
Jam malam mulai lewat, area dagang yang sebelumnya ramai dengan berbagai lampu mulai meredup kegiatannya. Wajar, kota utamaku tidak mendukung hiburan malam sebebas seperti beberapa negara lain. Jadi, sama halnya seperti taman hiburan yang menyediakan berbagai atraksi seperti bianglala dan komedi putar kaya dengan lampu, semua itu akan berakhir ketika waktu mendekati tengah malam.
Perasaan cukup misterius timbul di hati. Rasa kaget akibat tubuh yang sempat tidak berfungsi karena sebuah shock efek kekuatanku sendiri. Aku sekarang menyadari kalau sebenarnya yang terpendam dalam tubuh ini juga sebuah bom, satu pemicu bisa saja benar-benar membunuhku suatu saat nanti.
Aku mungkin sekarang bisa berjalan, bergerak ringan layaknya orang sehat pada umumnya. Tapi, sebenarnya semua ini tidak mengubah fakta kalau beberapa saat yang lalu aku berpikir diriku akan mati karena hal konyol.
Kengerian itu masih tersisa, rasa syukur juga muncul ketika aku kembali berpikir betapa beruntungnya aku masih bisa membuka mata. Sekarang diriku mengerti kenapa orang yang diselamatkan dari kematian bisa jatuh cinta pada si penyelamatnya. Bahkan untuk orang yang sebenarnya tidak secara langsung sebagai penyelamat, orang yang kebetulan hadir saat dia tersungkur sekarat dan hanya sebatas menemani.
Langkahku akhirnya sampai di depan hotel, ketika waktu di ponselku menunjukkan angka sebelas malam. Cukup canggung berjalan di malam hari memasuki hotel tengah malam, pasalnya tempat tersebut tidak seramai tempat-tempat komersil lain dengan pelayanan hotel tanpa bintang.
Terus berjalan, dan akhirnya sampai di lantai dua tempat kamarku, Amalia, dan Pero berada. Ketika aku memutar daun pintu dan masuk, sedikit berharap kalau salah satu di antara mereka melompat menjemput layaknya orang yang khawatir mati-matian.
*Ceklek
“Hn? Kaivan ...? Ah ... akhirnya kamu datang.”
Tapi, apa yang kudapat hanyalah sambutan dingin dari Pero. Sepertinya keadaan di sini sudah seperti kamar tidur, suasana lampu gelap di mana salah satu penghuninya bahkan sudah terlelap. Aku tidak menyalahkan sikap dingin yang acuh padaku di mana diriku hampir melewati kematian konyol, tapi kekecewaan di hati lebih mengarah pada mereka yang bertindak layaknya tidak mengetahui apa-apa.
Amalia di sana lebih parah, dia tidur di samping Pero. Tingkat tentang fungsi dari kegesitan serta kemampuan dari inisiatifnya begitu parah. Sepertinya gadis benar-benar tidak berguna jika tidak diberi perintah.
“Kamu pergi lebih dari dua jam, apa yang menghambatmu, Kaivan?” lanjut ucap Pero bertanya, dia mengecilkan suaranya demi menjaga gadis tidur di ruangan tersebut.
“Heh, apa yang menghambatmu?” ucap ulang dengan nada meninggi ejek. “Apa yang menghambatmu, Pero? Apa yang terjadi padaku selayaknya peristiwa sihir. Apa kamu gak sadar? Di mana radar aktivitas sihirmu sekarang?”
Aku tidak mengatakan langsung kalau diriku hampir mati karena shock gelombang emosi layaknya kejut jantung kala itu. Tapi, mendengar kalimat santai dari orang lain setelah diriku merasakan neraka, rasa kejengkelan pun muncul tidak terbendung.
“Hmn ... jadi itu yang kamu pikirkan, Kaivan.”
“Memangnya apa yang kamu lakukan berbeda dengan apa yang kupikirkan?” sebutku yang berusaha menghilangkan nada sinis.
