Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Season 2 ~ Bab 23 : Dua Pria Tangguh


__ADS_3

"Kalau begitu, aku sama Sasa pulang dulu. Dia harus banyak istirahat," ujar Leon merengkuh pinggang Khansa hingga tubuh keduanya tak berjarak, menatapnya dengan penuh perhatian.


"Iya! Iya! Kali ini kamu harus lebih extra lagi jagain Sasa, Tuan Sebastian," cetus Emily turut bahagia.


Khansa melepas lengan Leon sejenak, berjalan mendekat, mencium kedua pipi Emily, "Semoga lancar ya," ucap Khansa, dibalas anggukan cepat oleh Emily.


Rombongan orang-orang besar itu segera meninggalkan rumah sakit. Ketika sampai di basement, Khansa meminta untuk menunggunya di depan pintu sebentar, ia teringat dengan buket bunga yang dibelinya tadi.


"Emily, tadi aku beli ini buat kamu." Khansa menyerahkannya pada Emily.


"Terima kasih, Emily. Berkat bunga itu, kami jadi tahu jika Khansa sedang hamil," cetus Leon menatap haru istrinya.


"Loh? Kok bisa?" Emily yang sedang menghirup bunga tersebut tersentak, segera bertanya dengan rasa penasaran yang tinggi.


Leon pun menceritakan kejadian sewaktu di toko bunga. Keanehan Khansa yang mual dan muntah ketika menghirup kelopak mawar, padahal itu adalah bunga favoritnya. Kemudian, ucapan dari sang penjual bunga, membuatnya bergegas memeriksa kondisi Khansa.


"Mmmm ... sekali lagi selamat, Sayangku!" ucap Emily memeluk Khansa.

__ADS_1


Mereka lalu berpisah, masuk ke mobil masing-masing. Khansa bersama Leon dan orang tua Emily pulang ke rumah masing-masing. Sedangkan Emily, Bara ikut bersama Jennifer dan Hansen menuju rumahnya.


...🔥🔥🔥🔥🔥🔥...


...🍀🍀🍀🍀🍀🍀...


"Jen, kamu kelas berapa sekarang?" tanya Emily memecah keheningan di dalam mobil.


Gadis itu memilih duduk di belakang bersama Emily, Jennifer tidak ingin jauh dari calon kakak iparnya itu, kepalanya bersandar manja di lengan Emily.


"Tidak boleh! Nanti kamu ganggu!" serobot Hansen tegas dengan sorot mata yang tajam.


"Iihh ganggu apa? Aku lebih suka tinggal di Indonesia, Kak! Pokoknya aku mau kuliah di sini, titik!" kekeuh Jennifer sedikit menaikkan nada bicaranya.


"Tidak!" sembur Hansen.


Emily segera menyentuh lengan Jennifer, ia tersenyum lembut. "Doain aja dulu, hari ini sampai hari-H lancar. Itu lebih penting untuk saat ini," ucapnya pada calon adik iparnya itu.

__ADS_1


"Tenang aja, Kak. Bibit pelakor kayak Alexa itu kecil bagi Kak Han!" balas Jen meremas jemari Emily untuk menenangkannya.


Masih terlihat jelas raut ketegangan di wajah Emily. Namun kali ini, dia merasa lebih kuat karena ada dua pria tangguh yang akan memperjuangkannya.


Tak terasa, mereka pun sampai di kediaman Mahendra. Jemari Emily terasa semakin dingin. Hansen segera turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Emily. Lengannya mengulur dengan tubuh sedikit membungkuk.


"Jen, telepon Ayah. Minta pulang sekarang juga. Kalau banyak alasan bilang saja aku yang minta!" tegas Hansen pada adiknya yang duduk di sebelah Emily. Selama Hansen absen ke kantor, sang ayah dengan sigap menggantikannya. Kepemimpinannya tidak diragukan, walau di usia yang sudah cukup matang.


"Ok, Boss!" sahutnya bersemangat, mengangkat tangan seperti hormat saat upacara bendera.


Bara sudah berdiri dengan tegap di pelataran rumah besar itu. Kali ini ia menegakkan kepala dan membusungkan dada untuk membela adiknya. Tidak akan dia biarkan seorang pun menyakiti perempuan itu.


Saat memasuki rumah, mereka langsung disambut dua perempuan berbeda usia yang tengah cekikikan di ruang keluarga. Hansen menggenggam erat tangan Emily. Rahang tegasnya terlihat mengeras dengan pancaran mata elang yang siap menerkam mangsanya.


Sontak, Agnes dan Alexa berdiri dengan cepat ketika melihat kedatangan Hansen bersama wanitanya. Keduanya terkejut lalu berjalan mendekati mereka.


Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2