Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Bab 138. Kamu Tidak Sendiri


__ADS_3

"Sasa," panggil Leon sekali lagi. Tidak ada sahutan apa pun dari wanita itu.


Leon menunduk, menatap Khansa yang sudah menutup rapat kelopak matanya. Pria itu pun panik dan segera merengkuh tubuh Khansa, menggendongnya menuju ranjang yang berseberangan dengan Bibi Fida.


Pria itu menepuk-nepuk pipi Khansa dengan perlahan. "Sa, bangun, Sayang!" ucap Leon lembut menggosok telapak tangannya, lalu menggenggam jemari Khansa agar menghangat. Ia sampai lupa menekan tombol emergency untuk memanggil dokter.


"Tuan, cepat panggil dokter saja!" ucap Bibi Fida yang juga merasa khawatir.


Seketika Leon tersadar, ia berbalik dan menekan tombol darurat berulang-ulang. Bulir keringat mulai bermunculan menghias wajah tampannya. "Oh ayolah! Kenapa lambat sekali dokter di sini!?" sentak Leon menyugar rambutnya dengan kasar.


Tak berapa lama terdengar derap langkah kaki berlarian semakin dekat dan membuka pintu ruang rawat tersebut, membuat Leon bisa bernapas lega. "Istri saya pingsan. Cepat periksa keadaannya! Lelet sekali kinerja kalian!" teriak Leon menunjuk pada Khansa.


Salah satu perawat membulatkan kedua matanya. "Dokter, kadar HBnya rendah. Tapi tadi dia memaksa untuk mendonorkan darah!" seru perawat itu segera memeriksa tensi darahnya.


Mereka bergerak cepat mengambil selang oksigen dan juga memasang infus untuk Khansa. Dokter mulai bekerja dengan cekatan. Sepasang kaki Leon terus bergerak tidak tenang, sesekali melihat penanganan Khansa.


"Bagaimana?" tanya Leon mengedikkan kepala dengan raut khawatir.


"Tidak apa-apa. Beliau hanya kekurangan zat besi. Sebentar lagi juga siuman. Tolong diperhatikan pola makannya agar kondisinya segera stabil," tutur dokter paruh baya usai memeriksa Khansa.


Leon mendekat pada ranjang Khansa, membelai pucuk kepalanya dan mencium kening Khansa. Kemudian dia berjalan pada Bibi Fida yang juga nampak mendesah lega.


"Bibi, apa bungkus-bungkus yang Bibi ceritakan masih disimpan sampai sekarang?" tanya Leon menatapnya serius.


"Masih, Tuan. Bibi meletakkannya di kamar Non Sasa, di sudut lemari yang paling bawah jika tidak ada yang memindahkannya. Karena jika saya bawa, kemungkinan sudah hilang, Tuan," papar Bibi Fida.


Leon mengeluarkan ponselnya, menekan sebuah kontak lalu meletakkannya pada daun telinga. Menunggu selama beberapa saar hingga sebuah suara bariton menjawab dari seberang.


"Iya, Kak!"


"Han, ke rumah sakit sekarang! Aku tunggu di ruangan Bibi Fida. Dan ajak Emily juga. Ini penting!" ucap Leon tanpa jeda dan langsung mematikan sambungan teleponnya.


"Belum juga bicara!" gerutu Hansen namun bergegas meraih kunci mobilnya.


Laju mobil yang cukup tinggi, membuatnya sampai di kediaman Emily dengan cepat. Dia tidak menghubungi terlebih dahulu. Hansen menjajakkan kedua kakinya di halaman rumah besar itu. Langkahnya pelan namun tegas. Hingga pria tampan itu berdiri tegap di depan pintu lalu menekan bell.


Emily yang kebetulan baru turun dari kamar, mendengar denting bell rumahnya. Kepalanya menoleh tidak melihat pelayan satu pun yang keluar.


"Haih, pada ke mana sih!" gerutunya berjalan ke arah pintu dan membukanya.

