Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Bab 143. Bali's in Love part 2


__ADS_3

Cuaca terik yang menyengat tidak menghalangi keromantisan pasangan suami istri itu. Khansa meregangkan pelukannya lalu menepi sejenak. Gadis itu duduk di tepi kolam, melepaskan sepasang sepatunya yang basah kuyup. Leon berenang menghampirinya, turut duduk di sebelah Khansa dan membuka sepatunya.


"Panas banget ya, cocok nih buat renang," gumam Leon membuka kaosnya. Perut sixpack pria itu benar-benar memanjakan mata para kaum hawa. Khansa refleks menoleh, ia enggan mengedipkan matanya.


"Eh mau ngapain?" tanya Khansa saat Leon membuka kancing celananya.


"Kenapa? Nggak rela ya aku buka-bukaan di sini?" goda Leon membungkukkan tubuhnya.


"Enggak gitu juga," elak Khansa menunduk dan salah tingkah.


Leon terkekeh, lanjut membuka celana hingga menyisakan boxernya. Tubuhnya yang putih bersih tampak bersinar karena pantulan sinar matahari yang mengenainya. Pikiran Khansa ke mana-mana. Teringat kembali saat di mana Leon menguasai tubuhnya. Malu, bahagia campur aduk menjadi satu.


Di tengah bayangan-bayangan itu, tiba-tiba pinggang Khansa ditarik oleh Leon. Mereka kembali masuk ke kolam renang bersama.


"Leon!" seru Khansa terkejut memegang kedua bahu pria itu.


"Mikir apa sih? Dari tadi melamun aja!" ucap Leon enggan melepas lilitan tangannya pada pinggang ramping Khansa.


"Enggak," sahut Khansa menggeleng.


Leon terus menatap perempuan itu, senyum masih tersungging di bibirnya. Jemarinya mulai meraba pipi Khansa dan membuka cadar itu. Khansa menahannya, kepalanya menoleh. "Jangan, nanti ada orang lain yang lihat!" ucapnya mengedarkan pandangan.


"Enggak ada. Di sini cuma ada kita berdua," ucap Leon meyakinkan.


Ia kembali meraih kain tipis itu dan melepasnya. Ia seperti membuka berlian yang lama tersimpan. Matanya berbinar dengan senyum merekah. "Selalu cantik," gumamnya membelai pipi Khansa sepenuhnya.


Leon menaikkan dagu Khansa, mulai mendekatkan kepalanya hingga bibir mereka saling bertemu. Khansa memejamkan kelopak matanya. Leon memagutnya lembut, kakinya melangkah agar semakin menepi. Khansa terpundur hingga punggungnya membentur dinding kolam renang.


Lama kelamaan ciuman Leon semakin memanas. Kedua tangannya menangkup pipi Khansa, semakin memperdalam ciumannya. Perlahan Khansa melingkarkan kedua tangannya di leher Leon. Mulai bisa membalas pagutan itu meski tidak selihai Leon. Hingga beberapa saat kemudian, mereka melepasnya. Kening keduanya saling menempel dengan napas yang memburu.


"Sepertinya harus pindah ke kamar sekarang," gumam Leon dengan suara beratnya.


Khansa tersenyum melihat kilat mata Leon yang berubah sayu. "Mandi dulu," ucap Khansa melepas lilitan tangannya sedikit mendorong tubuh Leon. Ia bergegas naik dan mengenakan bathrobe yang tersedia di kursi santai tak jauh dari kolam itu lalu masuk ke kamar.


Tak terbayang bagaimana bahagianya Leon saat ini, karena menurutnya itu sebuah kode dari sang istri. Dalam hatinya bersorak. Buru-buru dia menyusulnya. Namun sayang, pintu kamar mandi dikunci oleh Khansa. "Kok dikunci sih?" gerutunya lalu membersihkan diri di kamar mandi yang ada di dekat dapur.


Sekembalinya Leon ke kamar, ia melihat Khansa sibuk mengeringkan rambutnya masih mengenakan bathrobe. Leon langsung

__ADS_1


menyerang Khansa di ranjang besar itu. Siang yang semakin memanas untuk pasangan suami istri tersebut.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Semburat jingga mulai membias di langit yang cerah. Matahari sudah hampir kembali ke sarangnya. Khansa mengerjapkan kedua matanya perlahan. Tubuhnya susah bergerak, lengan Leon melingkar erat di perutnya, separuh tubuhnya juga ditindih pria itu. Usai pergulatannya siang tadi, keduanya tertidur.


"Leon," panggil Khansa pelan.


Leon bergerak, namun bukan menyingkir, ia justru semakin mengeratkan pelukannya. Khansa menepuk pipi Leon. "Leon bangun, sudah sore," ucapnya lagi.


"Masih mau kayak gini," gumamnya tanpa membuka mata.


"Aku mau lihat sunset! Leon ayolah!" rengek Khansa menepuk-nepuk lengan suaminya. "Kalau cuma tiduran aja harusnya nggak usah jauh-jauh ke Bali!" lanjutnya mencebik kesal.


