Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Bab 100. Atur Strategi


__ADS_3

"Sa!"


"Sasa!"


"Khansa please balas!"


Rentetan pesan dari Emily berbondong-bondong masuk ke ponsel Khansa. Emily sudah emosi sedari tadi ketika melihat berita trending saat ini. Artis ternama sekaligus ratu gosip itu tidak bisa menahan gejolak amarahnya lagi. Ia bahkan menunda beberapa pekerjaan karena sangat mengkhawatirkan perasaan Khansa.


Khansa membuka pesan itu, lalu segera membalasnya. Meski debaran dadanya masih bertalu kuat, Khansa berusaha untuk menenangkannya.


"Iya Emily, aku di sini, kenapa?" balas Khansa.


"Kamu baik-baik saja? Kamu sudah melihat trending topik saat ini? Mengenai kucuran dana dari Presdir Sebastian untuk Perusahaan Isvara?" balas Emily dengan cepat sembari berjalan memasuki mobilnya.


"Oh, iya," balas Khansa singkat.


"What?!! Kamu masih bisa setenang ini?! Sa, kamu tahu nggak siapa presdir Sebastian? Suamimu, Sasa!" Saat membalasnya, emosi Emily membuncah. Ingin sekali menggetok kepala Khansa saat itu juga karena menurutnya Khansa masih terlalu polos.


"Aku dapat informasi dari timku. Yenny adalah orang pertama yang bisa kuliah di Singapura. Dan kamu tahu? Leon lah di balik itu semua. Leon yang membiayai kuliah Yenny di sana. Dan lima tahun kemudian, setelah dia selesai dengan pendidikannya, Yenny kembali. Bukan hanya untuk menyelamatkan skandal ibunya, tapi juga mendapatkan dana yang fantastis dari seorang Leon, untuk menyelamatkan perusahaan ayahnya! Sa, Yenny dan Leon ternyata sudah lama saling mengenal," papar Emily mengutarakan segala informasi yang dia raup dari tim humasnya.


Emily pun tidak terima jika sahabatnya disakiti seperti itu. Meskipun ia sangat cantik, namun sikap bar-barnya tidak pandang bulu. Ia akan memberi pelajaran pada siapa pun yang menyakiti orang-orang terdekatnya. Terlebih itu adalah Khansa. Bukan hal yang sulit baginya untuk menemukan berita-berita itu.


Tak dapat dipungkiri, hati Khansa serasa teriris mengetahui kenyataan pahit ini. Perih dan nyeri menghantam disaat yang bersamaan. Matanya memanas. Khansa mengibaskan kedua tangannya di depan muka. Bola matanya memutar ke atas untuk menghalau air mata yang hendak berjatuhan.


Namun usahanya gagal. Kedua matanya tidak mampu menahan terjangan air mata. Khansa meletakkan ponselnya, memeluk kedua lutut dan menyembunyikan mukanya di sana. Kedua bahunya bergetar hebat seiring dengan tangisannya yang semakin deras. Mengingat masa lalu yang begitu kejam.


Sepuluh tahun yang lalu, ia merasakan pahitnya pengkhianatan dan kehilangan orang-orang yang paling dia sayangi dalam waktu yang bersamaan. Dan kali ini, akankah terulang kembali? Disaat Khansa mulai membuka hatinya, sebuah kenyataan pahit harus menghantamnya.


"Sasa! Kamu masih di sana?" Emily kembali mengiriminya pesan. Karena sudah terbaca dan masih online namun tidak ada tanda-tanda balasan dari Khansa.

__ADS_1


"Sasa please, jawab aku. Are you okey?" timpal Emily lagi.


Khansa meraih kembali ponselnya, tangannya gemetar namun berusaha kuat. Satu tangannya menyeka air mata yang terus berjatuhan. Khansa menarik napas dalam-dalam, lalu membuangnya perlahan.


"Iya Emily, aku nggak apa-apa. Kamu tenang aja," balas Khansa yang sudah merasa lebih tenang.


"Tenang, tenang gimana aku bisa tenang, Sa?" tanya Emily. Sepanjang perjalanannya menuju bandara, Emily merasa tidak tenang. Ia terus kepikiran dengan Khansa. Ia ingin selalu bersama Khansa saat itu. Gadis itu yakin Khansa sedang rapuh sekarang.


"Gimana apanya? Santai aja, Emily," elak Khansa membalas pesannya diikuti emote tertawa.


"Are you crazy, dear?" sambar Emily dengan cepat. Ia tak habis pikir dengan Khansa yang masih bisa bercanda. Padahal dirinya saja sudah sangat geram ingin mengacak-acak Leon dan juga Keluarga Isvara.


