Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Bab 144. Dibayar Tunai atau Nyicil?


__ADS_3

Leon menautkan kedua alisnya, bibirnya merapat dengan iris mata yang semakin tajam, mendengarkan kelanjutan ucapan Gerry. Tatapannya berubah serius.


"Tuan," panggil Gerry lagi. Karena ia pikir, bosnya itu tidak mendengarnya.


"Bicaralah! Jangan bertele-tele!" sembur Leon bersuara lantang.


"Ma ... maaf, Tuan. Saya pikir Anda tidak mendengarnya. Begini Tuan, dokter yang Anda minta untuk memeriksa kondisi Tuan Besar Isvara baru saja mengirimkan hasilnya. Saya sudah meneruskannya ke email Anda, Tuan," jelas Gerry sedikit panik.


"Sebutkan intinya!" tegas Leon beranjak dari duduknya. Ia beralih ke kamar untuk mengambil laptop yang memang sudah disiapkan oleh Gerry sebelumnya. Buru-buru Leon membuka emailnya.


"Sebenarnya ... Tuan besar sudah meninggal. Sistem syarafnya sudah rusak, terjadi pembekuan darah di bagian otak dan aliran darahnya di seluruh tubuhnya memang sudah tidak normal. Tuan, kemungkinan besar ini adalah mall praktek."


Napas Leon tercekat, gerakannya terhenti dengan degub jantung yang berdentum kuat. Leon memutar pandangannya, memastikan bahwa Khansa tidak ada di kamar tersebut.


"Tunggu! Saya cek dulu. Dan pastikan tidak ada yang mendengarnya. Jangan sampai berita ini terdengar sampai telinga Khansa. Saya akan menjelaskannya pelan-pelan," ucap Leon menyugar rambutnya yang mulai lepek karena berkeringat dingin.


"Berita apa?" Suara Khansa yang tiba-tiba menelusup ke dalam kamar.


Leon terlonjak kaget. Ponselnya terlempar ke lantai, matanya membelalak dan denyut jantungnya seperti habis lari marathon bahkan sampai terasa nyeri. Tubuhnya mendadak kaku, ia panik hingga susah sekali menelan saliva.


Langkah kaki Khansa semakin mendekat, "Leon, ada berita apa?" tanya wanita itu dengan tatapan menuntut sembari menarik lengan Leon agar menghadap ke arahnya.


Leon berusaha menenangkan diri, bibirnya membentuk senyuman, "Enggak, bukan apa-apa kok," ucapnya menyelipkan rambut Khansa ke belakang telinga.


Perempuan itu menepis tangan Leon, "Tidak! Telingaku normal. Dan aku mendengar jelas, kamu akan menjelaskannya pelan-pelan. Ayo sekarang katakan!" ujar Khansa tegas.


Leon menghela napas panjang, menyentuh kedua bahu Khansa, "Kamu belum dapat kabar dari Yenny?" tanya Leon yang hanya dibalas gelengan dari Khansa.


"Kabarnya, dia divonis penjara 10 tahun dan denda 20 M," lanjut pria itu lagi.


Kedua manik Khansa masih menatap tajam, iris hitamnya bergerak ke kiri dan kanan, menelisik kejujuran sang suami dari sorot matanya. Untung saja tadi sempat membuka email dari pengacaranya mengenai perkembangan kasus Yenny.


"Bener cuma itu?" tanya Khansa menyelidik.


"Ya," jawab Leon singkat.

__ADS_1


"Mmm, lumayan juga ya," sahut Khansa dengan nada sedikit rendah.


Leon mendesah lega, karena gadis itu tidak curiga. Ia tersenyum lalu merengkuh pinggangnya. "Menurutku masih kurang. Ayo makan dulu, udah disiapin sama pelayan 'kan?" cetus Leon mengajaknya keluar dari kamar.


Sambungan telepon ternyata masih belum terputus. Gerry masih setia mendengarkan. Meski sudah tidak ada suara apa pun, ia takut mengakhiri panggilan.


Setelah melewati makan malam, Leon kembali ke kamar. Sedangkan Khansa memilih untuk menonton televisi. Leon baru teringat ponselnya yang terhempas, juga laptop yang masih menyala. Bisa gawat jika Khansa melihatnya.


Tubuh Leon membungkuk, sesekali berputar untuk mencari keberadaan benda pipihnya. Setelah berapa lama, akhirnya ia bisa menemukannya. Leon berjongkok untuk memungut benda itu. Keningnya mengernyit heran, "Kenapa masih tersambung?" tanyanya dalam hati.


"Halo! Kau masih di sana, Ger?" ucap Leon. Tidak ada sahutan apa pun, Leon mengendikkan bahu lalu mematikannya.


Pria itu melangkah tegas menuju laptopnya. Diraihnya benda datar itu, lalu memangkunya di sofa. Dengan cepat, Leon membuka email dari dokter yang menangani kakek Khansa. Ada beberapa penjelasan yang tidak begitu ia mengerti, karena menggunakan bahasa kedokteran. Hanya saja, secara inti sudah disebutkan oleh Gerry.


