
Aku berjalan pulang menuju rumah, masuk dari pintu belakang sambil membawa satu kantong keresek. Langkahku berlanjut melalui dapur, berjalan ke dalam untuk menggapai kamarku di lantai dua.
Laporan dari rumah sakit masih mengira kalau ini adalah masalah yang patut dicurigai. Sampai sekarang berbagai pihak masih ragu melaporkan ini ke pihak berwajib, karena mereka juga tidak bisa menjamin kalau ini adalah kasus pembunuhan atau kematian alami biologis.
Berdasarkan data-data, banyak kematian beruntun pada pasien penyakit serius seperti kanker dan AIDS. Dokter yang menghadapi ini mencurigai ada mutasi sebuah penyakit yang membuat korbannya mati seketika.
Karena kejadian ini, banyak rumah sakit yang mendapatkan pasiennya mengalami kematian mendadak. Para tenaga medis bahkan sempat khawatir kalau mutasi ini dapat membuat penyakit serius tersebut mulai menular lewat media lain.
Itu adalah suara televisi, dia berbunyi terus dengan cukup keras hingga si isi berita bahkan bisa didengar jelas olehku. Sedikit aneh menurutku, karena kak Dina bukan tipe orang yang ingin mendengarkan berita layaknya orang tua.
Begitu juga dengan diriku, berita adalah sesuatu yang tidak ingin kudengar terlalu banyak. Bukan karena mereka tidak menyampaikan dengan baik, tapi isi dari berita tersebut lebih banyak bernuansa negatifnya. Kematian, penyakit, kerusuhan, dan kasus kriminal lainnya, itu membuatku memandang dunia lebih buruk atau setidaknya membangun mental di mana aku sedikit lega karena ada orang yang lebih buruk di luar sana.
Tapi, untuk kematian karena penyakit, aku masih bilang itu adalah berita yang perlu disebarluaskan.
“Ivan, barusan kayaknya lama banget. Kamu belanja apa saja di sana?”
Aku tidak melihat sosok dari sumber suara tersebut, kak Dina di sana ternyata dalam posisi terlentang di sofa ruang tengah. Kepalanya tidak muncul di sisi, yang terlihat hanya ujung kaki di sisi berlawanan. Aku yang datang dari arah belakang tentu tidak akan melihat.
“Cari AC-nya yang kelamaan, belanjanya sih cuman sedikit.”
“Padahal di sini juga gak panas-panas amat,” ucap perempuan tersebut sedikit ejek. “Tapi kamu di sana beli buat kakak, gak?”
“Gak ada,” jawabku tegas sambil mengabaikannya dan naik ke lantai dua kamarku. “Lagian kalau mau kenapa gak titip di jalan?”
“Kamu harusnya peka, Ivan. Normalnya kalau beli makan orang lain juga diajak, ‘kan?”
Aku sudah ada di setengah jalan menuju lantai dua, posisi tinggi membuatku bisa melihat kak Dina di bawah. Di sana dapat dipastikan posisinya, sedang bermain ponsel walau sedang bicara denganku.
“Kalau mau sesuatu bilang yang jelas, buat apa lahir punya mulut kalau tuntut orang selalu peka. Setidaknya itu yang menurutku normal.”
Kondisinya yang sedang sibuk sendiri membuat aku juga malas berhubungan terlalu dekat. Orang yang menatap ponsel terlalu sering secara tidak langsung memberikan kesan untuk tidak ingin diganggu.
“Ah, Kaivan, tunggu dulu,” panggil kak Dina ketika aku tepat melangkah di anak tangga terakhir. “Sebelumnya kamu ketemu kakak di mall itu gak sengaja, ‘kan? Tapi, ke sananya kamu gak boleh ikutin kayak gitu.”
“Apa itu karena kakak mau berduaan dan menikmati kemesraan.”
“Berisik,” tukas kak Dina dengan sinis. “Kakak cuman gak suka saja.”
“...”
