Pencicip Emosi

Pencicip Emosi
Arc 4 New Stage : Chapter 49 - Batas Dunia Game Dan Emosi


__ADS_3

Gelombang emosi satu ruangan mulai tenang, sepertinya mereka sudah teralihkan oleh ingatan berupa aturan game yang akan dimainkan sekarang. Perasaan negatif yang awalnya berkumpul ketika melihat sebuah mayat sudah berkurang, mungkin hal tersebut karena Octa menjelaskan keberadaan orang mati sudah ada di dalam bagian game ini dari awal.


Di dalam ingatan tersebut, sebenarnya aku tidak diberikan sebuah informasi latar belakang setiap orang yang aku kenal. Tapi, Octa juga memberikan seluruh informasi yang berkaitan denganku. Dari awal sampai akhir aku di penginapan, semuanya rurut aku ingat ke mana dan apa saja yang aku lakukan. Tapi, itu hanya ada di sudut pandang pelajar lelaki yang sedang aku mainkan, informasi yang di luar itu sama sekali tidak diketahui, terutama latar belakang tentang koki dan pemilik penginapan.


Kami terdiam sesaat, memegang kepala masing-masing akibat sensasi dari datangnya gelombang emosi berupa ingatan tersebut.


Lalu, setelah lewat beberapa detik, akhirnya Pero dari belakang memulai percakapan, "Jadi, sekarang apa yang akan kita lakukan pada mayat itu?"


Kami mungkin memang ada di kondisi pemain dan seorang pion yang digerakkan di dalam panggung. Tapi, entah kenapa sesuatu yang dikatakan oleh Pero sangat masuk akal dan diterima olehku dan semuanya. Walaupun aku tahu ini adalah sebuah dunia buatan, tapi akal sehatku tidak membiarkan mayat ini dibiarkan begitu saja.


"Di penginapan ini cuman ada satu mobil dari pihak sekolah, bukan? Pakai saja itu, dan bawa ke kaki gunung untuk diserahkan ke rumah sakit," kata Pero melanjut menjelaskan, dia menunjuk kak Dina sebagai guru perwakilan di sana.


Kami diceritakan ke sini menggunakan mobil sewaan khusus oleh guru yang muat seluruh siswa. Ruang di dalam mobil itu besar untuk membawa lima siswa dan dua guru. Itu artinya, membawa satu mayat bukanlah hal yang mustahil untuk mobil tersebut.


Kak Dina berdiri tegak, dia melihat Pero yang mengajak bicara dan menghadap ke arahnya.


"Iya, mungkin bisa. Tapi, cuman Verdian yang bisa setir mobilnya. Aku gak bisa," jawabnya.


Dalam ingatanku, semua siswa di sini memang dibawa oleh setir mobil Verdian yang berperan sebagai guru ke dua. Dia menjadi satu-satunya yang paham tentang mobil, kak Dina tidak tahu apa-apa. Terlebih untuk medan rumit di hutan, membawa mobil bagi yang belum berpengalaman adalah tindakan yang berbahaya.


Dibandingkan nasib mayat, kala itu aku malah terpikir sebuah fakta tentang batas dunia yang aku tempati sekarang. Jika sebelumnya kami ditaruh di hutan dengan pembatas tebing berbatu, maka kali ini aku masih bertanya di mana dan bagaimana batas penghalang dunia di sini.


"Aku bisa membawanya ke bawah kalau kamu mau. Di dunia ini aku punya pengetahuan menyetir mobil. Pemilik penginapan sepertinya memang sudah terbiasa keluar masuk menggunakan mobil," jelas Pero memberikan pilihan.


Keadaan mulai melembut, pilihan yang ditawarkan Pero cukup simpel dan menyelesaikan masalah dengan cepat. Tidak ada beban tambahan yang diberikan padaku, dan tidak ada yang memberikan solusi saingan di kondisi sekarang.


"Maaf saja untuk semua. Aku tidak bisa membiarkan kalian melakukan hal semacam itu."


Hn?


Tapi, ternyata di keadaan seperti ini pun masih ada orang yang membantahnya. Suara tersebut berasal dari laki-laki, lembut mendayu dan dingin khas milik orang yang hawa keberadaannya begitu tipis. Dia adalah Hanz, orang yang sekarang memakai celemek putih dan topi koki.


"Tidak ada yang boleh keluar dari penginapan ini. Tidak sampai ada orang yang berhasil ditunjuk menjadi pelaku. Semua orang termasuk kalian, guru, dan Pero pemilik penginapan, kalian atau bahkan kita semua masih abu-abu sebagai pelaku."


"Terus, kamu mau punya solusi lain, Hanz? Tanyaku sebagai bantu menjembatani komunikasi mereka.


"Solusi? Aku bahkan tidak melihat masalah di kondisi sekarang, kenapa kalian ingin mengurusi mayat ini?"