“Kalau kamu pikir aku cuman diam dan menunggu tanpa persiapan, itu salah besar. Aku memang tidak menangkap penyusup itu. Tapi, aku tahu ke mana dia kabur dan apa yang mereka lakukan sekarang.”
“...”
Kalimat meyakinkan dari Pero membuatku sedikit tenang, setidaknya dia menjanjikan kalau ada sesuatu dari kegiatan hari ini. Untuk sementara, rasa kesal itu terpendam dan diganti oleh sedikit malu karena melakukan kesimpulan ‘tak beralasan di awal.
“Penyusup ini cukup handal, dia melakukan aksi dengan rapi. Mengeluarkan aksi dengan sihirnya, lalu kabur ke alam animus.”
“Hoo ... alam animus, iya? Apa itu artinya kita gak bisa masuk ke sana?” tanyaku yang memastikan jawaban tercepat.
“Aku ... bisa. Tapi, kamu ... terbatas.”
__ADS_1
“Apa aku akan mati, terbakar lenyap, terjebak di dalam, atau semacamnya jika terlalu lama di sana?”
“Anggap saja lebih seperti aku tidak menjamin keselamatanmu.”
“...”
Baiklah, aku juga tidak ingin memaksa sebuah pengejaran yang sebenarnya tidak terlalu memotivasiku sampai harus mengorbankan banyak hal. Setidaknya jika ada tikus di rumah, aku tidak akan mengejar mereka jika makhluk tersebut sudah masuk wilayah kotor tidak terjangkau seperti selokan dan got.
“Tapi, tenang. Hal tersebut tidak terlalu sulit karena aku juga bisa memahami pola kemunculannya.”
“Kamu tahu?”
“Tentu saja, dengan kemunculan sihir di wilayahku dan radius yang strategis seperti ini. Aku tahu apa yang mereka lakukan.”
“Heh, jadi sekarang kita perlu berkeliling banyak tempat cuman buat menyesuaikan jadwalnya nanti? Buat jebak dia di rencana selanjutnya?”
“Iya, itu memang benar,” jawab Pero tanpa pertahanan layaknya air mengalir.
“Kamu membuat ini menjadi semakin rumit. Kenapa gak langsung labrak saja waktu dia muncul? Menaruh pembatas, menaruh radar, mengamati tindakan ... semua itu bisa lebih cepat kalau kamu tangkap penyusup itu hari ini.”
“Hah ...,” hela napas Pero layaknya lelah melihat keadaan. “Karena ... dia muncul saat kamu tidak ada di sini. Sekitar satu jam setelah kamu pergi, reaksi sihir kurasakan dan dapat dipastikan itu penyusup. Tapi, aku tidak ingin menaruh Lia ke tempat berbahaya sendirian. Kalau ada yang harus disalahkan, kurasa kamu sendiri yang menghambat ini, Kaivan.”
“...”
Jika dipikir sekali lagi, tujuan Pero dan apa yang ingin dia lindungi sangat sederhana. Apa yang dia pedulikan hanyalah tentang Amalia. Walaupun bagiku dia punya kekuatan sihir yang unik dan akan sulit untuk dilawan, tapi cara pandang Pero sebagai partner animus-nya lebih seperti protektif orang tua.
Dia ingin Amalia berkembang, tapi di saat bersamaan dia tidak ingin Amalia dalam bahaya. Dia ingin Amalia menjadi orang hebat, tapi dia tidak berani melepas gadis tersebut untuk berhadapan dengan dunia sendiri.
Setidaknya, dia ingin satu orang dengan kekuatan setara mengawalnya. Tujuan siluman gagak tersebut dari awal tentang mengajakku ke dalam urusan ini adalah Amalia. Keamanan gadis itu adalah yang utama bagi dirinya.
Padahal, di saat yang sama, tepat satu jam yang lalu sebenarnya aku berada dalam kondisi pingsan terkena pengaruh sihir. Jikapun diriku berada di dalam timnya memergoki si penyusup, aku akan jauh lebih mudah ditumbangkan.
