Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Bab 180. Firasat


__ADS_3

Khansa telah menghilang sepenuhnya dari pandangan Leon. Seketika pria itu segera bangkit, bergerak dengan cepat keluar dari villa. Ia bahkan sampai lupa berpamitan dengan sang nenek. Wanita tua itu hanya memperhatikan dalam diam.


Jemari Leon menggulir ponselnya lalu meletakkan pada daun telinga. "Gerry! Segera tambah penjagaan untuk Khansa. Dia menuju ke rumah sakit sekarang!" tegas Leon saat berbicara melalui sambungan telepon.


"Baik, Tuan!" sahut asisten pribadinya dengan cepat.


Usai mengakhiri panggilan, Leon melangkah tegas menuju mobil mewahnya. Wajahnya datar tanpa ekspresi. Seorang sopir keluarga dengan sigap membukakan pintu penumpang belakang. Kemudian menutupnya perlahan saat tuannya sudah duduk dengan nyaman.


"Tuan!" Paman Indra mengetuk jendela mobil setelah berlari mengejarnya.


Leon menekan tombol hingga jendela di sebelahnya terbuka lebar. Sedikit menoleh, masih dengan tatapan datar. Paman Indra membawakan tas kerja yang ditinggalkan di meja makan tadi. "Mohon maaf, tas Anda ketinggalan, Tuan!" ucapnya membungkuk mengulurkan tas tersebut.


"Tolong sampaikan maaf untuk nenek. Katakan kalau aku sedang terburu-buru. Terima kasih," sambut Leon menerima tas tersebut, meletakkan di kursi sampingnya. Ia baru teringat belum sempat berpamitan.


"Baik, Tuan. Hati-hati!" Paman Indra masih membungkuk sampai mobil yang ditumpangi mundur dan melaju menuju gerbang keluar.


Jalan raya pagi itu masih tampak lengang, Leon merebahkan punggungnya pada sandaran kursi. Mereguk kerinduan yang membelenggu hati, menekan setiap gejolak amarah yang akhir-akhir ini kerap muncul ke permukaan.


Sopir menghentikan mobil tepat di depan loby. Satpam yang tengah bertugas segera melangkah cepat, menghampiri mobil Leon dan membukakan pintunya.


"Selamat pagi, Tuan!" sapa pria berkumis tipis itu.


"Hmm!" sahut Leon menjajakkan kedua kakinya, berdiri tegap sembari merapikan jas yang ia kenakan. Satu lengannya menyambar tas laptop. Kakinya melangkah panjang dan tegas membentur marmer bangunan pencakar langit itu.


Ia memasuki lift yang segera mengantarkan hingga lantai tertinggi gedung tersebut. Satu tangannya tenggelam di kantong celana. Punggungnya bersandar pada dinding lift, menunggu hingga benda itu terbuka otomatis saat mencapai tujuannya.


Benturan sepatu pantouvel Leon menggema di lorong hingga ke ruangannya. Ia letakkan tas di meja lalu mendaratkan tubuhnya di sofa. Duduk dengan kedua siku bertumpu di atas paha. Kedua tangannya membuka satu lembar kertas kecil yang sudah kusut dan tak berbentuk.


Usai mendapat terapi selama beberapa hari, Leon menatap kuat foto hasil USG di tangannya. Meski dadanya berdebar dan mulai berkeringat dingin, Leon terus fokus pada gambar dua dimensi tersebut. Melawan rasa panik, takut, khawatir dan rasa sakitnya.


"Permisi, Tuan!" Suara Dokter Yuda tidak mengalihkan pandangannya.


"Masuk!" perintah Leon.


Ya, Leon meminta dokter spesialis itu untuk datang ke kantornya sebelum bertugas. Ia menjalani beberapa prosedur terapi di luar jadwal yang ditentukan sang dokter. Ia ingin segera pulih. Karenanya menambah jadwal pertemuan tanpa ada orang yang tahu.


"Bagaimana perasaan Tuan sekarang saat menatap foto USG itu? Masih merasa panik? Takut?" tanya sang dokter mendudukkan diri di sebelah Leon.