Kedua mata Leon langsung terbuka lebar. Ia beranjak bangun dan menciumi wajah istrinya. "Baiklah, Tuan Putri." Ia lalu menurunkan kedua kakinya beralih ke kamar mandi dengan malas.


Khansa buru-buru menyiapkan pakaian ganti untuk Leon. Kaos putih dipadukan dengan celana selutut, ia lalu bergegas membersihkan diri di kamar mandi luar, agar lebih menghemat waktu. Khansa sangat menyukai sunset di tepi pantai, hatinya damai melihat perubahan waktu dari siang ke malam.


Gaun yang disediakan untuknya kebanyakan berwarna putih. Ada beberapa celana jeans dan bluose juga. Kali ini ia lebih memilih gaun saja. Leon melingkarkan lengannya di perut Khansa saat perempuan itu sedang menyisir rambutnya.


"Leon ih, jangan ganggu dulu!"


Khansa terpaku, ia menggigit bibir bawahnya menahan senyum. Selain penuh kejutan, suaminya itu selalu bisa membuatnya melayang dan juga berdebar tak karuan.


"Udah," gumamnya meletakkan sisir dan mencium keningnya.


Kebahagiaan yang membuncah di hati Khansa sudah tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Tidak pernah dia menemukan sikap Leon selembut itu pada orang lain. Memang benar kata orang, wanita akan menjadi ratu jika jatuh di tangan pria yang tepat.


"Ayo! Tadi minta buru-buru. Sekarang malah nggak mau beranjak?" ucap Leon menyadarkan lamunan Khansa.


Seketika ia tersadar, mengenakan cadarnya lalu menyambut tangan Leon yang terulur, bersiap menggenggamnya. Langkah kakinya mengayun dengan serentak. Hanya berjalan beberapa menit saja, mereka sudah sampai di tepi pantai. Khansa langsung duduk di atas pasir putih, menyaksikan proses tenggelamnya matahari.


Leon turut mendaratkan tubuhnya, kakinya bersila lalu memeluk pinggang Khansa. Gadis itu bersandar nyaman di dada Leon. Menikmati desiran angin yang mengalun indah menerpa tubuhnya bersama dengan orang terkasih. Hal yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.


"Leon," panggil Khansa mendongak.


"Hmm," sahut pria itu menunduk.

__ADS_1


"Makasih ya, aku mencintaimu," lanjut Khansa membuat Leon terpaku.


Ia cukup terkejut, ini adalah pertama kalinya Khansa mengungkapkan perasaannya. Meskipun selama ini, gerak geriknya sudah menunjukkan semuanya. Tetap saja, hal itu membuatnya bahagia.


"Aku lebih mencintaimu," sahut Leon semakin merapatkan tubuh Khansa dan memeluknya dengan erat. "Sa, apa pun yang terjadi nanti kamu harus selalu percaya padaku. Jangan pernah pergi dariku," gumamnya menimbulkan tanda tanya di benak Khansa. Tapi ia sadar, Leon bukan tipe orang yang mudah bercerita. Khansa yakin, suatu hari nanti waktu akan menjawab semua rasa penasarannya.


"Satu hal yang paling tidak bisa aku tolerir, Leon." Tatapan Khansa berubah serius. "Pengkhianatan," lanjutnya dengan tegas.


Leon mengangguk, "Ya, aku tahu."


Terlalu larut dalam obrolan, mereka justru melewatkan sunset sore itu. Langit yang berubah gelap, disertai deburan ombak pasang baru menyadarkan Khansa.


"Loh, kok sudah gelap," ucapnya menyebarkan pandangan. Matahari sudah benar-benar tenggelam dengan sempurna. "Ck, gara-gara kamu nih!" gerutu Khansa menyebikkan bibir.


"Kenapa aku? Kan kamu yang ngajak bicara," elak Leon tidak terima.


"Ya pokoknya salah kamu." Khansa beranjak dari duduknya. Menepuk-nepuk pantatnya, menghilangkan pasir yang menempel lalu melenggang pergi.


Leon menggeleng sambil tertawa. Ia turut berdiri menyatukan tangannya dengan jemari lentik Khansa. "Masih ada hari esok."


"Memang kita di sini sampai kapan?"


"Sepuas kamu." Leon menaik turunkan kedua alisnya. "Kita makan malam di resort aja ya. Abis itu istirahat buat adventure besok," sambungnya beralih merengkuh bahu Khansa.


"Mau petualang ke mana?" Khansa mengernyitkan dahinya.


"Kemana aja. Kamu pasti suka. Tapi, jangan lupa nanti malam double dulu buat tambah tenaga," celetuk Leon berbisik di telinga Khansa.


Gadis itu mendelik. Ia paham yang dimaksud suaminya, tangannya mencubit perut sixpack Leon dengan gemas. "Yang ada itu nguras tenaga," semburnya berlari masuk lebih dahulu karena malu.


"Dasar perempuan. Malu-malu mau," gumam Leon tertawa berjalan dengan santai.


Baru saja sampai, ponsel Leon berdering. Leon duduk di sofa sembari mengangkat telepon, takut ada sesuatu yang penting.


"Tuan, gawat!"


Bersambung~

__ADS_1



__ADS_2