Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Bab 79. Bom untuk Maharani


__ADS_3

Tanpa mereka sadari,  seorang pria salah satu awak media hendak pergi ke toilet. Dengan langkah pelan, ia berjalan melalui keluarga Isvara, tepat disaat Jihan berucap. Seketika langkahnya terhenti, kepalanya refleks mengarah pada Jihan, menajamkan pendengaran, juga membuka mata lebar-lebar.


Fauzan pun seketika menoleh pada Jihan. Keningnya mengerut begitu dalam, dan kedua bola matanya memicing dengan tajam.


Maharani melotot kejam pada Jihan. Padahal dia sedang berusaha keras menutupi kegugupan dan ketakutannya. Tanpa disangka justru Jihan yang menghancurkan pertahanannya.


“Nih, Bu! Lihat deh? Kenapa Khansa enak-enak di Bali? Kok nggak jadi digilir sih? Gimana bisa?” Jihan masih tidak menyadari dengan pelototan sang ibu, ia  menunjuk-nunjuk ponselnya.


Maharani bergegas maju dan menutup mulut Jihan dengan rapat, wanita paruh baya itu melebarkan matanya untuk memperingati Jihan agar berhenti berbicara.


“Oooh jadi ternyata dalang di balik kejadian ini adalah Anda ya, Nyonya Isvara?” teriak pria muda menaikkan kedua alisnya sambil melipat kedua lengan di dada.


Sontak Maharani membeku dan seluruh tubuhnya gemetar. Bukan masalah besar jika hanya ada keluarganya sendiri, Fauzan bisa dipikirkan nanti. Ia merasa lelaki itu mudah dikelabuhi. Namun saat ini, awak media tengah menyorot padanya. Bukan hanya satu, namun seluruh awak media di Kota Palembang.


“Saya pikir ibu tiri yang jahat cuma ada di cinderella, tapi nyatanya di depanku ada yang lebih jahat dari emaknya cinderella. Fitnah itu lebih kejam dari pada fitness, Nyonya! Eh, maksud saya lebih kejam dari pada pembunuhan. Ckckck!” imbuhnya lagi dengan senyum remeh.


“Bahkan akting Anda yang pura-pura menangis tadi sempat membuat kami percaya. Hng! Ternyata ini hanya drama yang sedang  Anda mainkan?”


Suaranya begitu lantang dan menggelegar, hingga menyita perhatian semua orang di ballroom itu. Para awak media memang harus punya keunggulan pada semua inderanya.


Seketika mereka menghambur ke depan, berbondong-bondong berebut posisi paling dekat. Mereka menyodorkan alat pengeras suara dan alat perekam tepat mengarah pada Maharani.


Jihan membelalak, ia baru sadar bahwa di ruangan itu masih banyak awak media, karena dia terlalu fokus melihat foto Khansa. Sampai-sampai, ucapan tanpa saringannya itu menjadi bom yang siap meledak untuk ibunya sendiri.


Wajahnya menjadi pucat tak berwarna, darah yang mengalir di tubuhnya seolah telah habis terhisap ketakutannya. Tubuhnya mendadak kaku. Apalagi saat menatap ibunya yang masih melotot ke arahnya. Tangan Maharani perlahan turun lalu terkepal, tenggorokannya tidak bisa mengeluarkan suara apa pun.


“Tuan Fauzan? Apakah benar seperti itu?” Pemburu berita memulai pertanyaannya.


“Jadi sebenarnya istri Anda sendiri dalang pemfitnahan ini, Tuan. Apa yang Anda pikirkan saat ini?”


“Bagaimana rasanya ditusuk orang terdekat, Tuan?” 

__ADS_1


Jihan gemetar ketakutan. Dalam sesaat, seluruh dunia tahu kalau Maharani sang ibu tiri Khansa lah pelakunya. Semua karena kebodohan Jihan. Kepalanya menunduk dalam, tidak berani sekedar menatap sang ibu.


“Nyonya Maharani, bagaimana bisa Anda melakukan ini pada anak tiri Anda?”


“Tuan Fauzan, bisa tolong sedikit beri komentar mengenai perbuatan istri Anda?”


“Tuan, apakah Anda menyesal membuat pernyataan memutuskan hubungan keluarga dengan Khansa setelah tahu apa yang sebenarnya terjadi?”


“Hukuman apa yang akan Anda berikan pada istri Anda, Tuan?"


“Nona Jihan! Apakah Anda juga melakukan konspirasi dengan ibu Anda?”