Sedikit penolakan, sesuatu yang kata-kata itu tidak baik adalah karena biasnya maksud dari kak Dina. Apa dia tidak menyukai tindakanku, atau dia tidak menyukai keberadaanku? Perasaan yang khawatir malah berbalik menjadi rasa sedih.
__ADS_1
****
Hari demi hari berlalu, kembali kepada keseharian yang membosankan. Untuk beberapa waktu aku meminta Amalia melihat pasangan Septian dan Fany, tapi sepertinya tetap tidak ada yang aneh.
Aku dilarang mendekati kak Dina dengan alasan privasi, sesuatu yang bisa kulakukan masih dalam tahap pencarian client lain untuk diobati luka di hatinya.
Beberapa waktu mungkin ada keseharian aku dengan Imarine sewaktu istirahat, ada keseharian aku dan Amalia sepulang sekolah berlatih menggunakan sihir, dan ada juga keseharian aku dengan Septian yang kembali mengobrol dengan topik pasangan baru.
Perkembangan di sekolah lambat, perkembangan dari Pero si burung gagak juga tidak selalu membantu. Apa yang dikejar Amalia tidak membuahkan hasil menarik, dan aku di sini juga masih stagnan karena tidak bisa melihat tujuan jelasnya.
Tidak terasa waktu pun berjalan, hampir seminggu berlalu dan akhirnya aku sampai di hari Sabtu. Sekarang aku sedang menuju rumah Pero, daerah sepi dengan taman luas dan nuansa bangunan tradisional memang tidak pernah lepas sebagai ciri khasnya.
“Hmn ....?”
Tapi, hari itu ada yang berbeda dari biasanya. Siluman gagak yang biasa aku temui di dalam rumah ternyata malah menunggu di pintu depan. Wanita itu berdiri, melihat ke arah jauh dan sepertinya mengubah ekspresi ketika aku dan Amalia datang.
Beberapa hari berlalu dan sepertinya dia juga sekarang sudah biasa menggunakan pakaian sendiri. Amalia sudah melatihnya, jadi sekarang penampilannya juga sudah lengkap layaknya wanita dewasa pada normalnya.
“Lia ..., dan kamu juga Kaivan,” panggil wanita tersebut sambil menghampiri. “Aku minta waktu sebentar, untuk sekarang dan untuk ke depannya.”
Kami berdua tentu merespons dan berhenti ketika wanita tersebut ada tepat berhadapan, dalam jarak tersebut kontak mata sudah menjadi lebih nyaman mendukung pembicaraan.
Tulis Amalia di kertas catatan sambil ditunjukkannya.
“Ada satu berita, dan sepertinya aku perlu bantuan kalian.”
“Bantuan? Apa ini tentang pengumpulan mana lagi?” jawabku sambil menduga-duga.
Satu hal yang keluar dari Pero adalah urusan tentang mana botol yang menjadi tugasku sekarang. Membantu aku dalam berbagai hal juga secara langsung akan membantu dirinya juga. Informasi kecil yang bermanfaat tentu akan lebih baik disampaikan secepatnya.
“Enggak ...,” ucapnya sambil menggeleng. “Mungkin kata berita sedikit melenceng, karena ini juga bisa dikatakan masalah. Atau ... lebih tepatnya seperti berita yang berisiko jadi masalah.”
Pero pun lanjut melangkah berjalan, dia memberikan sebuah gerakan seakan menarik kami yang melihat untuk mengikutinya. Lagi pula aku juga tidak berpikir depan teras adalah tempat yang baik untuk bicara, dia mungkin datang menjemputku di tempat tersebut untuk mempercepat pertemuan.
Wanita itu menggiring kami ke ruang di dalam, sudut-sudut interior aksesoris kayu berlatar hewan masih kental di sana. Tempat tersebut adalah tempat biasa Pero muncul, tempat dengan satu kursi di ujung dalam di mana dia biasa duduk layaknya bos.