*Whoush ....


Gelombang emosi.


Begitu cepat, muncul seketika ketika Hanz mempertanyakan hal tersebut. Rasanya seperti satu tusukan jarum yang menyangkut di mulut, menyengat karena waktunya yang cepat. Sepertinya memang orang-orang seperti Amalia dan Imarine membenci kalimat tersebut.

__ADS_1


"Woi, Hanz. Kita gak bisa diemin orang mati gitu saja. Gak mungkin kita biarin dia terus di uang makan," kataku menyipitkan mata menggunakan nada sinis.


Aku di sana mengerti apa yang diucapkan Hanz masuk akal. Tapi, perasaanku masih menolak ketika dia mengabaikan kehormatan manusia yang sudah mati. Begitulah penilaianku terhadap cara bicara Hanz barusan.


"Aku tidak bilang akan terus membiarkannya di sana. Ruang makan juga salah satu tempat kerjaku sekarang. Jadi, mungkin kita bisa menguburnya di kebun belakang saja."


"Hanz!"


"Ivan, stop!"


Untuk sesaat emosiku lepas dan ingin mengumpati Hanz di sana. Tapi, kak Dina lebih dulu menghentikanku. Mungkin karena memang tersiksa oleh gelombang emosi negatif, di tengah-tengah rombongan tersebut emosiku juga ikut tidak stabil. Tapi, aku sama sekali tidak menarik kemarahan tersebut, tatapan sinisku masih berlangsung atas perilaku tidak hormat itu.


"Gak apa-apa, Ivan. Memang benar kata dia, mayat ini bukan Verdian. Kalaupun dia benaran sudah mati, tubuh aslinya pasti bukan di sini. Ini ... cuman tiruan," lanjut kak Dina menjelaskan dengan suara lirih.


"..."


Suasana di sana terus berujung menjadi buruk. Aku benci ketika setiap orang menyembunyikan perasaannya dan tenggelam dalam gembung gelombang emosi. Mereka yang tidak bicara, mereka yang terus tertekan dengan atmosfer selalu membuat mulutku terus penuh oleh rasa sakit.


"Menurut ingatanku, di sini tidak ada kota. Kalau kalian masih ingin memaksa keluar, aku pikir hasilnya akan sangat buruk. Jadi, yang harus dilakukan di sini hanya melakukan tugas, meneliti mayat, menyelidiki tempat kejadian, menginterogasi setiap anggota, dan menunjuk pelakunya. Kalian yang jatuh pada emosi pribadi sudah dikatakan kalah dalam game."


Hanz berkata itu dari kejauhan, dia tidak melihat maupun mendekat ke arah kami. Apa yang dia ucapkan sekarang lebih ke arah perintah dibandingkan sebuah saran. Dari pergerakannya, tidak ada tanda-tanda kalau dia akan turun langsung menyelesaikan kasus tersebut.


Namun ....


Lelaki tersebut memanggil anak perempuan yang bersamanya untuk membantu. Dia yang mengatakan itu langsung memundurkan diri dan pergi ke dapur agar berpisah dari kami semua. Tanpa salam, tanpa kalimat penutup, dia berjalan memunggungi kami dan membiarkan anak kecil tersebut mengambil alih.


Anak kecil tersebut memiliki wajah polos layaknya kebanyakan anak. Pertama kali aku bertemu dengannya adalah ketika dirinya menggunakan pakaian lusuh dan topi mungil penyihir. Hanz sendiri memang punya sangkut paut dengan sihir, jadi sebenarnya aku tidak terlalu terkejut anak kecil ini adalah salah satu juga di antara mereka.


Melanjutkan perintah, anak kecil itu berlari kecil menuju dapur. Dia yang begitu semangat hingga terdengar suara gaduh dapat memberi tahu kalau sang anak sedang melakukan sesuatu. Tidak sampai satu menit, anak tersebut kembali dan membawakan sarung tangan karet rapat sekali pakai yang biasa digunakan oleh para dokter pada kami.


Walaupun aku dan orang lain menyebutnya anak kecil. Tapi, entah kenapa aura yang dikeluarkan anak tersebut tidak melambang anak kecil. Wajahnya mungkin boleh polos, tapi ekspresi yang dikeluarkan begitu tegas.


"Pakai ini, sarung tangan ini akan membantu penyelidikan kalian. Pastikan kalian menyelidiki detail mayat ini sebelum menguburnya."


Bahkan, semua itu semakin jelas ketika dia bicara. Berbeda dengan anak kecil lainnya yang bersifat manja, aku mendengar anak kecil tersebut punya nada layaknya orang bijak. Cukup unik ketika roh dewasa ditaruh di dalam tubuh anak kecil.


