Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Season 2 ~ Bab 22 : EXCITED


__ADS_3

Beberapa menit berlalu, Khansa sudah mulai sesenggukan. Kedua mata elang Leon pun sudah berubah merah. Mereka tak mampu berucap walau satu patah kata pun.


Leon menarik kepala Khansa pada dada bidangnya, memeluknya dengan sangat kuat. Keduanya larut dalam tangis bahagia yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.


Dokter Syifa dan perawat yang melihatnya turut menangis haru melihat selebrasi pasangan itu. Padahal mereka terbiasa melihat suasana seperti ini. Namun menurut dokter dan suster tersebut, pasangan ini yang paling membuat mereka terhanyut hingga ikut menitikkan air mata.


"Sayang, aku hamil lagi!" pekik Khansa di sela tangisnya. Kedua tangannya mencengkeram kuat jas hitam yang dikenakan Leon.


"Iya, Sayang! Kita akan segera menjadi orang tua!" sahut Leon dengan suara bergetar.


Dokter Syifa dan perawatnya hanya diam, tidak berani menyela kebahagiaan yang membuncah dari pasangan itu. Dia akan menunggu hingga waktunya tepat.


Hingga beberapa menit kemudian, Leon dan Khansa saling menyeka air mata dari pasangan mereka. Leon mengusap kedua mata Khansa, sedangkan Khansa juga mengusap kedua manik Leon yang basah. Keduanya lalu tersenyum bersama dan kembali berangkulan erat.


"Bagaimana bisa kamu tidak menyadarinya, hemm?" Pertanyaan yang sebenarnya akan ditanyakan oleh sang dokter didahului oleh Leon.


"Aku nggak tahu. Karena memang nggak ngerasain gejala apapun. Lagi pula siklus menstruasiku enggak teratur semenjak lepas kontrasepsi," papar Khansa diangguki oleh semua orang yang di sana.


"Bukankah kamu tadi muntah-muntah? Bahkan mencari makanan tak wajar pagi-pagi buta," terang Leon membuat Khansa tertawa mengingatnya. Namun ia benar-benar tidak menyadarinya.


Khansa menoleh, barulah tersadar, jika tidak hanya mereka berdua yang berada di ruangan itu. Khansa menjadi malu dan merasa tak enak hati. Ia mendorong suaminya sedikit menjauh.


"Maaf, Dokter. Kami terlalu euforia dengan kabar ini. Apalagi setelah penantian yang sangat panjang," papar Khansa mengungkapkan perasaannya.


"Tidak apa-apa, Dok. Kami mengerti yang Anda rasakan. Selamat ya sekali lagi. Ini hasil pemeriksaannya. Janin Anda berkembang dengan baik, bahkan sekarang sudah berusia 8 minggu." Dokter Syifa menyerahkan sebuah foto USG disertai buku catatan kesehatan dan juga resep obat untuk Khansa.


Leon mengernyitkan dahi saat mengamatinya. Ia masih mengingat jelas bagaimana bentuk foto USG janin mereka yang pertama. "Kok nggak sama dengan yang dulu, Sayang!" tanya Leon meraihnya.


"Kenapa memangnya?" Khansa mengalihkan pandangan ke tangan Leon.


Kemudian kedua manik indahnya melebar dengan sempurna saat melihatnya. Lalu beralih menatap dokter yang menanganinya. "Dokter Syifa ... apakah ....?" Tenggorokan Khansa tercekat.


Dokter Syifa mengangguk dengan senyum lembut. "Iya, Dokter. Selamat atas kehamilan kembar Anda," ujarnya pelan.


"Sayang!" pekik Khansa kembali menghambur ke pelukan Leon.


"Dua sekaligus!" Leon tak kalah antusias. Lalu menghujani ciuman di wajah Khansa.

__ADS_1


Sudah tak terhitung lagi siang itu mereka berpelukan. Entah sudah berapa lama mereka menghabiskan waktu di dalam sana. Khansa baru tersadar ketika mendengar ketukan pintu.


"Ya ampun, Sayang. Kita nggak ada dalam antrian. Kasihan pasien yang lain!" tegas Khansa membenarkan kemeja dan celananya.


"Sesekali nggak apa-apa," gumam Leon tanpa rasa bersalah.


"Issh! Jangan gitu lain kali!" cebik Khansa memukul lengan Leon.


Ia segera turun dari ranjang, Leon membantunya dengan sangat hati-hati. "Pelan-pelan, Sayang!" ucapnya merengkuh pinggang sang istri dengan sangat erat.


"Kalau begitu terima kasih banyak, Dokter. Kami permisi dulu!" ucap Khansa dibalas anggukan ramah oleh sang dokter.


