Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Season 2 ~ Bab 14 : Pembelaan


__ADS_3

"DEG!"


Di balik pintu ruangan Bara, Jennifer mendengar semuanya. Ia menangis tersedu-sedu sampai tubuhnya merosot ke lantai. Ternyata di balik kesuksesan Emily, ada duka mendalam pada keluarganya. Dan betapa sesak dadanya, mengingat rentetan penghinaan ibunya pada seorang putri jenderal di hadapan kakak kandungnya.


Buru-buru Jen berlari ke ruangan Emily. Ia membuka pintu dengan sangat pelan setelah menyeka semua air mata yang membasahi mata dan pipinya.


Dan kini tubuhnya terpaku saat melihat kakaknya merebahkan kepala di tepi ranjang Emily. Kemungkinan pria itu tertidur setelah melewati perjalanan panjang dan terburu-buru. Telapak lebarnya saling bertaut erat dengan jemari lentik gadis cantik itu.


Tepat saat itu, Jen melihat Emily mulai mengerjapkan mata. Jen hendak mendekat, namun lagi-lagi langkahnya terhenti ketika melihat satu lengan Emily terangkat membelai puncak kepala Hansen.


Sedikit sentuhan pada pria itu, membuatnya segera tersadar dari tidurnya. Wajahnya tampak sangat lelah dan kusut. Senyum segera tersungging di bibir pria tampan itu.


"Sayang! Kamu sudah sadar," ucapnya berbinar meraih tangan Emily dan menciumnya. Lalu beranjak mencium kening dan kedua pipi Emily. "Maafkan aku! Maafkan aku!" gumamnya menyatukan kening mereka, memeluk tubuh rapuh yang terbaring di sana.


"Aku nggak apa-apa, kamu dari mana?" jawab Emily dengan suara pelan.


"Maaf! Ini semua salahku! Seharusnya aku memintamu untuk menungguku! Maafkan aku!" Hansen berkali-kali mengutarakan penyesalan terdalamnya dengan terus meminta maaf. Dia benar-benar merasa bersalah. Kepalanya masih terbenam di ceruk leher Emily.

__ADS_1


Gadis itu tersenyum samar, ia membelai kepala Hansen hingga punggungnya. "Jelasin dulu, kamu kemana tadi?" ucap Emily pelan.


Hansen menjauhkan tubuhnya, menatap lekat wanita kesayangannya. Lalu menjelaskan semua yang dialaminya sedetail-detailnya. Beberapa waktu berlalu, Emily tersenyum menangkup kedua pipi Hansen. Raut wajah pria itu masih menampakkan penyesalan terdalam.


"Yaudah, yang penting sekarang semua baik-baik aja," ujar Emily pelan.


"Maaf atas semua sikap ibuku sama kamu. Tenang aja aku akan membereskan semuanya. Tidak akan pernah ada yang bisa menggantikan posisi kamu," sahut Hansen membelai puncak kepala Emily.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tak hanya Bara yang terkejut, Khansa juga membelalakkan kedua matanya dan terpaku sejenak. Bara dan Khansa sampai tak bergerak sedikitpun saking terkejutnya.


Tenggorokan Bara seperti tercekik karena menahan tangisannya. Tidak pernah diduga dan tidak pernah disangka, gadis yang selama ini selalu bersamanya, gadis yang ia sayangi dan ia jaga sepenuh hati ternyata adik kandungnya.


"Iya, Emily adik kamu, Bara. Adik kandungmu," seru Monica tersenyum lebar.


Tangis Bara pecah seketika, ia melepas selang oksigen yang terpasang di hidungnya. Khansa segera mematikan alat bantu pernapasan tersebut.

__ADS_1


"Tolong antar saya pada Emily," ucapnya tergesa dan tidak sabar. Bara menurunkan kedua kakinya, meraih infus dan menggenggamnya.


Pria itu ingin segera memeluk adik kandungnya yang ternyata adalah gadis yang selama ini bersamanya. Meski selama ini sering memeluknya, tapi masih ada rasa sungkan dengan perempuan itu. Apalagi semenjak berpacaran dengan Hansen.


Namun kali ini, dengan langkah percaya diri, Bara menuju ruang inap Emily. Rasa sakit yang sedari tadi menderanya, kini mulai memudar berganti dengan semangat yang membumbung tinggi.


Bara berjalan diapit Monica dan Khansa, Leon yang baru saja sampai setelah mengurus administrasi bersama Frans menautkan kedua alisnya. Khansa mengangguk dengan senyum yang tampak dari kedua manik indahnya yang menyipit.


Tangan kurusnya menjulur membukakan pintu ruang rawat inap Emily. Hansen masih terlihat berbincang dengan Emily, posisinya sangat dekat enggak membuat jarak. Sedangkan Jennifer terkejut dengan kedatangan ketiga orang tersebut. Ia menunduk lalu segera menyingkir dan memberikan jalan.


"Tidak apa-apa, semua yang dikatakan ibumu benar. Aku bukan siapa-siapa," ucap Emily menghela napas panjang.


Dada Bara kembali bergemuruh mengingat setiap ucapan tajam dari lidah Agnes, ibu dari tunangan adiknya itu. Ia segera melangkah panjang, meremas kerah kemeja Hansen dan menariknya hingga Hansen hampir terjengkang.


Tatapan Bara berapi-api, giginya tampak bergemeletuk melihat Hansen. Tanpa basa basi, Bara memukul wajah Hansen berkali-kali membuat Emily menjerit. Jen hanya menutup mulutnya ketakutan. Bara mengamuk melampiaskan segala kemarahan yang ia pendam sedari tadi.


"Brengsek! Dasar lelaki tidak bertanggung jawab! Bajing*n kamu, Hansen!" teriak Bara masih memberi pukulan telak pada pria itu.

__ADS_1


"Bar! Apa-apaan sih lo! Lepasin Hansen!" pekik Emily beranjak bangun.


Bersambung~


__ADS_2