Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Season 2 ~ Bab 17 : Keinginan Tak Wajar


__ADS_3

Usai merapikan infus Bara hingga aliran cairan tersebut kembali lancar, Khansa segera berpamitan. Leon berdiri di belakang istrinya, menatap sang istri yang tengah menjalankan tugasnya.


"Bara, kami pulang dulu ya. Kalau butuh sesuatu tekan aja nurse call di atas kamu. Selamat istirahat," ucap Khansa membenahi selimut pria itu.


"Terima kasih banyak, Dokter," balas Bara melempar senyum.


"Sama-sama. Cepat pulih ya," sambung Khansa lalu membungkuk setengah badan. Ia melenggang pergi dan diikuti suaminya yang tidak berkata sepatah kata pun dari tadi.


Sesampainya di luar, Leon merangkul bahu Khansa dan mensejajarkan langkahnya. Mereka berjalan serentak ke ruangan Khansa, sesampainya di sana, Khansa segera memelepas lilitan tangan Leon juga melepas jas putih kebanggaannya.


"Langsung pulang, Sayang?" tawar Leon menatap jam di lengannya.


"Nggak apa-apa langsung pulang? Kamu nggak capek?" Khansa bertanya balik.


"Ada obat capeknya, tenang aja," celetuk Leon merengkuh pinggang Khansa.


"Apa?" tanya wanita itu menoleh.


"Kamu lah!" sahut Leon menggigit bahu Khansa. Gemas sekali dengan istrinya itu.


Khansa terkejut, seketika menjauhkan tubuhnya dari sang suami. Namun, lengan Leon tak kalah sigap menangkap punggung Khansa dan kembali mendekatkan tubuh mereka, saling melempar tawa.


Begitulah mereka menjalani hari-hari. Meskipun keduanya sama-sama memiliki kesibukan, sama sekali tidak meregangkan hubungan mereka. Setiap ada kesempatan berdua, kemesraan mereka tidak pernah pudar. Cinta yang hadir justru semakin tumbuh dan bermekaran.


Dua sejoli itu kini melenggang meninggalkan rumah sakit, menuruni gedung tinggi itu dengan lift yang langsung mengantarkannya ke basement khusus rumah sakit tersebut.


"Sayang, biasanya Emily pakai jasa pengawal ke mana-mana. Apa kali ini enggak?" tanya Khansa saat sudah masuk ke mobil.


"Pakai, ada sekitar 4 orang dari SSG. Tapi tadi aku dapet laporan kalau mereka mengalami pecah ban belum jauh dari rumah Hansen," balas Leon mulai menjalankan mesin mobil.

__ADS_1


Khansa mengangguk, "Leon, bukain atap dong. Udaranya seger banget. Jalannya sepi berasa milik sendiri," celetuk wanita itu.


"Dingin, Sayang!" sergah Leon menolaknya.


"Eh jangan salah, Sayang. Udara jam 4 pagi tuh banyak manfaatnya loh. Oksigen di jam segini masih bersih, bisa melancarkan sistem pernapasan, bagus untuk kesehatan jantung dan paru-paru kita, selain itu bagus juga untuk kesehatan mental, lebih bisa mengatur emosional dan masih banyak lagi manfaat lainnya," papar Khansa.


Leon tersenyum sembari membelai puncak kepala Khansa. "Siap Bu Dokter, terima kasih penjelasannya," cetusnya sambil tertawa.


Kemudian pria itu segera membuka atap mobil, desir angin sejuk langsung menerpa tubuh keduanya. Rambut Khansa melambai mengikuti gerakan angin.


Tiba-tiba Khansa menelan salivanya dengan kasar. Ia menoleh pada suaminya, "Leon, aku pengen banget makan es krim," ucapnya dengan pandangan puppy eyes.


Sepasang alis Leon saling bertautan. "Jam segini, Sayang? Perut kamu masih kosong loh belum keisi apa-apa!" seru pria itu sedikit terkejut. Pasalnya istrinya itu selalu menjaga kesehatan. Dia bahkan akan memarahi keluarganya jika makan dengan gizi yang tidak seimbang.


"Lagi pengen banget gimana dong?" rengek perempuan itu bahkan kini mulai berkaca-kaca.


Leon pun kembali membelai kepala Khansa dengan satu tangannya. Sesekali menatap istrinya kemudian kembali fokus pada jalan. "Iya, iya. Jangan nangis gitu. Kita cari minimarket yang buka 24 jam. Kalau enggak ada, nunggu pagi, okay?" ucap Leon berusaha menenangkan.


"Iya, Sayang, iya."


Leon melajukan mobilnya dengan kecepatan rata-rata. Sekaligus mencari minimarket yang masih buka sepanjang perjalanan mereka pulang.


Sayangnya, sudah hampir sampai di Villa Anggrek, mereka tak juga mendapatkannya. Dan hal itu membuat Khansa semakin kesal.


"Loh kok pulang?" ucap Khansa kecewa.


"Kan nggak ada yang buka, Sayang. Kamu lihat sendiri tadi sepanjang jalan nggak ada minimarket yang buka," balas Leon menghentikan mobil tepat di depan gerbang.


"Iiih pokoknya mau sekarang!"

__ADS_1


Leon menoleh, tatapan Khansa berubah tajam dan menuntut hingga membuat pria itu bergidik. 'Jangan-jangan kesurupan nih!' batinnya bertanya-tanya.


"Sekarang, Leon!" serunya lagi mengejutkan lamunan pria itu.


Leon mengembuskan napas kasar sembari menggaruk kepalanya yang terasa gatal. Ia mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi asistennya. Cukup lama ia menunggu jawaban dari seberang, jemarinya sampai mengetuk-ngetuk setir mobil.


"Selamat malam, Tuan!" Gerry menjawab dengan suara serak.


"Sudah pagi, Gerry! Bangunlah, cepat carikan es krim sekarang juga!" perintah Leon dengan tegas.


Sontak kedua mata Gerry terbuka lebar. Ia pun beranjak duduk memakai kacamatanya untuk memperjelas pandangan melihat jam yang menempel di dinding.


"Es krim, Tuan?" ulangnya meyakinkan. Karena jam masih menunjukkan pukul 5 pagi.


"Iya! Buruan. Saya tunggu di Villa!"


"Ma ... mau rasa apa, Tuan?" Gerry segera turun dari ranjang dan masuk ke kamar mandi.


Leon kembali menoleh pada Khansa menanyakan rasa apa yang ia inginkan. Gerry menunggu dengan sabar.


"Durian sama strawberry," sahut perempuan itu membuat Leon mengernyitkan kening.


"Sejak kapan kamu suka durian?" tanya Leon tak percaya.


"Sejak sekarang!" jawab wanita itu menaik turunkan alisnya.


Leon semakin merasa ada yang aneh dengan istrinya. Segera ia mengatakan keinginan Khansa pada Gerry, lalu melewati gerbang setelah dibukakan oleh satpam yang berjaga.


Khansa bergegas ke kamar tanpa menunggu suaminya. Ia merasa gerah dan ingin segera mandi. Padahal udara yang berembus masih sangat sejuk. Leon mengedikkan bahu melihat keanehan pada istrinya. Segera menyusul langkah wanita itu ke kamar masih menerka-nerka dengan keanehan istrinya.

__ADS_1


Bersambung~



__ADS_2