
Khansa masih bergeming menatap Leon dalam-dalam. Melihat bekas luka Leon, Khansa seperti dejavu. Tangannya menggantung di udara, 'Mungkinkah?' batinnya mengerutkan dahi.
"Sa! Malah melamun. Apa yang terjadi sama Leon?" tanya Emily lagi sembari menyenggol lengan Khansa hingga menjatuhkan kapas yang sedari tadi ia pegang.
"Oh, sebentar." Khansa tersadar, ia meraih kotak jarum yang selalu dibawanya. Meraih salah satu jarum itu dan menusukkannya pada pelipis Leon. Pria yang sedari tadi menatap kosong itu, lama kelamaan memejamkan kedua kelopak matanya.
Emily benar-benar tercengang. Ini pertama kalinya dia melihat sendiri secara langsung sedikit kemampuan Khansa. Itu saja sudah membuatnya geleng-geleng kepala. Kagum dan hanya wow yang bisa ia lontarkan.
"Leon mengalami insomnia parah. Dan kemungkinan beberapa hari ini dia nggak tidur, ditambah ada sesuatu yang menekan perasaannya," jelas Khansa kembali mengobati luka-luka Leon dan menempelkan plester.
Emily masih tidak mengerti, gadis itu tertarik untuk bertanya lebih jauh. Ia merubah posisi duduknya menghadap Khansa sepenuhnya. Satu lengannya menyiku di sofa dan menopang kepala. "Dia sering seperti ini? Menyakiti dirinya sendiri hanya karena insomnia?" cecarnya tidak percaya. Karena ini pertama kali Emily melihat keadaan seperti itu.
"Dia bahkan biasanya mengamuk, tidak peduli siapa pun yang ada di sekitarnya. Makanya tadi aku meminta kamu dan yang lainnya menjauh. Aku takut kalian akan dilukai olehnya," jelas Khansa.
"Serem banget, Sa. Kamu nggak takut?" tanya Emily mendekatkan wajahnya.
Khansa menggeleng, kali ini ia hendak membuka jas yang sedari sore dipakainya. Leon tidak sempat berganti pakaian. "Enggak. Orang seperti Leon bukan untuk ditakuti dan dijauhi. Tapi berada di sampingnya, memeluknya, memberi kasih sayang dan ketenangan pada hatinya agar kembali sadar. Menurut perkiraanku, sepertinya dia juga pernah mengalami trauma yang cukup berat." Khansa memiringkan tubuh Leon.
Sebelum berhasil membuka jas yang membalut pria itu, Khansa ingin memastikan sesuatu. Ia meraba bagian kepala belakang Leon yang terasa mengganjal. Benar saja, ia menemukan bekas luka di sana.
Namun karena rambutnya yang lebat, bekas luka itu tertutup sempurna. Tidak akan terlihat jika tidak meraba sembari menyibak rambutnya. Bekas luka di tempat yang sama dengan laki-laki yang pernah ia tolong beberapa waktu lalu.
Khansa menelan salivanya, dadanya tiba-tiba kembali berdebar kencang. 'Apa dia adalah laki-laki itu?' gumamnya berpikir keras.
"Terus, kamu bakal maafin dia gitu aja, Sa?" tanya Emily.
Khansa berhasil membuka seluruh jas itu, lalu kembali merebahkannya dengan benar. Dilanjutkan mengendurkan simpul dasi, lalu melepas dua kancing teratas kemejanya juga melepas sepasang sepatu yang dikenakan oleh Leon.
"Enggaklah, enak aja," cetus Khansa menoleh pada Emily.
"Bagus! Biar nggak tuman. Aku dukung kamu, Sa! Eh tapi serius mereka nggak tahu kalau Leon suami kamu?" sahut Emily tertawa menepuk bahunya.
Khansa menggeleng dan melebarkan senyumnya, "Enggak. Nggak ada yang tahu dia pengantin di Villa Anggrek, kecuali aaudara dan kerabat Leon. Kalau Fauzan dan semua orang mengira suamiku sekarat dan memang tidak hadir di pesta waktu itu. Lagian nggak ada yang mengurus dokumennya. Semuanya diurus oleh nenek! Ayo kita makan!" ajak Khansa beranjak dari duduknya.
Emily mengangguk, lalu berjalan menuju meja makan. Mereka pun memakan semua pesanan satu per satu. Tidak peduli jam sudah menunjukkan tengah malam. Setelah membereskan sisa makan malam, mereka bergegas ke kamar meninggalkan Leon di ruang tamu. Namun sebelumnya, Khansa membalut tubuh pria jangkung itu dengan selimut tebal.
__ADS_1
"Sa!" panggil Emily saat merebahkan tubuhnya di kamar.
"Hemm?" Khansa yang sudah merebahkan tubuhnya terlebih dulu, menoleh.
"Leon memberikan uang 10 M sama Yenny. Dia pernah memberimu berapa?" tanya Emily dengan segala kekepoannya.
Khansa kembali duduk, ia meraih tas yang ada di nakas dan mengambil sebuah kartu berwarna emas. Khansa mengulurkannya pada Emily. Gadis itu pun ikut mendudukkan dirinya, menerima kartu tersebut.
"Leon memberiku kartu kredit itu," jawabnya dengan jujur.
