Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Bab 164. Pertolongan Pertama


__ADS_3

Semua mata tertuju pada sang tuan rumah yang terkapar tak berdaya. Iris hitam Khansa tak bergerak sedikit pun dari pria dan wanita yang pernah membuatnya menderita. Gadis itu teringat dengan CCTV yang ditunjukkan oleh Leon, lalu telinganya seolah kembali mendengar pengakuan Bibi Fida.


Dadanya bergemuruh, hatinya terasa seperti ditusuk ribuan jarum. Nyonya Ugraha masih berteriak histeris meminta pertolongan. Khansa seperti melihat Bibi Fida sewaktu memohon berusaha menyelamatkan kakek.


Kelopak mata Khansa terpejam sejenak, gadis itu menarik napas panjang dan menahannya. Beberapa saat kemudian mengembuskannya secara perlahan. Sebisa mungkin Khansa berusaha tenang meski dalam tubuhnya bergejolak ingin membunuh kedua orang itu.


"Sayang!" panggil Leon yang melihat perubahan di wajah Khansa.


Perlahan, gadis itu menggerakkan kepalanya, menoleh pada sang suami lalu tersenyum samar. Ia mengerjap berulang, memastikan tidak ada cairan bening yang menghalangi pandangannya.


Khansa lalu berjalan pelan. Ia tidak peduli dengan orang-orang yang mulai membicarakannya. Langkahnya tetap menuju pada Tuan Ugraha.


Nyonya Ugraha yang masih menangis histeris melihat ujung kaki seorang wanita yang berdiri di hadapannya. Kepalanya mendongak, air mata telah membasahi kedua pipi wanita paruh baya itu.


Kelopak mata Nyonya Ugraha membelalak dengan sangat lebar saat melihat Khansa. Bibirnya sampai tidak bisa berteriak lagi. Gadis itu turut berjongkok mengabaikan tatapan terkejut dari Nyonya Ugraha.


Tangannya mengulur pada denyut nadi dan leher Tuan Ugraha, memeriksa keadaannya. Khansa menghela napas panjang, sembari menutup mata. Usai beberapa detik, Khansa kembali membuka matanya. Mengeluarkan beberapa jarum perak dan menusukkannya pada dada Tuan Ugraha.


"Jangan sentuh suami saya!" teriak Nyonya Ugraha menghempaskan tangan Khansa hingga jarum-jarum itu terlepas dari tangannya.


Khansa beralih menatap tajam pada wanita itu. "Suami Anda terkena serangan jantung mendadak. Arteri koroner yang mensuplai darah ke jantungnya mengalami penyumbatan. Seluruh tubuhnya kekurangan oksigen. Anda mau suami Anda segera mati jika tidak segera mendapat pertolongan pertama?" sembur Khansa dengan nada dingin.


Satu alis Leon terangkat, bola matanya memutar dengan malas. Ada rasa tidak terima kala istrinya justru memutuskan untuk menolongnya.


“A ... apa?!" balas Nyonya Ugraha terbata. Air matanya semakin mengalir dengan deras. Satu tangan menutup mulutnya menahan isakannya. Ia ketakutan bahkan berpikir Khansa akan membunuh suaminya.


Khansa mendekatkan kepalanya pada wanita itu, deru napasnya mulai terdengar kasar, "Saya bukan keluarga anda, yang bisa membiarkan orang lain sekarat. Bahkan justru sibuk melakukan segala cara untuk pembelaan diri. Sampai menculik saksi mata, memfitnah anak di bawah umur, dan menghilangkan bukti CCTV!" papar Khansa dengan suara sangat pelan namun tegas, hanya bisa terdengar oleh wanita itu saja.


Sontak Nyonya Ugraha tercengang. Panas dingin tengah menjalar di seluruh tubuhnya. Keringat mulai bermunculan di wajah cantik wanita paruh baya itu. Jantungnya seolah diremas dan tenggorokannya seperti dicekik akibat ucapan Khansa.


Ia sampai tidak sadar kala Khansa memberi tusukan beberapa jarum pada dada Tuan Ugraha. Leon berdecak malas, ia lalu melakukan panggilan pada ambulan rumah sakit terdekat.

__ADS_1


Setelah Khansa selesai dengan tugasnya, ia beranjak berdiri dan kembali menghampiri Leon. Pria itu menyambutnya dengan mengulurkan tangan. Khansa menggenggamnya, mereka berjalan dengan elegan keluar dari acara tersebut.


"Bukankah kakeknya korban malpraktek? Tapi dia masih mau menolongnya."


"Bener juga! Atau dia belum tahu? Tapi nggak mungkin. Semua orang dapet notif kok."


Bisik-bisik mulai terdengar di ruangan itu. Suasana menjadi sedikit rusuh karena membicarakan Khansa yang menolong Tuan Ugraha bersama pria misterius yang tidak terlihat jelas di mata mereka.


