
“Sombong sekali lo! Awas nanti nangis-nangis kena mental sama Kak Yenni!” sindir Jihan yang melihat Khansa tampak menantangnya.
“Hmm … kita lihat aja nanti.” Khansa menyatukan kedua telapak tangannya, lalu menekuk kelima jari hingga bergemeletuk. Lalu meregangkan lengannya ke depan.
“Selamat menikmati rasa sakitmu, Maharani. Dicuekin ya, sama suami. Eh mana papa angkatnya? Cuek juga? Mampus!” sindir Khansa terkekeh sembari menutup mulutnya.
Jihan beranjak dari duduknya, “Pergi lo! Bikin sesak aja di sini!” seru Jihan mendorong tubuh Khansa agar keluar dari kamar Maharani.
“Santai dong! Nggak usah pegang-pegang! Ini juga mau pulang kok. Makasih loh hiburannya, cukup puas aku melihat pertunjukan live yang dibintangi oleh Maharani tadi,” cibir Khansa memutar tubuhnya lalu keluar dari kamar.
“Aaaggghh! Bocah tengik!” teriak Maharani melempar bantal mengarah pintu. “Aaaww … aawww … aduhh, ssshh!” desis Maharani merasa nyeri pada tubuhnya karena bergerak.
“Bu, udah tenang aja, Bu. Kita tunggu kedatangan Kak Yenny,” ucap Jihan membenarkan posisi Maharani kembali. Wanita itu mengangguk, lalu ingin beristirahat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu, Khansa bergegas pulang ke Villa Anggrek. Sepanjang perjalanan dadanya terus berdebar karena akan bertemu dengan Leon. Pikirannya saat ini hanyalah, bagaimana ia akan bersikap saat bertemu dengan pria itu.
Hanyut dalam lamunan, hingga tak terasa ia telah sampai di Villa Anggrek. Tubuhnya bahkan mulai gemetar, namun saat mengintip garasi, Khansa belum melihat mobil Leon terparkir di sana.
“Apa dia belum pulang?” gumamnya pada diri sendiri.
Khansa bergegas turun dari taksi yang ditumpanginya. Ia bertemu dengan penjaga di depan gerbang.
“Malam, Paman. Apa Leon sudah pulang?” tanya Khansa memastikan.
“Selamat malam Nyonya Muda. Tuan muda belum pulang,” sahut penjaga itu.
“Oh, baiklah. Ini untuk Paman. Dibagi yang lainnya ya,” ucap Khansa menyerahkan beberapa kotak kue untuk penjaga tersebut.
Dua pria berbaju hitam itu tercengang. Keduanya saling melempar pandang, Khansa masih mengulurkan oleh-olehnya itu.
“Ayo, Paman. Terimalah, ini oleh-oleh dariku. Aku masuk dulu ya,” lanjut Khansa meletakkannya di tangan para penjaga itu lalu melenggang masuk karena gerbang sudah dibuka sedari tadi.
“Terima kasih, Nyonya Muda.” Penjaga itu tersadar dan baru berteriak. Namun Khansa sudah terlanjur masuk ke rumah.
Lampu-lampu utama masih menyala dengan terang. Tandanya Nenek Sebastian belum beristirahat. Khansa pun segera mencari keberadaannya.
“Nek! Nenek!” panggil Khansa berjalan perlahan.
“Khansa! Ya ampun kamu ke mana saja, Sayang!” sahut sang nenek menghampirinya dengan antusias.
__ADS_1
Khansa hendak menyalami tangan sang nenek. Namun justru Nenek Sebastian langsung merengkuh tubuh gadis itu ke dalam pelukannya. “Nenek sangat merindukanmu, Sa,” ucapnya dengan suara bergetar.
Bagaimana tidak? Saat Nenek Sebastian pulang dari kegiatan berdoanya, ia sudah tidak menemukan Khansa. Dan baru bertemu beberapa hari setelahnya.
“Sasa juga sangat rindu sama nenek. Maaf ya, Sasa ada urusan mendadak di Bali, Nek. Jadi buru-buru berangkat ke sana,” jelas Khansa mengusap lembut punggung sang nenek.
“Oh, syukurlah kamu baik-baik saja. Nenek sangat khawatir sama kamu. Nenek pikir terjadi sesuatu sama kamu. Ayo kita duduk sini dulu. Nenek masih kangen mau ngobrol,” ajak Nenek Sebastian meregangkan pelukannya.
Ia menarik Khansa masuk ke ruang tengah dan mendudukkannya di sana.
“Nek, Sasa bawa oleh-oleh buat nenek,” ucapnya mengeluarkan berbagai jenis kue khas Bali dan meletakkannya di meja.
“Ya ampun, harusnya kamu nggak usaha repot-repot, Sayang. Kamu pulang dengan keadaan baik-baik saja sudah membuat nenek bahagia,” ucap sang nenek menggenggam lengan kurus Khansa.
