Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Bab 102. Diduakan


__ADS_3

Khansa mendorong dada Leon dengan kuat hingga pria itu kembali ke kursinya. Manik mata indah Khansa menyalang merah. "Bagaimana Yenny menyelamatmu?" tanya Khansa menaikkan dagunya dengan pandangan menyelidik.


Leon menghela napas panjang, membuka ingatan beberapa tahun yang lalu. Tangannya kembali berada di setir mobil. Ibu jarinya menggesek benda bulat itu dengan perlahan. Khansa sangat penasaran, bagaimana mungkin seorang Yenny mau berbaik hati menolong orang. Keduanya saling diam tanpa suara. Khansa masih tidak mengalihkan pandangannya.


"Itu, hanya masa lalu," gumam Leon mengembuskan napas kasar lalu kembali melajukan mobilnya.


"Cih!" Khansa mendecih lalu kembali menatap keluar jendela.


"Sa, aku bahkan tidak pernah menyentuhnya. Ah, hanya tangan saja waktu menanyakan namanya. Sejak saat itu, aku tidak pernah bertemu lagi dengannya," jelas Leon dengan nada bicara yang rendah.


Khansa tertawa sumbang, 'Dia bahkan masih mengingatnya setelah bertahun-tahun dan tidak mau bercerita. Siapa yang bisa percaya?' Matanya menangkap keindahan malam yang ia lalui. Meski dalam hati Khansa masih merasa tercekik.


Keheningan kembali tercipta di dalam mobil. Hingga mobil yang mereka kendarai telah sampai di bandara. Khansa melepas sabuk pengaman dengan cepat.


"Sa, tunggu!" Leon menarik lengan Khansa.


"Apalagi sih? Lepas!" teriak Khansa menghempaskan cengkeraman Leon.


"Aku 'kan sudah jujur, kalau aku nggak ada hubungan apa-apa dengan Yenny. Kenapa kamu masih marah sih?" sanggah Leon masih menggenggam lengan Khansa.


Khansa memejamkan matanya, meneguk salivanya yang terasa keras untuk ditelan. Ia mengibaskan tangan dengan kuat, "Selama Yenny belum menyebutkan permintaan terakhirnya, selama itu juga jangan harap aku bisa menerimamu. Aku tahu bagaimana tabiat Yenny. Dia pasti akan meminta untuk menikah denganmu. Selesaikan dulu urusanmu dengan Yenny!" pekik Khansa menajamkan tatapannya.


"Sa, sebagai nyonya Sebastian harusnya kamu berjuang untuk mempertahankan milikmu! Kamu rela menyodorkan aku pada wanita lain?" tanya Leon dengan percaya diri.


Khansa memutar tubuhnya, Leon menarik kedua sudut bibirnya. Ia yakin, Khansa pasti akan berjuang mempertahankannya.


"Leon, aku tidak akan mentolerir pengkhianatan secuil pun. Kalau memang terbukti kalian berdua ada hubungan, saat itu juga jangan harap untuk mengenalku lagi. Aku akan menjadi barisan pertama yang menyaksikan pernikahan kalian berdua! Supaya kalian puas!" pekik Khansa keluar lalu membanting pintu mobil dengan kasar.


Leon tersentak kaget, "Apa maksudnya?" Ia pun memilih keluar dan bersandar di mobil mewahnya. Tangannya meraih rokok yang selalu ia bawa dan mulai menyulutnya. Pandangannya mengawasi Khansa yang berlari sembari mengembuskan asap di mulutnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara itu, Khansa celingukan mencari keberadaan Emily. Sepasang matanya menangkap kerumunan dan orang-orang yang histeris. Ia curiga itu adalah Emily.


Khansa menerobos kerumunan itu dan benar seperti dugaannya. Emily diserbu oleh para fans. Khansa menarik lengan Emily, membukakan jalan untuk artis cantik itu dan membawanya lari.


"Sasa!" seru Emily kegirangan sambil berlari.

__ADS_1


Khansa menoleh sekilas, mengendikkan kepala sambil tertawa. Mereka berlari hingga mobil Leon dan buru-buru membukanya. Dua gadis cantik itu duduk di kursi penumpang belakang.


Napas mereka tersengal-sengal, keringat bercucuran di wajahnya. Khansa dan Emily saling pandang lalu tertawa dengan terbahak-bahak.


"Seru ya," ucap Khansa masih dengan tawanya.


Emily mengangguk-angguk, lalu meraih botol minumnya dan meneguk air putih itu. Leon masuk ke mobil dan duduk di balik kemudi. Ia menoleh, "Ngapain lari-larian?" ucapnya.


"Dikejar fans!" seru Emily setelah menutup botol minumnya lagi.


Khansa tak menggubris ucapan Leon, pria itu memutar tubuhnya dan mulai menyalakan mesin mobil.


"Eh, Sa! Kamu nggak bilang kalau jemput sama suamimu. Wah nggak nyangka disupirin sama Tuan Sebastian!" Emily berseru sembari bertepuk tangan. Leon hanya melirik sekilas melalui pantulan kaca spion di depannya.


