
"..."
*Whoush ....
Gelombang emosi.
Mulutku sudah lama tidak merasakan gelombang emosi tersebut. Pasalnya, aku juga tahu satu orang yang bisa mengeluarkan sensasi ini.
Bau sampah organik.
Itulah yang mungkin paling dekat jika aku jelaskan. Kali ini tidak terlalu kuat, sama halnya seperti bau selewat yang sempat menghembus di depan hidung, persis ketika kita lewat dengan motor di tempat pembuangan akhir.
Imarine punya aroma khusus ketika dalam keadaan depresi. Dia tertekan karena berbagai hal hingga menyebabkan gelombang emosinya berbau tidak sedap.
Sebelumnya aku mengeluh karena kekuatan deteksi emosiku melemah. Tapi, di saat ini aku kembali bersyukur karena tidak perlu berlari menjauhinya atau mungkin sekadar batuk tersedak karena kejut lonjakan emosi. Kondisi ini masih bisa ditahan dan memungkinkan aku bicara dengan normal.
"Kayaknya waktu sebelumnya, itu cuman hasil egoisku saja, Kaivan. Tapi, buat sekarang aku serius. Arin ... dia lagi gak stabil," kata Imarine dengan nada memelas.
Mendengar kata tidak stabil, aku jadi ingat posisi ketika mereka pernah saling berkelahi dan menyimpan dendam masing-masing. Perjalanan hidup mereka berdua cukup diwarnai banyak tanjakan mengingat latar belakang lingkungan membuat persahabatan pun putus.
Sekarang aku melihat Imarine bisa tersenyum puas. Di sisi lain, aku juga melihat Azarin yang berhati lembut tidak ada niat saling memukul. Mereka kembali melanjutkan hubungan seperti biasa.
"Bukannya kalian sudah baikan lagi? Aku gak nyangka kalau Azarin bakal lepas kendali waktu kalian tunjukin adegan pelukan di depanku."
"Aku sama Arin sekarang memang gak ada masalah. Sama kayak yang kamu bayangin. Tapi, aku tetap gak bisa bohong, dan Arin juga ... kalau keberadaannya itu cuman kebohongan."
"..."
Kebohongan, iya.
Imarine bukan orang bodoh, aku yakin dia bisa memahami situasi tanpa perlu diyakinkan sedemikian rupa. Jadi, waktu itu aku memang sengaja tidak memasang urat untuk meyakinkan, pada akhirnya hanya orang tersebutlah yang bisa memutuskan.
"Arin tahu, dia sudah mati. Dia punya ingatan tentang kematiannya dan sudah pernah cerita. Sampai sekarang, dia masih takut karena hidup cuman buat nunggu kematian lagi."
"..."
Ah, iya. Aku mengerti.
Kondisi gadis itu ada di dalam ancaman luar biasa. Ketika Hanz membunuh orang-orang yang dia sebut sudah mati sebelumnya, tentu Azarin akan punya reaksi terhadap tindakan tersebut.
Dia juga sempat mengatakannya padaku, dia tahu kalau dirinya sudah mati. Dia punya ingatan itu, artinya dia memang tahu nilai keberadaannya yang masih ambigu.
"Jadi, Kaivan. Aku minta tolong ke kamu. Cepat selesaiin sebisa mungkin, dan kalau bisa jangan bunuh Arin kalau kamu gak perlu," ucap kalimat lanjutan Imarine yang kembali memohon.
Sebenarnya aku tidak suka bagaimana Imarine menambahkan kata 'kalau gak perlu' di belakang. Ini seperti dia dan Azarin sendiri sudah memberiku izin untuk membunuh kalau keadaan memungkinkan.
Tapi, untuk maksudnya sendiri, itu adalah hal positif. Walaupun aku merasa kemanusiaanku diambil, di lain sisi aku menghargai tekad kuat keduanya.
"Oke, aku bakal coba selesaiin sebisa mungkin. Cuman, cara pakai kekuatanku buat tahu kebohongan. Untuk sementara aku gak bisa pakai itu," jawabku yang tidak memberi harapan kuat.
"Memangnya kekuatanmu benar-benar rusak? Cara kayak, 'apa kamu pembunuhnya?' terus lihat respons emosi itu sudah gak bisa?"
__ADS_1
Pemikiran yang sederhana. Aku juga berharap kalau kekuatanku, lalu si masalah ini bisa diselesaikan dengan cara simpel seperti itu. Akan tetapi ....
"Enggak, aku gak bisa," ucapku menjawab sambil menggeleng sedikit. "Kalau kamu bilang Arin gak stabil, aku juga sama. Kekuatanku belakangan ini ada di posisi yang gak jelas. Mungkin aku bisa rasain sensasi berbeda di tiap-tiap orang yang bohong. Tapi, aku gak tahu dia beneran bohong atau enggak."
"Aku gak ngerti kamu ngomong apa."
"Itu juga sudah bukti kalau kekuatanku memang rumit, Ima."
"Kalau gitu, apa ada yang bisa aku bantu sekarang?"
"Bantu?" ucap ulang secara refleks sambil menaruh dagu dan berpikir. "Maksudnya kayak bantu pijitin badanku yang pegal sekarang?"
"Bukan itu, maksudnya bantu kamu latihan."
"Latihan pijit?"
"Kenapa jadi tiba-tiba ke sana, sih? Kalau kamu minta kayak gitu, gak usah ke aku. Ke temanmu Farrel saja."
