Pengantinku, Luar Biasa

Pengantinku, Luar Biasa
Season 2 ~ Bab 57 : Jangan sampai Ternoda


__ADS_3

"Salahin Tiger, ngasih hadiah kurang gede!" canda Leon tidak mau disalahkan.


"Ya 'kan kalau tahu begini mendingan tadi pulang, Kak. Atau ke hotel lah minimal," balas Hansen memberengut kesal.


"Baru juga semalam. Aku aja nunggu berbulan-bulan! Pulang besok saja Hansen, semua keluarga besar masih berkumpul di sini!" ucap Leon melenggang pergi.


Hansen dan Gerry sontak melebarkan kedua matanya, saling berpandangan dan kompak mengerjapkan mata tak percaya dengan ungkapan gamblang lelaki itu.


"Kak Leon, jangan lupa. Aku nunggunya lima tahun!" teriak Hansen namun keburu Leon menghilang dari pandangan. "Arrgghh!" gumamnya mengerang frustasi, mengacak-acak rambutnya.


Gerry bingung harus bersikap bagaimana. Ia mundur dengan perlahan, tanpa mengeluarkan suara. Matanya tak lepas dari Hansen yang tengah menggeram marah.


Hansen memutar tubuhnya, "Assisten Gerry! Kamu 'kan yang nyiapin ini? Berapa jumlah kamar di sini, hah?" tanya Hansen berkacak pinggang.


"Eeee ... maaf, Tuan. Tapi semua kamar sudah penuh. Tuan dan Nyonya Mahendra, Tuan dan Nyonya Frans, Tuan dan Nyonya Sebastian, Nona Jen, satu lagi Tuan Bara," sahut Gerry sedikit gemetar karena melihat amarah dari pria di hadapannya.


"Di mana kamar Bara?" tanya Hansen.


"Mari, Tuan." Gerry lalu menunjukkan letak kamar yang ditempati Bara. Ia melenggang cepat dan menerobos masuk tanpa mengetuk pintu. Hansen membeliak ketika melihat Bara dan Simon yang tidur serampangan di atas ranjang king size itu.


Bahkan selimut dan guling terlempar ke lantai. Bara tidur tengkurap dengan tangan dan kaki merentang, kepalanya tertutup sebuah bantal. Simon terlihat mabuk berat, bibirnya meracau tak jelas. Hansen berdecak kesal melihat kamar yang sudah seperti kapal pecah itu.


Gerry yang melihatnya juga membelalak terkejut. Ia tidak tahu sejak kapan Bara berbagi ranjang dengan Simon.


Hansen menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya dengan kasar. Kakinya melangkah tegas dan disertai tekanan, sepatu mahalnya membentur marmer begitu keras. Ia segera membersihkan diri sembari mendinginkan kepala yang terasa mendidih.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Di kamar utama, Emily selesai membersihkan tubuhnya. Khansa sudah tidur sembari memeluk Cheryl. Ia tak dapat mendengar suara apa pun di kamar tersebut, karena sudah terlampau lelap.


Leon sendiri menghabiskan waktu di balkon, menghisap rokok yang sudah lama tidak menemani hari-harinya. Ia sama sekali tidak menyentuh benda itu ketika bersama Khansa. Entah kenapa malam ini ada hasrat untuk menyesap nikotin itu lagi. Sedikit merilekskan tubuh dan pikirannya.


Emily berjalan keluar dengan mengendap-endap, ia takut membangunkan Khansa dan Cheryl. Saat berdiri di depan pintu, Emily kebingungan mencari keberadaan suaminya.


"Assisten Gerry! Lihat Hansen nggak?" tanya Emily yang sudah mengenakan gaun tidur berbahan sutera, dilapisi kimono berlengan panjang. Kemungkinan milik Khansa. Karena sudah tersedia beberapa lembar di sana.


"Beliau sedang membersihkan diri di kamar yang ditempati Tuan Bara, Nyonya," jawab Gerry menunjuk sebuah kamar saat kebetulan melintas.


"Terima kasih," balas Emily.


"Emily!" panggil Leon dari arah balkon. Ia sudah menghabiskan dua puntung rokok, berjalan pelan kembali ke kamar.


"Iya?" Emily memutar tubuhnya hingga berhadapan dengan pria gagah yang tengah menghela napasnya itu.


"Maaf, sepertinya malam ini tidurmu kurang nyaman."


"Eee ... kamu lihat single bed di kamar Sasa tadi 'kan?" Leon berucap dengan hati-hati dibalas anggukan oleh Emily. Masih memperhatikan Leon lamat-lamat.


"Karena semua kamar penuh ditempati keluarga besar, jadi kamu dan Hansen tidur di sana," lanjutnya merasa tidak enak.


Tidak ada persiapan apa pun dalam waktu yang mendadak, membuat Tiger memberikan salah satu Villanya secara random. Ia memilih lokasi yang paling dekat dengan tempat resepsi.


Kemudian meminta Gerry untuk memberikan satu ranjang king size dan satu single bed yang sebenarnya ditujukan untuk Cheryl di kamar utama.


Terdiam beberapa saat untuk mencerna setiap ucapan Leon, sampai Hansen turut bergabung dengan mereka. Ia langsung memeluk istrinya dari belakang, membuat Emily terlonjak kaget.

__ADS_1


"Ck! Iya tahu pengantin baru. Tunda dulu bobol gawangnya. Ada Cheryl! Ayo istirahat!" Leon mengedikkan kepala lalu memutar langkah kaki ke kamar utama.


Hansen bingung, segera menanyakan pada Emily. Perempuan itu pun menjelaskan seperti yang Leon ucapkan tadi.


"Huft! Baiklah, untuk malam ini saja. Kamu juga pasti lelah 'kan?" ucap Hansen mencium pipi Emily.


Pasangan itu pun segera mengikuti Leon dan terpaksa tidur di ranjang yang sempit. Leon sudah menyusul istrinya, merapatkan dada pada punggung sang istri dengan lengan yang membelit perut Khansa.


Dada Emily berdegub kuat ketika harus berbagi ranjang dengan pria, untuk pertama kalinya dalam keadaan sadar. Hubungan mereka selama lima tahun benar-benar terjaga. Apalagi sering LDR Palembang-Bali karena pekerjaan Emily.


"Han! Pengantin baru tuh enaknya di ranjang yang kecil!" goda Leon sedikit beranjak menatap ke arah mereka yang berseberangan dengannya.


"Hmmm!" sahut Hansen.


Emily yang malu memilih membelakangi Leon dan Hansen. Kemudian menaikkan selimut hingga lehernya. Leon terkekeh melihatnya.


Pasangan pengantin lama maupun baru itu akhirnya terlelap sambil memeluk pasangan masing-masing.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Woaaaaa!!!" Teriakan Bara menggema di seluruh penjuru villa ketika matahari menelusup melalui jendela kamarnya.


"Sssttt! Berisik banget sih pusing palaku!" desis Simon yang justru semakin merapatkan tubuhnya pada Bara.


"Gila! Jangan sampai aku ternoda. Minggir! Minggir!" ucap Bara kesal menyingkirkan lengan Simon yang melingkar erat di pinggangnya.


Mendengar suara bariton meski lembut, Simon membuka mata dengan cepat. Matanya langsung bersirobok dengan manik cokelat Bara.

__ADS_1


Terdiam beberapa saat mengumpulkan kesadarannya. Sampai pada akhirnya, Simon pun berteriak karena ternyata yang ia peluk adalah laki-laki. Kedua lengan mereka saling dorong dengan tubuh yang saling menjauh.


Bersambung~


__ADS_2