Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Bab 73. Pengertian


__ADS_3

Khansa masih terpaku di tempat, dua bola mata indahnya beradu dengan manik elang Leon. Ia menelan salivanya dengan berat.


Leon memiringkan kepala disertai senyum nakal. “Ayo sini! Atau pengen digendong lagi nih?” ujar Leon menurunkan kedua kaki panjangnya ke lantai.


Khansa mendelik, buru-buru ia berlari dengan panik karena tidak mau Leon menggendongnya lagi. Namun naas, kakinya tersangkut dan tubuhnya terhuyung.


“Sasa!” teriak Leon berlari ke arahnya.


Sayangnya adegan tidak seperti di sinetron, yang mana jika ada wanita jatuh, akan ada pangeran yang menangkapnya. Tubuhnya juga tidak ada persiapan apa pun.


“Brugh!” Perempuan cantik itu terjatuh ke lantai.


“Aww!” desis Khansa merasa ngilu pada lutut dan sikunya yang terantuk lantai.


Ingin tertawa tapi juga kasihan. Leon pun menahan tawanyanya agar tidak menyembur keluar. Dia membangunkan istrinya dan memeriksa seluruh tubuh kalau ada yang luka.


“Astaga, Sasa! Kamu kenapa jadi kayak anak kecil gini? Mana yang luka, lihat!” Leon memeriksa lutut dan kedua siku Khansa. Tidak ada luka serius, hanya memerah saja. Apalagi kulitnya yang putih bersih, luka sekecil apa pun pasti langsung terlihat. Jangankan terbentur, digigit nyamuk saja pasti sangat terlihat jelas.


“Kan gara-gara kamu,” cebik Khansa memanyunkan bibirnya sembari menepuk dada Leon.


Leon terkekeh sembari mengamati memar di tubuhnya. “Lagian takut banget digendong. Orang di sini juga cuma ada kita berdua. Kamu lucu, bukannya seneng dan ketagihan malah ketakutan,” ujar Leon tertawa terbahak-bahak.


“Iih pokoknya gara-gara kamu. Coba tadi nggak bikin aku panik!” sembur Khansa mendengkus kesal.


Leon yang masih tertawa lalu merengkuh tubuh kurus itu dan menggendongnya. Sudah dihindari ternyata memang takdirnya terjadi adegan gendong menggendong lagi.


“Kirain saking semangatnya pengen kugendong. Hahaha!” goda Leon meletakkan tubuh Khansa perlahan di atas ranjang. Leon kembali naik di samping wanita itu.


“Auk ah! Kamu emang ngeselin!” Khansa memutar tubuhnya membelakangi Leon lalu menggigit bibirnya kuat-kuat. Ia bukan marah tapi sebenarnya malu. Awalnya malu karena tidak mau digendong, ternyata malah menjadi malu bertubi-tubi. Untung saja hanya ada mereka berdua. ‘Dasar bodoh!’ umpatnya pada diri sendiri.


Leon pun merebahkan tubuhnya sejajar dengan Khansa. Ia menarik Khansa ke dalam dekapannya. Meletakkan kepalanya di ceruk leher Khansa. Tubuh Khansa kembali menegang, dadanya berdenyut nyeri saking kuatnya debaran jantungnya.


Leon menghirup aroma tubuh wanita yang selalu menjadi candu untuknya itu. Wanginya selalu membuatnya lebih tenang, seperti melakukan rileksasi. Berbeda dengan gadis itu yang menggeliat tak nyaman karena merasakan gelayar aneh yang perlahan menelusup pada tubuhnya. Embusan napas hangat Leon di leher Khansa membuatnya merinding kegelian.

__ADS_1


“Kamu selalu saja menggodaku,” ujar Leon di telinga Khansa.


Tubuh Khansa menjadi kaku, “Si … siapa? Aku tidak menggodamu, kuntilanak itu yang suka menggodamu,” elak Khansa menggerakkan bahunya sembari memejamkan mata.


Leon menegakkan tubuhnya, ia memutar tubuh Khansa agar menghadapnya. “Kuntialanak? Mana?” Leon memutar pandangannya ke segala arah.


“Pffft! Susan lah, siapa lagi? Atau ada kunti-kunti lainnya lagi?” tanya Khansa menyelidik.


“Haisss! Kau ini.” Leon mengacak rambut Khansa dengan gemas. “Banyak sekali wanita di luar sana yang berlomba menggodaku. Tapi aku sama sekali tidak tertarik!” ujar Leon dengan percaya diri. Mereka saling berhadapan, Leon memainkan rambut Khansa.


“Diiih, percaya diri sekali Anda, Tuan Leon. Tapi kenapa justru malah memilihku? Padahal aku sama sekali tidak menggodamu,” cecar Khansa menyelidik.


“Karena kamu seperti magnet yang selalu menarikku,” cetus Leon sekenanya. Khansa memutar bola matanya malas. Namun tak urung juga tersenyum mendengar gombalan garing itu.


Tangan Leon beralih membelai pipi Khansa, ia hampir membuka cadar perempuan itu. Namun tiba-tiba terdengar dering telepon dari ponsel Khansa.


