
Sekujur tubuh Bara menegang. Bola matanya bergerak pada Hansen. Dadanya sudah berdentum hebat saat mendapati kilat tajam dari manik Hansen. Napasnya tiba-tiba menjadi sesak. Buru-buru Bara mengalihkan pandangan.
"Jelasin, Bar!" sentak Emily menepuk lengan Bara dengan keras.
"Emily! Turunkan nada bicaramu! Hargai orang lain dan jaga sopan santun. Apalagi ini di meja makan," seru Frans memperingatkan.
"Maaf, Pa," ujar Emily menundukkan kepala. Namun kakinya terus bergerak menendang kaki Bara. Lirikan mata yang tajam mengarah pada Bara. Wajah pria itu sudah memucat, berkali-kali ia meneguk salivanya yang begitu berat.
Kesunyian akhirnya melanda meja makan keluarga tersebut. Hanya denting sendok yang sesekali menggema. Hansen menegakkan duduknya, raut wajahnya tetap datar seperti biasa. Tidak ada yang tahu bahwa saat ini dadanya memanas disertai gemuruh yang meletup-letup, ingin rasanya menenggelamkan Bara saat itu juga. Namun ia harus tetap menjaga wibawa di depan calon mertua.
"Tante, boleh izin istirahat nggak ya? Capek banget," keluh Bara menekan-nekan lehernya.
"Oh, iya. Tentu saja, Bara. Jangan sungkan ya. Anggap aja rumah sendiri." Monica lalu memanggil salah satu pelayan di rumahnya untuk mengantarkan pria itu ke kamar tamu.
"Jangan, Ma. Nanti dijual!" canda Emily menimpali.
Bara tak menyahut, ia segera bergerak untuk menyelamatkan diri. Dia beranjak dengan perlahan, matanya masih melirik ke sana kemari meningkatkan waspada. Ia sedikit membungkuk, "Permisi Om, Tante," ucapnya.
Saat kembali menegakkan tubuh, matanya berpapasan dengan manik kelam Hansen. Tatapan yang menusuk dari pria tampan itu membuat Bara bergidik ngeri. Ia menarik paksa kedua sudut bibirnya.
Tanpa dia sadari, Emily sudah mengincarnya sedari tadi. Saat Bara melenggang pergi, Emily berpamitan dan buru-buru lalu berlari mengejar Bara.
"Anak itu!" cibir ayah angkatnya menggelengkan kepala. "Maaf atas ketidaknyamanannya, Tuan Hansen. Seperti itulah Emily," sambungnya merasa tidak enak.
"Tidak masalah, Tuan. Emily itu unik dan apa adanya. Justru itu yang membuat saya tertarik," aku Hansen mengusap mulutnya dengan sapu tangan yang tersedia.
Ungkapan Hansen tentu saja membuat pasangan suami istri itu mengembuskan napas lega. Karena khawatir jika pria tampan itu belum mengetahui sifat asli putrinya tersebut. Dan dikhawatirkan, kelak ada suatu penyesalan di kemudian hari yang berakhir menyakiti putrinya.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kedua kaki Bara melangkah panjang dan cepat. Ia panik dan ketakutan. Memilih untuk menyelamatkan diri dari Emily, terutama dari Hansen.
Emily berlari dengan cepat, lengannya menjulur menarik kemeja Bara dari belakang. Pelayan yang mengantarkan Bara, cukup terkejut lalu melenggang pergi setelah Emily menganggukkan kepala. Keduanya telah sampai di sebuah kamar tamu yang cukup luas.
Pria itu mematung, tidak berani menggerakkan tubuhnya. Mulutnya juga masih terkatup rapat. Emily beralih tepat di hadapannya. Kedua lengan gadis itu terlipat di dada, matanya menelisik tajam.
"Apa yang kalian rencanakan?" selidik Emily penuh penekanan.
"Engg ... enggak ada," elak Bara menggeleng sembari menggerakkan tangannya.
"Kamu mulai mengkhianatiku, Bar?" Emily masih dengan tatapan yang sama. Kali ini ia berkacak pinggang.
Bara ketakutan, ia langsung meraih kedua tangan Emily mengajaknya duduk di tepi ranjang. Pria itu tidak pernah bisa menyembunyikan apa pun dari Emily. "Enggak gitu, Baby. Jadi tuh kemarin ...."