Khansa tersenyum di balik cadarnya. Ia merasakan kehangatan dan kasih sayang dari Nenek Sebastian. “Sama sekali tidak merepotkan kok, Nek. Oiya, ini ada satu lagi. Kain batik khas Bali, Nek. Ini cuma dipasarkan di sana aja.” Khansa menyodorkan sebuah paper bag yang diterima oleh sang nenek dengan senang hati.
“Wah, cantik sekali. Makasih ya, Sayang. Nenek sangat menyukainya,” puji Nenek Sebastian memeluk Khansa lagi.
“Sama-sama, Nek. Kuenya juga enak lho, Nek. Mau dicoba sekarang? Sasa bukain,” ujar Khansa meraih salah satu box kue.
Sama-sama pecinta kue, membuat dua orang itu sangat menikmatinya. Khansa pun menceritakan keseruannya selama di Bali pada sang nenek.
“Oh iya, Sa, nenek ada sesuatu untuk kamu. Tunggu di sini ya,” ucap Nenek Sebastian beranjak berdiri dan berjalan ke kamarnya. Khansa mengangguk patuh.
“Ini untukmu,” ucap Nenek Sebastian.
Khansa kagum dengan bentuk dari kotak kecil berbentuk seperti peti itu. “Apa ini, Nek?” tanyanya penasaran.
“Ini adalah fetis. Nenek mendapatkannya sepulang dari kegiatan berdoa. Ini adalah jimat pelindung, pakailah agar kamu terhindar dari segala marabahaya, Tuhan selalu melindungimu di manapun kamu berada. Dan supaya lekas mendapat keturunan. Jangan sampai menghilangkannya ya,” tutur sang nenek menjelaskan.
Khansa mengangguk-anggukkan kepalanya, “Boleh Sasa buka, Nek?” tanyanya.
“Iya, tentu saja,” ujar nenek mempersilakan.
Khansa membuka kotak tersebut, di dalamnya terdapat sebuah kalung berwarna hitam dengan liontin sebuah batu berwarna merah.
“Wah, ini cantik, Nek. Makasih ya, Nek,” puji Khansa.
Nenek meraihnya lalu mengenakan pada leher Khansa, “Semoga Tuhan selalu memberkati,” ucap sang nenek setelah memakaikannya.
“Kalau begitu nenek beristirahatlah, ini sudah larut. Nggak baik buat kesehatan nenek,” ucap Khansa memegang kedua tangan nenek.
__ADS_1
“Baiklah, terima kasih oleh-olehnya, Sayang.”
“Sama-sama, Nek,” jawab Khansa dengan ceria.
Khansa lalu membereskan kue-kue tadi. Meletakkan yang masih utuh di lemari es dan membuang sampah. Ia pun lalu berjalan ke lantai dua menuju kamarnya.
Baru hendak menaiki anak tangga, Khansa mendengar deru mesin mobil yang bisa dipastikan itu milik Leon. Khansa pun mengurungkan niatnya untuk naik ke atas. Ia berlari kecil menuju pintu dan mengintipnya dari jendela.
Pria itu masih terlihat tampan seperti pada saat Khansa pergi. Walau sudah selarut ini, tetap saja penampilannya masih memukau. Padahal wajahnya nampak terlihat sangat lelah.
“Leon sudah pulang, aduh gimana nih? Aku harus apa ya?” gumam Khansa yang mendadak gugup.
Apalagi sudah beberapa hari mereka tidak bertemu. Menumbuhkan kerinduan yang membuncah di hatinya. Dadanya semakin berdebar dengan kencang.
Khansa memilih berdiri di samping pintu untuk menyambut Leon. Sambil memegang dadanya yang terasa melompat-lompat di dalam sana.
Tubuhnya semakin tegang, bahkan gemetar dan panas dingin mendadak menyerang karena akan segera bertemu Leon.
“Ah, ngumpet aja deh. Aduh jantung, tenang dong. Jangan bikin panik gini,” gerutunya menekan-nekan dadanya sendiri.
Khansa langsung merubah niatnya dan bersembunyi untuk memberi kejutan pada Leon. Khansa menunggu lama sekali, tapi Leon masih belum sampai ke depan pintu.
“Kok lama? Leon mampir ke mana? Kok nggak sampai-sampai depan pintu?” batinnya bertanya-tanya.
Bersambung~
*Fetis itu semacam jimat atau benda sakti gitu yah.
Oke sesuai janji 5 bab di hari sabtu... dan sampai jumpa minggu depan 😁😁 semoga aku masih bertahan dengan kewarasanku 😆😆 Mon maaf jika ada salah dan khilaf...
Greget nggak sih? Puas nggak?👀
😪 Bosen Thor, gak ada SaLe udah 3x. 🙄
🌶 sabar sabar... aku juga kangen kok. orang sabar nanti makin jembar. Kalau disempilin nanti karmanya cuma setengah-setengah dong. Mungkin setelah ini kemanisan dan keuwuwan SaLe. Semoga...wkwkwk...
Stay Healthy dimanapun kalian berada~
Happy long weekend ya😘
__ADS_1