
Khansa menarik napasnya dalam-dalam. Menyimpan oksigen banyak-banyak di paru-parunya. Mempersiapkan diri mendengar apa pun yang akan disampaikan oleh Bibi Fida.
"Sudah waktunya Non Sasa tahu semuanya," gumam Bibi Fida menatap Khansa dengan lembut.
Tangan Khansa mulai gemetar, ia menggenggam erat jemari Bibi Fida sambil tersenyum. "Bibi, apa pun yang ingin Bibi sampaikan, katakanlah. Sasa siap mendengarnya," ucapnya lembut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Flashback~
Maharani dan Stefanny dulunya adalah sahabat baik saat masih muda. Bahkan sampai mereka menikah dan memiliki anak, mereka masih sangat dekat. Karena itulah, Khansa dan Yenny juga bersahabat dengan baik.
Nasib Maharani tidak seberuntung Fanny, yang mana, memiliki seorang suami yang sangat mencintainya. Pria itu juga menjadi CEO menggantikan ayah mertuanya yang sudah mulai sakit-sakitan.
Fauzan terlihat sangat berwibawa dan begitu menawan di mata Maharani. Iri dan dengki mulai menggerogoti hatinya, melihat kebahagiaan keluarga kecil sahabatnya. Rasa ingin memiliki pria itu membuncah. Ia tak segan menggunakan cara licik untuk menyingkirkan Steffany.
Di suatu malam, tiba-tiba Maharani mengajak bertemu di sebuah bar dengan alasan ingin berbagi cerita. Fanny menolak, karena ia tidak pernah datang ke tempat seperti itu sebelumnya.
Berbeda dengan Maharani yang memang seorang artis, hal seperti itu sudah biasa baginya. Berbagai cara dilakukan untuk membujuk Fanny agar mau datang. Fanny yang memang memiliki sifat lembut, merasa tidak enak karena Maharani terus merengek.
"Minumlah dulu, Fan. Kau 'kan baru datang," ucapnya menyodorkan sebuah gelas kecil berisi wine.
"Tapi aku tidak bisa minum seperti ini, Rani. Kau tahu sendiri aku tidak kuat," tolaknya dengan lembut. "Sekarang katakanlah, apa masalahmu. Siapa tahu, aku bisa membantumu." Fanny menggenggam jemari sahabatnya.
Maharani mulai berkeluh kesah mengenai rumah tangganya. Ia bercerita diiringi derai air mata. Dan itu cukup menarik simpati Fanny.
"Aku udah nggak kuat, Fan," ucap Maharani menangis tersedu.
Stefanny memeluknya, memberikan kekuatan untuk sahabatnya itu. Bahkan ia turut menitikkan air mata, mendengar biduk rumah tangga sahabatnya yang di ambang kehancuran. "Jika bercerai adalah jalan terbaik, lakukanlah. Aku akan selalu mendukungmu," ucap Fanny menenangkannya.
"Terima kasih, Fan. Kamu memang sahabat terbaikku!" Maharani melepas pelukannya lalu menenggak minuman beralkohol itu dalam sekali teguk. "Minumlah sedikit, percayalah tidak akan membuatmu mabuk. Lihatlah, aku tidak mabuk 'kan?" bujuk Maharani memperlihatkan bahwa dia baik-baik saja.
Awalnya ragu, namun melihat Maharani yang memang tidak terlihat mabuk sama sekali, ia pun mulai meneguk sedikit demi sedikit karena menghargai Maharani. Hingga tanpa terasa, gelas itu kosong.
Tak berselang lama, pandangan Fanny pun buyar. Kepalanya terasa sangat berat. Tubuhnya mulai tidak seimbang. Maharani menyeka air matanya dengan senyum penuh seringai. Hingga, tubuh Fanny ambruk seketika.
"Maaf ya, Fan. Hidupmu terlalu sempurna, jadi harus diberi sedikit warna." Maharani tersenyum licik meletakkan gelas kosongnya. Ia meraih ponsel Fanny, menghapus riwayat chat dan panggilan dengannya.
Fauzan terus menghubungi nomor istrinya, malam sudah sangat larut namun wanita itu tak kunjung pulang. Pria itu mondar mandir di kamar dengan frustasi sambil mendengarkan telepon yang tak kunjung tersambung.
Bahkan ia belum membersihkan diri sejak pulang dari kantor. Kesalahan fatal Fanny adalah lupa menghubungi suaminya sebelum bertemu dengan Maharani. Karena ia terlalu buru-buru sampai lupa izin dengan suaminya.
Hingga, sebuah pesan bergambar dari nomor asing masuk ke ponselnya. Buru-buru Fauzan membukanya, dadanya bergemuruh hebat kala gambar itu berhasil terdownload sempurna. Tangan lebarnya mencengkeram kuat benda pipih miliknya. Giginya bergemelatuk dengan begitu keras.
Fauzan merupakan pria pencemburu dan posesif. Ia sama sekali tidak memperbolehkan istrinya berteman dengan pria mana pun. Dan kini, ia diperlihatkan sebuah foto tak senonoh sang istri bersama laki-laki lain. Amarahnya membuncah, dadanya seolah ingin meledak saat itu juga.
