Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Bab 95. Tetap Tenang


__ADS_3

Khansa meletakkan kembali ponselnya. Usai menyelesaikan sarapannya, nenek mengajaknya untuk bersantai sejenak sambil mengeteh bersama sambil bersenda gurau.


“Sa, apa hari ini kamu ingin mengunjungi Bibi Fida?” tanya nenek Sebastian.


“Mmm … hari ini enggak, Nek. Khansa lagi nggak pengen ke mana-mana,” jawab Khansa menatap nenek mertuanya.


“Kalau begitu, ayo ikut nenek ke taman belakang,” ajak wanita tua itu.


Khansa mengangguk bersemangat. Keduanya beranjak ke taman belakang, di mana ada ribuan bunga yang tertanam di sana.


Nenek Sebastian mengambil gembor atau alat yang digunakan untuk menyiram tanaman. Ia juga memberikan satu untuk Khansa.


“Bunga sebanyak ini, apa nenek yang merawatnya sendiri?” tanya Khansa menuangkan air ke dalam gembor.


“Tentu saja tidak, Sa. Nenek hanya merawat beberapa saja yang memang langka. Selebihnya nenek serahkan sama tukang kebun. Paling nenek cuma mengarahkan saja,” jelas sang nenek mulai menyiram bunga-bunga langka di tempat khusus.


Khansa mengangguk, ia juga turut mengambil rumput liar yang bisa mengganggu keindahan bunga-bunga mahal. Khansa teringat mendiang ibunya. Yang mana semasa kecil ia sering sekali membantu ibunya menyiram tanaman seperti ini.


“Sa!” panggil nenek menyentuh bahunya.


“Eh, iya, Nek,” ucap Khansa terkejut.


“Kamu kenapa? Dipanggil dari tadi nggak nyahut,” ujar nenek Sebastian.


Khansa mengurai senyum, segera menepis kenangan-kenangan yang membuatnya rindu dengan sang ibu, “Maaf, Nek. Khansa melamun,” sahutnya masih mempertahankan senyumannya.


“Oh iya, Nek. Apa sebelumnya, Leon pernah membawa pulang seorang perempuan?” tanya Khansa cepat mengalihkan pembicaraan.


“Enggak, Leon tidak pernah menyukai perempuan mana pun sebelumnya. Makanya nenek sempat berpikir kalau dia itu impoten atau punya kelainan,” celetuk sang nenek tanpa perasaan dilanjutkan dengan tawa menggelegar. “Tapi sekarang, nenek sudah membuktikannya sendiri, bahwa Leon tidak seperti itu,” jawab nenek Sebastian terkekeh geli menyentuh lengan Khansa.


Khansa tersenyum canggung sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia berasa maju kena mundur pun kena. Berasa serba salah dengan yang diucapkannya. Padahal sebenarnya, tidak pernah terjadi apa pun di antara mereka. Meskipun, beberapa kali Leon memang menunjukkan hasratnya yang hampir meluap.


Waktu terus bergulir, tak terasa hari sudah menjelang siang, mereka berdua menikmati pagi itu dengan banyak berbincang sambil merawat bunga-bunga mahal milik nenek Sebastian.


“Nek, jangan sampai kelelahan. Ayo kita istirahat, matahari sudah semakin tinggi,” ajak Khansa meletakkan gembor yang dipegang oleh sang nenek.

__ADS_1


Nenek Sebastian menurut, ia memang sudah terlihat kelelahan. Peluh sudah membasahi wajah rentanya. Khansa menuntun kembali masuk, memberikan segelas air putih setelah duduk di sofa ruang tengah.


“Sepertinya nenek mau istirahat dulu, Sa. Nggak kerasa ternyata kalau lama juga kita di taman,” pamit nenek Sebastian beranjak berdiri.


“Iya, Nek. Hati-hati,” ucapnya.


Khansa mengambil minuman dingin lalu kembali duduk di meja makan sembari meneguk air dingin yang baru dituangkannya. Satu tangannya meraih ponsel yang sedari tadi ia letakkan.


Yenny Isvara, putri yang paling dibanggakan Fauzan. Dia memiliki nilai akademis yang sangat baik dalam bidang pengobatan medis. Kecakapan dan kepiawaiannya dalam akademis maupun sebagai entertaint, membuat perempuan itu memiliki jutaan followers.


Dalam sekejap, postingan Yenny menjadi trending topik dan tidak sedikit yang menuding dan menyalahkan Khansa.


“Tunggu! Aku merasa ada yang aneh deh. Sejak kepulangan Khansa dari desa, aku merasa Keluarga Isvara sering sekali tertimpa masalah!” –tulis seorang netizen di kolom komentar yang langsung mendapat sorotan dari warga net.


“Oiya ya, aku baru sadar. Padahal Khansa baru beberapa bulan kembali dari desa. Tapi, keluarga Isvara perlahan-lahan mulai hancur.” –balas netizen lainnya.