Emily menyebutkan alamatnya. Sepanjang jalan dia terus berbicara, seperti tak kehabisan bahan pembicaraan. Khansa sesekali menanggapinya dengan tawa. Sedangkan Leon merasa diabaikan.


"Kapan kamu kembali Emily?" tanya Khansa.


"Aku meninggalkan beberapa pekerjaan dulu di sana. Karena aku ingin mencakar-cakar dan menghabisi bibit-bibit pelakor dulu. Contohnya Yenny Isvara," seru Emily melirik ke arah Leon. Namun pria itu seolah tak peduli. Padahal Emily sengaja mengeraskan suaranya.


Leon menatap gadis itu, "Terserah kau saja. Aku tidak mengenalnya," ucapnya dengan ekspresi datar.


Emily berkacak pinggang. Lalu memukul sandaran kursi Leon dengan keras, "Heh? Tidak mengenalnya tapi memberikan 10 milyar dan memberi biaya pendidikan di luar negeri? Jangan coba-coba membodohiku, Tuan muda!" Suaranya melengking bahkan Khansa sampai menjauhkan tubuhnya sembari menutup telinga.


"Nyatanya kami memang tidak ada hubungan Nona Emily," jelas Leon tetap berusaha tenang.


Emily hanya ingin memastikan saja. Bagaimana reaksinya jika mendengar Yenny disakiti. Pandangannya beralih pada Khansa yang enggan menatap Leon.


"Malam ini kamu tidur di apartemenku ya, Sa. Aku sangat merindukanmu!" seru Emily bergelayut di bahu Khansa.


"Tidak boleh!" sambar Leon dengan cepat.


"Kenapa?" pekik Emily menegakkan kembali tubuhnya.


Leon terdiam sejenak untuk memikirkan alasannya. "Kalian bahkan baru bertemu dua hari lalu, menginap bersama juga di Bali!" geram Leon memicingkan mata.


"Tuan, kau begitu posesif. Aku dan Khansa sudah seperti saudara. Bisa bertemu berdua kayak gini tuh kesempatan langka. Kami tidak mau menyia-nyiakannya. Ayolah, Tuan!" rengek Emily merayu Leon. Karena dua perempuan itu hendak memulai misinya.

__ADS_1


Khansa yang sedari tadi diam, kini angkat suara. Ia menegakkan duduknya, menyentuh tangan Emily dan menatapnya, "Emily, aku mau menginap di tempatmu," ucap Khansa lembut.


"Tidak boleh! Nanti nenek mencarimu," tolak Leon tegas berhenti di pelataran apartemen Emily.


"Sampaikan sama nenek, aku tidak pulang malam ini."


Leon sungguh-sungguh tidak ingin jauh dari istrinya. Namun kekecewaan Khansa memuncak. Dan dia belum bisa menerima penjelasan Leon, apalagi jika urusan dengan si muka dua itu belum usai.


"Sa, kamu lebih memilih bersamanya? Kamu sudah menghabiskan waktu dengannya kemarin," Leon masih mencoba membujuk.


"Kau saja bebas melakukan semaumu, tanpa meminta persetujuanku. Dan sekarang kamu mau melarangku? Mimpi!" ucap Khansa dengan kesal menarik Emily keluar dari mobil.


"Sa, tunggu!" Emily melepaskan lilitan tangan Khansa. Mengetuk jendela, yang kemudian dibuka oleh Leon dari dalam. "Tuan Leon, terima kasih ya sudah repot-repot menjemputku!" Emily memamerkan senyum lebarnya sembari melambaikan tangan.


Kedua perempuan itu bergegas masuk ke apartemen, menaiki lift menuju kamar Emily. Leon tidak beranjak. Ia masih termenung di dalam mobil. Menyandarkan kepalanya di sandaran kursi dengan mata terpejam.


"Diduakan? Sama perempuan pula!" desah Leon mengembuskan napasnya kasar.


Buru-buru Emily membuka pintu apartemen dan masuk. Ia menarik lengan Khansa mendudukkannya di sofa.


"Gimana, kita mulai dari siapa dulu nih?" tanya Emily antusias.


Bersambung~



💆: Syukurin... wkwkwkwk!!


Mas Le: Kampret! Ngapain lu update. Katanya sakit? Boong lu?!


💆 : Ya Allah kagak Mas. Suwer. Kepala nyut nyutan ini. Kalau nggak percaya dengerin deh audio ini di bab 73, suaraku serak-serak becek. Ini update karna komennya banyak. tapi nggak berani buka pasti merong-merong semua. entar aja pas udah end aku buka komennya 😂😂


Mas Le: Promosi! Lu tau nggak komennya hujatan buat gw semua.


💆 : Budu... kali aja ada yg mau denger suaraku yang semlohayy 😆😆 eh betewe, aku update buat nambahin hatersmu Mas Le. Awokwokwok... kaboorrr 🤸‍♀️🤸‍♀️


__ADS_1


__ADS_2