
Leon menatap asistennya dengan tajam. Gerry semakin menundukkan kepalanya dalam. Ia takut kena marah lagi, karena Leon yang bossy itu tak pandang bulu. Mau salah atau enggak, tetep aja dirinya yang terkena sasaran amarahnya.
“Suruh pulang saja!” tegas Leon.
Gerry yang masih merasa tegang, bergeming di tempat. Bahkan masih menunduk, Hansen mengangkat kedua alisnya saat Leon menatapnya.
“Asisten Gerry, kau tidak dengar?” sambung Hansen pelan namun mampu menyadarkan Gerry.
“Ah, gimana Tuan?” Gerry bertanya dengan gelagapan.
“Hei! Kenapa kau ini? Sejak kapan kamu kehilangan konsentrasi seperti itu?” pekik Leon membuatnya terkejut.
Hansen menahan tangan Leon, “Mungkin dia lapar, Kak. Lagian jam makan siang kamu suruh ke sini. Tuh wajahnya aja sudah pucat begitu,” ujarnya meredakan amarah Leon.
Leon merasa bersalah, ia baru sadar saat melihat wajah pucat asistennya itu. Buru-buru datang setelah menyelesaikan meeting menggantikan tuannya dan bergegas datang menemui Leon. “Ger, suruh Chief Susan pergi dari sini, ambil saja supnya buat kamu,” ucap Leon dengan nada rendah, sembari mengibaskan tangannya.
“Serius, Tuan?” tanya Gerry terkejut.
“Ya, sana pergilah!” balas Leon kembali fokus pada dokumen itu.
“Terima kasih, Tuan. Permisi,” pamit Gerry membungkukkan tubuhnya lalu bergegas keluar dan kembali menutup pintu.
Susan mengerutkan bibirnya saat melihat Gerry keluar dan justru menutup pintunya. “Loh, kok kamu malah keluar sih? Terus kenapa pintunya ditutup?” cecar perempuan sexy itu.
Asesten Gerry mengembuskan napas berat. “Beliau sedang sibuk. Tidak bisa diganggu!” tandas pria itu dengan tegas. Ia tahu Susan memang selalu saja mencari perhatian pada atasannya itu. Padahal sedari dulu Leon selalu mengabaikannya.
Susan hendak memaksa masuk. Tangannya sudah mengulur menyentuh handel pintu. Namun dengan cepat Gerry menahannya. “Mau ngapain?” ujarnya melotot tajam.
“Mau nganter ini doang!” cebik Susan dengan kesal.
“Tuan Leon mengatakan buatku!” jelas Gerry.
“Kamu yang kasih? Iih kenapa nggak aku langsung aja sih!” Susan memberengut.
Gerry langsung merebut rantang itu dan meloyor pergi. Susan mendelik, “Loh, eh!?” Ia berdiri di depan pintu dengan bingung. Menunjuk ke dalam dan Gerry yang semakin jauh bergantian.
__ADS_1
“Asisten Gerry tunggu!” teriak Susan kesulitan berlari karena memakai heels cukup tinggi menyamakan langkah Gerry. Pia itu melangkah dengan panjang dan cepat. Gerry mengabaikannya segera masuk ke mobil dan melajukannya.
Sesampainya di loby, Susan yang masih ngos-ngosan dihampiri mobil berwarna hitam di depannya. Ternyata Gerry, ia membuka pintu mobil sembari menurunkan kaca mata hitamnya, “Chief Susan! Ini nggak ada peletnya ‘kan?” sindir Gerry mengangkat rantangnya, membuat Susan meradang.
“Gerry sialan!” pekik Susan menghantam pintu mobil dengan tasnya namun Gerry segera melesat pergi sambil tertawa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di dalam ruangan Hansen terkekeh melihat wanita yang genit terhadap saudaranya itu.
“Chief Susan emang kayak gitu, Kak?” tanya Hansen membenarkan kacamatanya.
“Hmm,” jawabnya singkat.
“Sebenarnya bukan salah Khansa kalau cemburu dengan Chief Susan. Dia cemburu dengan orang yang tepat,” ucapnya masih disertai tawa.
“Biarkan saja. Kerjanya cukup bagus. Aku tidak pernah menanggapinya,” sahut Leon santai.
