
Maharani bergelayut manja di lengan pria berusia matang namun masih tampak sangat gagah itu. Arief Wandana pun menyambutnya dengan seulas senyum dari bibir tipisnya. Tangannya menepuk lengan Maharani, pandangan keduanya saling beradu.
“Maaf sedikit terlambat, aku harus menyelesaikan meeting terlebih dahulu,” ucap pria itu dengan lembut menundukkan pandangannya.
“Tidak apa-apa, Pa. Yang penting sekarang sudah hadir di sini,” balas Maharani melebarkan senyumannya menyandarkan kepala di lengan pria itu.
“Tentu saja, aku pasti datang untuk kamu. Karena aku akan selalu mendukungmu,” ucap Arief menyentuh sebelah pipi Maharani.
Para tamu membelalakkan mata, suasana seketika berubah 180°. Semua perhatian tertuju pada salah satu orang hebat di kota itu. Banyak orang terbengong dengan kehadirannya. Mereka saling pandang seolah tak percaya.
Orang-orang yang bergunjing sedari tadi mengenai Maharani seketika bungkam dan merapatkan diri. Apalagi setelah melihat seorang Arief Wandana yang tampak sangat mendukung Maharani.
“Mari, Pa. Silakan masuk,” ujar Maharani dengan nada centilnya masih menggamit lengan pria itu.
Sedangkan Fauzan merapikan rambut dan juga jasnya. Ia berdehem sejenak lalu melangkah panjang untuk menemui orang penting itu.
Ia masih tidak menyadari kedatangan Khansa. Gadis itu mendudukkan diri di ujung aula. Ia menuju meja yang dilingkari beberapa kursi kosong. Khansa lebih memilih duduk sendiri, tidak berbaur dengan tamu lainnya. Matanya mengamati interaksi Arief Wandana dan Maharani sembari memainkan ponsel di tangannya.
Fauzan semakin mendekati Arief, ia melebarkan senyumnya mengulurkan tangan untuk berjabat.
“Tuan Wandana, selamat datang di pesta anniversary kami, sebuah kehormatan bagi kami karena Anda berkenan hadir,” ucap Fauzan sembari membungkukkan separuh tubuhnya. Arief membalas jabat tangannya sekilas. Fauzan sangat hormat pada pria itu.
Arief Wandana memiliki tubuh atletis, walau sudah berumur lebih dari setengah abad, tubuhnya masih terlihat tegap dan kekar. Sorot mata tegas, bibir tipis dan hidung yang cukup tinggi juga jambang tipis yang tumbuh di sekitar dagunya menambah kadar ketampanan Arief Wandana. Banyak para ibu sosialita yang menaruh rasa kagum pada pria itu, meski hanya berani mengagumi dalam hati.
“Hemm … Fauzan, jangan pernah membuat Maharani menderita sedikit pun! Kalau sampai itu terjadi, aku tidak akan tinggal diam dan kamu akan tanggung akibatnya!” ancam Arief dengan tegas sembari menepuk bahu Fauzan.
“Baik, Tuan. Saya akan selalu mengingatnya.” Fauzan mengangguk, mengiyakannya dengan cepat, tanpa berpikir panjang lagi.
Status Arief Wandana sangat tinggi karena dia investor kelas kakap, seluruh pebisnis kaya yang hadir segera mendekati untuk bicara dengan Arief Wandana.
“Tuan Wandana, tidak menyangka bisa bertemu dengan Anda di sini,” ucap salah satu tamu Fauzan.
Satu per satu pengusaha mendekat untuk menjilat. Karena mereka tahu, seberapa kuat pengaruh pria itu dalam dunia bisnis. Berani menyinggung atau berbuat kesalahan, itu berarti sudah siap gulung tikar.
__ADS_1
“Apa kabar Tuan Arif?” sambung yang lainnya.
“Halo, Tuan Arif. Senang bertemu dengan Anda! Perkenalkan ini istri saya, Tuan!” Ada yang kebetulan bersama istrinya, sekalian dikenalkan. Padahal bagi Arief itu sama sekali tidak penting. Pria itu hanya menyambut dengan tatapan datar.
“Tuan Arief, apakah Anda datang sendiri? Nyonya Wandana tidak ikut ya?” tanya istri pengusaha itu. Karena ia sangat mengenal istri dari produser ternama itu.
“Tidak!” jawabnya singkat.
Melihat ketidaknyamanan sang papa angkat, Maharani pun berinisiatif mengajaknya pergi dari kerumunan di sana.
“Eee, permisi ya, Tuan-tuan semuanya,” sela Maharani menarik lengan Arief. Fauzan pun membukakan jalan agar memudahkan langkah pria yang ia hormati itu.