“Jangan-jangan, dia memang berniat menghancurkan Keluarga Isvara?”


“Bisa jadi. Tapi, aku khawatir kalau Yenny akan menjadi sasaran selanjutnya. Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi!”


Khansa tidak terkejut melihatnya. Ia justru membenarkan apa yang dikatakan oleh para netizen. Karena memang sejak kembalinya dari desa, Khansa selalu menimbulkan kegaduhan dalam keluarha tersebut. Ia selalu menggiring opini publik untuk membuat Maharani kuwalahan.


Khansa meneguk minumannya dengan santai hingga lama-kelamaan tandas. Diletakkannya perlahan gelas kosong di hadapannya.


Tak lama kemudian, terdengar rentetan rentetan notif DM yang masuk ke ponselnya. Tidak hanya satu dua orang saja. Tapi puluhan dan bahkan ratusan orang yang memenuhi DM instagram miliknya. Semuanya mengolok dan memarahinya.


“Heh perempuan kampung! Balik sana ke asalmu. Jangan aneh-aneh deh sama bintang kami!” –isi DM pertama yang masuk ke ponsel Khansa.


“Khansa! Jangan macam-macam sama Yenny, atau kau akan tahu akibatnya!” ancam yang lainnya.


“Gadis kampungan sepertimu mau menghancurkan Yenny? Lihat saja kamu yang akan hancur duluan!”


“Semua masalah yang terjadi di keluarga Isvara pasti sudah kamu rencanakan sebelumnya bukan? Dasar licik kamu, Sa!”


Dan masih banyak hujatan lainnya yang diterima Khansa. Ia yang hanya mempunya followers tidak sampai satu juta pun kalah telak dengan ketenaran yang dimiliki Yenny. Sehingga tidak heran jika banyak yang menyudutkannya.

__ADS_1


Sementara di pulau seberang, Emily yang baru saja usai syuting menjadi panik seketika saat melihat trending topik di jagat dunia maya. Buru-buru Emily mencari kontak Khansa untuk membahas mengenai masalah ini. Apalagi, banyak sekali yang marah-marah pada Khansa. Emily sangat khawatir dengan keadaan sahabatnya tersebut.


“Sasa!” panggil Emily melalui sebuah pesan watsapp.


“Sasa, kamu baik-baik saja ‘kan?” tanya Emily lagi karena tak kunjung ada balasan. Emily pun menjadi panik.


“Emily, aku baik-baik saja kok,” balas Khansa akhirnya, membuat Emily mendesah lega.


“Apa para netizen menyerangmu melalui DM sekarang?” tanya Emily lagi.


“Iya nih, banyak yang DM aku dan marah-marah. Judulnya mendadak hits nih. Hehe.” Khansa masih sempat bercanda.


“Duh, gimana dong, Sa. Dalam beberapa tahun terakhir ini reputasi Yenny memang melejit. Apalagi dia menjadi lulusan di Nation University of Singapure. Kamu tahu sendiri ‘kan, nggak banyak orang di kota kita yang bisa menembus universitas terbaik di Singapura itu. Nggak hanya itu, setelah menjadi dokter pun karirnya meningkat dengan pesat. Apalagi ditunjang dengan karir di dunia entertain juga. Jadi, sudah dipastikan masyarakat akan sangat mudah terpengaruh dan bersimpati padanya,” jelas Emily panjang lebar.


Khansa yakin, Maharani tentu sudah mengeluarkan banyak dana untuk menyokong anak kesayangannya itu hingga menjadi perempuan sosialita nomor satu di Kota Palembang saat ini. Khansa pun sadar, jika Yenny berbeda dengan Jihan yang dia anggap seperti sampah.


Khansa masih bersikap tenang, tidak ada kepanikan sedikit pun darinya. “Tenangkan dirimu Emily, aku nggak mau gegabah. Aku ingin melihat trik besar apa lagi yang akan Yenny pakai,” balas Khansa.


“Kamu kok bisa setenang ini sih? Apa jangan-jangan kamu sudah mengantongi rahasia besar Yenny, si manusia bermuka dua itu?” tanya Emily terheran dengan sikap tenang Khansa.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di dalam rumah sakit, Jihan yang sedang stalking sosmednya pun berbinar melihat berita yang diunggah Yenny. Dia tersenyum puas saat melihat orang-orang menyerang Khansa seperti itu.


“Kak Yenny, kamu memang hebat karena berhasil membuat Khansa diolok-olok semua orang di jagat maya!” seru Jihan pada kakaknya.


Bersambung~


 


Dah genep lima ya.. Sampai jumpa next part di Tahun depan 🥰 ... mamaciw dukungannya,,😘 makasih juga semua doanya... Lope lope sekebon cabe 🥰🥰😘🌶🌶


...~365 of 365 day~...


 

__ADS_1


 


__ADS_2