Tapi, Amalia yang biasa ada di samping Pero kini berubah posisi. Dia tidak mengikutinya jauh masuk ke dalam wilayah kursi bos itu dan memilih tetap berdiri di sampingku. Sepertinya dia memiliki kesadaran kalau dirinya bukan asisten sekarang, lebih ke arah pihak sejajar dalam kubu lain yang dimintai kerja sama.
“Sebelum ke berita utama, aku ingin tanya tentang latihan sihir Lia. Apa sekarang dia bisa menggunakannya dengan baik?” tanya wanita siluman gagak tersebut.
Amalia sempat menulis cepat untuk menjawab pertanyaan tersebut. Tapi, layaknya sebuah kalimat penjelas, narasi yang panjang butuh beberapa waktu untuk menunggunya selesai.
__ADS_1
“Amalia,” panggilku sambil menahan buku yang sedang ditulis sejajar dengan dadanya. “Aku saja yang jelasin.”
“...”
Gerak kecil ujung jari gadis tersebut pun berhenti, dia yang tidak bisa menjawab hanya mengangguk kecil dan menatap percaya menyerahkan tugas itu. Pandangan kami yang bertemu saat itu pun diarahkan pada Pero secara bersamaan. Entah kenapa semakin lama menghabiskan waktu kami juga bisa berkomunikasi kecil tanpa terlalu banyak bicara.
“Sihir Amalia sekarang sudah stabil. Aku gak tahu batasan dari mana penggunaan sihir yang benar, kekuatanku dan kekuatannya sangat jauh berbeda. Tapi, setidaknya dia tahu apa yang dia lakukan. Semisal ada sesuatu terjadi, dia bisa pakai kekuatannya yang sebenarnya sudah cukup mengalahkan manusia rata-rata.”
“Hmn ...,” respons Pero yang sepertinya bisa menangkap penjelasan singkat itu. “Aku di sini bertanya tentang kemampuan tempurnya, apa dia sekarang cukup kuat untuk menumbangkan pria dewasa?”
Huh? Tempur?
Pikiranku sedikit tergelitik ketika mendengar pernyataan tersebut. Memang benar Amalia butuh kemampuan bela diri untuk melawan beberapa orang yang mungkin berontak fisik layaknya kasus Imarine dan Azarin. Tapi, sesuatu yang dikaitkan dengan kata tempur menurutku sedikit berlebihan.
“Setidaknya Amalia sekarang gak bakal kalah lawan satu atau dua orang preman. Untuk pria dewasa, aku belum bisa bandingkan.”
“Hmn ... begitu, iya.”
“Memangnya ada hubungannya itu sekarang?”
“Tentu ada, karena selamanya kita tidak akan bisa damai seperti ini. Mencari mana dari kebahagiaan hati seseorang adalah hal sulit. Semakin sulit, maka semakin banyak orang untuk mencari cara mendapatkannya.”
“Hoo ....”
Barang langka ... barang berharga ... kepemilikannya juga akan mendapatkan banyak efek negatif. Aku dengan kemampuan deteksi emosi dapat merasakannya dengan jelas, perasaan dari dosa dan penyakit hati atas nama kecemburuan.
“Jadi, sampai saat ini kamu mengerti ‘kan arah pembicaraannya ... Kaivan?”
“Akan ada orang yang saling merebut mana di botol itu. Apa benar?”
*Whoush ...
Gelombang emosi dari Amalia sudah terasa. Rasa takut, kekhawatiran, cemas, atau sesuatu yang berbau hal negatif di mana dirinya tidak ingin melihat maupun terlibat ke dalamnya. Masam-masam, tercampur rasa dingin menggigil, aku tidak bereaksi berlebihan karena untuk menghemat energi.
“Iya, benar. Setidaknya dugaan sementaranya seperti itu,” balas Pero mengiyakan pertanyaanku. “Aku gak tahu kekuatan orang-orang di luar sana, bagaimana orang lain menggunakan sihirnya, dan niat orang-orang tersebut datang ke wilayahku.”
“Wilayah ...?”
__ADS_1