
Khansa menyipitkan kedua matanya, lalu tiba-tiba melingkarkan lengannya di leher Leon. Menopang tubuh dengan kedua lututnya. "Ayolah, Leon. Mau ya! Ya?!" rayu Khansa memiringkan kepala. "Please!" rengeknya dengan ekspresi menggemaskan.
Leon menahan napasnya sesaat, tubuhnya tiba-tiba kaku seketika. Kedua manik matanya membelalak lebar melihat sikap Khansa. Ia benar-benar terkejut.
Sempat terdiam sebentar untuk berpikir, namun melihat keinginan Khansa yang begitu kuat membuat Leon tidak tega menolaknya. Pria itu mengembuskan napas berat. Sedikit menunduk sampai kening keduanya terantuk lembut.
"Oke! Tapi ada syaratnya," ujar Leon bersuara berat.
Khansa menjauhkan kepalanya. "Kok kaya nggak ikhlas gitu sih?" decaknya sebal sembari mengerutkan keningnya.
"Bukan gitu!" elak Leon lalu tiba-tiba membungkam bibir Khansa yang saat itu hampir melayangkan protes.
Khansa terkejut, tapi lama kelamaan ia pun menikmatinya. Bibir keduanya saling bertaut, saling menyesap dengan gerakan instens dan dalam. Khansa semakin mengeratkan pelukan di leher Leon.
Leon menahan punggung Khansa dan semakin menariknya hingga tubuh mereka tak berjarak. Jemari Leon seperti terprogram, melucuti pakaian Khansa, mengusap punggung polosnya dengan lembut tanpa melepaskan ciumannya. Detak jantung mereka melonjak dengan cepat. Hasrat dua insan itu pun membuncah.
Khansa menggeliat, tubuhnya meremang seketika. Apalagi saat Leon memainkan dua aset kembar di dadanya. Pikirannya mulai berhamburan ke mana-mana. Hawa panas mulai menjalar di tubuh keduanya. ******* lembut dari bibir Khansa mulai menelusup pendengaran Leon yang semakin membuat adik kecilnya siap bertempur.
Leon melepas tautan bibirnya, membuka pakaiannya dengan cepat. Khansa menahan dada liat pria itu, membuat Leon mendelik. "Apa lagi?" tanyanya menyelidik.
"Pelan-pelan," sahut Khansa lirih dengan senyuman cantiknya.
Pria itu melebarkan senyuman, ia mengangguk mantap dan kembali melanjutkan pemanasan hingga penyatuan itu terjadi. Dini hari yang begitu menguras keringat. Setiap hampir hilang kendali, Khansa selalu menepuk bahunya atau mencubit dada Leon untuk mengingatkan agar hati-hati.
"Maaf," bisiknya terkekeh lalu menyesap kulit putih Khansa dengan bibirnya yang basah. Memberikan jejak-jejak percintaan di sepanjang leher Khansa hingga dadanya, masih dalam gerakan intens di bawah sana. Mereguk kenikmatan dunia, saling memberi kepuasan satu sama lain.
Satu jam kemudian, Khansa kembali terlelap setelah membersihkan diri. Sedangkan Leon beralih mengambil ponsel, berjalan tanpa suara menuju balkon kamarnya.
"Gerry!" ucap Leon yang belum lama menempelkan benda pipih itu di telinga.
"Saya, Tuan!" sahutnya dengan sigap.
"Atur liburan ke Village Sky View! Khansa ingin ke sana," sambung Leon.
"Apa? Anda tidak salah, Tuan?!" Gerry terperanjat dari tidurnya. Ia langsung kehilangan rasa kantuk yang sedari tadi mendera.
"Hmm ... lakukan booking satu resort tunggal tapi jangan gunakan identitasku atau Khansa."
"Baik, Tuan!"
__ADS_1
Leon mengakhiri percakapan. Ia mendaratkan bokongnya di kursi, duduk bersandar sambil melipat satu kaki di atas pahanya, menatap taburan bintang yang menghias langit malam itu.
Pikirannya menerawang, tangannya mulai sibuk menyulut rokok, menyesapnya dengan elegan. Setelah habis dua batang, ia kembali ke kamar dan melesakkan tubuh di samping sang istri. Mendekapnya erat seolah takut kehilangan. Rasa kantuk mulai menyerang, kedua matanya tertutup dengan perlahan, menyusul sang istri ke alam mimpi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam semakin larut, namun suasana di sebuah pinggiran kota justru semakin ramai. Jihan menahan tangisnya saat harus membersihkan setiap meja yang baru saja ditinggalkan pengunjung. Ia juga harus mengantarkan minuman bahkan sesekali menemani para pengunjung saat diminta. Merasakan kehidupannya yang seolah dijungkir balik.
Itulah pekerjaan yang baru dua hari ia jalani. Sudah ke sana kemari, namun tidak berbekal pendidikan tinggi dan pengalaman sama sekali, membuatnya cukup kesulitan untuk diterima kerja. Beruntung ada resort dan bar yang baru buka beberapa minggu lalu. Dia pun langsung diterima sebagai pelayan bar karena good looking.
"Pelayan!" teriak seorang wanita melambaikan tangan.
Jihan segera mengambil nampan dan berlari ke sumber suara. "Ada yang bisa saya ban ...."
Ia mematung saat melihat orang di depannya. Perempuan yang sangat dia kenal tengah bergelayut manja dalam pelukan pria paruh baya.
