
Semua mata tertuju pada sosok yang berdiri dengan gagah di ambang pintu. Emily tak berkedip menatapnya. Bukan karena terpesona, namun gugup. Ini pertama kalinya bertemu dengan calon mertuanya. Tuan Mahendra datang setelah bisa menguasai emosinya.
Di belakangnya ternyata Bara mengekori. Pria itu pun turut masuk ke kamar besar Hansen. Ruangan luas itu kini menjadi ramai dengan kehadiran mereka semua.
Tuan Mahendra berjalan perlahan. Tatapannya tak lepas dari manik sayu Emily. Lalu beralih menatap putranya. "Hansen!" panggilnya. Segera pemilik nama itu beranjak berdiri. Beradu pandang dengan sang ayah.
"Apa benar kamu ingin menikahinya?" tanya Tuan Mahendra tegas menunjuk Emily dengan dagunya.
"Iya, Ayah. Hansen mencintainya, sangat!" jawabnya tak kalah tegas.
Emily menelan salivanya, apalagi saat ini Tuan Mahendra beralih menatapnya. Debaran jantungnya mulai tak beraturan. Pria paruh baya itu melewati Hansen dan menatap lekat Emily. Gadis itu segera bangkit dari duduknya perlahan.
"Emily," panggil Tuan Mahendra setelah beberapa saat.
"Ayah, Kak Emily cantik 'kan?" bisik Jennifer bergelayut manja di lengan sang ayah, menatap Emily dengan binar bahagia.
"Iya, persis seperti ibunya. Emily, atas nama Agnes, saya minta maaf. Sudah sejak lama saya mencari keturunan Miller, karena waktu kecelakaan, kalian dikabarkan tidak berada di lokasi. Apalagi saat itu sangat banyak korban. Saya ingin berterima kasih atas jasa-jasa perjuangan ibumu, dengan merawat kalian." Tuan Mahendra menyentuh puncak kepala Emily.
"Tapi ternyata, kamu ditakdirkan untuk menjadi pendamping putraku." Tangannya beralih meremas tangan Emily yang terasa dingin.
Emily berkaca-kaca, "Jadi ... Anda ... merestui kami, Tuan?" tanyanya terbata-bata, dadanya terasa sesak. Sedih, mengingat ia berpisah dengan ibu kandungnya ketika masih berusia balita. Namun, berkat kerja keras mendiang ibunya, begitu mudahnya dia mendapat restu dari salah satu konglomerat di Palembang.
__ADS_1
"Tentu saja, Nak. Tidak alasan saya menolakmu. Apalagi Hansen sangat menginginkanmu. Saya tidak menerima panggilan selain ayah dari bibirmu!" tutur Tuan Mahendra menyunggingkan senyum tipis.
Air mata Emily mengalir dengan begitu derasnya. Kepalanya menunduk dalam. Tubuhnya bergetar hebat karena tangis yang tak terbendung. Hansen dan Bara serentak mendekat.
Hansen segera memeluknya dari depan. Membenamkan kepala Emily ke dalam dekapannya. Sedangkan Bara mengusap punggung adiknya, dengan mata berkaca-kaca. Ia juga sangat merindukan ibunya.
Jennifer tersenyum melihatnya. Ia lega karena sang ayah mendukung pilihan Hansen yang sesuai dengan keinginannya juga. Gadis itu memeluk sang ayah dari samping.
"Percepat saja pernikahan mereka, Yah. Jen nggak sabar mau lihat Kak Han dan Kak Emily berdiri di atas altar," ucapnya mendongak menatap Tuan Mahendra.
"Kalau begitu minggu depan saja kita langsungkan pernikahannya," usul Tuan Mahendra.
Semuanya tersentak, Hansen segera melepas pelukannya menatap sang ayah. "Terlalu cepat, Ayah. Kami butuh persiapan lebih. Apalagi, resepsi nanti akan dilangsungkan bersama Kak Leon."
Semuanya mendesah lega. Terutama Emily dan Bara, karena ternyata tidak perlu drama yang lebih menguras energi untuk meminta restu orang tua Hansen. Mengenai ibunya, Bara yakin akan segera dibereskan oleh Tuan Mahendra sebagai pemegang tahta tertinggi keluarga.
"Kalau Bara kapan nikahnya? Kamu 'kan seumuran dengan Hansen," tembak Tuan Mahendra membuat Bara terkejut. Tidak menyangka akan mendapat pertanyaan seperti itu. Bara menggaruk kepalanya yang tiba-tiba terasa gatal. Ia tersenyum canggung.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu, Leon bersama Khansa baru saja sampai di Villa Anggrek. Mereka ingin memberi kejutan pada nenek kesayangannya. Keduanya masuk saling bertautan tangan dengan erat.
__ADS_1
"Nenek di mana, Paman?" tanya Khansa pada Paman Indra yang tidak sengaja lewat.
"Oh, Nyonya Besar baru saja masuk kamar, Nyonya," sahut Paman Indra mengangguk.
"Baiklah, terima kasih, Paman!" lanjut Khansa meniti tangga menuju kamar sang nenek.
Leon mengulurkan lengannya pada pinggang Khansa, tangan lainnya menggenggam erat jemari Khansa. Ia benar-benar takut dan ingin menjaga istrinya lebih ekstra. "Hati-hati, Sayang," ucapnya memperhatikan setiap langkah kaki Khansa.
"Leon, jangan berlebihan," ucap Khansa tertawa geli melihat keposesifan suaminya.
"Tidak! Tidak! Ini bukan berlebihan. Di dalam perut kamu ada Leon dan Khansa junior. Bukan hanya satu. Kamu pernah keguguran, ingat? Jadi aku nggak mau kejadian itu terulang lagi!" papar Leon masih menunduk memperhatikan langkah Khansa.
Wanita itu berhenti ketika sampai di ujung tangga. Ia terharu, masih teringat jelas bagaimana reaksi suamianya saat kehamilan pertamanya dulu. Dan kini sangat berbanding terbalik. Sungguh, hatinya benar-benar terharu. Ia sampai menitikkan air mata bahagia.
"Kenapa, Sayang? Ada yang sakit? Mana yang sakit?" tanya pria itu panik.
"Enggak, aku terharu saja. Karena kamu sangat mengkhawatirkan kami. Terima kasih, Sayang!" ucap Khansa memegang kedua lengan Leon lalu menubruk dada bidang suaminya, memeluk erat pria yang mendampinginya selama ini.
Leon membalasnya tak kalah erat. Mencium kening sang istri dengan hangat. "Tentu saja! Kamu sudah mengambil separuh napasku, Sayang. Ayo kita beritahu nenek!" ajaknya meregangkan pelukan.
Khansa mengangguk, keduanya melangkah hingga sampai di depan pintu kamar nenek. Khansa mengetuk pintu dengan perlahan. "Nek," panggilnya dengan suara pelan. Takut akan mengejutkan wanita tua itu.
__ADS_1
Bersambung~