Emily terhenyak, melempar tatapannya pada Hansen. Sedangkan Bara yang membelakangi pintu, kini memejamkan mata dengan erat. Mulutnya komat-kamit tanpa suara, seolah membaca mantera agar tidak terkena amukan Hansen. Kedua tangannya bahkan mencengkeram erat jemari lentik Emily.
Hansen mulai melangkah dengan perlahan, hingga tubuh tingginya menjulang tepat di hadapan kedua orang itu. "Aku cuma mempermudah jalannya saja. Enggak perlu sampai harus mabuk untuk mendapat perhatian dariku," ucapnya menyindir Emily.
Hansen lalu menunduk, mendekatkan bibirnya di telinga Emily. "Karena aku punya cara sendiri untuk itu," sambungnya tersenyum sambil menepuk puncak kepala Emily.
Aroma mint yang menguar di indera penciuman Emily membuat aliran darah di tubuhnya berdesir kuat. Emily hanya mengerjap lembut. Bukan gombalan receh yang ia dengar, namun mampu membuatnya lumer seketika.
Satu mata Bara terbuka sedikit, ia melirik keberadaan Hansen. Ternyata pria itu tengah menatap ke arahnya. Buru-buru Bara mengoceh, "Aduh, maaf ganteng. Nih mulut emang nggak bisa dikontrol!" ucapnya menepuk-nepuk bibirnya.
Hansen berkacak pinggang, ia menghela napas panjang. "Balikin bonusnya!" sembur pria itu bernada dingin.
__ADS_1
"Bonus?" Emily kini bertanya. "Ooh, Barbara! Mata duitan kamu!" pekik Emily meraih bantal memukul-mukul pada pria itu.
Bara diam di tempatnya, hanya menangkis pukulan-pukulan tersebut. "Enggak gitu, Baby. Dia yang maksa! Lagian aku juga nggak tega dong lihat kamu terpuruk, lari ke hal-hal yang enggak baik. Cukup aku aja yang pernah terjerumus, kamu jangan. Ganteng, kenapa diem aja! Ini semua 'kan ide kamu." Teriakan Bara itu membuat Emily berhenti.
"So sweet banget sih, Bar!" ucap Emily menangkup kedua pipinya sendiri, mengulas senyum dengan sedikit memiringkan kepala.
"Heemmm kulkas tampanmu emang sweet, Baby. Hampir tiap jam nanyain kamu lagi apa? Sudah makan belum? Gimana kondisi kamu, gimana relasi kamu. Iihh rempong tau," cibir Bara menyeka keringatnya dengan tangan sembari melirik Hansen yang wajahnya sudah memerah.
Hansen maju beberapa langkah. Sungguh, ia ingin menyobek-nyobek mulut Bara yang lost kontrol itu. Hansen merangsek hendak meraih kemeja Bara, pria itu segera mengangkat kedua kakinya dan mundur hingga ujung ranjang.
"Sini kamu!" geram Hansen dengan tatapan nyalang.
"Baby, selametin aku!" serunya panik bergerak menghindari Hansen, bahkan bersembunyi di balik tubuh mungil Emily.
Emily justru tertawa terbahak-bahak. Ia lalu beranjak bangun menelusup di depan tubuh kekar Hansen, menghalanginya ketika hendak menyerang Bara. Ia lalu menyandarkan kepala di dada bidang Hansen. Telinganya mampu mendengar detak jantung yang kuat dari pria itu. Ia melingkarkan erat kedua lengan pada punggung pria itu. Tentu saja, tubuh Hansen mendadak beku.
"Sudah, kasihan Barbara. Makasih ya udah seperhatian itu sama aku," ucap Emily pelan mendongakkan kepala, menatap wajah tampan Hansen yang menegang. Malu sekaligus marah karena Bara.
Senyuman manis terulas di bibir Emily. Pandangan pria itu menunduk seketika, desir darah Hansen kian mengalir deras, dengan detak jantung yang berpacu semakin kuat.
Mereka bertahan dalam posisi tak berjarak cukup lama. Saling menatap dalam, menyelami keindahan manik mata keduanya. Kesempatan emas untuk Bara melarikan diri dengan perlahan.
Bersambung~
Double nih... Jan lupa tinggalin like komen juga dimariii... jan hanya dilewati ya Bebskii... Vote yuk 😂😂
__ADS_1
🥳 Iya Em, iya. selamat ya....