"Saya sudah hampir setengah jam menatapnya," sahut Leon tanpa berkedip.

__ADS_1


Tiga hari lalu Leon selalu ketakutan berlebih saat menatap calon anaknya itu. Bahkan sampai gemetar hebat karena kepanikannya sendiri.


Setelah beberapa kali menjalani hipnoterapy dan menerima sugesti dari Dokter Yuda, Leon berhasil membuka kembali kilasan-kilasan masa lalunya yang tersembunyi rapat. Meski awalnya merasa kesakitan, lama kelamaan ia bisa menyelami rasa sakit itu dan membiasakan diri.


"Ini sebuah kemajuan!" seru Dokter Yuda mengulum senyum bangga. Menurutnya, Leon termasuk istimewa, tidak mudah melawan trauma sedalam itu. Meski tentu saja tidak bisa menghilang sepenuhnya.


Tekad yang bulat, keinginan yang kuat, juga motivasi yang besar mendorongnya agar segera sembuh. Istrinya adalah motivasi terbesarnya. Ia tidak bisa jika terus berjauhan dengan wanita kesayangannya itu.


Dokter Yuda pun terus memberi sugesti-sugesti untuk melanjutkan terapinya. Napas Leon mulai memburu, matanya terpejam erat dengan kedua tangan mengepal dengan kuat. Hatinya bergemuruh saat ini, keringat pun mulai bermunculan walau pendingin ruangan sudah menyala sedari tadi. Semua tak semudah yang dibayangkan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di rumah sakit ....


Langkah kaki Khansa mengarah ke bagian administrasi terlebih dahulu. Ia menyelesaikan pembayaran. Setelahnya, perempuan itu melenggang tenang menuju ruangan Bibi Fida.


"Bibi?" panggil Khansa setelah membuka pintu ruang rawat Bibi Fida.


Seluruh alat medis mulai dilepaskan dari wanita itu. Bibi Fida menggerakkan kepalanya, senyum lebar terkulum lembut di bibirnya saat melihat kedatangan Khansa.


"Non," sahutnya berkaca-kaca. Tidak menyangka takdir mempertemukannya kembali pada nona kecilnya. Bahkan ia pun tidak menyangka masih bisa bernapas sampai detik ini. Kalau bukan karena Khansa, mungkin sekarang ia hanya tinggal nama saja.


"Sudah boleh pulang 'kan, Sus?" tanya Khansa pada salah satu perawat.


"Terima kasih banyak sudah membantu menjaga Bibi Fida selama ini, Sus," sambung Sasa. Karena ia tidak bisa 24 jam terus berada di sana.


"Sama-sama, Mbak. Sudah tugas kami." Wanita itu menoleh pada Bibi Fida, "Sehat sehat ya, Bi. Mari saya permisi dulu," pamitnya mengangguk lalu melenggang pergi setelah mendapat balasan.


Khansa membantu menyisir rambut Bibi Fida yang berantakan, lalu mengikatnya dengan rapi. Khansa pun sangat bahagia, karena pengasuhnya dulu kini akan kembali berkumpul bersamanya.


"Kita ke rumah Sasa ya, Bi." Khansa membuka suara selesai merapikan baju Bibi Fida.


"Apa Non Sasa tinggal di sana?"


"Enggak, Bi. Sasa tinggal di Villa Anggrek bersama nenek. Di sana hanya ada ayah, Bi. Karena ... kakek sudah tenang di alam sana. Beliau tidak akan kesakitan lagi." Khansa duduk di sebelah Bibi Fida sembari menunggu obat dan petugas medis yang membawakan kursi roda.


Bibi Fida terkejut dengan penuturan Khansa. Tubuhnya terasa semakin melemah. Kilasan jatuhnya kakek masih membekas jelas diingatannya. Air matanya hampir menerobos keluar.


Buru-buru Khansa merangkulnya, "Bibi doakan saja ya. Jangan mikir aneh-aneh. Bibi harus sehat seperti dulu karena sebentar lagi akan menggendong cucu!" serunya dengan ceria.