“Pero,” panggilku dengan nada tajam. “Aku gak tahu apa tujuanmu sebenarnya. Tapi, aku gak niat sama sekali jadi tumbal buat Amalia nanti.”
“Tumbal?”
“Dari cara pikirku, kamu mungkin akan mengorbankanku di tengah pertempuran atau kondisi serupa agar Amalia selamat.”
“Ahaha, jahat sekali, Kaivan. Aku tidak akan melakukan itu, Amalia akan membenciku jika seperti itu.”
“Benarkah ...?” kembali tanyaku dengan nada sinis. “Kalau begitu jika aku dan Amalia terjebak dalam bahaya dengan peluang keduanya mati, tidak bisa kabur maupun berhadapan secara bersamaan. Apa kamu akan membawa kabur Amalia sendiri dan meninggalkanku sebagai umpan?”
__ADS_1
“Hmn ... apa itu pertanyaan yang perlu dijawab, Kaivan?”
Baiklah, itu pertanyaan kejam layaknya perempuan yang bertanya pada kekasihnya, ‘apa yang lebih penting, kerjaan atau aku?’. Itu pertanyaan yang tidak perlu dijawab, penyelesaian dari kondisi itu bukanlah sebuah jawaban tegas. Jadi, aku juga tidak memaksakan hal tersebut.
“Setidaknya kalau Amalia gak benci tindakanmu, bisa saja kamu melakukannya ... sebuah tindakan menumbalkanku demi keselamatan Amalia.”
“Aku tidak mengerti jalan pikiranmu sekarang. Entah apa yang merasukimu hati ini, kamu terus membicarakan hal yang belum tentu terjadi,” ucap Pero yang tampaknya lelah menemani pembicaraan tersebut. “Aku lebih suka untuk tidak memikirkannya. Berpikir kalau kalian adalah yang terkuat dan tidak pernah terdesak musuh apapun.”
“...”
Mungkin rasa sakit akibat gelombang emosi kala itu masih membuat rasa takut dan kengerian bersisa. Sesuatu yang dalam hati ingin keluar malah berekspresi menjadi kebencian dan pikiran negatif.
Suasana kamar hotel menjadi canggung, aku sedikit menyinggung atmosfer hingga kasur yang berada di samping Pero menjadi tempat asing yang terlarang bagiku untuk ditempati.
Tapi, hari sudah malam, aku juga butuh istirahat penuh. Pero di sana juga sedang menempati kasur yang sedang ditempati Amalia, jadi bisa disimpulkan kalau satu kasur di samping yang kosong adalah tempatku.
Tubuh yang lelah karena banyak berjalan dan mendapat serangan fisik ini perlu pemulihan. Aku berjalan dan menjatuhkan badan ke kasur tersebut, merasakan begitu nikmat setiap napas mendapat relaksasi kenyamanan.
“Oh, satu lagi,” ucapku sebelum tarikan terakhir menarik selimut untuk tidur.
“Apa lagi, Kaivan? Kalau tentang rencana selanjutnya, kita bicara besok saja.”
“Bukan kamu, Pero.”
“Hn?”
“Maksudku barusan itu Amalia, dia sekarang bangun.”
“...!?”
*Whoush ....
Gelombang emosi.
Iya, itu Amalia. Aku sebenarnya sudah merasakan beberapa gelombang emosinya ketika bicara dengan Pero. Entah kapan tepatnya, tapi atmosfer berat seperti itu cukup untuk membangunkan orang walau volume suara tidak terlalu keras. Mungkin ini juga sebagian dari indra yang tidak terlihat dari manusia.
“Aku gak marah, percakapan tadi juga sebenarnya bukan rahasia dari kamu. Tapi, aku cuman mau kamu berhenti mikir. Gelombang emosimu itu masalah besar, jadi tolong redamkan.”
“...”
Aku tidak melihat Amalia, tubuhku berbalik ke arah lain yang menjadi sebuah refleks menghindari tatapan dari gadis seumuran sedang tidur di samping. Lagi pula, di sana juga ada Pero, aneh bagiku tidur menghadap ke arah mereka.
__ADS_1