__ADS_1


Bola mata Emily seketika melebar saat menemukan Hansen berdiri di depan rumahnya. Buru-buru ia menutup pintunya lagi, namun satu kaki Hansen melangkah dengan cepat, menahan agar pintu tidak tertutup.


Emily bersandar memunggungi pintu dengan debaran jantung yang berantakan. Kepalanya mendadak gatal karena berkeringat. "Aduh, ngapain dia ke sini? Hah, bikin orang panik!" gumamnya mengacak rambut panjangnya.


"Begitu ya cara menyambut tamu?" ucap Hansen masih menahan kakinya.


"Aduh, ni orang bikin gue sakit jantung nih lama-lama!" gerutunya dengan pelan lalu melebarkan pintu.


Emily menarik kedua sudut bibirnya, "Selamat sore, Tuan Hansen. Mau ketemu papa ya? Mohon maaf, papa masih di kantor. Jadi, langsung ke sana saja ya," ucap gadis itu tersenyum canggung dan hendak menutup pintunya kembali.


Tangan lebar pria itu segera menahan pintu tersebut, lalu menarik lengan Emily agar keluar dari rumah. Gadis itu tentu memberontak.


"Eh! Eh! Tunggu deh, ini namanya penculikan. Lepas!" seru Emily menepuk-nepuk lengan Hansen.


Pria itu tetap melangkah panjang, pandangan lurus ke depan dan masih menggenggam lengan putih gadis itu. Emily terus memberontak.


"Mama! Anaknya diculik! Mama!" teriak Emily. Percuma, karena posisi mereka semakin mendekati mobil. Hansen membuka pintu mobil dan mendudukkan paksa gadis itu. Ia segera berputar untuk mulai melajukan mobilnya.


Emily mendengkus kesal, ia membuka jendela lebar-lebar, menopangkan dagu dengan pandangan keluar. Rambut panjangnya berhamburan tertiup angin, ia tidak peduli.


Hansen melirik lengan Emily yang memerah, satu tangannya terulur mengusapnya lembut. "Maaf ya," ucapnya tanpa menoleh karena fokus dengan jalan raya.


"Ck!" Emily berdecak kesal, ia menghempaskan lengan Hansen dan kembali menatap luar jendela.


Seketika Emily menoleh, "Rumah sakit? Kenapa? Apa Sasa sakit?" cecarnya dengan raut khawatir.


Pria itu hanya mengedikkan kedua bahunya. Emily menggeram, ingin menelepon Khansa tapi dia tidak membawa apa-apa. Baju yang dikenakannya bahkan baju rumahan, rok mini dengan atasan tanpa lengan. Dalam hati ia terus mengumpat pria yang duduk di sebelahnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sesampainya di rumah sakit, Hansen bergegas menuju ruangan Bibi Fida. Emily nyaris berlari saat menyamakan langkah Hansen. Wajah cantiknya berubah masam karenanya.


Satu lengan Hansen mengayun hendak mengetuk pintu ruangan. Namun Emily segera menerobos dan membuka pintu itu dengan kasar.


"Sasa!" teriaknya mengedarkan pandangan.


Emily terpaku melihat Khansa yang mengamuk sembari menangis. Dia tidak mau bertemu dengan siapa pun, termasuk suaminya. Tapi Leon sama sekali tidak mau meninggalkannya sendiri. Pria itu khawatir, Khansa akan melakukan hal yang berada di luar nalar.


"Apa yang terjadi?" tanya Emily dengan mata berkaca-kaca. Ia melihat Khansa seperti dulu lagi, ketika ia akan dibuang ke desa. Frustasi, hancur, kesedihan mendalam.

__ADS_1


"Tunggu!" Leon berucap tanpa suara sembari mengangkat tangannya menahan Emily agar tidak mendekat dulu.


