di pintu masuk.
“Kamu ... kamu orang yang waktu itu,” ucap si anak tersebut padaku.
“...”
Aku masih diam, tidak menjawabnya secara langsung dan tetap mematung di sana.
Namun, aku masih mengerti apa maksudnya. Waktu yang dimaksudnya adalah pada pagi hari ini, dia adalah anak kecil yang kutemui sedang makan bubur. Aku maupun dia masih mengingat wajah masing-masing.
“Huft ... hah ....”
Anak tersebut menarik napas panjang-panjang. Berbeda dengan hela napas yang biasa kulakukan, dia lebih seperti menutup mata dan menarik napas kuat untuk menciumi aroma sekitar.
“Apa yang kamu lakukan di sini?” ucapnya dengan sedikit memanjang. “Iya ... tadinya itu yang mau kutanyakan. Tapi, sepertinya keberadaanmu bukan kebetulan.”
“Heh, untuknya kamu gaj jadi tanya itu. Aku gak mau dengar pertanyaan itu dari anak kecil yang masuk ruang isolasi malam-malam,” jawabku untuk pertama kali setelah cukup lama mengamati keadaan.
Jika ada staf rumah sakit yang datang atau berjaga di sini, keberadaan anak kecil jauh lebih mencurigakan dibanding keberadaanku. Sebagai orang yang lebih besar, bisa saja aku mengaku sebagai teman atau sanak keluarga si pasien untuk menjenguk. Sedangkan anak kecil, dia masih perlu wali ketika bepergian, tapi itu semua tidak terjadi karena biasanya anak kecil sangat dilarang berkeliaran di rumah sakit karena rentan tertular.
“Seharusnya kamu juga sudah sadar, aku bukan manusia biasa,” ucapnya sambil sedikit merenggangkan tubuh kecilnya.
__ADS_1
“Di mataku kamu hanya seperti anak kecil dengan logat bicara yang menyebalkan,” balasku yang mencoba sedikit sarkasme membutakan senjata besar yang dia pegang. “Selama hidupku, baru kali ini berhadapan dengan anak kecil seperti ini.”
“Karena penglihatanmu yang bilang aku anak kecil adalah sebuah kesalahan. Tapi ... hmn ... Aku tidak menyangka akan tertangkap secepat ini.”
“Kita pernah ketemu, dan ketemu di kesempatan kedua gak terlalu mengejutkan.”
“Iya, aku mengerti hal tersebut. Pertemuan kita kala itu sebuah kebetulan yang ternyata malah membuat ranjau. Huft ... hah ... iya, tidak salah lagi ... kamu orang yang menguasai tempat ini, ‘kan? Aku mengerti karena memang aku merasakan hal asing dari sihir di tubuhmu.”
Hmn ... sepertinya dia salah mengira kalau aku adalah Pero atau Amalia. Tapi, tidak apa, aku juga secara tidak langsung berada di pihak mereka.
“Bisa dibilang seperti itu,” jawabku dengan nada meninggi sedikit bercanda.
“Oke, baiklah. Tapi, sebelum kamu mengusirku, sebelum kamu bicara dan menghakimi ... aku ingin kamu sedikit berpikir dan mencoba mengerti apa yang kulakukan sekarang.”
Aku sudah berpikir, dengan banyak kemungkinan terjadi, kurasa apa yang ada di otakku tidak salah. Fakta kalau dirinya ditemukan sekarang telah membuktikan kebenaran dari hipotesisku.
“Ho ... jadi, dugaanku tentang kamu yang ingin membunuh pasien itu sebenarnya salah?” tanyaku padanya layaknya sedang bermain kata-kata.
“Membunuh ...? Heheh, begitu, iya ....”
“...”
Anak tersebut berdeham, dia menutup mata dan mulai menyimpan tombak besar yang dia pegang sebelumnya.
*Blink
Menyimpan juga sepertinya bukan kata yang tepat. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri kalau tombak besar dengan mekanisme capit tersebut menghilang berubah menjadi cahaya.
Setelah menghilangkan senjata, dia mulai berjalan kecil ke arah sudut ruangan. Gerak tubuhnya begitu santai, gelombang emosinya pun tidak ada yang aneh, jadi aku sendiri tidak menimbulkan respons sigap untuk melindungi diri.
“Masuklah ... mungkin kamu ingin mendengar cerita dariku.”
“...”
Aku mengikutinya, berjalan masuk lebih dalam di kamar isolasi tersebut. Mungkin di sana banyak alat-alat medis yang mengganggu, sedikit aneh ketika menjadikannya tempat santai bicara. Tapi, aku tidak keberatan dengan tersebut, malah gelombang emosi yang berbau tidak sedap dari si pasien itu lebih mengerikan. Rasanya sedikit bersalah, karena penampakan fisik orang yang terkena AIDS itu juga sudah menyedihkan.
“Jadi, sekarang apa?” tanyaku pada anak tersebut.
“Ahaha,” tawanya sambil tersenyum ringan. “Terima kasih telah memberiku kesempatan. Jika kamu mau mendengar, mungkin kamu akan sadar kalau apa yang kulakukan adalah tindakan yang benar.”
“...”
__ADS_1