Sedangkan Leon hanya dengan tak acuh melangkah keluar sembari menggandeng istrinya, tanpa bertegur sapa sama sekali seolah tidak ada siapapun di dalam sana.


Semua orang sudah paham dengan karakter pria itu. Dingin, datar dan tanpa ekspresi pada orang lain. Namun sangat hangat jika bersama keluarga. Karenanya, mereka sedikit terkejut dengan Leon yang excited bahkan sampai menitikkan air mata seperti itu. Hal yang tidak pernah mereka temukan sebelumnya.


Setelah pemeriksaan, Leon dan Khansa menuju ruangan Emily terlebih dahulu. Ia ingin mengetahui kondisi sahabatnya itu.


"Emily!" sapa Khansa masuk ke ruangannya.


Di sana, sudah ada orang tua Emily, Bara, Hansen dan tidak ketinggalan Jennifer yang masih setia menunggu Emily sampai sembuh.


"Hehe ... iya, Kak, sampai Kak Emily pulang," ucap Jennifer pada kakak sepupunya itu.


Leon hanya mengangguk. Ia menyusul istrinya yang sudah seru bergabung dengan Emily dan keluarganya. Menurut dokter yang memeriksanya, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Psikis Emily dan Bara juga sudah mulai membaik sejak mereka tahu ada hubungan darah di antara keduanya.


"Emily, aku ada kejutan buat kamu!" ucap Khansa setelah menanyakan kondisinya.


"Apa?" tanya Emily antusias.


Khansa mengeluarkan foto USG dan menunjukkannya di depan dada. Emily memekik kegirangan sembari menutup mulutnya.


"Aaaaa! Sasa! Selamat, Sayang!" jerit Emily merentangkan kedua lengannya


Khansa pun langsung masuk ke dalam pelukan sahabatnya itu. Bahkan Emily sampai menangis, karena benar-benar tahu bagaimana perjuangan Khansa untuk bangkit kembali.


"Ponakan kamu nggak cuma satu, tapi dua sekaligus," gumam Khansa di telinga Emily.

__ADS_1


Sontak gadis itu meregangkan pelukannya. Menangkup kedua pipi Khansa dan menatapnya serius. "Dua? Kembar?" tanyanya meyakinkan.


Khansa mengangguk, Emily kembali menjerit karena terlalu bahagia. Sampai Hansen harus membungkam mulut Emily karena teriakannya terlalu nyaring.


"Jangan berisik. Nanti kaget ponakan kita!" gumam Hansen membuat semua orang tertawa.


Emily menepisnya, karena hampir kehabisan udara saat telapak besar Hansen menutup mulut dan hidungnya. "Iih justru biar mereka nggak kaget kalau udah lahir nanti. Dan twins akan langsung mengenali aunty nya yang comel dan menggemaskan ini. Saranghaeyo twinsnya aunty!" ujar Emily mengarahkan finger love pada perut Khansa.


Kabar bahagia itu tentu saja memberi kebahagiaan pada semua orang. Satu persatu dari mereka mengucapkan selamat pada Khansa, termasuk Bara.


"Semoga nanti cowok semua ya, biar ganteng dan gagah kayak papanya!" ujar Bara genit yang segera mendapat cubitan dari Emily.


"Aaaww! Sakit, Baby!" pekiknya mengusap lengannya.


"Jangan kumat lagi deh!" cebik Emily menatapnya tajam.


"Loh, salahnya di mana adikku sayang? Bener dong, kalau cowok nanti ganteng dan gagah kaya papahnya. Nggak mungkin kaya aku 'kan?" elak Bara.


"Ya nggak usah dibuat-buat nadanya! Getok lagi nih biar sadar!" Emily mengangkat bantal pasien dan hendak memukulkannya pada Bara.


Pria itu segera bersembunyi di balik tubuh Monica yang terus tertawa sedari tadi. "Udah! Udah, ayo saatnya pulang!" titahnya melerai keduanya.


"Jadi, kapan kamu akan melangsungkan pernikahan? Keburu perut aku besar nanti," ucap Khansa sembari menyentuh perutnya.


"Secepatnya. Ma, Pa, izin bawa Emily ke rumah," tukas Hansen menjawabnya.


Dua orang paruh baya itu saling pandang, kemudian Frans menepuk bahu Hansen. "Mmm ... papa percaya padamu!" tandasnya.


"Pasti, Pa!" sahut Hansen.


"Inget ya, aku ikut. Awas kalau terjadi apa-apa lagi dengan Emily!" Kini berubah menjadi pria gentelman


'Ya ampun, baru kali ini nemu orang setengah-setengah!' gumam Jennifer menggelengkan kepalanya.


Bersambung~


Selamat Sasa, Mas Lee 😍 Double Kill

__ADS_1




__ADS_2