Para netizen mulai mengkritik Maharani, Fauzan juga diserbu berbagai pertanyaan dari awak media tentang perbuatan Maharani. Jihan juga yang terlempar tuduhan tidak berani menoleh sedikit pun. Ia tidak berani bergerak, tetap di posisinya seperti tadi. Hanya manik matanya yang ketakutan sudah berlapis cairan bening, siap terjun bebas kapan pun ia berkedip.


“Nyonya Maharani, tolong beri sedikit penjelasan. Apa alasan Anda melakukan semua ini?”


“Iya, Nyonya. Katakanlah sesuatu.”


Pertanyaan demi pertanyaan masih mengalir dengan deras dan semakin menyudutkan Maharani. Sedangkan pikiran wanita itu mendadak jadi kosong.


“Nyonya! Tolong sedikit penjelasannya! Apa motif Anda melakukan ini?”


“Dan benarkah ini konspirasi Anda dengan Jihan?”


Maharani tercengang dan tiba-tiba tidak tahu harus bagaimana berbohong. “Eeee … saya … itu, apa ….” Seperti orang gagap yang kesulitan berbicara.


Mereka masih menunggu jawaban Maharani, namun suara wanita itu masih terbata-bata. Tenggorokannya kering, bahkan saat menelan saliva, mulutnya pun mendadak sangat kering.


“Tolong beri waktu untuk kami berdiskusi. Ini … ini tidak seperti yang kalian dengar.” Panas dingin tubuhnya, hanya Maharani yang tahu. Namun wajahnya yang pias bisa terlihat dengan sangat jelas.


“Beri sedikit saja penjelasan, Nyonya!” desak mereka.

__ADS_1


“Tidak ada yang perlu dijelaskan. Ini … ini hanya salah paham,” ucap Maharani dengan lirih berusaha mengulur waktu.


Maharani beralih menatap Fauzan. Ia menyentuh bahu pria itu, lengannya terasa sangat keras, bibirnya terkatup rapat dengan pandangan lurus ke depan.


“Zan, ini semua tidak seperti yang kau dengar. Aku sangat yakin kalau Emily sedang membantu Khansa. Semua ini jebakan Khansa,” ucap Maharani dengan sedikit bergetar.


Fauzan semakin terlihat marah, deru napasnya terdengar sangat kasar. Matanya menatap nyalang. Dengan cepat ia menoleh pada Maharani, giginya yang bergemeletuk terdengar semakin keras. Maharani mencoba peruntungannya. Ia mengusap lengan pria itu yang tengah mengembang lantaran kepalan tangannya yang semakin kuat.


“Aku sangat yakin. Ini semua kerjaan Khansa, Zan,” tambah Maharani dengan raut sendunya.


“Bugh!”


Fauzan menggerakkan lengannya dengan kuat menghantam pipi Maharani hingga terhempas di lantai.


Pria itu sama sekali tidak mendengarkan penjelasan Maharani dan langsung memukul Maharani dengan kejam di tempat.


Maharani menyentuh pipinya yang berdenyut nyeri, air matanya mengalir begitu deras. Tidak pernah menyangka semua justru berbalik menyerangnya seperti ini.


Fauzan berjongkok, satu lututnya menyentuh lantai,  sedang satunya lagi ia gunakan untuk menumpu lengannya. Matanya sangat tajam, siap menghunus orang di hadapannya. Tidak ada iba sedikit pun untuk wanita itu. Yang ada hanya kebencian mendalam. Fauzan menyentuh pipi Maharani dengan lembut, “Kamu memang wanita berbisa! Jangan harap aku percaya dengan aktingmu yang memang tidak diragukan lagi itu!”


Fauzan lalu menamparnya sangat keras setelah menepuk-nepuk dengan perlahan. “Kamu sungguh memuakkan! Mulai detik ini, aku tidak mau bertemu denganmu lagi!” tegas Fauzan lalu berdiri dan melenggang pergi.


Setiap gerakan mereka tak luput dari sorotan kamera. Kameramen memang selalu siaga mengambil momen-momen emas mereka.


Dan saat ini awak media menjepret dengan heboh, mengabadikan bagaimana kacaunya penampilan dan keadaan Maharani saat ini.


Maharani menyilangkan kedua tangan di mukanya sambil berteriak menyedihkan, “Jangan foto lagi! Tidak boleh ambil foto! Security! Security, cepat kemari!” 


Bersambung~


 

__ADS_1


__ADS_2