
"Maksudnya?" tanya Leon mengernyitkan alisnya.
"Aku merasa masih ada hal yang kamu sembunyikan!" selidik Khansa menyipitkan kedua matanya.
"Enggak ada, udah aku ceritain semuanya 'kan waktu nyelametin Gerry dulu!" elak pria itu. Namun Khansa tidak percaya, ia menaikkan sebelah alisnya menuntut jawaban lebih.
Senyum tipis terulas di bibir Leon, tatapannya kosong ke sembarang arah. Seolah sedang menembus batas waktu. Khansa mengulurkan satu tangannya, membelai lembut pipi sang suami. Hingga netra mereka kembali saling bertautan.
"Kamu selalu lupa, aku hadir di sisimu bukan hanya sebagai pendamping. Tapi juga untuk menjadi tempat berbagi, menjadi partner di segala keadaan."
Ucapan Khansa yang lembut dan menenangkan, menelusup hingga hati Leon. Rasa hangat mulai mengaliri setiap aliran darahnya. Sadar, tidak akan bisa menyembunyikan apa pun dari istri hebatnya itu.
"Kamu pemenangnya!" canda Leon terkekeh.
"Kita nggak lagi bertarung, Leon!" dengus Khansa memukul dada pria itu dengan kesal.
"Mmm ... Waktu itu aku baru pulang dari luar negeri, pendidikanku baru saja selesai. Tiger membawa kekasihnya ke rumah, dan sejak saat itu perempuan tersebut lebih sering datang ke rumah ada ataupun tidak ada Tiger. Suatu hari, tiba-tiba dia mengatakan pada Tiger, pernah tidur denganku." Leon menjeda ucapannya, melihat perubahan mimik muka istrinya.
Kedua manik indah Khansa membulat dengan sempurna menyemburkan kilatan emosi. Dadanya bergemuruh hebat, rongga dadanya seperti ada yang memukul dengan palu raksasa, kepalanya pun terasa berdenyut keras.
"Kau melakukannya?" selidik Khansa dengan suara bergetar.
"Mana mungkin, Sayang? Enggak ada perempuan yang menarik di mataku selain kamu." Leon membelai rambut panjang Khansa. "Dia memang selalu menggodaku dan bahkan dengan terang-terangan mengatakan lebih menyukaiku dari pada Tiger."
Khansa mengembuskan napas lega. Teringat dengan ucapan sang nenek yang pernah mengatakan bahwa Leon tidak pernah dekat dengan wanita manapun, membuatnya yakin bahwa Leon tidak mungkin seperti itu.
"Dan Tiger percaya dengan perempuan itu?" selidik Khansa menautkan kedua alisnya.
"Begitulah." Leon mengendikkan kedua bahunya.
"Kamu tidak membela diri?" seru Khansa menekan emosi yang membuncah.
"Untuk apa? Pembenci akan selalu menganggap kita salah sekalipun ucapan kita benar. Dan akan menganggap berkilah ketika kita membela diri," jawab Leon santai namun merasakan sesak di dadanya.
Khansa segera menyusupkan kepalanya di dada bidang sang suami, mempererat pelukannya. Namun tanpa diduga, satu tangannya sudah bersiap dengan sebuah jarum yang ia tusukkan di salah satu pelipis Leon.
__ADS_1
Sedikit menengadah, ia ingin kembali membuat Leon tenang, takut jika terus mendesaknya bisa kembali memicu trauma. Sekarang Khansa mengerti titik terang perseteruan dua saudara itu. "Istirahatlah, Sayang," gumamnya.
Perlahan kedua mata elang Leon mulai terpejam, dengkuran halus pun mulai terdengar. Khansa bergerak hingga sejajar dengan kepala Leon, memberi kecupan pada pria itu cukup lama.
Kini dirinya yang tidak bisa tidur. Khansa pun menurunkan kedua kakinya dari ranjang. Waktu sudah menunjukkan pukul tiga malam. Khansa melenggang menuju balkon, menutup pintu perlahan.
Kedua jemari lentiknya menggenggam erat trallis baja di tepi balkon. Kepalanya mendongak, matanya terpejam sejenak, menghirup dalam-dalam udara sejuk yang berembus. Benar-benar menenangkan. Tidak ada kebisingan dan polusi seperti saat di kota. Ditambah derik jangkrik dan tonggeret saling bersahutan memecah keheningan malam itu.
Beberapa lama kemudian, terdengar derap beberapa kaki yang melompat ke balkon tersebut. Khansa membuka kelopak matanya dengan cepat. Tubuhnya mundur beberapa langkah hingga membentur dinding. Dadanya berdegub kuat.
"Siapa kalian?" ucap Khansa dingin menatap lima orang pria berperawakan tinggi kekar dan seluruh tubuhnya terbalut kain hitam, termasuk kepala. Hanya menyisakan sepasang manik hitam mereka. Ada tali pengaman yang terikat di perutnya.
Kelima pria itu semakin merangsek maju, Satu tangannya menyiapkan jarum di sakunya. Manik matanya menatap waspada. Dengan lincah Khansa menendang tulang kering pria pertama hingga berlutut, lalu menjatuhkan siku dengan kuat di salah satu bahunya. Pria itu memekik kesakitan.
Tiga pria lain segera menyerang bersamaan. Dengan gerakan cepat, Khansa menusukkan satu jarum yang mematikan di bagian pelipis hingga seorang pria misterius itu tergeletak seketika.
