Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Season 2 ~ Bab 21 : Kehidupan Baru


__ADS_3

Alunan debaran jantung yang begitu kuat, membuat Leon sampai merasa sesak napas. Pikirannya sedikit buyar, lalu buru-buru mengeluarkan beberapa uang dan mengambil bunganya. Dia segera berlari keluar menuju mobilnya.


"Tuan! Kembaliannya!" teriak sang penjual mencoba mengejarnya.


Namun Leon mengangkat tangannya sembari menoleh. Kepalanya menggeleng ketika mereka saling bersitatap, disertai uraian senyum di bibirnya.


Khansa terkejut ketika melihat suaminya berlari tergesa-gesa. Bahkan duduk di jok kemudi dengan kasar. Napasnya tersengal-sengal, segera menyalakan mesin mobil dan menjalankannya.


"Leon, kenapa?" tanya Khansa khawatir. Buket bunga lily itu diletakkan pada dashboard mobil.


Leon masih berusaha mengontrol emosinya. Ia mengendarai mobil dengan kecepatan lumayan tinggi. Khansa mengernyitkan keningnya. Ia tak mau ambil pusing, karena setelah muntah tenaganya serasa habis terkuras. Hanya menghela napas panjang dan menyandarkan kepalanya, dengan pandangan keluar jendela.


"Hati-hati, Leon. Aku masih mau nemenin nenek di dunia," gumam Khansa justru merasakan suasana dingin di dalam mobil.


Leon masih tak menanggapi, napasnya bahkan terdengar kasar. Sesekali menyeka keringat yang mulai membasahi keningnya. Pendingin udara seolah tak mampu menyapu hawa panas di sekujur tubuh Leon.


Khansa kesal karena Leon mengabaikannya. Beberapa waktu berlalu, Leon menghentikan mobil di basement khusus. Segera keluar dan membukakan pintu mobil.


"Ayo, Sayang!" gumam Leon dengan suara pelan.


"Aku yang muntah-muntah kenapa kamu yang pucat?" tanya Khansa menangkup sebelah pipi Leon.


"Aku nggak bisa jelasin sekarang!" ucapnya langsung meraup tubuh Khansa dan menggendongnya.


"Leon!" teriak Khansa terkejut melingkarkan kedua lengan pada bahu Leon.

__ADS_1


Leon menutup pintu mobil dengan kaki jenjangnya. Ia tak sabar melangkah menuju lift baru menurunkan Khansa setelah mereka memasukinya.


Wajah pria tampan itu berubah tegang. Bahkan rambutnya agak basah karena terus berkeringat sedari tadi. Lengannya menjulur menekan salah satu angka yang akan mereka singgahi.


Khansa menggenggam kedua tangan Leon, "Sayang, atur napas deh. Kamu itu kenapa sepanik ini? Tolong jangan bikin aku khawatir. Ada yang sakit?" tanya Khansa.


Sebuah gelengan cepat dari Leon menjadi jawabannya. Bibirnya seolah kaku, tidak bisa menjawab pertanyaan Khansa. Hingga pintu lift terbuka di lantai 5, Khansa semakin bingung.


Leon menarik lengannya perlahan. Beberapa perawat yang mereka lalui, menyapa dengan hormat. Khansa pun membalasnya dengan ramah. Berbeda dengan Leon yang terlihat semakin tegang.


"Selamat siang, Tuan Leon, Dokter!" sapa salah satu perawat sembari membungkuk.


"Ada pasien?" Leon menunjuk ke dalam ruangan.


"Baru saja hendak saya panggil, Tuan," balas perawat tersebut.


Khansa sudah lelah bertanya. Ia pun hanya menurut meski tidak mengerti maksud dan tujuan suaminya membawanya ke ruangan dokter spesialis kandungan.


Seorang dokter perempuan yang sedang berjaga tentu saja terkejut atas kehadiran pemilik rumah sakit tersebur. Ia langsung berdiri dan membungkuk, "Selamat siang, Tuan Leon, Dokter Khansa," sapanya.


Tanpa menunggu dipersilahkan dan ditanya, Leon meminta Khansa duduk di hadapan dokter. "Dokter Syifa, tolong periksa istri saya!" perintah Leon dengan aura dingin membuat dokter kandungan tersebut bergidik.


"Eeee, maaf, Tuan. Apa yang terjadi dengan Dokter Khansa?" tanya dokter tersebut.


"Lakukan saja USG sekarang juga!" seru Leon menggeram kesal. Karena dokter tersebut tidak segera bertindak.

__ADS_1


"Ba ... baik, Tuan!" sahutnya panik.


Dokter Syifa beranjak dari kursinya, mempersilahkan Khansa naik ke brankar pemeriksaan. "Dokter, silakan," ucapnya pada Khansa dengan sopan.


Khansa menurut saja, tidak mau menyela apa pun. Ia dibantu Leon menaiki brankar dan merebahkan tubuhnya. Salah satu perawat yang khusus membantu tugas dokter kandungan itu segera menaikkan selimut dan menyibak sedikit kemeja, menurunkan celana bahan yang Khansa kenakan.


Usai diolesi gel di atas permukaan perut Khansa bagian bawah, dokter menggerakkan sebuah alat di sana dengan pandangan lurus pada layar monitor.


Kedua bola mata Dokter Syifa membelalak, mulutnya pun menganga. "Alhamdulillah, Dokter selamat!" pekiknya dengan antusias.


Dokter yang mengenakan hijab itu tampak sangat bahagia. Leon dan Khansa menatapnya serentak.


"Ada kehidupan di rahim Anda, Dokter!" serunya lagi ketika ditatap dua orang besar rumah sakit tersebut.


"Maksudnya?" Khansa mengernyit membutuhkan jawaban sejelas-jelasnya.


"Anda hamil, Dokter!" tutur Dokter Syifa.


Khansa segera bangkit duduk dengan cepat. Leon masih terpaku mendengarnya. Lalu menyandarkan bokongnya pada tepian ranjang. Kedua matanya mulai memgembun. Tak jauh berbeda dengan Khansa yang langsung menangis haru, karena ini adalah momen yang sangat dia tunggu-tunggu.


Bertahun-tahun harus memendam impiannya, berjuang untuk kesuksesan sekaligus menyembuhkan suaminya. Dan akhirnya penantian panjang itu sudah terwujud.


Khansa menyentuh bahu Leon yang bergetar, pria itu berbalik dan saling menatap dalam. Tenggorokan mereka tercekat. Hanya air mata yang seolah saling berbicara.


Bersambung~

__ADS_1



duuh yang mau jadi ayah...


__ADS_2