Tak berapa lama, ambulan pun datang dan segera membawa ke rumah sakit. Namun bukan rumah sakit milik mereka. Nyonya Ugraha masih syok dengan kehadiran dan juga ucapan Khansa. Denyut jantungnya masih berpacu kuat.


"Leon, setelah ini apa? Kenapa Hendra harus dipenjara sih? Kan aku belum puas bermain dengannya. Ah, belum sama sekali malah," ucap Khansa malas di tengah perjalanan mereka.


"Kamu tenang saja, Sayang. Lihat lagi chat yang aku broadcast. Aku tidak mencantumkan nama Hendra atau perusahaan pria itu. Hanya rumah sakitnya saja," jelas Leon fokus menyetir.


Khansa menoleh, "Jadi?"


"Ya dia pasti bisa keluar dengan mudah, karena belum ada bukti yang mengarah pada pemilik rumah sakitnya. Mmm ... mungkin imbasnya pada dokter, manajemen rumah sakit dan jajarannya. Aku yakin bakal tutup permanen. Kalaupun boleh beroperasi lagi, masyarakat sudah kehilangan kepercayaan," papar Leon yang sudah menyusun rencana selanjutnya di otaknya. Terlalu baik jika Hendra hanya dijebloskan ke penjara.


Tangannya menjulur menepuk-nepuk puncak kepala Khansa, "Sabar, tunggu dia bebas."


Khansa menghela napas panjang, "Iya suamiku, kamu memang selalu penuh kejutan. Makasih banyak, Sayang!" Khansa meraih tangan Leon dan menciumnya. Hati Leon terasa menghangat, senyum lebar tersungging di bibirnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sepulang dari Bali, Hansen kembali bekerja seperti biasanya. Sikapnya semakin dingin dan tak tersentuh. Banyak yang menjadi sasaran kemarahannya.


Sudah menjelang malam, semua karyawan mulai meninggalkan pekerjaannya masing-masing. Jam kerja sudah habis, mesin-mesin harus dimatikan sesuai dengan waktu yang ditentukan. Kecuali dalam keadaan darurat dan beberapa mesin yang memang harus dinyalakan selama 24 jam.


"Tuan, saya permisi dulu," pamit sekretarisnya sembari mengetuk pintu. Sudah menunggu beberapa jam, atasannya itu tidak keluar juga. Ia pun nekad untuk berpamitan.


"Ngapain pamitan! Sudah jam pulang ya langsung pulang!" bentak Hansen dari dalam ruangan.

__ADS_1


Sontak perempuan itu lari terbirit-birit tanpa berani membalas ucapan sang bos. Hansen menghela napas panjang. Ia menyugar rambut dengan kedua tangannya.


Sementara itu di pulau dewata, Emily meminta Bara mengantarkannya ke bar. Emily terus merengek dan memaksa, bahkan mengancam akan pergi sendiri kalau dia tidak mau mengantarnya.


Lelaki itu pun terpaksa mengiyakan. Baru minum satu gelas wine, gadis itu sudah mabuk berat dan meracau ke mana-mana.


"Dia pasti dateng lagi 'kan, Bar kalau gue mabuk," ucap Emily dengan mata yang sudah terpejam.


Tangannya meraba-raba gelasnya yang sudah kosong. "Tuangin lagi, Bar!" pintanya menghentak gelas itu di meja.


"Enggak, Baby! Udah cukup. Satu gelas aja ya, bisa dibunuh nanti aku sama manusia kulkas itu!" gerutu Bara menyembunyikan botol minumannya.


Emily berusaha menegakkan duduknya meski sempoyongan. "Eengg ... Biar dia ke sini lagi, Bar. Katanya dia peduli sama aku, isiin lagi Barbara!" serunya mengetuk-ngetuk meja.


Bara menatap iba, dia meraih ponsel Emily mengirimkan rekaman video keadaan Emily saat ini pada Hansen. Berharap pria itu bisa mencegah ide gila Emily saat ini.


Hansen masih setia di kantor. Pria itu berdiri di tengah jendela yang terbuka lebar di ruangannya. Sembari menikmati langit hitam dengan ribuan bintang. Embusan angin malam tak mampu mengusirnya dari gedung tinggi itu. Hansen menghisap batang rokoknya kuat-kuat. Entah rokok sudah yang ke berapa, pasalnya puntungnya sudah memenuhi asbak di meja besar miliknya.


Satu tangannya membuka ponsel dengan malas saat mendengar notifikasi pesan masuk. Keningnya mengernyit saat memutar video yang sudah terbuka sepenuhnya.


Bersambung~






Yaampun sweet banget sih kalian 🥰 kompak gitu ya. saranghaeyo SaLe, HanLy 😘😘

__ADS_1


__ADS_2