“Iyalah, Khansa lebih menggoda ya. Haha!” canda Hansen yang langsung mendapat tatapan tajam dari pemiliknya. “Kan bener dia lebih menggoda di mata Kakak. Apa salahnya?” sanggah Hansen segera sebelum kakaknya itu semakin meradang, Leon hanya diam saja. Fokus dengan pekerjaannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hingga keesokan harinya, Khansa kembali ke Villa. Ponselnya berdering saat berjalan memasuki Villa. Ternyata Jihan yang mengingatkan acara pertunangannya itu.
“Iya tentu saja aku akan datang.” Khansa menjawab telepon sambil berjalan menuju kamarnya.
Khansa mengiyakan dengan senyum karena sudah menyiapkan hadiah yang besar untuk Jihan.
“Bagus. Kau harus menjadi saksi di hari bahagiaku! Udah ya, aku lagi di make over sama MUA ternama di kota ini,” pamer Jihan di ujung sana.
“Hmm!” Khansa segera mematikan sambungan telepon saat melihat neneknya sudah rapi bersiap untuk pergi.
“Nenek, mau ke mana?” tanya Khansa mendekati sang nenek dan mencium punggung tangannya.
“Khansa, kebetulan bertemu di sini. Nenek mau keluar untuk pergi berdoa agar kamu dan Leon segera memberikan cucu untuk nenek,” ucap Nenek Sebastian sambil tersenyum dan membelai rambut Khansa. Khansa menegang, ia menelan salivanya gugup.
__ADS_1
“Oiya, sepertinya Leon sangat sibuk. Dia tidak menjawab telepon nenek. Kamu tolong beritahu dia ya. Nenek pergi sekarang,” ucap sang nenek lalu melenggang pergi sebelum mendapat jawaban.
Khansa menghela napas panjang. Ia pun melanjutkan langkahnya ke kamar dan segera membersihkan diri. Setelah beberapa saat, ia pun segera bersiap untuk berangkat ke pesta Jihan. Make up natural meski tertutup cadar, juga mengenakan salah satu gaun branded yang mewah.
Wanita itu duduk di tepi kasur dengan dada berdegub kencang. Ia menggenggam ponselnya erat. Sebenarnya ia enggan menelepon Leon.
Tapi, Khansa tak berdaya karena nenek Sebastian sudah berpesan. Setelah bertarung melawan egonya, akhirnya Khansa memutuskan untuk menelepon Leon. Lama sekali sampai nada sambung hampir habis, baru diangkat olehnya.
Leon memang sangat sibuk hari ini. Bahkan sampai malam hari ia masih berada di kantor. Apalagi kemarin dia mangkir, sehingga pekerjaannya menumpuk.
Ketika ponselnya berdering, Leon tengah mencuci mukanya untuk menghilangkan kepenatan. Buru-buru melangkah bahkan sedikit berlari saat tahu ponselnya berdering. Ia takut jika Khansa yang menghubunginya.
Senyum tersungging di bibirnya, ia segera menggeser slide hijau sembari duduk di kursi kebesarannya.
“Halo, Sa. Ada apa? Kamu merindukanku?” sapa Leon setelah mengangkatnya.
“Eumm ….”
“Tuan, ini masih ada yang ketinggalan.” Susan menyelonong masuk karena pintu sudah terbuka.
Tiba-tiba Khansa mengerutkan alisnya saat mendengar suara seorang wanita. Terdengar centil dan genit. Sama seperti suara wanita yang saat itu pernah menjawab teleponnya.
Di sana, Leon menyeringai saat Susan datang yang menurutnya tepat waktu untuk menggoda Khansa.
“Oh iya, Chief Susan. Bawa kemari saja,” ujar Leon sengaja bicara lemah lembut dengan Chief Susan untuk memprovokasi Khansa.
Khansa merasakan darahnya seolah mendidih. Detak jantungnya berpacu kuat karena menahan marah. Dengus napasnya bahkan terdengar di ujung telepon. “Dasar playboy!” umpatnya lalu menutup sambungan tersebut.
“Haaaahhh!” Khansa mendesah, menghela napas panjang berkali-kali diiringi tepukan di dadanya untuk menenangkan diri.
Khansa berusaha memejamkan mata untuk melupakan hal ini. Ia mengambil tasnya, memasukkan ponsel dan bergegas pergi ke pesta pertunangan Jihan dan Hendra.
Bersambung~
__ADS_1