"Heh! Budek lo ya!" teriak perempuan itu lagi saat tak melihat pergerakan apa pun dari Jihan.
Jihan mengembuskan napas berat, "Ada yang bisa saya bantu?" ucapnya menundukkan pandangan.
"Ambilin red wine terbaik di sini. Enggak pake lama!" perintah wanita itu dengan ketus.
"Baik," sahut Jihan melenggang pergi.
"Heh! Tuangin sekalian dong! Main pergi aja!" sentak wanita tersebut.
Jihan mendengkus kasar, ia menahan emosi yang bergejolak dalam dadanya. Tangannya sedikit gemetar saat menuangkan wine tersebut. Jihan berusaha profesional, ia hanya tidak mau kehilangan pekerjaan.
Dengan gerakan gemulai, pengunjung itu meraih gelas yang sudah berisi wine, menyesapnya lalu tiba-tiba menyemburkan pada tubuh Jihan.
"Apa-apaan kamu Jane?" teriak Jihan menepis bajunya.
Jane berdiri masih memegang gelasnya lalu menumpahkan minuman tersebut pada baju Jihan. Kedua bola mata Jihan membelalak lebar, dadanya bergemuruh hebat. Ia sudah tidak bisa untuk menahan kesabarannya lagi.
"Brengsek! Apa mau lo!" teriak Jihan mendorong bahu Jane dengan kasar.
"Heh! Lo tuh cuma pelayan di sini. Nggak usah macem-macem deh. Gue bukan Jane yang bisa lo tindas seperti dulu. Lo jadi gembel ya sekarang? Hahaha. Kasian!" cibir Jane menatap sinis.
Jihan maju beberapa langkah dengan emosi. Tangannya mengulur menjambak rambut Jane, menariknya dengan kuat. "Lo pikir gue takut, hah?" balas Jihan.
__ADS_1
Jane pun tak mau kalah. Pertengkaran tidak bisa dihindarkan. Saling serang, saling mengumpat dan berteriak. Pria yang tadi bersama Jane hanya menjadi penonton saja sambil menikmati wine di hadapannya dengan tenang.
Kericuhan terjadi dalam bar tersebut. Orang-orang justru berkerumun untuk melihatnya. Bahkan beberapa di antaranya saling bersorak dan bertepuk tangan dengan riuh.
Jane mendorong tubuh Jihan dengan kuat hingga gadis itu terjatuh ke lantai. Lalu ia hendak menampar pipi Jihan namun seseorang mencekal pergelangan tangan Jane.
"Jangan buat keributan di bar saya!" semburnya menatap dengan tajam.
Jane terpaku menatap pria tampan di hadapannya. Pria itu lalu menghempaskan tangan Jane dengan kuat. Ia tidak peduli kalaupun itu pelanggan di tempatnya.
Pria itu beralih menoleh pada Jihan yang memucat saat mendengar bahwa ia adalah sang pemilik bar. Jihan takut kehilangan pekerjaan setelah ini.
Buru-buru Jihan berdiri dan membungkukkan tubuhnya. "Maaf, Tuan. Maafkan saya!" seru Jihan menundukkan kepala.
"Tuan, pelayan ini sangat kurang ajar. Anda harus memecatnya sekarang juga. Saya itu pengunjung tapi malah dia bersikap arogan seperti itu pada saya!" sentak Jane menunjuk-nunjuk Jihan.
Kedua mata pria itu menelisik ke sekujur tubuh Jihan. Dia bisa melihat baju yang dikenakannya basah di bagian dada. Diperhatikan seperti itu membuat Jihan bergidik.
"Maafkan saya, Tuan. Tapi saya hanya membela diri," sanggah Jihan dengan suara bergetar tanpa berani mengangkat wajahnya.
"Saya tunggu kamu di ruangan saya!" ucap pria itu dengan nada dingin lalu melangkah dengan elegan menuju ruangannya.
Sang manajer segera turun tangan membubarkan keriuhan yang terjadi. Sedangkan Jane menatap dengan angkuh, "Rasain lo, pasti dipecat setelah ini. Dasar gembel!" cibir Jane lalu kembali duduk di samping lelaki yang bersamanya tadi.
Pandangan Jihan mengikuti mantan sahabatnya yang sedang tersenyum sinis padanya. Jane duduk dengan menumpukan satu kakinya di atas kaki yang lain, tangannya menuangkan wine lagi dan meneguk minuman tersebut.
Jihan mengatur deru napasnya, memilih pergi menemui atasannya. Ia sangat ketakutan, bahkan tangannya mencengkeram erat handel pintu ruangan tersebut. Dadanya berdebar kasar.
"Tok! Tok!"
Setelah mengumpulkan keberanian, Jihan mengetuk pintu. Ia melenggang masuk saat terdengar sahutan suara bariton dari dalam ruangan.
"Permisi, Tuan," ucap Jihan berdiri cukup jauh dari sang pemilik bar tersebut.
Tidak ada sahutan apa pun. Jihan yang penasaran sedikit mendongak, "Tiger S." gumamnya dalam hati saat bisa melihat nama yang tercetak di papan nama yang terletak di atas meja besar di hadapannya. Matanya lalu beralih pada pria yang masih diam menatapnya dengan tajam.
Beraambung~
🧐 Enggak bilang makasih gw sumpahin makin ganteng!.
__ADS_1
Makasih juga buat kalian yang rajin like komen, kasih hadiah... moodbooster banget! mon maaf kalo blm bisa bales ya. lagi sibuk banget mode on.