“Tolong beri jalan untuk Tuan Arief!” ucap Fauzan merentangkan tangannya.
Arief melangkah tak berekspresi. Wajahnya dingin, dagunya sedikit terangkat dengan pandangan lurus ke depan. Maharani menggiringnya untuk berkeliling.
Wanita itu pun berhenti di sebuah meja, di mana para istri pengusaha kaya tadi mengabaikannya dan bahkan mencibirnya.
“Hai, para Nyonya semuanya. Kalian pasti sudah mengenal beliau ‘kan? Siapa sih yang nggak kenal sama Tuan Arief Wardana?” ucap Maharani dengan sinis. Ia niat pamer pada mereka agar tidak diremehkan dan diabaikan lagi.
“Tadi perasaan banyak loh yang mengabaikanku. Bahkan mencibir di belakangku. Siapa ya?” ucap Maharani memancing.
“Oh ya? Siapa yang berani berbuat seperti itu sama kamu, hm?” tanya Arief menoleh pada Maharani.
Wanita itu tersenyum sinis. Ia mendongakkan kepalanya dengan angkuh, sembari memicingka mata. Ia puas melihat wajah-wajah pucat para wanita itu.
“Ma … maafkan kami, Nyonya Maharani. Kami tidak bermaksud seperti itu,” aku salah satu di antaranya, sembari menunduk dalam.
Bibir Maharani mengerut, dalam hati ia bersorak karena kemenangannya, mempunyai kedekatan dengan orang yang sangat berpengaruh dalam dunia bisnis.
“Iya, Nyonya Isvara, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya,” ucap wanita lainnya.
Kelima orang tadi bergantian meminta maaf pada Maharani. Mereka tidak mau tersandung masalah.
__ADS_1
“Apa mereka menyakitimu?” tanya Arief menatap Maharani.
Ia tidak segera menjawab. Menikmati wajah-wajah panik dari kelima ibu-ibu sosialita itu. Jantung mereka berdentuman hebat, mereka menelan ludah dengan sangat berat saat melihat Maharani yang sedang mempermainkan mereka.
“Tidak kok, Pa. Yuk kita keliling lagi,” ucap Maharani setelah beberapa saat. Tangannya masih melingkar erat di lengan Arief dan tangan satunya sesekali mengusap lengan yang direngkuh itu.
Tanpa sengaja, saat berbalik Maharani melihat Khansa sedang duduk seorang diri. Matanya berbinar seolah mendapat mangsa selanjutnya.
“Khansa? Ternyata kamu datang juga ke sini. Aku pikir kamu sudah tidak akan berani menampakkan diri lagi,” ujar Maharani dengan sinis berdiri tepat di hadapannya.
Khansa mendongak, melipat kedua lengannya di meja. Kedua alisnya terangkat tanpa bersuara.
“Oiya, Khansa kenalin nih Arief Wandana. Produser dan Sutradara terkenal di kota ini. Kamu tahu ‘kan? Tuan Arief ini memiliki pengaruh yang sangat besar di dunia bisnis,” pamer Maharani dengan sombongnya.
“Oh! Maharani, sayangnya aku sama sekali tidak tertarik. Sepertinya kamu salah sasaran deh. Kamu pamer dengan orang yang salah,” cebik Khansa dengan santai tidak begitu mempedulikan kehadiran mereka.
“Dasar kamu! Tidak punya sopan santun kamu ya!” gerutu Maharani menahan emosinya. Mengingat, saat ini ia harus menjaga image di depan Arief Wandana.
Khansa langsung mengalihkan pandangan pada ponselnya. Hingga akhirnya Maharani pun kesal dan melenggang pergi.
“Papa, bagaimana kalau kita berdansa saja? Ini udah masuk acara dansa,” tawar Maharani mengajak pria itu berjalan menuju ke area dansa.
Khansa tersenyum menyeringai saat melihat dua orang itu semakin menjauh. Ia membidik ponselnya mengarah pada keduanya.
Alunan musik romantis mulai diputar, Maharani berdansa dengan sangat intimate, tubuh keduanya menempel tanpa jarak.
Tangan Arief merengkuh pinggang Maharani dan satu tangan lainnya ditautkan dengan jemari Maharani. Sedang tangan Maharani lainnya diletakkan di bahu Arief Wardana.
Senyum merekah tersungging di bibir merah Maharani, keduanya mulai bergerak seirama dengan alunan musik yang menggema.
“Papa sangat lihai sekali. Semakin terlihat tampan dan gagah saja.” Maharani menggoda Arief Wandana.
Pria itu menatapnya intens dan berkata, “Datanglah ke kamar hotelku malam ini.”
__ADS_1
Bersambung~