
Kaki Leon melangkah panjang dan berhenti di sebuah kamar. Kedatangannya mampu mengalihkan semua pandangan ke arahnya. Mata elang pria itu langsung bersitatap dengan manik sayu milik wanita kesayangannya.
"Leon!" panggil Khansa mengembuskan napas lega. Wajahnya pias, menandakan ia tengah menahan rasa sakit yang mendera pada perut bagian bawahnya.
Leon berlari menubruk tubuh wanita itu sampai terhuyung namun rengkuhan dan pijakan kaki Leon begitu erat sehingga keduanya masih berdiri saling memeluk. Panik dan khawatir kini menghiasi wajah tampannya. Detak jantungnya terus bergelombang hebat.
Pria itu melepas pelukannya, lalu menangkup kedua pipi Khansa dengan satu tangan masih menggenggam deagle menempel di pipi Khansa, "Kamu nggak apa-apa? Ada yang terluka? Hei, kenapa dengan keningmu? Apa dia menyakitimu?" cecar Leon menemukan kening Khansa yang memerah, wanita itu menggeleng.
Belum sempat Khansa menjawab, sebuah suara menyadarkan Leon jika ada orang lain di ruangan tersebut. "Akhirnya sang pahlawan datang juga!" tukas Tiger yang masih bertahan di posisinya, mengalungkan gagang sapu pada leher Jihan.
Leon memutar tubuhnya, menggenggam erat jemari Khansa dan menarik perempuan itu agar berlindung di belakang punggung kekarnya. Kini keduanya saling beradu tatap, masing-masing memancarkan aura mengerikan.
Manik tajam Leon sedikit bergerak turun, hingga menemukan Jihan yang tengah menahan sakit dengan keringat yang membasahi seluruh wajahnya. Napasnya memelan, air mata masih menghias pipi mulus perempuan itu. Kedua alisnya saling bertaut saat lagi-lagi menemukan Jihan dalam cengkeraman Tiger.
"Lepaskan dia! Cuma pecundang yang beraninya sama perempuan!" sindir Leon menjulurkan deagle di tangan kanannya.
"Hahaha! Apa kau tertarik juga dengan jal*ng ini?" Mata Tiger jatuh pada sebagian wajah Jihan, lalu kembali menatap tajam ke arah Leon, "Kalau begitu kita barter saja! Kau berikan wanitamu. Aku akan melepaskannya!" desisnya meminta penawaran.
Leon terkekeh, namun kemudian menatap tajam kakaknya itu. "Sampai matipun aku tidak akan pernah menyerahkan Khansa padamu, bangsat!" teriaknya menggelegar.
Tidak tahu saja, bagaimana cinta Leon kepada Khansa. Tiger memberi pilihan yang impossible untuk diterima oleh Leon. Cengkeraman tangan Khansa semakin kuat, membuat Leon menoleh sekilas. Ia bisa melihat Khansa tengah menahan rasa sakit, bulir keringat pun sudah membasahi keningnya.
"Leon, perutku sakit!" rintihnya pelan sedikit membungkuk.
"Apa?!" pekik Leon membeliak, lalu segera meraup tubuh Khansa pada gendongannya.
Ia segera melenggang keluar, namun langkahnya terhenti saat melalui Tiger sorot mata tajamnya penuh kobaran api yang ingin membakar Tiger hidup-hidup saat itu juga. "Kalau sampai terjadi apa-apa dengannya, aku tidak akan pernah mengampunimu! Peluru ini akan bersarang di otak dan dadamu!" tegas Leon penuh ancaman melesatkan sebuah tembakan ke sembarang arah. Membuat Jihan memekik ketakutan. Laki-laki itu segera melesat pergi.
"Leon!" rintih Khansa mengeratkan rangkulan lengannya di leher sang suami sembari menyurukkan kepala di dada bidang Leon yang terdengar bergemuruh hebat.
Tubuh Khansa mendadak kaku dan kulitnya terasa dingin seketika. Wajah perempuan itu terlihat pucat seputih kapas. Paru-paru Leon seperti diremas kuat sampai tidak ada ruang untuk bernapas. Tubuhnya ikut gemetar, namun berusaha tenang meski gemuruh dadanya meledak-ledak. Ia memeluk erat wanita itu, menumpukan pipinya di atas puncak kepala Khansa.
__ADS_1
"Kamu kuat, Sayang!" Darah Leon berdesir hebat, kedua matanya memerah. Degub jantungnya berlarian marathon di dalam sana, beriringan dengan langkah kakinya yang panjang dan cepat.
Simon berlari menghampiri setelah menyisakan beberapa anak buah Tiger yang akan dihadapi oleh Hansen. "Kakak!" Pandangannya jatuh pada Khansa yang meringis kesakitan. "Tunggu di sini! Aku ambil mobil!" seru Simon yang ikut panik.
Sekuat tenaga pria itu berlari mengambil mobil sport miliknya yang saat itu dibawa ke tempat tersebut bersama Hansen. Begitu cepat, Simon menghentikan mobil tepat di depan Leon. Ia segera turun, berlari membukakan pintu samping kemudi.
Leon meletakkan Khansa dengan hati-hati, lalu memasangkan sabuk pengaman. Dengan tangan gemetar Leon menangkup kedua pipi Khansa, "Sayang, lihat aku. Buka matamu. Sasa, kamu kuat! Kamu pasti bisa demi demoy seperti yang kamu bilang. Kita akan membesarkannya bersama seperti keinginanmu. Bertahanlah, Sayang?" Suaranya pun terdengar bergelombang. Tenggorokannya tercekat, namun ia ingin memberi semangat dan menyalurkan kekuatan pada perempuan itu.