Satu tangannya mengusap wajah dengan kasar. Leon mengumpat dalam hati. Berkali-kali, napas berat ia embuskan dengan kasar. Leon menenangkan dirinya sendiri. Lalu jemarinya sibuk menyelesaikan beberapa pekerjaan.


Tak terasa sudah dua jam lamanya Leon berkutat di depan laptop. Kepalanya mendongak, menyebarkan pandangan yang ternyata tidak menemukan sang istri. Buru-buru ia menutup laptopnya dan berjalan keluar.


"Sa!" panggil Leon sembari menoleh ke kiri dan kanan.


Langkahnya terhenti di depan sofa, kakinya berlutut dan membelai puncak kepala istrinya yang sudah sibuk di alam mimpi. "Maaf ya," gumamnya menjatuhkan sebuah ciuman di kening wanita itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Deburan ombak dan kebisingan para pengunjung pantai mengusik tidur Khansa. Matanya mengerjap lembut, menyesuaikan cahaya yang sudah menerobos tirai jendela.


Khansa terjingkat saat tidak menemukan Leon di kamar tersebut. Tangannya terulur meraba sebelahnya yang ternyata terasa dingin. Itu artinya, Leon sudah lama meninggalkannya.


"Leon!" panggil Khansa.


Kedua kaki jenjangnya segera turun dari ranjang dan melangkah cepat. "Leon kamu di mana?" teriaknya lagi yang tidak ada sahutan. Khansa berlari menyusuri setiap sudut resort itu. Hingga ia terpaku saat melihat Leon asyik bergerak ke sana ke mari di kolam renang.


"Hah? Sepagi ini berenang?" gumam Khansa melanjutkan langkahnya agar semakin dekat.


"Leon! Kamu ngapain renang pagi-pagi buta?" teriak Khansa duduk di kursi santai tak jauh dari kolam.

__ADS_1


Mendengar suara yang tak asing, Leon bergegas menepi dan beranjak dari sana. Menyusul istrinya dengan buliran air yang menetes dengan deras dari ujung rambutnya.


"Di kamar panas," ucap Leon tersenyum memamerkan deretan gigi putihnya.


"Panas apanya? ACnya udah disetting suhu paling rendah kok," sanggah Khansa menyerahkan handuk untuk sang suami. "Buruan mandi sana! Cari penyakit aja!" cebik Khansa dengan kesal.


Leon menopangkan kedua lengannya di antara tubuh Khansa. Tubuhnya membungkuk, sehingga semakin dekat dengan wanita itu. Khansa memundurkan punggungnya, air terus menetesi wajah cantiknya. "Panas banget kalau tidur sama kamu tapi nggak bisa ngapa-ngapain!" ucapnya tersenyum menyeringai.


Khansa terdiam, bulu mata lentiknya mengerjap perlahan. Tentu saja ia langsung mengerti maksud ucapan Leon. Degub jantungnya mulai meningkat.


"I ... iya udah, ayo mandi!" ajak Khansa.


"Yeaah! Mandi bareng!" seru Leon mengepalkan tangannya.


"Ya, kamu mandi di luar, aku di dalam!" balas Khansa menyusup di celah lengan Leon hingga bisa lepas dari kungkungannya. Ia segera berlari ke kamar mandi.


"Ck! Padahal mandi bareng lebih hemat loh, Sa!" teriak Leon tertawa.


Khansa tak menggubris, ia tetap kekeuh mandi sendiri. Mau tidak mau, Leon membersihkan dirinya di kamar mandi luar. Namun malas berganti pakaian. Ia mandi secepat kilat, menunggu Khansa di tepi ranjang sembari mengeringkan rambut.


Saat membuka pintu kamar mandi, Khansa meneguk ludahnya melihat punggung putih dan lebar milik sang suami. Dadanya berdebar dengan kasar. Desiran darahnya juga semakin deras. Entah kenapa momen-momen seperti ini masih membuatnya canggung, malu sekaligus salah tingkah.


Perlahan, Khansa semakin mendekat lalu mendudukkan tubuhnya di sebelah Leon. Matanya tak berani melirik pria itu. Leon menoleh, lalu tersenyum dan mendekatkan kepalanya.


"Kamu masih hutang double ya, Sa. Mau dibayar tunai apa nyicil nih?" bisik Leon di telinga Khansa.


Khansa memejamkan matanya, dadanya serasa mau meledak mendapat pertanyaan seperti itu. Namun bibirnya tak urung menyunggingkan sebuah senyuman.


Bersambung~


Bebskii... maap yaa aku ada acara sampe minggu/senin keknya. jadi slow up beberapa hari ini.... sabar yaa 😘 makasih banyak supportnya di stp like komen dan giftnya 🥰🥰



😏 : Ngopo mas mesam mesem... mo jitak lagi?

__ADS_1


Mas Le: Kagak Thor.. maapin lah yaa.. 😊



__ADS_2