"Heh, aku gak punya hobi dipijit sama cowok," timpalku sedikit berdalih mengangkat bahu dan berdeham sedikit.
"Tch," decak lidah Imarine sebagai tanda hina dan umpatnya padaku. "Maksudku latihan soal kekuatanmu. Kamu kan sebelumnya bantu Amalia buat latihan sihirnya. Mungkin sekarang kamu juga bisa aku bantu."
Eh?
"Kamu tahu dari mana kalau aku bantu Amalia buat latihan?"
"Dari mana saja terserah, 'kan? Gak penting juga," ucapnya sedikit meninggi dan menyentak karena kesal. "Jadi, mah atau enggak!?"
"..."
"Oke," aku mengangguk dan mulai berdiri dari kasurku, berjalan mendekat ke arah Imarine hingga terbentuk jarak hanya sekitar tiga puluh senti.
"Wo-woi, kenapa kamu malah dekat-dekat, Van?" protes Imarine yang mulai mundur satu langkah sebagai perlawanan.
Gadis itu tidak aneh terkejut. Perubahan atmosfer yang tiba-tiba membuatnya sedikit panik. Seorang laki-laki yang awalnya lawan bicara jauh malah mendekat. Secara alami, perbedaan tinggi kami juga membuat tekanan tersendiri yang menakuti Imarine.
"Kekuatanku diperkuat dari jarak, mirip kayak sinyal. Buat sekarang, mungkin ini cara supaya aku bisa peka sama gelombang emosimu," kataku menjelaskan arti tindakan tersebut.
"O-oh ... Gitu, iya."
"Kenapa? Kalau kamu gak mau juga aku gak maksa."
"Berisik! Cuman berdiri deketan doank aku juga bisa!"
Gadis tersebut pun mulai tenang dengan sendirinya. Langkah mundur yang dia lakukan diambil balik hingga jarak kami kembali menjadi tiga puluh senti.
Tatap matanya sejajar dengan daguku, ini memberikan sedikit kegugupan bahkan untukku juga. Berdiri berhadapan malah seperti aku sedang dihukum oleh seseorang. Tapi, baiklah, aku di sini untuk mencoba sesuatu.
"Sekarang apa?" tanya Imarine yang menunggu aba-aba.
"Liat mataku, terus bilang kalau kamu suka sama aku."
__ADS_1
"Huh!? Kenapa aku harus bilang–"
"Kalau kamu gak mau juga gak apa-apa, aku gak maksa–"
"Iya, iya, iya, iya! Aku bilang sekarang!"
Kalimat kami saling berpotongan satu sama lain. Kekesalan itu sempat membuat Imarine berteriak dan meninggikan suaranya padaku. Walaupun begitu, sebenarnya aku melakukannya atas dasar kesengajaan. Sesuatu yang ekspresif dan berdentum keras akan mengeluarkan lonjakan emosi yang mudah dirasakan.
*Gluk
Bukan aku, melainkan Imarine.
Ekspresi dia menyiapkan mental, menelan ludah dan menaruh sebelah tangan di dada. Aku bisa merasakannya jelas ketika jarak kami berdekatan seperti ini.
"Ka-Kaivan, a-aku– Huft ... Hah ... aku suka sama kamu."
Tidak butuh waktu terlalu lama, ternyata Imarine benar-benar melakukannya walau kalimatnya tidak lancar.
"..."
"..."
Aku di sana mencoba menutup mata, merasakan sesuatu yang mungkin akan aku rasakan. Sebuah gelombang emosi, satu lonjakan yang seharusnya biasa menyengat di lidah.
"..."
"..."
Lima detik, dan tetap tidak terjadi apa-apa. Dibandingkan lonjakan emosi, aku malah merasakan sebuah tekanan dingin mengarah padaku. Bukan kekuatan deteksi emosi, lebih ke arah intuisi sebagai makhluk sosial manusia. Ini membuat aku juga diselimuti rasa gundah, secara perlahan aku juga mulai membuka mata melihat keadaan.
"Kenapa kamu malah diam, Ivan?" tanya Imarine yang masih berdiri dekat menatap kusut.
"Aku, aku lagi cari gelombang emosi kebohongan. Jadi, aku diam dan coba fokus biar–"
*Punch
Buk.
"Ghuakh!!?"
Bukan lonjakan emosi, tapi tinju tangan keras yang kurasakan hingga membuat napas tersedak. Aku hampir lupa, Imarine adalah satu dari perempuan yang memiliki keberanian memukul laki-laki dengan kekuatan ateltisnya.
"Akghnm," suaraku lirih memegang perut dan jatuh ke posisi setengah berdiri menahan rasa sakit.
Tapi, di sana Imarine mengabaikanku, dia berjalan pergi meninggalkan kamar seakan dirinya tidak berdosa.
"Wo-woi ... latihannya gimana?" tanyaku melirik ke arah Imarine sebelum dia benar-benar pergi.
"Aku gak peduli," jawab tukas Imarine dengan wajah geram, tubuhnya yang sudah melewati pintu pun akhirnya lepas dari pengawasanku.
Heh, lihat ... aku yang sekarang bahkan gak bisa tahu kapan dia marah. Padahal, dulu pada kasus Amalia, aku selalu bisa merasakan lonjakan emosi dari kemarahan, membuatku bisa menghindar dari setiap serangannya.
__ADS_1