"Aku masih waras, Emily, Sayang. Kalau gila nanti nggak bisa balas mereka dong. Hehehe. Tenang aja, aku udah siapin rencana buat mereka bertiga. Fauzan, Yenny dan Maharani. Kalau Leon, nanti aku selidiki dulu motifnya," papar Khansa mengetiknya dengan cepat.


Khansa tidak ingin gegabah, ia tetap tenang agar selalu bisa berpikir jernih. Kali ini Khansa tidak bisa.menganggap remeh lawannya. Karena Leon ada di belakang Yenny. Padahal selama ini, Khansa tidak pernah bertopang hidup pada suaminya. Ia tidak pernah menggunakan kekuasaan sang suami. Mungkin, inilah saatnya.


"Sasa, aku lagi di bandara nih sebentar lagi take off. Tunggu aku pulang," pesan Emily setelahnya.


"Iya, aku nggak mau kamu ditindas nantinya. Pikiranku nggak tenang selama di sini. Aku akan selalu ada untukmu, Sa."


Khansa merasa terharu karena Emily selalu tulus dan selalu ada untuknya dalam kondisi apa pun. Hanya Emily yang sejak dulu tidak pernah meninggalkannya.


"Baiklah, aku akan menjemputmu di bandara sini. Kabari jika sudah mendarat." Pesan Khansa hanya centang satu. Kemungkinan Emily sudah melakukan penerbangan.


Beban yang sedari tadi menghimpit dadanya sedikit terangkat. Khansa kembali meletakkan ponselnya. Jemarinya mengulur untuk mengusap catty, kucing piaraannya.


"Khansa! Bisa bantu nenek?" tanya Nenek Sebastian di balik pintu.


Tak mau larut dalam masalahnya, Khansa bergegas menurunkan kedua kakinya dan membuka pintu.

__ADS_1


"Iya, Nek? Apa yang bisa kubantu?" tanya Khansa lemah lembut.


Mata nenek menangkap sorot kesedihan yang terpancar manik Khansa. Ia menggamit lengan Khansa dan mengajaknya ke dapur, ingin menghibur perempuan itu.


"Bantu nenek bikin cupcake ya. Nenek tidak pandai menghiasnya," ujar sang nenek sembari berjalan menuju dapur.


"Oh, tapi Sasa juga nggak bisa, Nek," ujarnya menggaruk kepala.


"Tidak apa, kau masih muda. Pasti mudah untuk berlatih. Sedangkan tangan nenek sudah kaku rasanya," kelakarnya diiringi tawa. Khansa pun turut tertawa.


"Nenek bisa aja," sanggah Khansa.


Sore itu, mereka berdua asyik berkutat di dapur untuk membuat cupcake beraneka rasa. Nenek mengajari Khansa dengan telaten hingga gadis itu berhasil membuatnya dengan bentuk-bentuk yang indah.


Beberapa saat setelahnya. Ada beberapa nampan cupcake yang sudah matang. "Tuh, kan apa nenek bilang? Kamu pasti bisa membuatnya, cantik-cantik seperti kamu, Sayang," puji nenek membelai pipi Khansa dengan lembut.


Khansa langsung merangsek ke pelukan sang nenek. "Semua juga karena nenek yang mengajarinya, makasih ya, Nek," balas Khansa.


Nenek menepuk lembut punggung Khansa, "Jangan sedih ya. Kamu harus selalu bahagia," ujar Nenek Sebastian membuat Khansa mengerutkan keningnya.


Khansa tidak mengerti dengan ucapan sang nenek. Pasalnya, ia tidak pernah bercerita apa pun perihal masalahnya.


"Ayo kita eksekusi. Pelayan, tolong buatkan teh hijau untuk kami!" seru nenek melepas pelukannya lalu mengajaknya untuk menonton televisi saja.


Pelayan meletakkan hasil karya Khansa dan nyonya besarnya di meja beserta teh hijaunya. Nenek segera mengambil satu dan memakannya perlahan.


"Eumm ... ini enak banget, Sa. Ayo cobain!" gumam nenek setelah menelan satu gigitan cucake-nya.


Khansa meraihnya mulai melahapnya sembari menonton televisi. "Wah, iya, Nek."

__ADS_1


Nenek pun bercengkrama hangat dengan Khansa. Ia terus menghibur Khansa agar tidak larut dalam kesedihan. Sesekali memeluknya penuh sayang. Khansa sangat bersyukur punya seorang sahabat yang baik dan juga Nenek Sebastian yang sungguh menyayangi dirinya.


Bersambung~


__ADS_2