Fauzan menutup pintu kamar dengan keras. Langkahnya terburu-buru dan penuh kemarahan. Khansa terbangun dari tidurnya, berlari menuju balkon, ia melihat ayahnya melajukan mobil dengan kecepatan tinggi menuju lokasi yang tertera di foto tersebut.
"Ada apa dengan ayah?" gumam Khansa masih berdiri di bawah gelapnya langit malam.
Ia mencari keberadaan sang ibu di kamar, namun ternyata kosong. Khansa pun kembali ke balkon untuk menunggu kedatangan orang tuanya.
__ADS_1
Jalanan yang lengang, membuat Fauzan lekas sampai di bar, di mana istrinya berada. Ia buru-buru masuk sampai tak sengaja bertabrakan dengan seseorang.
"Aw!" pekik seorang wanita yang tak lain adalah Maharani.
"Maaf!" ucap Fauzan mengulurkan tangannya.
"Zan," panggil Maharani memasang wajah panik. "Aku dapat kabar kalau Fanny ada di bar ini," lanjutnya memancing amarah Fauzan.
"Di mana dia?" seru Fauzan dengan tatapan mematikan. Kedua tangannya terkepal dengan kuat.
Maharani pura-pura mencari tahu, ia berdebat dengan resepsionis. Fauzan yang sudah terbakar api cemburu melangkah tegas ke sana. Ia marah dan mengancam akan menghancurkan bar itu jika tidak diberitahu keberadaan istrinya.
Salah seorang pelayan mengantarkannya dan memberikan kunci cadangan. Fauzan melangkah panjang, deru napasnya memburu. Maharani turut mengikutinya dari belakang. Ia dapat melihat betapa menyeramkannya Fauzan saat ini.
"Brak!"
Fauzan membuka pintu dengan kasar. "Steffany!" teriaknya menggelegar di seluruh penjuru ruangan. Wanita itu masih di ambang kesadaran. Minuman beralkohol itu benar-benar membuatnya mabuk, Maharani memberikan minuman dengan kadar alkohol yang tinggi.
Fauzan melangkah dengan tergesa lalu menendang pria yang menindih istrinya. Dengan kasar Fauzan menarik lengan Fanny. Pakaiannya masih utuh, hanya saja bagian lengannya sedikit terkoyak.
"Aaaahh, sakit, Mas," rintih Fanny yang diseret paksa oleh Fauzan. Ia hafal dengan suara suaminya meski pandangannya masih berkabut dan kepala yang seperti dihantam palu yang sangat besar.
Fauzan masih diam tanpa suara. Ia menyeret langkah kaki Fanny yang terseok-seok dengan kasar. Bahkan kedua kaki wanita itu sampai terluka. Tapi Fauzan seperti sudah tertutup mata hatinya. Pria itu membuka pintu mobil dan menghempaskan Fanny tanpa perasaan. Maharani tersenyum puas melihatnya.
Khansa masih meringkuk di balkon menunggu kedatangan orang tuanya. Hampir satu jam angin malam menerpa tubuh kecilnya. Namun ia tak peduli. Khansa takut terjadi sesuatu dengan ayah dan ibunya.
Hingga sebuah mobil fortuner berwarna putih memasuki pelataran rumahnya. Khansa segera berdiri dengan mata berbinar. "Ayah, ibu!" serunya dengan senyum yang lebar.
"Sakit, Mas!" rintih Fanny dengan pelan karena takut membangunkan orang rumah. Terutama ayah dan juga putri kesayangannya.
Khansa berlari keluar, mengintip dari balik dinding. Ia bisa melihat ibunya yang kesakitan diseret menaiki tangga. Ingin menghampiri tapi dia juga takut.
Fauzan menghempaskan istrinya dengan kasar. Lalu menutup pintu dan menguncinya. Khansa berlari menempelkan telinga pada pintu. Ia mendengar ayahnya memaki, memarahi dan membentak ibunya.
Fanny menangis terus mengelak dan membela diri. Namun teriakan kemarahan Fauzan lebih mendominasi. Bahkan sesekali Khansa mendengar suara pukulan. Pria itu tidak percaya dengan semua penjelasan Stefanny. Tubuh Khansa gemetar ketakutan, dia pun berlari ke kamarnya dan menangis.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan harinya, Fauzan berangkat ke kantor pagi-pagi sekali. Ia berpapasan dengan Maharani di depan pintu, yang beralasan ingin menjenguk Fanny.
"Selamat pagi, Zan," ucapnya dengan nada manja.
"Hemm!"
"Eh sebentar deh. Ini dasi kamu berantakan!" Maharani mendekatkan tubuhnya. Bahkan hampir tidak berjarak. Kedua tangannya sibuk membenarkan simpul dasi Fauzan. Aroma tubuh Maharani menyeruak hingga indera penciumannya. Tubuh sexy nya nampak menonjol karena gaun ketat yang dikenakannya.
"Sudah," ucap wanita itu mundur beberapa langkah.
"Terima kasih!" sahut Fauzan datar.
