Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Season 2 ~ Bab 33 : Dua Istri


__ADS_3

Suasana hati yang mudah sekali tersentuh membuat Khansa tidak bisa menghentikan tangisannya. Betapa tidak, kemalangan gadis kecil itu sungguh kembali membuka ingatannya yang telah lama terpendam.


Ditinggalkan oleh keluarga, terutama ibu di usia belia, sangat menyesakkan dadanya. Leon mengerti apa yang dirasakan sang istri. Selama ini, selain terapi, ia juga sudah belajar banyak hal mengenai kehamilan untuk mempersiapkan diri.


Hormon kehamilan yang sangat berpengaruh, inilah yang membuatnya enggan meninggalkan sang istri seorang diri. Jika bukan dirinya, lalu siapa lagi yang bisa mengerti sang istri.


"Kasihan, Leon," bisik Khansa memeluk erat pinggang suaminya.


"Hmmm!" Leon hanya berdehem membalasnya. Tidak tahu mau menjawab apa. Membiarkannya menangis mungkin bisa melegakan hatinya.


Mendengar ada suara, Zahra segera mengakhiri kegiatannya. Ia meletakkan kembali kitab suci itu dan melipat mukenanya. Sedikit tergesa untuk menghampiri Khansa. Beribu terima kasih ingin gadis kecil itu ungkapkan.


"Tante dokter, terima kasih banyak atas semua bantuannya. Jika tidak karena tante, Zahra tidak tahu apa yang akan terjadi pada ibu," ucap Zahra menjatuhkan tubuhnya di hadapan Khansa.


Wanita itu segera meraih kedua bahu Zahra dan membangunkannya. Leon memberi jeda untuk gadis kecil itu duduk. "Sama-sama, Sayang. Kamu pasti belum makan. Makan dulu ya," ucap Khansa menyodorkan makanan pada Zahra.

__ADS_1


Zahra menerimanya dengan tangan gemetar. Ia terus mengucapkan terima kasih pada Khansa. Khansa membelai puncak kepala gadis kecil itu dengan sayang. Persis sekali dengannya dulu. Bedanya, ia sendirian. Dan Khansa tidak ingin kejadian kelam itu juga dirasakan oleh Zahra yang ada di depan matanya.


"Rumah kamu di mana, Ra?" Khansa bertanya ketika Zahra selesai dengan makannya.


Ia pun menceritakan perjalanannya. Zahra bersama ibunya saja tinggal di luar kota. Ayahnya beralasan bekerja di kota ini. Ternyata, itu hanya alasan saja.


Zahra diajak ibunya ke sini, bertemu sang ayah untuk yang terakhir kalinya. Ternyata ayahnya tinggal di desa bersama keluarganya yang lain. Ia tidak begitu paham, namun kedatangannya saat melihat sang ayah yang sudah terbujur kaku, mereka justru langsung diusir, dirundung dan dicaci maki. Ibunya langsung drop dan dia bingung harus membawanya ke mana.


"Seandainya tidak ada tante dokter, mungkin ibu juga akan pergi ninggalin aku," ucap Zahra tersenyum namun berlinang air mata.


Khansa memeluk erat gadis kecil itu. Ternyata memang Zahra berada di posisi yang hampir sama dengannya.


"Iya, Tante. Allah pasti akan mengabulkan doa-doaku," sahut Zahra dengan tegarnya.


"Aamiin. Kamu yang kuat ya. Demi ibu!" ujar Khansa meregangkan pelukannya memberi semangat.

__ADS_1


"Tunggu! Dari desa XX? Siapa nama ayah kamu? Siapa tahu Tante kenal," ujar Khansa.


"Ayah Riyan," cetus Zahra membuat Khansa membelalak.


Leon mengerutkan dahinya, "Kenapa, Sayang? Kamu kenal?" tanya pria itu.


Khansa mengangguk, "Dia yang sempat nolong aku waktu di desa dulu. Aku tidak menyangka dia punya dua istri," ucap Khansa masih dengan keterkejutannya.


"Ya enak dong. Kanan kiri dapet," celetuk Leon tanpa sadar.


Tentu saja memancing amarah wanita itu. Dadanya bergemuruh hebat mendengar penuturan suaminya. Khansa mengepalkan tangannya dan memukul-mukul bahu Leon.


"Jangan-jangan kamu juga pengen kayak gitu ya! Dasar buaya! Awas aja berani macam-macam, aku potong pusakamu sebelum dapat istri lagi!" geram Khansa dengan emosi yang meledak-ledak.


"Hei! Aku nggak kayak gitu, Sayang! Aku cuma ...."

__ADS_1


"Cuma apa, hah?" serunya melotot tajam membuat Leon bergidik ngeri.


Bersambung~


__ADS_2