Perlahan Khansa membuka kelopak matanya. Tatapan itu terlihat sayu, ia mengatur napas sambil mencengkeram kuat tepian kursi yang ia duduki. Lalu mengangguk dan mengurai senyum di bibirnya. Meski rasa nyeri dan seperti dicengkeram semakin kuat menderanya.
Leon mencium kening Khansa, lalu berucap, "Aku mencintaimu, Sa. Seluruh nadiku selalu berteriak menyebut namamu. Kamu harus kuat!" gumamnya pelan lalu menutup pintu mobil dengan perlahan.
"Kakak! Tetap tenang, fokus dan hati-hati. Aku sudah menyuruh Gerry mengirim jalur tercepat menuju rumah sakit terdekat! Kami akan segera menyusul!" Simon menepuk bahu Leon yang memang terlihat sangat kacau.
"Terima kasih Simon!" sahutnya singkat segera berlari dan duduk di balik kemudi.
Mobil mewah Porsche 911 Carrera berwarna biru itu melesat dengan kecepatan tinggi. Leon berkonsentrasi penuh dengan jalan yang ia lalui. Tikungan, tanjakan serta turunan sangat curam. Jalanan yang dilalui masih sepi karena belum waktunya memulai aktivitas.
"Leon, pelan-pelan saja. Aku bisa menahannya," lirih Khansa bernapas pelan sembari menyentuh lengan suaminya.
"Kamu harus segera mendapat penanganan, Sayang!" tegas pria itu.
"Tapi ...."
"Sudah jangan bicara lagi! Kamu harus menyimpan tenagamu. Jangan membuangnya hanya untuk hal-hal yang tidak penting, okay!" tandas Leon menoleh sekilas sembari mengusap puncak kepala Khansa.
Khansa menurut, ia menyandarkan kepalanya yang masih terasa pusing. Meski nyeri di perutnya sudah mulai berkurang. Pandangannya lurus ke depan, tidak ada yang menarik. Sekelilingnya hanya rerimbunan pohon dalam gelap.
Hampir 30 menit perjalanan mereka tidak ada kendala apa pun. Leon masih berkomunikasi dengan Gerry melalui airpods di telinganya mencari rute terbaik dan tercepat.
Tiba-tiba manik indah Khansa membelalak lebar saat melihat mobil melaju dengan kecepatan tinggi dari lawan arah. Dadanya berdebar saat matanya memicing dan menemukan Tiger di dalam mobil sport yang atapnya terbuka itu. Wajah bengis dan kejam tertangkap dari pandangan Khansa.
__ADS_1
Ketika melihat Leon melesat pergi, Tiger segera menghempaskan Jihan dengan keras lalu berlari mengambil mobil dan dengan cepat menyusulnya. Ia sudah hapal jalan-jalan tikus di area tersebut, lalu memotong jalan dan bisa menemukan Leon.
"Leon!" Tangan Khansa kembali mencengkeram lengan lelaki itu.
Sedikit panik, laju mobil keduanya sangat tinggi. Susah payah Khansa menelan salivanya. Debaran jantungnya sudah tak terkendali lagi. Terlihat sekali jika Tiger ingin menabrak mobil yang ditumpangi oleh Leon dan Khansa.
"Kamu percaya 'kan sama aku?" tanya Leon pelan dengan nada tenang. Meski dalam hatinya sendiri pun merasakan panik luar biasa. Hanya satu yang ia khawatirkan, keselamatan Khansa. Otaknya segera berpikir dengan cepat.
"Leon, aku takut!" ucap Khansa mulai berurai air mata.
"Gerry! Jemput kami di titik lokasi kami berada!" ucap Leon kembali fokus ke jalan tanpa mengurangi kecepatan. Mata tajamnya menatap Tiger yang tertawa menyeringai.
"Sa! Lepaskan sabuk pengaman saat aku meminta!" perintahnya tanpa beralih pandang, tatapannya masih lurus ke depan.
"A ... apa?" tanya Khansa tak percaya.
Leon menoleh, kedua mata mereka saling bertautan. "Percayalah!" ucapnya meyakinkan sembari mengangguk. Dan jarak dua mobil mewah berlawanan arah itu semakin dekat. Khansa memejamkan matanya pasrah, ia menggenggam kuat seatbelt yang membelit tubuhnya. Leon menginjak pedal gas dengan kuat dan sedikit membelokkan setirnya.
"BRAAAKKK!"
Dentuman keras pun tak terhindarkan tepat di jembatan yang sempit yang hanya bisa dilalui sebuah mobil saja. Dua mobil sport tersebut saling bertabrakan hebat. Mobil yang dikendarai Leon terpental menjulang tinggi melalui pagar pembatas lalu terjebur ke sungai.
"DUAAARRR!"
Tak berapa lama terdengar ledakan yang menggelegar. Api pun berkobar dari mobil berwarna biru itu. Sedangkan Tiger menginjak pedal rem kuat hingga mobilnya berputar beberapa kali hingga bisa berhenti sepenuhnya. Airbag di depannya mengembang sempurna, dia sama sekali tidak terluka.
Deru napasnya terdengar kasar. Ia syok melihat mobil yang dikendarai Leon meledak dan terbakar di sungai tersebut. Tubuhnya melemas seolah tulang-tulangnya terlepas, jantungnya seperti terguncang, matanya tak berkedip dengan lapisan cairan bening yang mulai menyeruak.
Bersambung~
Stop duluu... Like dan komennya yak 😁
__ADS_1
Double nih. jan lupa votenya bestie 😘😘 maap ya kubuat jantung kalian tidak aman sementara ini.