Sisanya mengarahkan tendangan bersamaan mengarah pada dada Khansa, namun gerakannya bisa terbaca dengan mudah. Kedua tangannya menangkap ujung kaki dua pria itu dan memutarnya dengan tenaga penuh, hingga mereka melayang berputar di udara lalu terhempas kuat ke lantai.
Tak hanya itu, Khansa menginjak dada mereka sekuat tenaga hingga menyemburkan darah segar dari mulut dua pria itu. Pria terakhir melayangkan tendangan pada dada Khansa, tubuhnya terpelanting hingga terhempas ke lantai.
Sayangnya, jarum yang Khansa tusukkan untuk memberi ketenangan pada sang suami, membuat tidur pria itu sama sekali tidak terganggu.
Dengan gerakan cepat pria itu merangsek ke hadapan Khansa dan memukul tengkuknya hingga perempuan itu pingsan. Khansa dipanggul seperti karung beras di bahunya. Dia segera turun dengan seutas tali yang menggantung pagar balkon tersebut. Sama sekali tidak menemukan kesulitan berarti.
Tiba di lantai bawah, beberapa anak buah Leon menghadang pria itu. Mereka berbaris melingkar dengan tatapan yang teramat tajam. Terkejut ketika menemukan nyonya nya dalam keadaan pingsan. "Lepaskan dia! Jika kamu ingin selamat!" seru Mario dan beberapa anak buahnya yang sempat mendengar kericuhan ketika mereka berkeliling.
Pria bertopeng itu menyeringai di balik topengnya. Tak berapa lama, datang berbondong-bondong orang berpakaian sama. Mereka langsung menyerang Mario dan anak buahnya. Ia sempat menekan alat di tangannya sebagai sinyal yang mengirimkan tanda bahaya.
Khansa berhasil dibawa kabur oleh pria itu, tidak ada yang sempat mengejar karena harus melawan jumlah orang yang tidak seimbang. Pertempuran pun tak terhindarkan.
Alarm tanda bahaya memekakkan telinga Gerry yang sempat tertidur sebentar dalam perjalanan. Ia segera melakukan panggilan melalui alat komunikasi pada para atasannya. Jemarinya dengan cepat segera membuka laptop dan memeriksa seluruh CCTV di resort milik Tiger.
"Tuan! Gawat! Nyonya dibawa kabur!" Suara Gerry terdengar gemetar dan panik.
"Apa?!" pekik Hansen dan Simon bersamaan.
__ADS_1
"Bagaimana dengan Kak Leon?" tanya Hansen lagi.
"Sepertinya beliau tidak kelihatan, Tuan. Hanga nyonya saja yang dibawa lari ke salah satu tempat penginapan. Saya segera kirim titik lokasinya!" seru Gerry yang merasakan jantungnya hampir meledak saat itu juga.
Hansen dan Simon segera beranjak dari ranjang. Meskipun mereka baru terpejam beberapa menit yang lalu. Namun keselamatan kakak iparnya adalah prioritas mereka saat ini.
"Simon, kamu kejar Khansa! Aku cek Kak Leon!" titah Hansen pada adik sepupunya sembari berlari menuruni tangga dengan cepat bersamaan dengan Simon.
"Baik!" sahut Simon memasang wajah dinginnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Seluruh bawahan Leon bergerak cepat saat mendengar alarm bahaya dari alat yang terdengar di telinga mereka. Serentak mereka segera menatap jam tangan yang menunjukkan titik merah. Segera mereka berlarian menuju belakang villa dan di sana membantu kepala pengawal menyerang banyaknya orang-orang misterius itu.
Hansen menerobos masuk menuju kamar Leon. Pria tampan itu mengatur napas dan melihat sang kakak yang tidur lelap di atas ranjang. Kakinya melangkah panjang segera mendekat.
"Kak! Kak Leon!" panggil Hansen menepuk-nepuk pipi Leon.
Aneh, pria itu bergeming. Hansen berlari menuju balkon yang pintunya terbuka lebar. Ia menemukan empat orang tergeletak mengenaskan di sana. Matanya menangkap benda menyilaukan di lantai. Ia melangkah melewati orang-orang itu dan memungut sebuah kalung bermata merah dengan berlian kecil mengelilingi batu merah tersebut.
Saat kembali ke kamar, Hansen baru sadar jika sebuah jarum perak menancap di pelipisnya. Pria itu segera mencabut benda tersebut dan membuangnya. Kembali menepuk pipi Leon dan memanggilnya namun masih tidak ada jawaban.
Hansen tak kehabisan akal, dia melihat masih ada satu gelas yang berisi air minum penuh. Ia menyiramkan tepat pada mata Leon. Seketika Leon terperanjat kaget dalam kondisi basah kuyup di mukanya.
"Hei! Apa-apaan ini!" pekik Leon bangun dari tidurnya.
"Kak, Khansa dalam bahaya!" Hansen langsung berkata mengabaikan kemaran Leon.
"Apa?" Mata Leon membelalak lebar. Jantungnya seperti terhantam ombak yang begitu besar. "Di mana? Sial!" pekik Leon segera menyibak selimut dengan cepat dan turun dari ranjang.
Leon meraih deagle dan menggenggamnya kuat. Rahangnya mengeras seketika. Dua pria tampan itu bergegas melenggang keluar untuk menemukan Khansa.
"Tiger! Aku tidak akan pernah mengampunimu!" pekik Leon dipenuhi amarah yang meledak sembari berlari dengan cepat.
Bersambung~
__ADS_1
Huh hah!.. Maap bestie kita senam jantung dulu ya,😚 maap terlambat update. Karena dua hari kmren ga sempet pegang hp sama sekali. Love you all... berkebon kebon.