Khansa masih syok, ia pikir selama ini, dirinya orang yang paling tersakiti, dikhianati oleh orang-orang terdekatnya. Namun ternyata, ibunya berkali-kali lipat merasakan sakit yang begitu dalam, hingga akhir hidupnya. Takut, tentu saja. Trauma, sudah pasti.


Leon menangkup kedua pipi Khansa, menatap iris hitam berlapis cairan bening milik gadis itu. "Sayang, dengarkan aku. Nyonya Sebastian tidak selemah ini, kamu perempuan yang kuat, Sa. Di belakangmu masih banyak orang-orang yang sayang sama kamu, ada nenek, Bibi Fida, Emily dan masih banyak yang tulus sama kamu. Jangan pernah lupa, di sampingmu ada aku. Bahu ini siap kamu pakai bersandar. Tangan ini akan selalu menggenggam tanganmu, dan kaki ini akan selalu melangkah bersamamu. Ibu pasti bangga melihat putrinya yang cantik dan sehebat ini," tutur Leon saat tangis Khansa mulai mereda.


Napas Khansa mulai memelan, tidak memburu seperti tadi. Matanya mengerjap dengan sangat pelan namun tak melepas pandangan dari pria yang ada di hadapannya. Pria yang sedari tadi dia pukul, usir namun tetap bertahan. Sama sekali tak beranjak dari sisinya. Leon tak lelah menyeka air mata Khansa yang terus berjatuhan.


Perlahan Khansa melingkarkan lengannya pada pinggang Leon. Kepalanya bersandar dengan nyaman di dada pria itu. Leon mengembuskan napas lega, ia pun membalas pelukan itu lebih erat.


Emily tidak kuat melihat Khansa kembali terpuruk seperti itu. Dia kembali keluar dan duduk di sebelah Hansen. Ia menangis tanpa bersuara. Hansen hanya mengernyitkan alisnya, sembari menatap gadis itu.


Setelah beberapa lama, Leon keluar dari ruangan. Kedua kakinya melangkah pelan mendekati Emily dan Hansen, berdiri bersandar pada dinding sembari menyulut sebuah rokok.


"Bagaimana, Han sudah ada hasilnya?" tanya Leon setelah mengembuskan asap rokok yang disesapnya.


"Belum, Kak. Harus melewati beberapa proses untuk hasil yang akurat. Ketika salah analisa 0,01% saja, hasilnya akan berbeda," jelas Hansen.


Emily yang tidak mengerti pembicaraan dua pria itu hanya diam menopang dagu dengan kedua tangannya. Tangisnya mereda, kedua matanya masih memerah.


"Hm. Ada satu hal lagi yang harus kamu teliti. Emily, cari bungkus obat yang ada di sudut paling bawah lemari Khansa. Lalu, segera lakukan penelitian juga, Han." Mata elang Leon berkilat tajam.


"Bungkus obat apa?" tanya Emily bingung. Leon hanya memicingkan mata. Hansen yang mengerti segera beranjak dan menarik lengan Emily.


"Eh apa sih ini main tarik-tarik. Aku mau ketemu Sasa!" sentak Emily menghentikan langkah.


"Jangan sekarang. Sasa sedang istirahat! Kalau kamu peduli sama Sasa, lakukan saja apa yang aku minta!" ucap Leon dengan tegas membuang puntung rokoknya, lalu kembali masuk menemani Khansa.


Emily semakin penasaran, namun Hansen segera menarik lengannya lagi meninggalkan rumah sakit itu.


Khansa menoleh saat mendengar derit pintu terbuka. Ia terbangun kembali saat tidak menemukan Leon di mana pun. Hendak beranjak, namun kepalanya masih berdenyut nyeri.


"Leon," panggilnya lirih.


"Kenapa bangun?" Leon mempercepat langkahnya, membungkukkan tubuhnya lalu mencium kening Khansa.


"Aku mau bertemu dengannya," balas Khansa menatap sendu.


Bersambung~

__ADS_1




__ADS_2