__ADS_1


Kesedihan yang tadi membalut hatinya, kini tergerus dengan kabar bahagia. Bibi Fida melebarkan kedua matanya. Ia menangkup kedua pipi Khansa, menatapnya lekat dengan mata berkaca-kaca. "Non Sasa hamil?" serunya.


"Iya, Bi," sahut Khansa yang juga tidak bisa membendung air matanya. Hati kecilnya berharap, Leon segera pulih dari traumanya. Namun ia tidak ingin bercerita dengan siapa pun saat ini.


"Selamat ya, Non!" seru Bibi Fida memeluknya dengan erat.


Tak berapa lama, petugas medis pun datang, mengantar Bibi Fida hingga depan loby. Sopir sudah siaga menunggu di depan sembari membuka pintu lebar-lebar.


Sebuah mobil hitam juga mengikuti mereka dari belakang dengan jarak cukup aman. Laju mobil yang ditumpangi Khansa berada pada kecepatan rata-rata.


Tanpa mereka sadari, iring-iringan mobil bertambah. Khansa dan Bibi Fida menikmati perjalanan sembari bersenda gurau. Namun manik indah Khansa sesekali menatap spion, tampak beberapa mobil mengikutinya.


Khansa meningkatkan kewaspadaan. Meski tidak menunjukkannya di depan Bibi Fida. Tetap tenang di segala situasi dan kondisi. Meski dalam hati berdebar. Ia hanya mengeratkan pelukan pada lengan Bibi Fida.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Tuan, Nyonya sedang perjalanan ke rumah." lapor Gerry setelah ia menerima telepon dari anak buahnya.


Leon yang fokus dengan berkas-berkas di tangan, mengangkat kepalanya. Menatap sang asisten dengan mata elangnya. Tanpa menjawab ia segera menggerakkan jemarinya di atas keyboard dengan sangat cepat. Bibirnya terkatup rapat, fokusnya tidak beralih dari layar laptop yang menunjukkan situasi kediaman Khansa dari berbagai penjuru.


"Hmm, ya!" sahutnya belum melihat apa pun. Rumah besar itu masih sepi dan tidak menunjukkan aktivitas mencurigakan.


Pria jangkung itu kembali melanjutkan aktivitasnya. Sedangkan Gerry pamit kembali ke tempatnya. Leon membagi titik fokusnya pada pekerjaan, lalu beralih pada layar laptopnya. Ia terus memantau hingga melihat Khansa benar-benar sampai dengan selamat. Entah kenapa hatinya merasa tidak nyaman, bayangan Khansa terus bermunculan di otaknya.


"Haaahh!" Leon mengembuskan napas berat, ia meletakkan dokumen ke meja dengan kasar. Pandangannya hanya fokus pada pengintaian sang istri saja. Dadanya tiba-tiba berdebar tidak karuan. Leon mengusap wajahnya kasar.


Tak lama kemudian, tampak sebuah mobil memasuki pintu gerbang. Khansa turun lalu beralih ke seberang untuk memapah Bibi Fida dibantu sang sopir. Leon masih bisa melihat gerakan wanita itu hingga ke dalam rumah yang terpantau CCTV.


Beberapa saat kemudian, Leon membeliak lebar saat melihat sebuah mobil asing berhenti di depan mobil Khansa. Dan benar saja firasatnya, Hendra turun dengan angkuh dari mobil berwarna putih itu. Ia melangkah panjang menuju pintu utama.


"Gerry!" teriak Leon menggelegar di ruangan.


Terdengar derap langkah tergesa disusul pintu yang terbuka dengan kasar, menampilkan asisten pribadi Leon yang sigap dalam segala situasi.


"Saya, Tuan!" ucapnya tenang sembari membungkuk.


"Bawa semua pasukan ke rumah Khansa, sekarang!" Leon berteriak meraih ponsel sembari berlari keluar ruangan. Gerry mengangguk paham. Ia segera menjalankan perintah sang atasan lalu menyusul bosnya.


Bersambung~

__ADS_1



😌 Hmm percaya!


__ADS_2