Khansa beranjak dari duduknya, ia meraih ponsel di nakas dan melihat sang penelepon yang ternyata adalah Hendra. Khansa tidak mengangkatnya. Ia kembali meletakkan benda pipih itu di atas nakas.


“Nggak penting,” jawab Khansa menatap sang suami.


Hendra tidak menyerah, ia mengirim pesan pada Khansa, lalu kembali menelepon.


Leon yang curiga berusaha meraih ponsel Khansa di atas nakas. Posisinya begitu dekat, bahkan Leon seperti tengah memeluknya, satu tangannya menjulur dan meraih ponssel itu.


“Tunggu! Jangan diangkat,” cegah Khansa menahan tangan Leon. Ia menautkan jemarinya agar Leon tidak mengambil ponsel miliknya.


“Biar aku yang bicara pada pria brengsek itu!” tegas Leon masih bertahan pada posisinya. Pandangannya menunduk, melihat Khansa yang tengah menatapnya dengan satu tangannya menempel pada dada Leon.


“Tidak usah, jangan ikut campur dengan urusan pribadiku,” sergah Khansa memohon.


Leon menggeratkan gigi-giginya hingga bergemeletuk, keningnya berkedut dan tatapannya berubah nyalang.


“Kamu milikku, Sa! Apa pun yang berkaitan denganmu, aku harus tahu dan ikut campur!” geramnya dengan napas menderu. Leon emosi mendengarnya.

__ADS_1


Buru-buru Khansa menyentuh kedua bahu Leon, ia duduk bersimpuh dan sedikit mengangkat tubuhnya agar bisa mencapai kening Leon. Kemudian, Khansa mengecup kening Leon dengan cepat.


“Iya, Leon. Aku milikmu! Tidak akan ada orang yang bisa merebutnya darimu. Karena yang aku mau, itu cuma kamu. Jadi, tolong percaya padaku.” Khansa melingkarkan lengannya pada leher Leon, menyatukan kedua hidung mancung mereka.


“Aku percaya padamu, tapi tidak dengan mereka.” Emosi Leon berangsur turun, meski detak jantungnya masih meningkat karena emosi.


Khansa menangkup kedua pipi Leon yang terasa panas, “Leon, maaf. Aku hanya tidak ingin terlalu bergantung padamu. Meskipun kita sudah bersama. Aku mohon, biarkan aku menyelesaikan dengan caraku sendiri. Aku hanya minta kepercayaan dan dukunganmu saja,” ujarnya menatap sendu.


Leon mengembuskan napas berat, ia menyentuh kedua pundak Khansa dan mendudukkannya dengan benar. Kedua tangannya membelai rambut Khansa dan merapikannya. “Dasar kepala batu!” Leon menyentil kening gadis itu membuat sang pemilik mendesis. “Baiklah, aku hargai keputusanmu. Tapi ingat, jika kamu ada kesulitan sekecil apa pun, lekas bilang sama aku. Atau aku akan marah besar padamu!” tegasnya dengan tatapan tajam.


Khansa tersenyum lebar hingga kedua matanya menyipit. Seorang Leon raja bisnis di penjuru kota, CEO yang terkenal arogan,  bahkan bertekuk lutut padanya.


“Iya, baiklah. Terima kasih banyak pengertiannya.” Khansa membenamkan kepalanya di dada Leon. Pria itu pun mendekapnya dengan erat dan penuh kasih sayang.


Tempat ternyaman Khansa, rumah Khansa untuk pulang, entah keberuntungan dari mana gadis sepertinya bisa mendapatkan cinta Leon.


Setelah beberapa saat,Leon mengendurkan pelukannya. Binar cinta dan kebahagiaan terpancar dari manik keduanya. Sekelilingnya seperti ada ribuan bunga menghujani keduanya. Khansa masih melingkarkan lengannya di pinggang Leon. Kepalanya sedikit mendongak, karena pria itu lebih tinggi darinya dalam posisi duduk sekalipun.


Leon menjulurkan tangannya untuk membuka cadar Khansa. Kali ini tidak ada penolakan. Senyum yang sangat cantik tersungging di bibir tipis Khansa. Leon merunduk, mendekatkan bibirnya agar bertemu dengan bibir Khansa.


Perlahan, bibir keduanya bertemu. Tubuh Khansa sudah menegang, ia meremas kemeja Leon dengan sangat kuat. Leon menahan tengkuk Khansa, satu tangannya merengkuh punggung gadis cantik itu.


Kedua mata Khansa terpejam. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Leon menggigit bibir bawah Khansa hingga sedikit terbuka. Dan dengan leluasa Leon mengulum bibir Khansa bergantian, yang terasa begitu manis dan candu baginya.


Leon melepaskan tautan bibirnya saat merasakan ketegangan dari Khansa. Benar saja, Khansa masih memejamkan mata bahkan menahan napasnya.


Leon meniup wajah Khansa yang seketika membuat kelopak mata indah wanita itu terbuka. “Hei, jangan nahan napas gitu. Serem tahu!” goda Leon terkekeh.


Napas Khansa terengah-engah, wajahnya bersemu merah lalu menunduk dan tersenyum malu. Leon terkekeh geli melihat kepolosan wanitanya itu.


Bersambung~


 

__ADS_1


__ADS_2