Emily membelalakkan kedua matanya, mulutnya terbuka lebar saat melihat kartu gold Sebastian Grup. "Sa!" pekik Emily menepuk bahu Khansa.
"Emily, kaget tau. Jangan teriak-teriak," gumam Khansa menekuk kedua lututnya lalu memeluknya, meletakkan kepalanya di sana sembari menatap sahabatnya.
"Kamu tahu nggak? Ini bukan sekedar kartu kredit, Sasa. Kartu ini bahkan menyimpan sebagian asset Keluarga Sebastian! Kau bahkan bisa membalikkan nama semua harta yang ada di sini atas namamu, nyonya Sebastian! Kau kaya, Bestie!" jelas Emily menggebu-gebu sembari menggoyangkan kedua bahu Khansa.
"Masa sih?" Khansa menggaruk kepalanya.
Emily menepuk jidatnya melihat temannya yang begitu polos itu. "Iya serius! Aku akan membantu mengurusnya lewat pengacaraku. Tinggal kamu membujuk Leon untuk tanda tangan. Dan habis itu, booomm! Kamu dengan mudah mengendalikan tikus-tikus itu!" Emily begitu bersemangat saat mengucapkannya. Ia bahkan bertepuk tangan dengan histeris.
Kedua perempuan itu saling menatap, seolah berbicara melalui sorot matanya. Bibir mereka melengkung dengan sempurna, membentuk seringai yang tajam.
"Tetep aja kita harus hati-hati Emily," gumam Khansa juga menyandarkan punggungnya.
Emily mengangguk, ia memutar tubuh dan menghadap Khansa, "Oh iya, Leon bahkan memberikan sebagian hartanya. Apa kalian sudah pernah melakukannya ....?" tanya Emily sembari menyatukan kedua jari telunjuknya.
Khansa mengernyit bingung saat menatapnya. "Melakukan apa?" Khansa bertanya balik.
"Itu, suami istri di ranjang?" Emily mengetuk-ngetuk ujung jari telunjuknya.
"Oh, belum," jawab Khansa dengan santai.
Emily terperanjat, "What?! Serius?" teriaknya menegakkan duduk. "Lalu selama ini kalian ngapain aja?" gerutunya heran.
"Cuma berciuman," celetuk Khansa dengan santai.
__ADS_1
Emily menggeleng tak percaya. "Dia normal 'kan? Memangnya nggak pernah minta?"
"Normal, normal banget malah. Tapi dia bilang nggak tega dan akan nunggu sampai aku siap," jawab Khansa mulai merebahkan tubuhnya.
Emily ikut bergabung, menaikkan selimut hingga lehernya. "Sulit dipercaya. Tapi baguslah, jangan kasih selama dia masih belum terbuka dan belum memutuskan hubungan mereka. Dengan begini kamu bisa melihat, apakah dia mencintaimu atau dengan mudah dia berpaling darimu," ucap Emily mendukungnya.
Tak terasa, malam semakin larut. Kedua wanita itu terlelap usai bercakap-cakap.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Matahari sudah menjulang tinggi. Leon mengerjapkan mata perlahan. Iris hitamnya menelisik ke seluruh penjuru ruangan. Leon mendudukkan tubuhnya hingga selimut tebal yang semalaman membalutnya kini tersibak. Kakinya menjuntai ke karpet bulu berwarna merah maroon.
Kepalanya terasa berdenyut, mencoba mengingat apa yang terjadi semalam. Tangannya meraba kening yang dipenuhi plester, lebam di wajahnya sudah berkurang namun masih terasa sedikit nyeri.
"Aku di mana?" gumam Leon yang merasa asing dengan tempat itu.
Leon tersadar sepenuhnya, suasana di apartemen itu sunyi. Tidak ada tanda-tanda kehidupan. Ia melihat ada foto Emily yang menggantung di dinding. Leon menggapai jas yang ada di seberangnya, meraih ponsel dan melakukan panggilan.
Pandangannya menunduk, melihat pakaiannya berantakan, juga sepatu yang terlepas dari kedua kakinya. Kepalanya menunduk, satu tangannya menopang dahinya yang terasa berat.
"Kenapa dia tidak mengangkatnya. Kemana dia? Apakah sudah pulang? Mereka ninggalin aku di sini?" Leon masih bergumam sendiri sembari terus melakukan panggilan pada Khansa. Namun gadis itu sama sekali tidak menjawabnya.
Leon kembali meraih jasnya untuk mencari kunci mobil. Ternyata tidak menemukannya di manapun. Kantong celana dan kemeja pun tidak ada. Ia memutuskan keluar apartemen itu, langkahnya lebar dengan pandangan fokus ke pelataran di mana mobilnya terparkir semalam.
"Hah? Kok nggak ada?" seru Leon menjambak rambut panjangnya. Tangan lainnya bertolak pinggang.
Bersambung~
🤢: Blender aja Bambang! Jan lupa bagi gw ☝
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Makasih banyak semangat dan doanya bestie 😘 Mon maap kalo ada typo2 ya. Ngetiknya sambil rebahan krna berat banget kepala..wkwkwk
__ADS_1
Makasih buat gift, vote, like komennyaa... apalagi yang kasih hati.. bikin melek.. thankyou ya😄😄😘
Yang mau bantuin promo jugaa... huaaa terhuraaa.... makasih banyak ya dear😘