Kak Dina menerima tawaran sarung tangan karet tersebut. Wanita itu tersenyum lembut dan masih memperlakukan anak itu selayaknya anak normal. Aku bisa merasakannya, gelombang emosi di sana sedikit melunak walau sebenarnya pribadi si anak kecil tidak jauh berbeda dengan orang dewasa pada umumnya.


Heh, mungkin, ini yang namanya keimutan adalah keadilan, sebuah ideologi.


Semua yang ada di sini seakan terhipnotis dengan penampilan anak kecil tersebut menggerakan setiap ruas tubuh imutnya. Dia yang dengan tangan kecil bergerak langkah-langkah kecil, lalu menawari sarung tangan menengadahkan tangan ke atas ... itu semua memang sangat menenangkan bagi yang melihat.


"Hn?"

__ADS_1


Setelah kak Dina menerima sarung tangannya, ternyata si anak tersebut juga menawari sepasang sarung tangan lainnya padaku. Mungkin karena jarakku yang paling dekat akibat sedikit maju, anak tersebut lebih mendahuluiku.


"Tunggu, Ivan."


Baru saja aku ingin menundukkan badan menerima sarung tangan, tiba-tiba saja terdengar panggilan tegas dengan rentang tangan sejajar dada yang menghentikanku dari samping.


"Di sini biar aku saja yang urus. Kamu, kayaknya kamu awasi saja orang yang namanya Hanz itu. Dari semua orang, dia yang paling mencurigakan," lanjut kata Farrel yang ingin menggantikanku menerima sarung tangan.


"..."


Aku terdiam sesaat mendengar hal tersebut. Pasalnya, Farrel masih menaruh kewaspadaan setelah dipikir gelombang emosi di sekelilingku sudah memudar. Dia seperti memberiku misi khusus di mana hanya aku yang bisa melakukannya.


Hanz kali ini memang sangat mencurigakan. Dia yang terus menghindari orang tentu menaruh banyak rasa tidak percaya. Terlebih, aku yakin tidak ada satu pun orang yang lupa akan tindakannya membunuh tiga orang sekaligus di awal masuk.


Biarpun begitu, aku yang ingin pergi terasa terhalangi. Farrel mengatakannya dengan cukup keras sampai setidaknya orang di depanku bisa mendengar jelas. Lalu, ketika aku ingin menerima tawaran sarung tangan karet, orang yang menawariku adalah anak kecil partner dari Hanz itu sendiri.


Aku melihat pada anak kecil tersebut, memandangnya sebentar untuk melihat bagaimana dia bereaksi tentang ini.


"Tidak apa-apa. Kamu boleh mengawasinya. Pergilah, kalau itu memang kehendakmu. Aku tidak punya kehendak untuk menghentikanmu," ucap anak kecil itu dengan nada tenang dewasanya.


Aku sedikit tertegun. Bahkan, aku bisa berkata kalau anak kecil ini lebih baik dari Amalia dari segi tata bicaranya. Berhubungan dengan kak Dina yang biasa santai tanpa batas, Imarine tomboi dengan tinju kerasnya, dan Amalia yang entah kenapa dalam berbagai hal seperti kepala kosong, anak ini jadi terlihat lebih berkilau nilainya.


"Oke, kalau gitu aku bakal jaga Hanz," anggukku menyetujui. "Mungkin itu cara paling bagus buat nenangin kalian," lalu lanjut sambil berdiri tegak melihat ke belakang mewakili semua orang.


Pero dari jauh tidak membantah, dia masih melihat dengan tangan dilipat. Tapi, cara pandangnya bilang kalau dia memang setuju.


*Whoush ....


Tapi, dari arah lain aku merasakan sedikit gelomang emosi. Rasa asam yang bercampur dengan manis ini adalah bukan sesuatu yang negatif.


"Ivan, kamu gak bakal mati, 'kan?" kata Ima yang bertanya khawatir walau nadanya masih tomboi, mungkin ini cara dia agar tidak membuat pertanyaan tersebut menjadi geli didengar.


"Heh, kebodohan kalau misal Hanz bunuh aku. Itu artinya, dia sudah kasih tahu kalian semua kalau memang dia pelakunya."


Lalu, aku juga di sana menjawabnya dengan nada sombong.


Hanz mungkin memang mencurigakan. Semisal kalau dia adalah pelakunya, maka dia tidak akan membunuhku karena aku mengawasinya. Itu sama dengan bunuh diri, orang-orang akan tahu kalau dia adalah penjahat di balik semua ini.


Setelah mengucapkan hal tersebut, aku sedikit pamit pada semua orang. Melangkahkan kaki, aku pun masuk juga ke pintu dapur untuk menemui Hanz secara langsung sebagai bentuk pengawasan.


Dari alur percakapan, memang dia pergi karena merasa atmosfer yang dibuat kami tidak kondusif untuknya. Tapi, pada kenyataan kita tidak tahu apa yang sedang dia lakukan sekarang.


 

__ADS_1


 


__ADS_2