"Oiya, Zan. Nanti malam aku ada waktu kalau kamu mau kutemani minum. Aku, turut prihatin dengan Fanny," ujar Maharani dengan sendu.
__ADS_1
Tanpa menjawab, Fauzan melenggang pergi ke kantor. Meski diabaikan, Maharani akan terus bertekad untuk mendapatkan suami sahabatnya itu.
Pagi itu, Fanny tidak keluar kamar. Ia juga berpesan agar Khansa atau ayahnya tidak masuk menemuinya. Karena kondisi fisik dan mentalnya benar-benar buruk. Suami yang sangat dia cinta sama sekali tidak mempercayainya.
Bibi Fida menangis melihat kondisi nyonya nya itu. Fanny menceritakan semua kejadian yang dia ingat saja. Saat tak sadarkan diri, dia sendiri tidak tahu bagaimana bisa ada di kamar bersama dengan laki-laki asing.
"Sabar ya, Nyonya. Semoga masalah yang menimpa nyonya segera terselesaikan. Dan tuan percaya sepenuhnya dengan nyonya," ucap Bibi Fida menyeka air matanya yang terus berjatuhan. Satu tangannya sibuk mengompres wajah Fanny yang dipenuhi lebam dan memar buah tangan dari suaminya.
"Bi, kalau suatu hari nanti aku pergi, tolong jaga Sasa untukku, Bi. Sayangi dia seperti anak Bibi. Aku nggak tahu sampai kapan bisa menjaganya," ucap Fanny dengan suara lemah disertai air mata yang terus mengalir di kedua sudut matanya.
Bibi Fida menggeleng, "Enggak! Nyonya jangan bicara seperti itu. Kita akan jaga Non Sasa sama-sama sampai dia dewasa nanti. Nyonya pasti bisa melewati semuanya." Bibi Fida berucap dengan berderai air mata.
Fanny memejamkan matanya, merasakan sesak dan nyeri yang menghujam jantungnya. Isak tangis dua wanita itu saling bersahutan. Bibi Fida memeluk Fanny penuh kasih sayang. Wanita paruh baya yang menjaga Fanny sejak masih muda. Mereka sangat dekat, seperti ibu dan anak.
"Fanny!" seru Maharani menerobos kamar Stefanny.
Ia memasang wajah terkejut dan prihatin. Pura-pura tidak tahu apa-apa. Maharani duduk di tepi ranjang, Bibi Fida pun pamit undur diri.
"Ya ampun, Fan. Apa yang terjadi? Kenapa bisa seperti ini?" pekik Maharani.
"Semalam kamu ke mana, Ran? Aku nggak tahu, tiba-tiba ada di kamar bersama pria asing," gumam Fanny dengan tatapan kosong.
"Hah? Bagaimana bisa? Maafin aku, Fan. Semalam Yenny menangis karena ketakutan. Jadi aku buru-buru pulang. Maaf ya, aku nggak tahu kalau kamu sampai seperti ini," ucap Maharani dengan segala topeng kemunafikannya.
Air matanya kembali mengalir deras. Ini pertama kalinya Fauzan berlaku kasar padanya. Sebelumnya pria itu selalu bersikap lembut dan penuh kasih sayang. Tapi karena kejadian itu, semuanya berubah.
"Fanny, maafin aku. Aku yang salah. Gara-gara aku, kamu jadi seperti ini," seru Maharani mengeluarkan air mata buayanya.
Stefanny bernapas pelan, "Sudahlah, semua sudah terjadi."
"Aku akan buatkan bubur untukmu, Fan." Maharani hendak beranjak dari duduknya. Namun, Fanny segera meraih lengannya.
"Tidak usah. Bibi Fida akan menyiapkan semuanya," sergah Fanny menatap sahabatnya itu.
"Tolong, izinkan aku merawatmu. Untuk menebus semua kesalahanku, Fan. Kalau kamu tidak mau, itu artinya kamu tidak memaafkanku," ujar Maharani memaksa.
"Baiklah kalau tidak merepotkan, terima kasih."
Maharani segera beranjak, ia begitu bersemangat berkutat di dapur membuatkan bubur untuk Stefanny. Bibi Fida juga melarangnya, namun Maharani mengatakan bahwa ini permintaan dari nyonya rumah itu.
Bibi Fida curiga, tanpa sengaja ia melihat wanita itu memasukkan serbuk ke dalam panci yang sedang diaduknya. Keningnya mengerut sangat dalam, ia pun bersembunyi di balik pintu.
Setelah lima belas menit, Maharani mengantar bubur itu pada Stefanny. Ia bahkan menyuapinya. Sedangkan Bibi Fida, mengambil bungkus serbuk tadi yang dimasukkan ke dalam tempat sampah.
"Apa ini?" gumamnya karena merasa asing dengan benda tersebut.
Bersambung~
Makasih bebskii vote dan giftnyaa 🥺🥺 lope deh sekebon 🌶🌶 Yang belom, lempar yuukk 😁😁 nanti lanjut lagi deeh kalo rame... 😚
__ADS_1
🥺🥺 bukan gw 😢